//
you're reading...
Other

Ulat Vs Semut

Pagi ini saat aku sedang berbenah tak sengaja melihat 2 ekor ulat jatuh ke lantai. Ulat ini merupakan makanan burung peliharaan adik ku. Ulat adalah hewan yang sangat tidak aku sukai, melihatnya saja jijik sekali rasanya. Tapi hari ini untuk pertama kalinya aku menyelamatkan hidup seekor ulat.

Berawal dari rasa penasaran ku melihat kegigihan ulat menyelamatkan dirinya dari kerumunan semut, aku tertegun sekitar lebih dari 5 menit melihat ulat melawan kerumunan semut. Sambil bolak balik ruangan lantaran jijik melihat tubuh ulat mengeliat menahan sakit gigitan semut, aku terus memantau perjuangan sang ulat. Ulat yang pertama sudah mati dan dibawa oleh semut ke sarang mereka secara bergotong royong bak pertanda kemenangan mereka atas keberhasilan dalam menaklukan hewan yang secara morfologis lebih besar tubuhnya daripada tubuh mereka. Berbeda dari ulat yang pertama, ulat yang kedua dengan gigihnya melawan kerumunan semut. Sekali duakali dia berhasil membebaskan diri dari cengkraman semut. Pelariannya terhenti karena 2 ekor raja semut ikut menghalau kebebasannya dan menggigit tubuhnya. Ulat pun kesakitan saat mulut semut menggigit tubuhnya, tubuhnya menggeliat agar semut terlempar dan melepaskan gigitannya. Aku terus menyaksikan seraya berharap sang ulat berhasil menyelamatkan hidupnya.

Entah sejak kapan aku mulai iba dan tergerak dalam hati ku untuk menyelamatkan ulat yang sudah bersusah payah melawan keganasan dan ketidak adilan kerumunan semut. Ku ambil kayu, ku angkat ulat itu namun raja semut tetap mencengkeramkan gigitannya. Ku pindahkan ulat ke tanah, raja semut tetap menggigit tubuh ulat. Ulat mulai menggali tanah, ku bantu agar raja semut melepaskan gigitannya. Alhamdulillah raja semut menyerah, dan ku buang dia. Ulat segera masuk ke dalam tanah.

Di dalam hati aku berkata “wahai ulat kau adalah hewan yang tidak aku sukai, tapi hari ini aku menyelamatkan mu, semoga kau terus berjuang mempertahankan hidup mu, karena predator tak hanya semut, semoga kau beruntung”. Melihat perlawanan ulat bagiku seperti melihat kasus yang sedang ramai saat ini yang membuat iba dan tertegetar hatinya ketika sekelompok etnis muslim Rohingya di Myanmar menjadi korban pelanggaran HAM berat. Sama seperti ketika aku melihat ulat yang kesakitan dan hanya terdiam, seperti melihat dunia yang diam tak kala sekelompok manusia ditindas hak asasinya. Palestina Asia Tenggara begitulah PBB mengumpamakan, akankah mereka mengalami nasib yang sama seperti muslim Palestina? Aku pun tak mampu berbanyak, hanya mampu berdoa dan memohon kepada Allah agar selalu melindungi muslim Rohingya, semoga para pemangku kebijakkan di dunia ini tak menutup mata mereka melihat penderitaan etnis Rohingya, karena mereka juga manusia yang memiliki hak untuk hidup dan mereka. Terlebih bulan ini adalah bulan Ramadhan, bulan penuh rahmat. Semoga Rohinya segera diakui keberadaannya dan tidak ada lagi penderitaan kaum Rohingya. Amin.

About evrinasp

I am an Agricultural Extension Officer, Blogger and Hiker

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: