//
you're reading...
Contest

Korelasi Ekonomi Desa Dengan Fenomena Keberangkatan TKI

Kebutuhan akan sandang, pangan dan papan mendesak manusia berlomba-lomba untuk memenuhi kebutuhan tersebut dengan berbagai cara. Ketiga kebutuhan tersebut yang tak lain berhubungan dengan kebutuhan ekonomi hampir dirasakan oleh seluruh umat manusia. Apa yang terjadi jika memiliki kebutuhan yang sangat mendesak dan harus segera dipenuhi? Manusia mungkin akan nekat untuk segera memenuhi kebutuhan tersebut dengan cara apapun.

Tersebutlah disana sebuah desa di daerah perbukitan di sudut Cianjur Tengah, Desa Cibadak Kecamatan Tanggeng Kabupaten Cianjur. Penduduknya mayoritas bermata pencaharian sebagai petani karena desa tersebut memiliki kontur tanah yang berbukit serta tanah yang subur. Dapat kita bayangkan bagaimana kontur tanah yang berbukit, akses jalan yang jauh dari keramaian, kondisi jalan yang rusak karena banyak bebatuan membuat aktifitas warga menjadi terbatas untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Seperti yang dialami oleh seorang wanita yang kini menjadi kakak ipar ku beberapa tahun yang lalu. Kakak ipar ku, Kak May, adalah seorang wanita muda lulusan Madrasah Tsanawiyah (MTs, Setingkat SMP) yang fasih berbahasa arab, dia ingin sekali membantu kedua orang tuanya kelak saat dia tamat sekolah. Dia merasakan bahwa penghasilan dari hasil pertanian sangat pas-pasan. Untuk memasarkan hasil pertanian pun dibutuhkan ongkos yang tidak begitu murah karena akses jalan yang berat serta jauh dari pasar membuat keuntungan dari hasil pertanian pun tidak maksimal. Apabila ingin berdagang di desa, mayoritas dari mereka masih menggunakan sistem barter lantaran sama-sama memiliki penghasilan yang sedikit, dan jika ingin berdagang di pasar pun kurang menjanjikan bagi pedagang baru seperti Kak May yang datang dari daerah perbukitan karena pasar hanya ada setiap dua minggu sekali dan letaknya jauh dari desa.

Beberapa hal itulah yang membuat Kak May akhirnya memutuskan untuk menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia) ke Arab Saudi. Keberangkatannya ke Arab Saudi sekitar tahun 2004 hingga tahun 2006. Dia mengirimkan hasil jerih payahnya sebagai TKI dengan gaji sekitar  dua juta rupiah per bulan untuk kedua orang tuanya di Cianjur. Alhamdulillah selama menjadi TKI dia tidak mengalami masalah yang terlampau berat sehingga dia dapat kembali ke tanah air dengan selamat. Kini dia masih menjalani profesinya sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT) di daerah Jakarta untuk membantu perekonomian keluarga.

Korelasi Ekonomi Desa Dengan Migrasi TKI Ke Luar Negeri

Fenomena di atas merupakan salah satu contoh dari sekian alasan mengapa akhirnya banyak masyarakat memutuskan untuk menjadi TKI. Alasan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi desa yang rendah baik dari segi lapangan kerja maupun kegiatan ekonominya menyebabkan terjadinya migrasi warga desa ke luar negeri sebagai TKI. Hal tersebut ikut pula memicu terjadinya korelasi ekonomi desa sebagai faktor pendorong keberangkatan TKI ke luar negeri. Sebagai contoh, tempat asal Kak May tadi, Desa Cibadak Kecamatan Tanggeng Cianjur Tengah.

Kabupaten Cianjur yang memiliki filosofi maenpo yang diimplementasikan dengan kerja keras, dimana masyarakat Cianjur diharapkan memiliki semangat keberdayaan yang tinggi dalam meningkatkan mutu kehidupan ternyata tidak sepenuhnya membuat sebagian masyarakat mampu memberdayakan diri di desa tempat mereka tinggal. Informasi dari Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Cianjur melalui situs internetnya menyebutkan bahwa kepadatan penduduk di kecamatan-kecamatan wilayah utara jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah selatan dan tengah, dengan demikian pengembangan potensi ekonomi kecamatan-kecamatan di wilayah tengah dan selatan menghadapi kendala untuk dikembangkan, antara lain karena penduduknya masih jarang dan terpencar sehingga secara ekonomis pengembangan di wilayah tersebut kurang menguntungkan.

Salah Satu Wilayah di Cianjur Selatan
Sumber: cianjurcybercity.com

Lebih lanjut sumber dari pemerintah Kabupaten Cianjur menyebutkan bahwa lapangan pekerjaan utama penduduk Kabupaten Cianjur adalah di sektor pertanian yaitu sekitar 52,00%. Sektor lainnya yang cukup banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor perdagangan yaitu sekitar 23,00%. Sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar terhadap PDRB Kabupaten Cianjur yaitu sekitar 42,80% disusul sektor perdagangan sekitar 24,62%. Namun dengan luas wilayah Kabupaten Cianjur yang sebesar 350.148 km2 dengan jumlah penduduk sebanyak 2.138.465 jiwa (data tahun 2007) tidak semuanya lapangan pekerjaan mampu menyerap para pencari kerja, terutama untuk wilayah desa yang jauh dari kota. Kebanyakan dari mereka akhirnya lebih memilih bekerja di luar daerah seperti Jakarta, Depok, Bogor atau Bandung. Mereka yang tidak memiliki keahlian akhirnya banyak yang memutuskan menjadi TKI seperti yang dialami oleh Kak May.

Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Muhammad Irsyadul Ibad di situs internet Buruh Migran yang menjelaskan bahwa sulitnya lapangan pekerjaan dan kian tidak menjanjikannya sektor agraria yang semula menjadi tumpuan hidup masyarakat perdesaan mendorong banyak orang mencoba mengadu nasib sebagai pekerja migran. Lebih lanjut Beliau mengatakan bahwa pilihan sulit terkait dengan ketersediaan sumber daya ekonomi membelit beberapa bagian masyarakat yang tersebar tidak hanya di luar Jawa, tetapi juga di Pulau Jawa yang disebut-sebut sentra pembangunan. Selain karena faktor ketersediaan pekerjaan, menjadi pekerja migran dengan pekerjaan informal diminati mengingat tidak diberlakukannya persyaratan pendidikan yang ketat.

Sebagian TKI yang tidak memiliki keahlian khusus banyak bekerja disektor informal sebagai PRT seperti yang dialami oleh Kak May yang pernah bekerja di Arab Saudi. Informasi dari Cindy Nur Fitri melalui situs internet Buruh Migran mengatakan Buruh migran pekerja informal juga banyak ditemukan di negeri kincir angin belanda yang bekerja sebagai cleaning service, tukang cat, dan tukang kebun.

Kembali Ke Desa Atau Bekerja Lagi

Kak May yang hanya sekali saja menjadi TKI di Arab Saudi ternyata masih belum bisa memberdayakan potensi desa dengan modal yang dia miliki sepulangnya menjadi TKI. Karena lagi-lagi letak desa yang diperbukitan menyebabkan sulitnya mengembangkan usaha. Untuk kedua kalinya dia ingin menjadi TKI lagi. Hal tersebut tentu saja kembali membuat was-was keluarga karena khawatir dengan kondisi kakak ipar mengingat banyaknya kasus yang terjadi di Arab Saudi.

Seperti kasus yang dilaporkan oleh Rasidibragi di situs internet Buruh Migran tentang nasib TKW (Tenaga Kerja Wanita) asal Mataram Lombok yang bernama Supiani yang nyaris disiksa oleh majikannya di Arab Saudi hingga mengalami patah tulang di bahu kirinya. Supiani berangkat ke Saudi melalui Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) Al-Sata Adiwiguna Mandiri yang beralamat di Jakarta Timur. Dia diajak oleh seorang cukong yang identitasnya tidak diketahui persis dan oleh agensi dipekerjakan sebagai PRT. Saat bekerja ia mengaku sering mendapat perlakuan kasar dan penyiksaan dari  majikannya.

Banyaknya kasus yang menimpa TKI membuat keluarga besar Kak May tidak memberikan izin untuk menjadi TKI yang kedua kalinya karena sangat khawatir akan keselamatan dirinya jika dia kembali menjadi TKI. Terlebih terbatasnya akses yang dimiliki desa serta informasi untuk mencari tahu bagaimana keadaan TKI di luar negeri membuat keluarga semakin khawatir dan semakin bulat untuk tidak memberikan izin. Di desa tempat Kak May tinggal yang terbatas akses serta pengetahuan perangkat desa mengenai perihal migrasi TKI yang aman membuat pengawasan terhadap para TKI diluar negeri menjadi sangat minim. Dahulu keluarga hanya dapat menunggu kabar dari Kak May yang berangkat menjadi TKI, itu pun jika dia sempat memberi kabar kepada keluarga. Seandainya dari tingkat desa mengerti akan proses migrasi yang aman dan terdapat kemudahan mengakses informasi maka keluarga tidak akan terlalu khawatir mengingat aparat desa merupakan pemegang kebijakan pertama yang dapat dimintai bantuan oleh masyarakat.

Melalui situs internet Buruh Migran, Muhammad Irsyadul Ibad menyampaikan saat ini sudah ada desa percontohan yang menjadi model pengawasan buruh migran yang baik. Desa tersebut adalah Desa Dermaji Kecamatan Lumbir Banyumas. Dengan dukungan Pusat Sumber Daya Buruh Migran Infest Yogyakarta dan Paguyuban Peduli Buruh Migran dan Perempuan Seruni Banyumas, Desa Dermaji akan memulai proses perbaikan tata kelola perlindungan buruh migran dengan merapikan data kependudukan dan membangun database penduduk yang bermigrasi ke luar negeri untuk bekerja. Guna kebutuhan tersebut, Desa Dermaji akan menggunakan sistem informasi tata kelola pemerintahan desa Mitra Desa yang dikembangkan oleh GDM dan Infest Yogyakarta. Ketersediaan database ini akan memudahkan proses temu kembali data warga yang bekerja di luar negeri. Dengan demikian, penanganan kasus dan pengawasan akan lebih mudah dilakukan. Pemerintah Desa Dermaji juga akan menerapkan peraturan khusus desa yang mengatur sistem perekrutan warga menjadi buruh migran oleh Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) atau perwakilannya. Setiap PPTKIS yang beroperasi di Wilayah Dermaji diwajibkan untuk melapor dan meminta izin operasi.

Semoga apa yang dilakukan oleh Desa Dermaji selanjutnya dapat dicontoh oleh desa-desa lain yang cenderung menjadi desa asal para buruh migran. Diharapkan dengan adanya sistem tersebut akan memudahkan pengawasan dan penanganan kasus yang menimpa TKI di luar negeri dan mencegah terulangnya kasus tidak diketahuinyaPPTKIS dan penanggungjawab perekrutan TKI yang diberangkatkan ke luar negeri. Dengan demikian tidak ada lagi keluarga yang khawatir seperti yang dialami oleh keluarga Kak May.

Membangun Solidaritas Untuk TKI

Memiliki kakak ipar yang pernah menjadi TKI lantaran faktor ekonomi membuat saya terenyuh dan tergerak untuk membangun solidaritas bagi TKI. Mungkin diluar sana masih banyak orang yang memiliki nasib yang sama dengan Kak May yang terpaksa menjadi TKI untuk membantu kedua orang tuanya.

Melalui blog ini mari kita semua sebagai warga negara Indonesia ikut membangun solidaritas untuk para TKI kita di luar negeri. Solidaritas dapat dilakukan minimal didaerah kita masing-masing dengan ikut berkontribusi memberikan pengetahuan dan pemahaman serta mengedukasi masyarakat yang ingin menjadi calon TKI mengenai prosedur pemberangkatan TKI yang aman dan cara mengakses informasi agar terhindar dari masalah. Serta turut memantau jika ada calo TKI ilegal yang beraksi di daerah segera ditindak lanjuti agar tidak ada lagi calon TKI yang tertipu oleh janji manis calo serta PPTKIS yang tidak bertanggung jawab.

Mari kita juga ikut menyuarakan solidaritas kita untuk TKI kepada pemerintah dengan segera memberikan informasi jika ada TKI yang terlibat masalah di luar negeri. Peran serta dari pemerintah diperlukan sebagai pemegang kebijakkan tertinggi dan sebagai pelindung TKI di luar negeri. Semoga pemerintah tidak lagi kecolongan dan hanya berpangku tangan saja ketika melihat para TKI di luar negeri yang tertimpa masalah, karena tercorengnya harkat dan martabat mereka turut mencoreng harkat dan martabat negara Indonesia yang menjunjung tinggi perikemanusiaan.

Solidaritas kita sebagai warga negara untuk TKI dapat dilakukan dengan ikut membangun perekonomian bangsa sehingga kedepannya TKI tidak perlu lagi bersusah payah mencari nafkah di luar negeri Selain itu untuk menekan laju migrasi TKI terutama disektor informal yang kerap tersandung masalah, mari kita bersama-sama menciptakan lapangan kerja dalam negeri, menanamkan jiwa wira usaha serta membangun desa agar kelak warga yang sudah menjadi TKI dan hendak pulang ke Indonesia bisa mandiri dan melanjutkan usaha di desanya. Semoga suatu hari nanti tidak ada lagi kasus yang menyiksa para TKI, yang membuat miris para pahlawan devisa dan beserta keluarganya.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog solidaritas blogger untuk TKI dan memenangkan juara 6.

Referensi:

Cindy Nur Fitri. 2012. Sekelumit Cerita Buruh Migran Indonesia di Belanda. Diunduh dari www.buruhmigran.or.id pada tanggal 5 Juli 2012.

Muhammad Irsyadul Ibad. 2012. Membuka Kotak Hitam Penanganan TKI. Diunduh dari www.buruhmigran.or.id pada tanggal 5 Juli 2012.

Muhammad Irsyadul Ibad. 2012. Dermaji Siap Menjadi Desa Percontohan Peduli TKI. Diunduh dari www.buruhmigran.or.id pada tanggal 5 Juli 2012.

Pemda Kabupaten Cianjur. http://cianjurkab.go.id

Rasidibragi. 2012. TKW Mataram, Nyaris Tewas Disiksa Majikan di Arab Saudi. Diunduh dari www.buruhmigran.or.id pada tanggal 5 Juli 2012.

About evrinasp

I am an Agricultural Extension Officer, Blogger and Hiker

Discussion

21 thoughts on “Korelasi Ekonomi Desa Dengan Fenomena Keberangkatan TKI

  1. keren ev…setuju ama kamu, ciptakan lapangan pekerjaan🙂 semangattt

    Posted by rodamemn | July 10, 2012, 1:00 am
  2. ev aku uda ikutan ni..tapi ga paham cara ngetweet-nya hahahaha…

    Posted by rodamemn | July 10, 2012, 3:50 am
  3. tulisannya menarik…
    moga sukses dengan lombanya..
    lam kenal mbak…

    Posted by Rie Rie | July 17, 2012, 3:20 pm
  4. setuju ciptakan lapangan kerja, tentunya dengan yg gampang2 dulu yg dibutuhkan daerah setempat.
    lam kenal ya ev…., tks

    Posted by titanic | August 2, 2012, 10:51 am
    • Iya bener, be enterpreneur. Tp klo d cianjur sy jg bingung wirausaha apa, klo toko or warung kyny dperluin bgt, pabrik tempe tahu jg perlu, krn jauh dr mana2

      Posted by evrinasp | August 4, 2012, 4:20 am
      • aku setuju sm kamu, aku jg pnya cita2 bikin usaha biar ada lapangan kerja di daerah cianjur. Tapi aku masih bingung, bikin uasha apa yang cocok di daerah cianjur.

        Posted by ciwopas | September 8, 2012, 3:00 am
      • Bikin koperasi utk hasil2 pertanian n utk mnyalurkn makanan khas desa, disana ada mknan khas yg kyny ok utk dipasarkan

        Posted by evrinasp | September 8, 2012, 8:19 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Evrina Budiastuti | Kontes Blog - July 9, 2012

  2. Pingback: Berkah Ngeblog « evRina shinOda - August 8, 2012

  3. Pingback: Berkah Ngeblog « evRina shinOda - August 8, 2012

  4. Pingback: My First Award « evRina shinOda - August 24, 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: