//
you're reading...
Contest

Guru, Pahlawan Dalam Menggapai Cita

Dua puluh dua tahun yang lalu aku adalah seorang siswa yang duduk di bangku sekolah dasar (SD). Ingatan ku masih segar tak kala mengingat jasa seorang guru yang telah membuat ku menjadi seorang yang optimis dan bersemangat dalam  belajar, seorang guru dengan imbalan yang tak terlalu besar dibandingkan jasanya telah mampu membawa anak-anak kecil meraih cita. Dialah guru ku, pahlawan ku.

SDN Bojonggede 02 Tahun 2012

Sekolah itu terletak beberapa kilometer dari tempat tinggal ku, SDN Bojonggede 02 itulah nama sekolah ku. Aku mengenyam pendidikan dasar di sana sejak tahun 1990 hingga 1996. Dengan berjalan kaki kurang lebih 30-45 menit (tergantung kecepatan berjalan) aku dan teman-teman mampu mencapai sekolah yang dipisahkan oleh sebuah sungai dengan jalan raya itu. Sekolah ku bukanlah sekolah favorit, itu terlihat dari infrastruktur sekolah yang sangat minim kualitasnya bila dibandingkan dengan sekolah lainnya. Sekolah ku terdiri dari dua buah bangunan yang tegak lurus satu sama lain. Bangunan yang berada disebelah utara terdiri dari tiga ruangan yang digunakan untuk mengajar anak-anak kelas 1, 2 dan 3. Sedangkan bangunan lain yang berada di sebelah timur digunakan untuk mengajar kelas 4, 5 dan 6. Hanya tersisa dua ruangan yang digunakan untuk ruangan guru, dan kepala sekolah. Disebelah utara kelas 4, 5 dan 6 terdapat rumah dinas kecil yang terdiri dari ruang tamu, dua buah kamar tidur dan kamar mandi (begitulah kira-kira jika aku melihatnya dari luar). Dirumah dinas kecil itulah tinggal seorang guru yang menjadi sosok guru panutan bagiku.

Tahun 1990-1996

Bapak Sunaryo, begitulah namanya, dia adalah bapak dari dua orang anak, suami dari seorang istri yang berprofesi sebagai perawat serta seorang guru yang multifungsi. Diantara semua guru SD yang ku kenal, sosok Pak Naryolah yang paling aku ingat. Jasanya teramat besar bagi ku. Dia mampu membuat ku menjadi seorang siswa yang kala itu cenderung pesimis dan tertutup menjadi siswa yang optimis dan berani. Aku mulai mengenal Pak Naryo tak kala Beliau mengajar ku di kelas 4 sekaligus menjadi wali kelas ku saat itu. Jika pak Naryo mengajar, aku selalu memperhatikan dengan seksama. Cara mengajarnya yang jelas dan lugas membuat ku sangat mudah menangkap apa yang hendak beliau sampaikan. Minimnya fasilitas belajar mengajar kami di sekolah itu tak membuat semangat kami yang hendak menuntut ilmu menjadi surut.

Bangunan Sekolah Disebelah Utara Tahun 2012

Pada tahun ajaran 1993-1994, aku sudah naik kelas ke kelas empat. Kelas empat merupakan ruangan kelas paling pojok yang terdapat di bangunan sebelah utara. Aku ingat saat itu aku harus berbagi tempat duduk dengan dua orang teman ku, kami duduk bertiga di kursi panjang dan satu meja panjang. Hal itu terjadi karena jumlah siswa dalam satu kelas saat itu mencapai 58 orang siswa yang  tidak diimbangi dengan banyaknya jumlah meja dan kursi, sehingga membuat kami harus berjejalan saat belajar. Beberapa bangku yang kami duduki sudah mulai reot (lapuk) dan terkadang pula kami menemukan serbuk dari binatang pemakan kayu di meja kami. Bayangkan betapa gaduhnya suasana belajar saat itu, seolah penuh sesak, apalagi ditambah dengan suara adik kelas yang berada di ruangan kelas sebelah ruangan kami menambah keramaian suasana proses belajar mengajar. Kami dapat mendengar suara guru atau murid dari kelas lain karena masing-masing kelas hanya disekat oleh papan yang dapat dibongkar pasang serta terdapat satu pintu tembus antara ruangan kelas yang satu dengan yang lain. Kecuali untuk bangunan di sebelah timur, masing-masing ruangan tidak terdapat sekat tetapi memiliki pintu tembus antar ruangan kelas. Meskipun begitu Pak Naryo tidak terlalu terganggu dengan keadaan sekolah kami saat itu, dia mengajar dengan suara lantang mengalahkan suara bising di luar. Namun, Pak Naryo terkadang harus terdiam beberapa detik tak kala kereta rangkaian listrik (KRL) lewat di samping ruangan kelas kami, bunyinya nyaring sehingga bila terus dipaksakan untuk bersuara maka tidak akan terdengar. Bangunan di sebelah utara sejajar dengan jalur KRL jurusan Bogor-Jakarta, setiap beberapa menit sekali kereta hilir mudik di samping bangunan sekolah kami. Hal tersebut tidak mengganggu proses belajar mengajar karena para guru dan murid telah biasa dengan keadaan di sana. Bila kita menyeberang rel maka akan terdapat lapangan luas yang kami pergunakan untuk kegiatan olahraga. Olahraga kasti adalah olahraga favorit ku, Pak Naryo mengajari kami bagaimana memukul dan melempar bola. Pelajaran olahraga inilah yang paling aku sukai karena kami bebas berlari dan berekspresi di lapangan.

Rel Kereta di Belakang Bangunan Sebelah Utara

Menurut ku saat itu Pak Naryo adalah guru multi fungsi karena dia bisa mengajarkan beberapa mata pelajaran. Pak Naryo mengajarkan kami pelajaran IPA, matematika, IPS serta olahraga. Aku ingat Pak Naryo begitu sigap dalam mengajarkan senam kesegaran jasmani (SKJ), salah satu jenis olahraga yang juga aku sukai saat itu. Sebenarnya Pak Naryo bukanlah guru multifungsi dalam arti sebenarnya, karena memang saat itu jumlah guru di sekolah kami masih sedikit, sehingga banyak yang merangkap untuk mengajar beberapa mata pelajaran. Ketika aku kelas 6 pada tahun 1996, Pak Naryo kembali menjadi wali kelas ku. Kini aku tak perlu berdesakkan dengan teman dalam belajar di kelas karena masing-masing meja sudah terdiri dari dua orang siswa. Meski begitu bukan berarti tak ada kendala, aku masih ingat tak kala kami harus berbagi guru dengan adik kelas di kelas lima, Pak Naryo yang menangani saat itu. Karena ruangan kelas memiliki pintu tembus maka membuat mudah Pak Naryo untuk bolak-balik ruangan kelas lima dan enam. Pak Naryo harus mengajar dua kelas dalam waktu bersamaan. Sebagian teman-teman justru senang karena saat Pak Naryo tidak ada maka dapat dipakai untuk bermain, sedangkan untuk ku pribadi keadaan tersebut kurang menyenangkan lantaran lebih banyak waktu kosong tanpa guru walaupun kami sudah diberi tugas saat guru tidak ada.

Saran dari Pak Naryo dalam Buku laporan Pendidikan SD Tahun 1994

Pada tahun inilah aku benar-benar merasa Pak Naryo sangat berjasa untuk ku. Saat itu aku adalah siswa kelas enam yang pesimis walaupun aku memiliki prestasi di kelas. Dia selalu menyemangati anak didiknya agar mau berprestasi dan optimis dalam menggapai cita. Berbagai upaya Beliau lakukan demi kemudahan kami dalam belajar. Salah satunya yang paling aku sukai adalah cara Pak Naryo menggelar kuis setiap pulang sekolah, siapa yang mampu menjawab lebih dahulu maka dia dapat pulang lebih awal. Melalui cara itu kami harus memperhatikan apa yang telah diajarkan oleh Pak Naryo sebelumnya. Karena begitu besarnya semangat yang dimiliki Pak Naryo dalam mendidik semua siswanya, aku berjanji dalam hati, aku akan lulus dengan nem yang cukup tinggi dan masuk ke SMP negeri favorit di Bojonggede. Alhamdulillah hal itu tercapai, paling tidak itulah balasan ku untuk jasa yang telah diberikan oleh Pak Naryo.

Jika aku boleh memberikan usul saat itu, aku ingin sekali mengatakan kepada pemangku jabatan pendidikan di daerah untuk memperhatikan sekolah dan guru-guru yang telah berjasa kepada kami. Bila dibandingkan dengan SDN Bojonggede 01 dan SDN Bojonggede 03, sekolah kami memiliki kualitas infrastruktur yang jauh berbeda dengan kedua sekolah tersebut. Kami pernah diajak guru kami untuk melakukan studi bersama (aku lupa dalam rangka apa) di SDN Bojonggede 01. Sekolah itu memiliki bangunan yang bertingkat, ruangan kelas yang luas, kursi meja yang masih bagus, tembok yang tidak kusam, serta memilki lapangan yang lebih luas dibandingkan sekolah ku. Di sekolah kami, perpustakaannya saja hanya berupa lemari yang berisi buku-buku sumber belajar yang terdapat di ruangan guru. Terlebih untuk Pak Naryo, aku sedih melihatnya, karena penghargaan atas jasanya saat itu hanya berupa rumah dinas yang kecil dan meja kerja yang berhimpitan dengan guru-guru lain. Meskipun begitu Pak Naryo tetap semangat dalam melakukan proses belajar mengajar. Begitulah guru, yang dahulu disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Tahun 2000-sekarang

Sekolah ku, SDN Bojonggede 02 yang beralamat di Jalan Bambu Kuning Kecamatan Bojonggede Kabupaten Bogor kini sudah banyak berubah. Bulan September lalu ketika aku hendak meminta legalisir ijazah, aku memperhatikan beberapa kemajuan dari sekolah itu. Sekolah tempat ku mengenyam pendidikan dasar tersebut mulai merasakan perbaikan dan penambahan infrastruktur pendidikan seiring dengan bergulirnya program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) pada tahun 2005. Pemerintah memang tengah memajukan dunia pendidikan di Indonesia, hal itu tertuang dalam pasal 31 UUD 1945 hasil amandemen keempat yang berbunyi “Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggeraan pendidikan nasional”. Implementasi amanat UUD 1945 tersebut mulai dijalankan pada tahun 2005 dengan meluncurkan program bantuan operasional sekolah (BOS) dan program sertifikasi guru.

Kabupaten Bogor tercatat sebagai penerima Bantuan Operasional Sekolah (BOS) terbesar se-Jawa Barat pada kuota dana BOS pusat untuk Provinsi Jawa Barat yang dialokasikan dalam APBN 2012. Dari total dana BOS 2012 yang diterima Provinsi Jawa Barat sebesar Rp 4,184 triliun, Kabupaten Bogor menerima sekitar Rp 434,535 miliar. Hal tersebut disebabkan oleh jumlah siswa dan sekolah di Kabupaten Bogor yang sangat banyak. Tercatat ada 537.475 siswa SD dengan alokasi BOS Rp 311,735 miliar dan 172.958 siswa SMP dengan alokasi BOS Rp 122,8 miliar (Pikiran Rakyat, 2012).

Bangunan di Sebelah Timur Tahun 2012

Melalui dana BOS, pembangunan untuk menambah dan memperbaiki infrastruktur telah dilakukan oleh sekolah ku itu. Pembangunan tersebut antara lain penambahan ruang kelas dan fasilitas pendukung belajar, serta perbaikan bangunan lama. Bangunan yang berada di sebelah timur kini sudah menjadi bangunan dua lantai, itu berarti ruang kelas kami bertambah. Di depan bangunan tersebut terdapat beberapa mainan untuk anak-anak kelas satu seperti ayunan, perosotan, jungkat-jungkit dan lain-lain. Rumah dinas yang dahulu dijadikan tempat tinggal untuk Pak Naryo sekarang telah berubah fungsi menjadi kantor kepala sekolah. Sebenarnya ruangan itu terlihat jauh dari kesan kantor karena hanya terdiri dari beberapa meja kerja saja dan kursi untuk tamu. Sedangkan untuk ruangan guru masih sama, meja yang berhimpit dengan satu fasilitas komputer serta printer di pojok ruangan. Untuk bangunan yang berada di sebelah utara masih menggunakan sekat sebagai pembatas, dan terdapat kantin sekolah di depannya. Jumlah siswa dalam satu kelas telah dibatasi sehingga tidak berjejalan seperti yang aku alami dahulu, kini masing-masing meja hanya terdiri dari dua siswa. Seiring dengan perubahan itu, aku mendapati kabar bahwa Pak Naryo sudah lama pindah ke daerah lain di sekitar Pabuaran. Padahal aku saat itu sudah sangat senang sekali hendak bertemu Beliau. Aku berharap kehidupan Pak Naryo lebih baik sejak dua puluh dua tahun yang lalu mengingat nasib guru sekarang sangat diperhatikan oleh pemerintah melalui program sertifikasi profesi guru.

Rumah Dinas yang Kini Menjadi Kantor Kepala Sekolah

Seiring dengan adanya penghargaan dari pemerintah untuk sosok pahlawan pendidik anak bangsa ini yang diimplementasikan melalui sertifikasi profesi guru, kini kalimat “pahlawan tanpa tanda jasa” dalam lagu hymne guru sudah tergantikan oleh kalimat “pahlawan pembangun insan cendekia”. Sertifikasi merupakan bentuk penghargaan bagi guru untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Melalui sertifikasi ini guru mendapatkan tunjangan profesi satu bulan gaji dan tunjangan lainnya yang memang menjadi hak guru. Namun hal tersebut dapat diperoleh bila seorang guru memenuhi beberapa syarat seperti terpenuhinya porsi jam mengajar sesuai peraturan yang berlaku hingga lama masa mengajar, serta memiliki kompetensi sesuai yang ditetapkan pemerintah.

Hal ini tertuang dalam Undang-Undang Guru dan Dosen (UUDG), yaitu Undang-undang No. 14 Tahun 2005 yang merupakan kebijakan untuk meningkatkan kualitas kompetensi guru lewat kebijakan keharusan guru memiliki kualifikasi Strata 1 atau D4, dan memiliki sertifikat profesi. Dengan sertifikat profesi ini pula guru berhak mendapatkan tunjangan profesi sebesar 1 bulan gaji pokok guru. Di samping UUGD juga menetapkan berbagai tunjangan yang berhak diterima guru sebagai upaya peningkatan kesejahteraan finansial guru. Kebijakan dalam UUGD ini pada intinya adalah meningkatkan kualitas kompetensi guru seiring dengan peningkatkan kesejahteraan mereka (Jalal, 2007).

Namun adanya sertifikasi ini juga menimbulkan polemik seperti: banyak guru yang pada akhirnya harus mengajar mata pelajaran yang tidak sesuai dengan bidangnya untuk memenuhi porsi jam mengajar yang telah ditentukan, banyak pula yang berkorban moril dan materiil untuk mengikuti kuliah penyetaraan demi mendapatkan gelar sarjana yang juga termasuk persyaratan lulus sertifikasi (Zainab, 2012). Polemik lain berasal dari keterbatasan dana dari pemerintah yang membuat program sertifikasi tidak dapat dilaksanakan secara serentak untuk 2,7 juta guru di Indonesia. Hal itu jelas melahirkan persoalan baru berupa konflik horizontal antara guru yang sudah mengikuti program sertifikasi serta menerima tunjangan profesional dan guru yang belum memperoleh jatah. Mereka melaksanakan tugas yang sama, tapi besaran gaji yang diterima berbeda. Namun hal itu dapat diatasi dengan melakukan sistem kuota yang pilihan prioritasnya adalah para guru senior (Mereka yang mengajar lebih dari 20 tahun). Implementasinya, tidak semua guru yang ikut sertifikasi dengan sistem portofolio lolos. Mereka yang gagal kemudian wajib mengikuti pendidikan dan pelatihan selama 90 jam di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang mendapat tugas untuk itu. Namun, setelah lolos sertifikasi, mereka tidak serta-merta memperoleh tunjangan profesional. Tunjangan profesional hanya diterima oleh guru yang mengajar 24 jam seminggu. Ketentuan itulah yang kemudian menimbulkan persoalan di lapangan, terutama para guru di Jawa, karena berebut jam mengajar untuk memenuhi 24 jam mengajar (Darmaningtyas, 2012).

Pembangunan dibidang pendidikan memang tidak bisa secara instant tercapai secara keseluruhan dalam waktu singkat. Pembangunan ini harus dilakukan secara bertahap dan kontinyu mengingat banyak hal yang harus dibenahi dan ditingkatkan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Pembangunan di bidang pendidikan juga harus disesuaikan dengan tuntutan perkembangan jaman, baik dari segi kualitas tenaga pengajar, infrastruktur sekolah maupun kurikulum pendidikan. Semua itu harus bersinergi agar peningkatan kualitas pendidikan dapat tercapai. Dengan adanya program BOS dan sertifikasi guru yang dicanangkan oleh pemerintah, semoga kelak kualitas pendidikan di Indonesia benar-benar berkembang, sehingga baik peserta didik maupun para pendidik menjadi bersemangat lagi dalam melakukan proses belajar mengajar.

Selamat Hari Guru Nasional

25 November 2012

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Gerakan Indonesia Berkibar “Guruku Pahlawanku” Periode Lomba: 10 September – 12 November 2012.

 

About evrinasp

I am an Agricultural Extension Officer, Blogger and Hiker

Discussion

3 thoughts on “Guru, Pahlawan Dalam Menggapai Cita

  1. nice post Bu🙂 salam kenal dan silahkan mampir juga ya ke blog saya

    Posted by ulie | October 10, 2012, 8:58 am
  2. Reblogged this on Mcdens13's Blog and commented:
    Peran guru dalam pendidikan sangat penting, karena guru akan menentukan kualitas pendidikan bagi peserta didik. penghargaan terhadap guru haruslah ditingkatkan, kesejahteraan guru haruslah diperhatikan, karena dengan adanya mereka kita menjadi tahu apa yang sebelumnya kita tidak tahu, menjadi berharga yang sebelumnya kita bukan apa-apa.

    Posted by mcdens13 | November 12, 2014, 10:12 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: