//
you're reading...
Other

Catatan Mudik

Alhamdulillah kita telah meraih kemenangan dihari nan suci hari raya idul fitri 1433 H setelah sebulan penuh berpuasa melawan hawa nafsu dan amarah, semoga amal ibadah kita diterima di sisi Allah SWT dan kita diizinkan untuk kembali bertemu dengan bulan ramadhan berikutnya. Amin. Aku dan keluarga ingin mengucapkan:

“Happy Ied Mubarak 1433 H, taqababalahu minna waminkum, shiyamana wa shiyamakum, mohon maaf lahir dan batin”

Lebaran tahun ini aku beserta keluarga kembali melaksanakan ritual mudik seperti yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Mudik kali ini ke tempat kelahiran suami yaitu kampung Cibadak, desa Pasir Jambu, kecamatan Tanggeung kabupaten Cianjur. Bagi ku mudik kali ini perlu ditulis dalam blog karena memberikan makna dan hikmah untuk diri ku pribadi sebagai pengingat dikemudian hari. Berikut rangkaian kegiatan mudik kali ini bersama keluarga yang akan ku jelaskan satu per satu.

Perjalanan Menuju Cianjur

Seperti yang telah disepakati sebelumnya dengan keluarga, kami akan mudik ke Cianjur pada hari kamis tanggal 16 Agustus 2012 sekitar pukul 19.00 WIB dengan menggunakan kendaraan yang telah kami sewa sebelumnya. Untuk itu aku telah mempersiapkan diri beberapa jam sebelumnya agar tidak terburu-buru saat keberangkatan. Alangkah terkejutnya aku ketika mendengar kabar bahwa mobil yang disewa tiba-tiba membatalkan transaksinya, hal itu membuat keberangkatan menjadi tertunda hingga pukul 21.00 WIB. Terlebih kendaraan yang akan aku naiki beserta keluarga sangat uncomfortable hingga aku memanggilnya “this is my first and my last experience and I don’t wanna feel that thing again” (silahkan menafsirkan sendiri maksudnya apa). Saat itu masih bulan ramadhan, aku tak bisa menahan kecewa dan kesal lantaran rencananya gagal total, aku berniat tak ingin memaksakan berangkat karena khawatir dengan Alfi (10m). Suami pun berpikiran sama, karena sudah malam terlebih kendaraannya juga tidak memungkinkan akhirnya kami berniat untuk mudik keesokkan harinya saja. Tetapi berkat bujuk rayu serta alasan yang logis dari keluarga akhirnya dengan berat hati aku berangkat juga.

Berangkatlah aku, Alfi, suami beserta keluarga dengan menaiki kendaraan itu. Sepanjang perjalanan aku merasa was-was karena jalan yang akan kami lalui merupakan jalan yang berkelok-kelok menaiki perbukitan. Alfi beberapa kali terbangun karena laju kendaraan yang berjalan tidak mulus. Alfi sempat muntah sekali selama perjalanan malam itu, dinginnya udara membuat perutnya kembung. Alhamdulillah keadaan itu tidak membuat dia rewel. Beberapakali kami bertemu dengan kabut yang cukup tebal dengan jarak pandang kira-kira 5 m sehingga membuat kami berjalan beriringan dengan kendaraan lain menaiki bukit yang berkelok-kelok. Aku ingat waktu itu kami berjalan beriringan dengan mobil, dua motor serta taxi semantara kami mengekor di belakangnya.

Aku merasa lega sekali ketika kendaraan yang kami naiki telah sampai di kecamatan Tanggeung, namun kami masih harus berjuang kembali untuk menaklukan jalan yang menanjak, rusak serta berbatu. Perjalanan pagi itu tercoreng oleh ulah beberapa tukang ojeg yang memaksa untuk diberikan uang sebagai THR, lebih tepatnya mereka melakukan pemalakan. Mereka berani berulah karena kondisi masih gelap gulita, sementara pagi hari mereka tidak berani melakukan pemalakkan karena ramai. Alhamdulillah sekitar pukul 04.00 WIB kami sampai di kampung halaman suami, perjalanan malam itu menghabiskan waktu kurang lebih 7 jam perjalanan menaiki bukit.

Mengenal Kampung Cibadak dan Tradisinya

Dua kali mengunjungi tempat kelahiran suami di kampung cibadak belum sepenuhnya membuat ku paham dan mengenal akan tradisi beserta sanak saudara di sana. Kesempatan kali ini benar-benar aku gunakan untuk mengenal lebih jauh tentang cibadak beserta masyarakatnya. Pertama kali aku datang ke kampung ini nuansa yang ku temui adalah nuansa religius, kekeluargaan, dan saling mengasihi tanpa membedakan miskin kaya tua dan muda. Suasana religius ku temukan dengan adanya pesantren dan sekolah islam yang tergabung dalam Yayasan Pendidikan Islam Al ihya Umuluddin di tengah-tengah kampung kecil itu. Sekolah dan pesantren itu didirikan oleh seorang kyai yang peduli akan kemajuan pendidikan penduduk desa. Dia membangun sekolah dan pesantren tersebut tanpa pamrih, dia tidak pernah meminta pembayaran SPP dari para murid yang menimba ilmu di sana, siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu pun dia terima dengan tangan terbuka. KH. Acep Muhamad Isa begitu nama lengkapnya, beliau biasa dipanggil Apa, saat aku bersilaturahmi ke rumahnya sudah banyak orang-orang yang lebih dahulu berkumpul di sana untuk bersilaturahmi dengan Beliau, terlihat sekali kalau Beliau benar-benar dihormati oleh masyarakat sekitar akan dedikasinya untuk kemajuan masyarakat. Suasana religius juga ku temukan saat santri mengantarkan makanan untuk berbuka puasa ke rumah mertua, mereka begitu sntun dan sopan, pakaiannya tertutup serta berjilbab.

buka bersama di Cibadak “ngariung”

Suasana kekeluargaan ku temukan saat makan bersama. Di keluarga besar suami ku jika makan harus ngariung bersama, orang yang belum ada pun dipanggil untuk ikut makan bersama. Suami sering bercerita kalau dia kangen dengan suasana seperti itu, dan ternyata setelah aku ikut ngariung rasanya memang benar-benar hangat. Bapak mertua mengajarkan kepada ku untuk saling mengasihi walau tidak secara langsung agar selalu ingat dengan orang-orang yang kurang mampu, bila kita mempunyai kelebihan rejeki walaupun hanya sedikit sisihkan untuk mereka yang tidak mampu. Orang-orang di sana jika tidak mempunyai uang untuk membantu tetangga, mereka sering memberikan hasil kebun seperti beras, pisang, sayuran bahkan ayam peliharaan. Sungguh nilai yang amat patut kita contoh.

sawah yang kekeringan

Selain nuansa religius dan kekeluargaan, kampung cibadak juga memiliki nuansa alam yang masih alami. Sayang sekali ketika aku ke sana tahun ini sedang musim kemarau sehingga sawah yang menjadi salah satu sumber mata pencaharian masyarakat menjadi kering. Tak hanya sawah, kolam ikan yang dijadikan sebagai tempat ternak ikan pun ikut surut dan kekurangan air. Akibat musim kemarau ini masyarakat menggunakan sumur sebagai sumber air. Sehari-hari jika tidak musim kemarau masyarakat memanfaatkan mata air sebagai sumber air. Dengan menggunakan selang, air dari mata air dialirkan ke rumah-rumah.

salah satu rumah panggung di cibadak

Di sana masih dapat kita temukan rumah panggung, rumah yang biasa terdapat di kampung-kampung jaman dulu kala. Rumah mertua ku dahulu juga merupakan rumah panggung, namun kini sudah direnovasi mengikuti design rumah modern. Di sana juga walaupun disebut kampung, mereka sudah menggunakan parabola untuk menangkap sinyal televisi karena bila tidak menggunakan parabola, maka tidak ada siaran televisi yang tertangkap mengingat kontur desa yang berbukit.

jalanan berbatu di cibadak

Untuk akses jalan, kampung ini sudah mendapat bantuan dari PNPM Mandiri Perdesaan, namun belum semua jalan desa yang terjamah dengan bantuan ini karena memang medannya yang curam dan jalanan yang sulit untuk dijangkau. Seperti jalan menuju rumah mertua ku, kurang dari 50% yang sudah di aspal, selebihnya hanya diberi batu saja agar tidak licin, karena memang jalanan menuju rumah mertua menanjak seperti 90 derajat. Sebaiknya kalau memang belum ahli membawa kendaraan baik motor atau mobil jangan coba-coba untuk membawa kendaraan tersebut ke daerah ini, bisa-bisa malah jalannya malah mundur ke belakang.

Lebaran di Cibadak

Lebaran di cibadak sama seperti di tempat lainnya, walaupun kampung tetap saja ramai dengan gema takbir dan bunyi petasan serta kembang api. Ini yang membuat ku agak terganggu malam takbir, karena ada sebagian anak kecil di sana yang bermain meriam karbit, bunyinya menggelegar karena di bukit membuat Alfi kaget dan tidak bisa tidur hingga tengah malam. Alih-alih bertakbir mereka malah bermain meriam karbit, alhamdulillah selepas tengah malam anak-anak itu sadar dan kembali ke rumah sehingga Alfi bisa tidur tenang.

jiarah

Pagi harinya semua masyarakat shalat idul fitri di masjid dekat rumah, aku tak bisa ikut shalat karena menjaga Alfi. Pagi hari sama seperti sebelumnya masih dingin dan berkabut, selepas shalat kami saling bersilaturahim dan bermaaf-maafan. Kegiatan dilanjutkan dengan makan ketupat, kalau di kampung walaupun dengan ketupat tetap harus ada menu wajib yaitu lalapan dan sambal, itu adalah menu andalan suami yang harus ada setiap kali makan. Setelah kenyang makan ketupat dan bersilaturahim, aku diajak untuk berjiarah ke makam kakek nenek keluarga suami, letaknya di belakang rumah, jadi tidak terlalu jauh melangkah. Doa dipanjatkan oleh kami semua yang dipimpin oleh bapak mertua, semoga doa kami saat itu diijabah oleh Allah SWT. Amin. Selanjutnya kami bersilaturahim ke rumah Apa, seorang kyai yang sudah saya jelaskan sebelumnya, di sana aku hanya mendengarkan saja karena aku tak paham bahasa sunda. Ada yang menarik di sini, Alfi menghabiskan 1 buah pisang Ambon besar yang disediakan di rumah Apa, biasanya kalau aku menyajikan Alfi hanya mau makan maksimal setengahnya. Tak hanya aku yang dibuat takjub, orang-orang di sana juga heran dengan nafsu makannya Alfi.

Siang hari di sana ada hiburan 17an berupa panjat pinang, sayangnya aku tak bisa ikut menyaksikan karena Alfi mengantuk lantaran malamnya tak bisa tidur. Acara tersebut berlangsung hingga tengah hari. Saat Alfi sudah terbangun, aku, Alfi dan ayahnya Alfi berjalan-jalan ke luar, aku penasaran apakah di kampung nan jauh dari mana-mana itu ada yang berjualan makanan. Dan ternyata ada warung bakso yang sudah buka, aku senang bukan main, sebulan penuh tak makan bakso dan sekarang aku menemukan warung bakso di atas bukit. Rasanya juga lezat, bersyukur sekali bisa makan bakso lagi. Kegiatan hari itu melelahkan sekali, setelah sampai rumah kami bertiga akhirnya kembali tertidur karena walaupun siang suhu di sana tetap dingin lho.

Kembali ke Bogor

Sudah tiga hari kami berada di cibadak, kini saatnya kami harus kembali ke bogor karena Ayahnya Alfi harus segera kerja kembali. Untuk kali ini kami pulang dengan menggunakan kendaraan umum, aku khawatir bukan main karena takut Alfi rewel di jalan dan lamanya waktu perjalanan membuat dia tidak betah. Alhamdulillah kekhawatiran ku tidak terbukti, faktanya Alfi justru anteng dan tertidur selama perjalanan.

Perjalanan dimulai dari rumah menuju kecamatan Tanggeung di bawah sana, kalau perginya kami menanjak, maka pulangnya kami menuruni bukit. Dengan menaiki motor yang dikendarai oleh pamannya suami, kami bertolak dari rumah menuju Tanggeung, sesekali aku beristigfar dan memegang erat Alfi lantaran motor yang kami naiki susah payah melalui jalanan yang berbatu dan curam. Alhamdulillah sampai juga kami di Tanggeung. Perjalanan dilanjutkan dengan menaiki elf menuju Cianjur, kurang lebih 3 jam kami berada di elf, saat di elf Alfi sudah muntah sebanyak lima kali karena tak tahan dengan jalan yang berkelok-kelok dan dinginnya udara karena beberapa kali kami harus melewati puncak kebun teh. Dia terlihat lemas dan banyak tertidur. Sesampainya kami di zebrot terminal Cianjur sekitar pukul 12.00 WIB, kami beristirahat sejenak di mesjid sambil mengisi perut serta membiarkan Alfi meluruskan badannya. Alfi makan bekal yang ku bawa yaitu buah pisang dan kelengkeng, alhamdulillah dia sudah segar dan ceria kembali.

Setelah semuanya sudah siap, kami melanjutkan perjalanan kembali dengan menggunakan bis marita jurusan Cianjur-Kampung Rambutan. Jika keadaan normal, bis tersebut melewati puncak Bogor sehingga jarak tempuh Cianjur Bogor lebih dekat, sedangkan musim lebaran seperti ini jalan dialihkan melalui Jonggol. Sekitar pukul 15.00 WIB kami sampai di Cileungsi Bogor, kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkot 64 jurusan Cileungsi-Cibinong menuju Cibinong. Alfi senang bukan main saat kami menaiki angkot dari Cibinong menuju rumah, sesampainya di rumah Alfi disambut bak seorang pangeran, dicium dan dipeluk oleh orang-orang rumah yang kangen dengan Alfi. Alhamdulillah kami sampai dengan selamat setibanya di rumah tanpa kekurangan satu apa pun.

Hikmah yang dapat ku petik dari perjalanan mudik kali ini adalah:

  • Jangan khawatir terhadap sesuatu yang belum terjadi, positif thinking agar semuanya berjalan lancar
  • Bersabar dalam menghadapi segala kondisi, karena mungkin dibalik itu semua ada hikmah yang dapat dijadikan pelajaran
  • Belajar saling memberi dan mengasihi dengan orang lain
  • Jangan terburu-buru menjudge sesuatu karena belum tentu apa yang kita pikirkan benar adanya

Alhamdulillah, begitulah rangkaian mudik kali ini, semoga terpetik hikmah dari segala kegiatan mudik yang telah kami laksanakan baik untuk kami sendiri maupun orang lain. Amin

About evrinasp

I am an Agricultural Extension Officer, Blogger and Hiker

Discussion

2 thoughts on “Catatan Mudik

  1. Assalamu’alaikum wr wb
    Syukron untuk tulisan Catatan Mudiknya Teh…
    Saya lagi nyari untuk Profil Kp. Cibadak…
    Salam.. Saya pernah d Cibadak Juga (Pondok Al-Ihya)

    Posted by Ulumuddin | January 13, 2016, 6:41 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: