//
you're reading...
Contest

Harga Gula ‘Melegit’, Manisnya Menanam Tebu

Indonesia sangat berpotensi menjadi produsen gula dunia karena dukungan agroekosistem, luas lahan dan tenaga kerja yang memadai. Disamping itu, prospek pasar gula di Indonesia cukup menjanjikan dengan konsumsi sebesar 4.2 – 4.7 juta ton/tahun. Gula yang merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi masyarakat dan industri saat ini masih terus menjadi masalah karena kekurangan produksi dalam negeri, sementara kebutuhan terus meningkat. Pabrik Gula (PG) yang berada di Pulau Jawa relatif berumur teknis sudah tua, sehingga kurang produktif dalam berproduksi. Hampir semua PG sangat tergantung pada petani tebu dengan luas lahan yang terbatas di Pulau Jawa. (Deperindag, 2009).

Berdasarkan data di atas dapat kita simpulkan bahwa sebanyak apapun produksi gula yang dihasilkan maka semuanya akan terserap oleh pasar. Di Indonesia hampir semua gula kristal putih (GKP) dihasilkan dari tebu. Tanaman berbuku dan beruas ini mengandung nira yang nantinya akan diperah atau digiling di pabrik-pabrik (PG) dan diolah menjadi gula.

Mayoritas tanaman tebu di Pulau Jawa dikelola oleh petani dan di giling ke PG dengan sistem bagi hasil petani 66 % dan untuk PG 34 %. Kemudahan dalam penggarapan kebun dipermudah dengan adanya bantuan kredit, baik kredit dari pemerintah (Kredit Ketahanan Pangan dan Energi/KKPE) yang disalurkan melalui bank-bank berplat merah, maupun kredit dari lembaga keuangan lain yang tentunya dengan tambahan bunga komersil. Kemudahan dalam penggarapan kebun juga diperoleh dengan adanya Bimbingan teknis yang diberikan dan didampingi langsung oleh petugas lapang dari PG agar produksi tebu mencapai target.

Tebu tak hanya komoditi biasa namun sudah menjadi budaya yang mengakar di Indonesia. Tanaman setahun ini sangat cocok dan tumbuh subur di daerah tropis. Tanaman yang memerlukan setidaknya 2 bulan kering pada akhir fase vegetatif sehingga secara fisiologis akan mendorong pembentukan glukosa pada ruas-ruas batangnya dalam bentuk nira.

Semasa penjajahan Belanda budidaya tebu masih menggunakan Sistem Reynoso (sistem pengolahan lahan tebu di sawah). Namun seiring dengan adanya alih fungsi lahan persawahan menjadi peruntukan lain dan kini petani pemperoleh kebebasan untuk menanam komoditi yang dapat menguntungkannya, maka kecenderungan saat ini tanaman tebu dibudidayakan pada lahan tegalan. Oleh karena itu saat ini peningkatan produksi difokuskan pada pengembangan areal (keuntungan petani dalam menanam suatu komoditas), pengolahan tanah, bongkar ratoon, pembibitan (varietas komersil, budset/budchips, mikropropagasi), dan teknologi pengairan (lebung/embung/dam, sumur pantek, pompanisasi, dan teknologi drip irrigation).

Musim giling tahun 2012 ini, harga gula mencapai harga tertinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan menetapkan harga penyangga petani (HPP ) minimal Rp 8.100,-/kg. Saat lelang harga bahkan dapat mencapai kisaran di atas Rp 10.000,- (Rp 10.500 – Rp 11.700).

Dengan perkiraan rata-rata produktivitas tebu 75 ton/ha serta diiringi dengan dukungan PG yang prima sehingga rendemen bisa mencapai 7.5%, tetes 5% ton tebu (harga Rp 800 ribu/ton) maka petani bisa memperoleh pendapatan minimal Rp 40 juta/ha, dan setelah dikurangi potongan kredit, keuntungan bersih 25 juta/ha. Siapa yang tidak mau menanam tebu?

Harga gula “melegit”, manisnya menanam tebu.

 

About evrinasp

I am an Agricultural Extension Officer, Blogger and Hiker

Discussion

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Euforia dan Imbas “Melegit” Harga Gula « Catatan diri seorang mohyiyi - December 11, 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: