//
you're reading...
Other

Idealisme

Blog ini selain sebagai tempat berbagi informasi, juga sebagai tempat curhat untuk mengeluarkan uneg-uneg disaat sedang galau atau coret-coret jika sedang ga’ ada ide. Seperti dua hari ini, merasa diri menjadi sangat buruk, tak bisa menahan emosi dan berpikir bijak. Ya Rabb maafkan saya.

Akar dari semua hal tersebut ku rasa dari sikap idealis ku yang berlebihan atau mungkin masih dibilang wajar, aku tak tahu pasti, yang aku tahu aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk Alfi dan menjaga Alfi semampu ku.

Dahulu sebelum Alfi lahir, aku sudah terlebih dahulu mempelajari dan mempersiapkan diri untuk perawatan Alfi nanti. Ada beberapa hal yang sejalan dengan apa yang aku pelajari mengenai perawatan bayi dengan apa yang sudah diyakini oleh orang tua ku turun temurun. Keidealisan ku diuji disini, karena ada beberapa mitos yang diyakini oleh ortu yang ternyata tidak baik dari segi science dan medis, pernah aku juga bertengkar dengan ortu karena tidak setuju terhadap apa yang hendak mereka lakukan kepada Alfi. Tentu sebagai ibu yang melahirkan Alfi aku punya hak untuk memutuskan apa yang boleh dan tidak boleh diterapkan ke Alfi.

Ujian keidealisan ku masih berlanjut ketika aku memutuskan untuk menerapkan metode mpasi secara blw. Berbulan-bulan aku sering menjadi bahan omongan karena menerapkan mpasi yang tidak biasa. Awalnya aku sempat beberapa kali sedih, sering curhat di grup blw, dan berpikir mengapa mereka tidak mempercayai aku, padahal aku ibunya. Namun, setelah sekian lama melakukan mpasi blw tersebut kini aku memetik hasil dan membuat mereka yang membicarakan ku melihat bahwa Alfi hingga saat ini ga susah makan (mudah-mudahan untuk seterusnya). Meski aku tak sepintar ibu-ibu di grup hhbf, paling tidak Alfi mau memakan masakan ku.

Selepas Alfi satu tahun, aku mulai mengendorkan keidealismean yang aku punya. Aku mulai memberikan tambahan gulgar meski tak ekstrim pada makanan Alfi, memperbolehkannya makan sayur yang dibuat ortu ku walau aku tahu itu menggunakan bumbu instant. Semakin hari Alfi makin gemar untuk makan, dia mulai menginginkan makanan yang dimakan orang. Aku mulai berhati-hati dan mengencangkan sabuk idealisme ku lagi karena kebanyakan apa yang dimakan oleh balita yang sebaya Alfi adalah makanan yang mengandung msg, garam yang sangat ekstrim, dan pewarna tekstil yang jika kita makan akan terasa pahit di mulut. Tentu itu bahaya untuk Alfi, aku heran kenapa balita itu diizinkan makan makanan tersebut oleh ortunya. Seperti kemarin, Alfi diledek oleh seseorang yang menawarkan minuman yang belum waktunya dikonsumsi Alfi. Aku hanya bisa kesal sendiri karena berkali-kali aku bilang untuk tidak mengimingi Alfi terhadap makanan dan minuman yang belum layak diminum Alfi. Dan kemarin juga aku kecolongan karena Alfi memakan kerupuk warna warni yang jelas-jelas terbuat dari pewarna tekstil.

Aku kesal ga’ tau harus protes kepada siapa. Alfi sendiri terlihat menikmati. Aku langsung membawanya ke dalam rumah, ku berikan dia beberapa potong wortel kukus lalu dimakannya. Nyatanya dia suka dengan makanan yang lebih sehat, lalu kenapa harus kerupuk itu? Semua itu memang kesalahan ku,membiarkan Alfi bersama ortu ku sementara aku membersihkan rumah. Terhadap cucu pertama tentu ortu ku sangat menyayangi Alfi, mereka akan memberikan apa yang diminta Alfi apalagi jika Alfi mulai merajuk. Tetapi ada baiknya bisa memilah mana yang baik dan tidak, aku sendiri sudah memberikan arahan kepada ortu mana yang boleh diberikan mana yang tidak.

Pertanyaannya adalah apakah sikap ku ini terlalu idealis? sebegitu ketatnya aku menjaga Alfi.

Aku sadar bahwa lingkungan memang sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang Alfi. Seketat apapun aku menjaga Alfi pasti dia sendiri yang nantinya akan mencoba hal-hal yang aku larang. Baiklah aku mengalah, daripada Alfi kembali makan makanan yang berbahaya itu lebih baik aku membeli biskuit bayi. Aku tidak sepandai dan setelaten teman-teman di hhbf dan blw dalam membuat cemilan homemade. Untuk yang ini aku mengalah memberikan Alfi makanan buatan pabrik. Maaf ya Alfi. Ku coba memberi penjelasan agar tidak memberikan Alfi makanan yang berwarna warni dan banyak mengandung garam, msg dsb. Alhamdulillah ortu ku menerima. Keidealismean ku mulai luntur. Meski begitu semoga Alfi tetap terjaga dalam hal asupan gizi.

Aku tidak menyalahkan ortu ku, karena pengaruh lingkungan memang sangat besar. Di tempat tinggal ku bayi umur 4 bulan sudah di beri makan dan makanannya kadang berupa biskuit atau sosis yang dijual di warung seharga 500an. Bukan soal harganya tetapi kandungan gizi dan mungkin zat-zat bahaya yang mungkin memberikan dampak negatif bagi tumbuh kembang bayi tersebut. Alangkah baiknya jika si ibu membuatnya sendiri ketimbang beli di warung. Aku juga pernah menyaksikan (kebetulan dari keluarga sendiri), bayi kurang dari 1 tahun sudah makan mi instant, aku hanya diam dan terheran-heran, waktu itu Alfi belum lahir. Aku tak mengerti, apakah ibu-ibu itu kurang pengetahuannya tentang makana bayi atau memang kurang adanya sosialisasi dari tenaga kesehatan.

Hal tersebut yang aku takuti, sejak dini aku sudah melatih Alfi menyukai masakan rumah dan yang alami, namun godaan di luar sana lebih berat lagi. Jika aku masih mengencangkan sabuk idealisme yang ku punya tentu aku akan stress memikirkannya, perlahan ku kendorkan namun bukan berarti melepaskannya. Semoga aku masih bisa menjaga asupan gizi Alfi sesuai kebutuhanya.

About evrinasp

I am an Agricultural Extension Officer, Blogger and Hiker

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: