//
archives

Archive for

Jaundice dan Imunisasi Alfi

Suatu anugerah karena akhirnya hadir seorang putera ke dalam keluarga kecil kami. Kami pun memberikan dia nama Alfian Dhiyaa Fahrizi Budoyo Abas yang berarti beribu-ribu cahaya kebanggaan orang tua. Diharapkan saat dia besar nanti, Alfi begitu nama panggilannya dapat memberikan sebagian cahayanya untuk membahagiakan dan membawa berkah bagi keluarga dan orang lain terutama untuk dirinya sendiri.

Pada saat lahir pada tanggal 4 Oktober 2011 berat badan (BB) alfi hanya seberat 2.9 Kg dengan panjang badan (PB) 49 cm. pada saat hari keempat mulai muncul warna kuning pada kulit Alfi, saya yang karena mengalami persalinan SC belum sempat melakukan penjemuran setiap pagi karena belum mampu berdiri lama. Seminggu setelah lahir seharusnya Alfi sudah diimunisasi, karena badannya masih kuning akibat bililubrin dalam diri Alfi yang dikenal dengan jaundice maka imunisasi ditunda. Dokter menyuruh agar melakukan penjemuran di pagi hari selama maksimal 15 menit mulai pukul 07.00 hingga maksimal pukul 08.30 yang disesuaikan dengan ada tidaknya cahaya matahari. Cahaya matahari pagi berguna untuk menurunkan kadar bilirubrin bayi. Saya pun mulai aktif melakukan penjemuran agar Alfi segera di imunisasi.

Seminggu kemudian pada tanggal 18 Oktober 2011, Alfi saya ajak ke bidan untuk dilakukan imunisasi dan untuk di cek terlebih dahulu apakah bilirublinnya sudah berkurang atau belum, Alhamdulillah ternyata Alfi bisa diimunisasi karena bilirublinnya mulai berkurang. Imunisasi yang didapat alfi adalah Hepatitis B dan Polio 1. Bidan mengatakan untuk terus menjemur Alfi di pagi hari dan datang kembali untuk imunisasi pada tanggal 26 November 2011. Kemarin pada tanggal tersebut akhirnya kami datang kembali agar Alfi di imunisasi, imunisasi kali ini adalah BCG dan polio 2. Bidan pun senang dengan melihat pertambahan BB Alfi yaitu 5.2 Kg dengan panjang 54 Cm. Saya pun mendapat pujian karena ASI saya dikatakan berhasil, Alhamdulillah. Kami diharuskan kembali pada tanggal 29 Desember 2011 untuk diimunisasi kembali. Pada saat ini kuning atau jaundice pada diri Alfi berangsur-angsur hilang, akan tetapi kami masih tetap menjemur di pagi hari apabila ada cahaya matahari.

Semangat MengASI Karena ASI adalah InvestASI Masa Depan

Sebagai ibu baru saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan bayi saya. Termasuk dalam hal pemberian ASI. Saya telah bercita-cita dari awal untuk memberikan ASIX untuk bayi saya yang bernama Alfi karena menurut info ASIX pada 6 bulan pertama memberikan 100% untuk imunitas bayi kedepannya, dan apabila diteruskan hingga 2 tahun dengan MPASI memberikan 70-80% untuk imunitas bayi. Tentu saya ingin memberikan yang terbaik untuk Alfi. Karena menurut saya menyusui hal yang mudah maka saya menganggap enteng perihal tersebut dengan beranggapan bahwa ASI akan tersedia secara alami jadi tak usah dipusingkan, sehingga tidak seperti saat saya hamil saya tidak mengumpulkan info atau membaca perihal menyusui.

Minimnya info membuat saya sempat putus asa, khawatir dan sedih saat menyusui Alfi, saya baru tahu kalau ASI sebagian besar baru lancar di hari ketiga, pada hari pertama yang keluar adalah cairan colostrum yang harus diminum bayi sebagai antibody. Andaikan saya tahu lebih awal maka saya tak perlu panik menghadapi hal tersebut. Kemudian anggapan lidah bayi yang kasar yang menyebabkan puting luka ternyata itu hanya mitos, karena sebenarnya adalah pelekatan yang salah dan memang puting yang menyesuaikan dengan mulut bayi, bayi tidak menyusu pada puting tetapi menyusu pada payudara (PD).

Karena melihat luka yang semakin parah pada puting, dan dorongan orang-orang rumah (bukan orang tua saya) yang menyuruh untuk memberikan sufor, bahkan menyarankan untuk memberikan pisang karena menurut mereka Alfi menangis terus karena lapar dan ASI saya hanya sedikit membuat saya putus asa dan sedih.
Pada saat puting saya luka hingga berdarah dan rasa sakit yang luar biasa menyerang, saya memutuskan untuk memeras ASI dan memberikannya melalui dot, serta menggunakan nipple shield untuk membantu menyusui. Hal tersebut hanya berlangsung sekali, karena Alfi masih menangis serta saya tidak tega melihat ikatan ibu dan anak terputus hanya karena putting luka. Akhirnya dengan berani saya mencoba menyusui dengan kondisi putting yang luka, Alhamdulillah karena dorongan memberikan yang terbaik untuk Alfi lebih kuat saat itu rasa sakit tidak sehebat sebelumnya.

Saya mulai membaca timeline (TL) dari twitter @AIMI_ASI, @ID_AyahAsi, @Tipsmenyusui dan searching info di internet perihal menyusui. Dari sumber di atas mengatakan bahwa luka pada putting lebih cenderung disebabkan oleh pelekatan yang salah. Pelekatan yang salah ditandai dengan luka pada putting, bayi menyusu sangat lama (>30menit) karena aliran asi tidak pas atau kurang lancar, bayi terkesan cepat lapar dengan meminta ASI terus (padahal seharusnya bayi minum ASI dengan jarak ±2 jam), dan terkadang bayi mengempeng atau tertidur saat menyusui karena kelelahan saat menyusu. Atas info tersebut saya menyadari kalau memang proses pelekatan salah dan kadang Alfi susah sekali untuk melakukan pelekatan atau Latch On. Kemudian apabila pelekatan sudah benar tetapi payudara tetap luka dan bayi kerap merasa lapar dan rewel saat menyusui dicurigai bayi terkena Tongue Tie (tali lidah pendek). Karena rasa khawatir dan keinginan untuk mendapatkan momen menyusui yang nyaman saya berencana untuk datang ke kklinik laktasi, untuk konsul pada konselor ASI perihal masalah yang saya dapati. Selama luka masih belum sembuh saya mengoleskan salep Kamilosan pada luka yang saya derita, namun salep tersebut bukanlah penyembuh langsung, lebih berfungsi sebagai pelembab karena salep tersebut terbuat dari ekstrak bunga Chamomile. Salep tersebut sedikit menolong karena putting saya menjadi lembab sehingga saat Latch on lukanya tidak terasa sakit, dan luka sedikit tertutup walaupun terkelupas lagi saat Alfi menyusu.

Pada saat hari raya Idul Adha tahun ini saya kurang tidur karena di rumah teralu crowded banyak orang, sehingga menyebabkan saya terkena masuk angin akut. Karena itu hari minggu, saya pergi ke bidan terdekat untuk mengobati sakit saya ini. Saya juga menceritakan perihal masalah menyusui yang saya hadapi. Bidan memberikan Gentian Violet 1% yang merupakan obat sariawan untuk luka pada putting saya. Memang obat tersebut membuat luka menjadi kering, karena terlalu kering saat Alfi menyusu lukanya menjadi pecah kembali dan meninggalkan jejak warna ungu pada mulut Alfi. Dengan kondisi lemas, nafsu makan kurang menyebabkan ASI saya seret sehingga Alfi menagis terus karena dia masih merasa lapar. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke klinik laktasi (KL) keesokan harinya. Saya konsul mengenai masalah menyusui ke KL yang ada di RSIA HerminaBogor. Dokter mengajarkan cara menyusui yang benar dengan mencontohkan proses Latch On yang benar, kemudian beliau menyarankan agar luka hanya dioles oleh ASI saja karena ASI juga berfungsi sebagai penyembuh. Kemudian dokter mengevaluasi tentang cukup tidaknya ASI dengan menanyakan frekuensi pipis Alfi. Alfi pipis dalam sehari bisa mencapai 12 kali (dengan menghitung persediaan popok), dokter akhirnya menyatakan ASI saya cukup, jadi seharusnya tidak ada masalah saat menyusui. Saya pun menanyakan apakah Alfi terkena Tongu Tie, ternyata Alfi tidak Tongue Tie, jadi luka tersebut murni karena kesalahan Latch On. Dokter menyarankan untuk mengetahui apakah Latch on sudah benar dengan melihat waktu saat Alfi menyusu, Latch on yang benar akan menyebabkan bayi cepat mengosongkan PD dengan waktu 10-15 menit, dan pada saat menyusui tidak terlalu terasa sakit, aerola bawah lebih banyak masuk daripada aerola atas dan bibir bawah bayi mengarah keluar. Saya pun mengevaluasi proses Latch on. Setelah konsul saya dapatkan waktu menyusui Alfi yang berkurang dari 1 jam, kemudian turun menjadi 30 menit, hingga sekarang lebih sering sekitar 10 menit Alfi sudah kenyang. Selain itu, tanda bahwa Latch on sudah benar adalah dengan meningkatnya berat badan (BB) bayi. Pada saat lahir BB Alfi hanya 2.9 Kg, setelah 26 hari meningkat menjadi 3.7 Kg. Alhamdulillah ternyata Latch On sudah benar, dan karena luka sering terkena ASI maka luka tersebut pun sembuh dengan sendirinya. Benar apa kata dokter tersebut (maaf saya lupa namanya). Saya pun merasakan sakit menyusui hanya sekitar 40 hari, itu pun karena saya yang melakukan kesalahan. Sekarang menyusui terasa nikmat sekali, karena dari situlah bounding antara ibu dan anak.

Teruslah menyusui, karena menyusui adalah hak anak dan kado terindah bagi bayi. Semahal apapun sufor tidak akan bisa mengalahkan kebaikan ASI. Dukungan dari orang-orang sekitar sangat diperlukan bagi busui. Jangan terburu-buru menafsirkan bahwa ASI kurang karena bayi rewel saat menyusu sehingga terburu-buru memberikan sufor atau pisang seperti di tempat saya. Banyak tidaknya ASI tergantung pikiran sang Ibu, intinya saat menyusui perasaan harus tenang, bahagia, dan optimis maka ASI pasti lancar. Ingat! berikanlah ASIX pada 6 bulan pertama dan teruskan hingga usia 2 tahun. Jangan coba-coba memberikan pisang karena info dari Bidan di daerah saya, terpakasa ada bayi yang dipotong ususnya karena infeksi, infeksi disebabkan karena sang ibu memberikan pisang padahal pencernaannya belum sempurna.

Mari kaum ibu, kita berikan yang terbaik bagi anak kita, berikanlah ASI untuk kehidupannya, karena ASI adalah InvestASI masa depan anak kita. Terimakasih.

 

Pengalaman Melahirkan Secara Sectio Caesar (SC)

Kehamilan merupakan anugerah terindah bagi seorang wanita, begitu juga dengan saya, detik-detik menyambut kelahiran buah hati tercinta membuat saya menyiapkan segala sesuatunya. Sama seperti ibu-ibu yang lainnya, saya ingin melahirkan secara alamiah dengan jalan yang telah dianugerahi oleh Tuhan melalui partus normal, akan tetapi kenyataan berkata lain, karena alasan medis akhirnya saya harus merelakan diri untuk melahirkan secara SC.

Berawal pada usia kehamilan 37 minggu, dokter melakukan pemeriksaan dalam (PD) untuk memastikan apakah saya bisa melahirkan secara normal. Dari hasil pemeriksaan tersebut didapatkan bahwa saya harus melahirkan secara SC karena lebar panggul yang sempit dan bentuknya tidak pas dengan kepala bayi. Mendengar hasil tersebut saya sempat sedih dan putus asa karena harapan melahirkan secara normal pupus. Saya pikir dokter tersebut tidak pro normal karena memutuskan saya harus SC. Akhirnya saya mencari 2nd opinion dengan melakukan pemeriksaan PD lagi ke bidan (karena bidan pasti pro normal), hasil dari cek bidan tidak menyatakan langsung bahwa saya harus SC, saya diharuskan menunggu hingga mulas, dan apabila selama pembukaan tidak ada kemajuan maka saya harus SC. Bidan menyarankan untuk banyak jongkok dan jalan kaki pagi hari selama 30 menit. Hingga usia kehamilan mendekati 40 minggu saya belum merasakan mulas atau gerakan bayi turun ke rongga panggul. Saya memutuskan untuk mencari 3rd opinion ke dokter yang berbeda, dari hasil pemeriksaan tersebut juga menunjukan kalau saya harus SC. Setelah gugling mencari-cari info seputar SC, rongga panggul sempit dan bertanya ke teman-teman yang mempunyai pengalaman yang sama akhirnya saya memtuskan untuk melakukan SC tanpa menunggu mulas dan sebagainya. Pengalaman dari teman yang mempunyai rongga panggul sempit dan memaksakan tetap normal tenyata bayi tersendat dan tidak bisa keluar sehingga harus tetap SC. Karena tidak mau mengambil resiko untuk bayi akhirnya saya memutuskan untuk SC (kalau resiko untuk saya, saya siap menghadapinya). Mengenai persalinan SC di daerah saya masih menjadi hal yang langka dan menakutkan, akan tetapi itu adalah pilihan, jika bisa normal kenapa harus SC, tentu saya akan memilih untuk normal.

Cerita berlanjut, proses SC dilakukan pada tanggal 4 Oktober 2011 sesuai dengan jadwal dokter yang menangani. Saya melakukan proses SC di RSUD Cibinong. Berbeda dengan RS yang lain, saya diharuskan masuk RS pada tanggal 3 Oktober 2011 (H-1) pukul 17.00 WIB untuk cek in kamar dan dilakukan persiapan pra SC karena pasien di RS banyak. Setelah cek in kamar dan mengurus administrasi, saya diharuskan melakukan pemeriksaan Laboratorium meliputi pemeriksaan urine dan darah. Pada malam hari bidan dan perawat melakukan pemeriksaan tensi darah dan denyut jantung bayi. Sejauh ini normal. Alhamdulillah. Saya diharuskan puasa makan dan minum mulai pukul 03.00 WIB keesokan harinya.

Tanggal 4 Oktober 2011 (hari H) mulai pukul 03.00 WIB saya mulai melakukan puasa makan dan minum, perawat mengharuskan saya untuk sudah mandi dan memakai baju operasi pukul 05.00 WIB. Sekitar pukul 05.30 WIB perawat datang untuk memasangkan inpus dan carteter (rasanya tidak enak waktu dipasang ini), dalam kondisi sudah mulai lemas dan mengantuk saya diberitahukan bahwa operasi akan dilakukan pukul 10.00 WIB.

Tiba saatnya saya masuk ruang operasi pukul 10.00 WIB, saya ingat momen tersebut. Dokter anestesi mulai menyuntikan obat bius melalui sumsum tulang belakang. Kemudian saya dibaringkan lagi, tangan kiri saya dipasangkan alat pengukur tensi darah, tangan kanan dipasangkan alat pemantau denyut jantung, dan dihidung dipasang selang oksigen. Setelah obat bius bekerja (rasanya seperti kesemutan), dimulailah proses pembelahan, saya masih sadar, saya ingat apa saja yang dilakukan dokter, termasuk detik-detik saat bayi dikeluarkan dari perut, dan sungguh bahagia rasanya mendengar tangisan bayi. Sayangnya saya tidak bisa melakukan proses IMD (inisiasi menyusui dini) karena kondisi saya yang lemah dan bayi harus segera dibawa ke incubator karena kekurangan oksigen, hal itu terlihat dari kuku kaki dan tangan bayi saya yang membiru (sedih dengarnya). Dalam keadaan setengah sadar karena pengaruh obat bius saya terus berdoa dalam hati agar bayi saya baik-baik saja sementara dokter mulai menjahit bagian yang dibelah. Setelah operasi selesai saya segera dibawa ke ruang perawatan dengan kondisi masih setengah sadar, dokter mengatakan untuk tidak mengangkat kepala selama sekitar 2 jam karena jika mengangkat kepala akan mengakibatkan pusing hebat hingga muntah. Dalam kondisi setengah sadar, terbaring dan kegerahan walaupun AC on terus (padahal menurut perawat harusnya kedinginan) saya masih memikirkan kondisi bayi saya. Alhamdulillah bayi saya hanya sebentar di incubator dan nafasnya normal kembali sehingga segera bisa dipindahkan ke ruang perawatan bayi.

Saya masih diharuskan puasa hingga keadaan tubuh saya lebih enak (tidak usah menunggu buang gas). Sekitar pukul 18.00 perawat datang dan mengatakan untuk sedikit-sedikit minum, kalau tidak muntah maka bisa dilanjutkan dengan makan sedikit demi sedikit. Alhamdulillah saya tidak muntah dan tubuh saya mulai segar kembali. Perawat datang dan mengatakan kepada saya agar besok pagi saya mulai belajar miring ke kanan dan kekiri. Sekitar dini hari saya terbangun, saya mulai mencoba untuk miring kanan dan kiri walaupun rasanya masih nyeri (tidak berasa sakit hanya lumayan nyeri).

Tanggal 5 Oktober 2011 (H+1), sekitar jam 6 pagi perawat datang untuk mengecek apakah saya bisa miring kanan kiri, setelah bisa mereka mulai membantu saya untuk membersihkan badan di atas tempat tidur. Kemudian saya diwajibkan untuk belajar duduk. Rasanya takut sekali untuk duduk karena miring kanan kiri saja sudah lumayan nyeri, karena tekad yang kuat untuk segera sembuh akhirnya saat makan siang saya mulai mecoba untuk bangun dan memposisikan diri dalam posisi duduk di atas tempat tidur, bukan main rasanya sakit nyeri tapi setelah posisi duduk tercapai sudah tidak berasa lagi. Namun saat ingin berbaring kembali rasa yang sama terulang lagi. Perawat dan dokter datang untuk mengecek kembali, mereka mewajibkan saya untuk belajar berdiri mulai dini hari. Saya mulai merasa takut lagi, karena untuk duduk saja rasanya sakit dan nyeri, tetapi harus saya lakukan agar lekas sembuh.

Sore hari sekitar pukul 17.00 WIB, dokter anak dan perawat datang membawa bayi saya. Karena fasilitas Room In maka sejak bayi diserahkan kepada saya, saya harus bertanggung jawab atas bayi saya, termasuk pemberian ASI dan menjaganya. Dokter mengajarkan kepada saya cara menyusui, ternyata gampang-gampang susah karena saya masih takjub dengan pengalaman baru tersebut. Pada saat bayi mulai menyusu pada payudara saya rasanya amazing sekali, tak bisa terungkapkan, disitulah mulai saya rasakan bounding ibu dan anak (akan lebih terasa pada proses IMD) hingga tidak terasa lagi rasa nyeri dan sakitnya jahitan.

Tanggal 6 Oktober 2011 (H+2), pukul 06.00 pagi perawat datang untuk mengecek apakah saya sudah bisa berdiri, tetapi saya belum mencoba lantaran takut. Akhirnya saya mulai mencoba untuk berdiri sekitar pukul 07.00, rasanya sakit sekali, saya tidak kuat dan kembali duduk. Sepertinya hal tersebut terjadi karena diri saya belum tersugesti untuk melawan rasa sakit tersebut. Akhirnya siang hari sekitar pukul 11.00 saya mencoba lagi untuk berdiri, Alhamdulillah bisa berdiri bahkan berjalan sedikit demi sedikit. Akhirnya saya bisa juga ke kamar mandi untuk bersih-bersih walaupun jalannya masih tertatih-tatih. Siang hari dokter kembali datang dan mengecek kondisi jahitan saya, setelah mengevaluasi diputuskan bahwa sore saya sudah boleh pulang, Alhamdulillah. Sebelum pulang dipasangkan plester anti air pada jahitan (rasanya senang sekali karena bisa mandi, setelah dua hari tidak mandi) dan dilakukan sosialisasi tentang ASI dan cara menyusui oleh bidan. Alhamdulillah sekitar pukul 15.00 saya sudah meninggalkan RS menuju rumah tercinta bersama buah hati kami.

Pada minggu pertama pasca SC, saya masih merasakan nyeri, jalan masih sangat lamban, dan jika bangun kadang harus dibantu. Cek pertama dilakukan seminggu setelah SC, pada pengecekkan ini plester anti air diganti dengan perban biasa agar bekas jahitan cepat mengering. Dokter mengatakan agar perban tidak terkena air saat mandi dan jika terkena harus segera dikeringkan. Karena hal tersebut sangat repot saat mandi, akhirnya saya mensiasatinya dengan menutup perban menggunakan plastic, it works.

Pada minggu kedua pasca SC, cek kedua dilakukan. Hasil cek menyatakan bahwa jahitan sudah mengering, perban sudah dapat dibuka dan saya diperbolehkan mandi seperti biasa tanpa khawatir jahitan terkena air. Pada minggu ini dokter masih memberikan saya obat yang diminum selama seminggu untuk memaksimalkan keringnya jahitan pada perut dalam. Alhamdulillah saya dinyatakan tidak perlu kembali lagi untuk cek alias putus hubungan dengan dokter 😀

Saya mulai merasakan benar-benar lincah kembali pada saat sebulan setelah SC, jalan sudah makin cepat, nyeri dirasakan hanya saat bangun tidur karena otot-otot perut menyesuaikan kembali untuk aktifitas. Lambat laun nyeri itu semakin berkurang karena sering dilatih, tetapi dokter mengatakan nyeri itu kadang akan terasa pada bekas operasi.

Dari pengalaman saya semoga terpetik hikmah untuk pembaca semua. Saran saya jika memang bisa partus normal, sebaiknya hindari SC kecuali karena alasan medis yang kuat. Akan tetapi itu semua adalah pilihan terserah anda yang melaksanakan nantinya. Terima kasih.

Evrinasp.com

Evventure Blog

Kumpulan Emak Blogger

kumpulan-emak-blogger

Warung Blogger

Photobucket

Blog Stats

  • 439,301 hits

Follow TWITTER

Kicauan TWITTER

Almanak

November 2011
M T W T F S S
« Sep   Dec »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
%d bloggers like this: