//
you're reading...
Other

Semangat MengASI Karena ASI adalah InvestASI Masa Depan

Sebagai ibu baru saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan bayi saya. Termasuk dalam hal pemberian ASI. Saya telah bercita-cita dari awal untuk memberikan ASIX untuk bayi saya yang bernama Alfi karena menurut info ASIX pada 6 bulan pertama memberikan 100% untuk imunitas bayi kedepannya, dan apabila diteruskan hingga 2 tahun dengan MPASI memberikan 70-80% untuk imunitas bayi. Tentu saya ingin memberikan yang terbaik untuk Alfi. Karena menurut saya menyusui hal yang mudah maka saya menganggap enteng perihal tersebut dengan beranggapan bahwa ASI akan tersedia secara alami jadi tak usah dipusingkan, sehingga tidak seperti saat saya hamil saya tidak mengumpulkan info atau membaca perihal menyusui.

Minimnya info membuat saya sempat putus asa, khawatir dan sedih saat menyusui Alfi, saya baru tahu kalau ASI sebagian besar baru lancar di hari ketiga, pada hari pertama yang keluar adalah cairan colostrum yang harus diminum bayi sebagai antibody. Andaikan saya tahu lebih awal maka saya tak perlu panik menghadapi hal tersebut. Kemudian anggapan lidah bayi yang kasar yang menyebabkan puting luka ternyata itu hanya mitos, karena sebenarnya adalah pelekatan yang salah dan memang puting yang menyesuaikan dengan mulut bayi, bayi tidak menyusu pada puting tetapi menyusu pada payudara (PD).

Karena melihat luka yang semakin parah pada puting, dan dorongan orang-orang rumah (bukan orang tua saya) yang menyuruh untuk memberikan sufor, bahkan menyarankan untuk memberikan pisang karena menurut mereka Alfi menangis terus karena lapar dan ASI saya hanya sedikit membuat saya putus asa dan sedih.
Pada saat puting saya luka hingga berdarah dan rasa sakit yang luar biasa menyerang, saya memutuskan untuk memeras ASI dan memberikannya melalui dot, serta menggunakan nipple shield untuk membantu menyusui. Hal tersebut hanya berlangsung sekali, karena Alfi masih menangis serta saya tidak tega melihat ikatan ibu dan anak terputus hanya karena putting luka. Akhirnya dengan berani saya mencoba menyusui dengan kondisi putting yang luka, Alhamdulillah karena dorongan memberikan yang terbaik untuk Alfi lebih kuat saat itu rasa sakit tidak sehebat sebelumnya.

Saya mulai membaca timeline (TL) dari twitter @AIMI_ASI, @ID_AyahAsi, @Tipsmenyusui dan searching info di internet perihal menyusui. Dari sumber di atas mengatakan bahwa luka pada putting lebih cenderung disebabkan oleh pelekatan yang salah. Pelekatan yang salah ditandai dengan luka pada putting, bayi menyusu sangat lama (>30menit) karena aliran asi tidak pas atau kurang lancar, bayi terkesan cepat lapar dengan meminta ASI terus (padahal seharusnya bayi minum ASI dengan jarak ±2 jam), dan terkadang bayi mengempeng atau tertidur saat menyusui karena kelelahan saat menyusu. Atas info tersebut saya menyadari kalau memang proses pelekatan salah dan kadang Alfi susah sekali untuk melakukan pelekatan atau Latch On. Kemudian apabila pelekatan sudah benar tetapi payudara tetap luka dan bayi kerap merasa lapar dan rewel saat menyusui dicurigai bayi terkena Tongue Tie (tali lidah pendek). Karena rasa khawatir dan keinginan untuk mendapatkan momen menyusui yang nyaman saya berencana untuk datang ke kklinik laktasi, untuk konsul pada konselor ASI perihal masalah yang saya dapati. Selama luka masih belum sembuh saya mengoleskan salep Kamilosan pada luka yang saya derita, namun salep tersebut bukanlah penyembuh langsung, lebih berfungsi sebagai pelembab karena salep tersebut terbuat dari ekstrak bunga Chamomile. Salep tersebut sedikit menolong karena putting saya menjadi lembab sehingga saat Latch on lukanya tidak terasa sakit, dan luka sedikit tertutup walaupun terkelupas lagi saat Alfi menyusu.

Pada saat hari raya Idul Adha tahun ini saya kurang tidur karena di rumah teralu crowded banyak orang, sehingga menyebabkan saya terkena masuk angin akut. Karena itu hari minggu, saya pergi ke bidan terdekat untuk mengobati sakit saya ini. Saya juga menceritakan perihal masalah menyusui yang saya hadapi. Bidan memberikan Gentian Violet 1% yang merupakan obat sariawan untuk luka pada putting saya. Memang obat tersebut membuat luka menjadi kering, karena terlalu kering saat Alfi menyusu lukanya menjadi pecah kembali dan meninggalkan jejak warna ungu pada mulut Alfi. Dengan kondisi lemas, nafsu makan kurang menyebabkan ASI saya seret sehingga Alfi menagis terus karena dia masih merasa lapar. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke klinik laktasi (KL) keesokan harinya. Saya konsul mengenai masalah menyusui ke KL yang ada di RSIA HerminaBogor. Dokter mengajarkan cara menyusui yang benar dengan mencontohkan proses Latch On yang benar, kemudian beliau menyarankan agar luka hanya dioles oleh ASI saja karena ASI juga berfungsi sebagai penyembuh. Kemudian dokter mengevaluasi tentang cukup tidaknya ASI dengan menanyakan frekuensi pipis Alfi. Alfi pipis dalam sehari bisa mencapai 12 kali (dengan menghitung persediaan popok), dokter akhirnya menyatakan ASI saya cukup, jadi seharusnya tidak ada masalah saat menyusui. Saya pun menanyakan apakah Alfi terkena Tongu Tie, ternyata Alfi tidak Tongue Tie, jadi luka tersebut murni karena kesalahan Latch On. Dokter menyarankan untuk mengetahui apakah Latch on sudah benar dengan melihat waktu saat Alfi menyusu, Latch on yang benar akan menyebabkan bayi cepat mengosongkan PD dengan waktu 10-15 menit, dan pada saat menyusui tidak terlalu terasa sakit, aerola bawah lebih banyak masuk daripada aerola atas dan bibir bawah bayi mengarah keluar. Saya pun mengevaluasi proses Latch on. Setelah konsul saya dapatkan waktu menyusui Alfi yang berkurang dari 1 jam, kemudian turun menjadi 30 menit, hingga sekarang lebih sering sekitar 10 menit Alfi sudah kenyang. Selain itu, tanda bahwa Latch on sudah benar adalah dengan meningkatnya berat badan (BB) bayi. Pada saat lahir BB Alfi hanya 2.9 Kg, setelah 26 hari meningkat menjadi 3.7 Kg. Alhamdulillah ternyata Latch On sudah benar, dan karena luka sering terkena ASI maka luka tersebut pun sembuh dengan sendirinya. Benar apa kata dokter tersebut (maaf saya lupa namanya). Saya pun merasakan sakit menyusui hanya sekitar 40 hari, itu pun karena saya yang melakukan kesalahan. Sekarang menyusui terasa nikmat sekali, karena dari situlah bounding antara ibu dan anak.

Teruslah menyusui, karena menyusui adalah hak anak dan kado terindah bagi bayi. Semahal apapun sufor tidak akan bisa mengalahkan kebaikan ASI. Dukungan dari orang-orang sekitar sangat diperlukan bagi busui. Jangan terburu-buru menafsirkan bahwa ASI kurang karena bayi rewel saat menyusu sehingga terburu-buru memberikan sufor atau pisang seperti di tempat saya. Banyak tidaknya ASI tergantung pikiran sang Ibu, intinya saat menyusui perasaan harus tenang, bahagia, dan optimis maka ASI pasti lancar. Ingat! berikanlah ASIX pada 6 bulan pertama dan teruskan hingga usia 2 tahun. Jangan coba-coba memberikan pisang karena info dari Bidan di daerah saya, terpakasa ada bayi yang dipotong ususnya karena infeksi, infeksi disebabkan karena sang ibu memberikan pisang padahal pencernaannya belum sempurna.

Mari kaum ibu, kita berikan yang terbaik bagi anak kita, berikanlah ASI untuk kehidupannya, karena ASI adalah InvestASI masa depan anak kita. Terimakasih.

 

About evrinasp

I am an Agricultural Extension Officer, Blogger and Hiker

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: