//
you're reading...
Other

Bapak Penjual Lemari

Ini merupakan kisah nyata yang terjadi kemarin malam. Bagiku penting untuk ku catat karena telah memberikan pelajaran berharga untuk diriku dan rasa sesal yang teramat sangat karena kurangnya kesadaran untuk berbagi. Jika boleh meminta, aku ingin kembali pada peristiwa kemarin sore.

Bojongbaru tanggal 19 November 2012, ba’da magrib. Kondisi kampung saat itu sudah mulai gelap dan gerimis masih saja turun sejak tengah hari. Kala itu aku sedang melayani seorang pembeli di warung orangtua ku. Munculah seorang bapak sambil memikul lemari di pundak kirinya. Dia berjalan menuju warung tempatku berada karena aku satu-satunya orang yang terlihat saat itu. Aku tak memperhatikan dengan seksama karena perhatianku sedang tertuju pada pembeli. Sekilas aku ingat kalau bapak itu memakai topi bundar, kemeja dan celana panjang, sendal jepit dan handuk di bahu kiri sebagai alas untuk mengangkat lemari. Bapak itu berkata “neng, mau beli lemari tv?”. “engga pak” begitu jawabku. Aku tak memperhatikannya. Begitu pembeli sudah meninggalkan warung, aku mulai berpikir, kemana bapak itu?, kok jualan lemari sampai malam, gerimis pula. Kemudian aku masuk ke rumah dan duduk terdiam. Aku mulai sedih dan rasa sesal memenuhi hatiku, karena aku baru tersadar kenapa aku tidak memberikan sebagian rejeki untuk si bapak meski tak bisa membeli lemarinya karena mungkin saja dia sedang membutuhkan uang sampai dia harus memikul lemari yang terlihat berat di malam hari dan sedang hujan. Kenapa dia tak berhenti di warung untuk berteduh dan istirahat, kenapa dia juga tidak pulang ke rumah padahal sudah malam, dan kenapa dia berjualan di perkampungan yang sulit untuk mengkonsumsi barang seperti itu.

Berbagai macam pertanyaan masih sering aku lontarkan sendiri dan hingga hari ini aku masih menyesal karena tidak membantu bapak itu. Terhadap perjuangannya yang begitu gigih mencari rejeki, aku menjadi malu karena selama ini masih sering mengeluh dan kurang bersyukur terhadap segala yang telah Allah berikan.

Kejadian itu membuatku untuk selalu bersyukur atas segala rahmat yang telah Allah berikan dan memberikan pelajaran agar saling membantu dengan sesama. Jika boleh meminta aku berharap bisa bertemu bapak itu lagi. Aku ingin membantunya. Sekarang aku hanya bisa berdoa semoga Allah memudahkannya dalam mencari rejeki, melapangkan rejeki yang halal untuknya dan semoga dia tetap sabar dalam berusaha. Aamiin.

Terimakasih bapak penjual lemari, walau kedatangan bapak cukup singkat tetapi telah memberikan nasehat yang berarti untukku. Semoga pahala selalu tercurah untukmu dari Allah SWT, karena bapak telah mengajarkan hal yang berarti untukku. Allah tidak akan mengubah suatu kaum jika kaum itu sendiri tidak mau berusaha untuk mengubah dan Allah tidak akan membebani seseorang diluar kemampuannya.

About evrinasp

I am an Agricultural Extension Officer, Blogger and Hiker

Discussion

2 thoughts on “Bapak Penjual Lemari

  1. mba Eev, aku juga pernah ketemu org seperti itu didepan komplek sore hari. Bapak2 membawa buncis sekarung 3/4 penuh dengan sepeda motor, mukanya cemas dan keliatan terburu2 dia nawarin aku buncis (sekarung lagi! buat apa coba..) karena merasa tidak butuh aku tolak. pas aku naik angkot kearah bintaro, aku melihat bapak2 itu nawarin buncisnya ke setiap pejalan kaki dan warung rokok. Aku nyeseeel bgt gak nanya brp harganya dan utk apa?syapa tau keluarganya sedang ada yg sakit dan hanya itu yg dia bisa jual.. haduuh nyeseel bgt rasanyaa.. (T_T) Walaupun mungkin gak bisa bantu byk, tapi sebenarnya aku bisa memberikan sebagian rezeki utk meringankan masalahnya… astagfirullah. smoga Allah memaafkan saya.😦

    Posted by emafatimah | November 22, 2012, 4:24 am
  2. emaaaaa, kok sama sih… sedih bgt ya kenapa kita ga simpati sama sekali, hiks hiks, aq sampe skrg belum ketemu lg sama bapak2 itu. akhirnya kemaren ada bapak2 tua jualan 3 iket daun singkong katanya penghabisan 5000 aj, dia duduk di depan supermarket, akhirnya aku beli, niat ku sedekah ga mau kecolongan ky bapak penjual lemari biar ga nyesel walopun daun singkongnya kebanyakan udah tua. semoga kita selalu dibuka kan mata hatinya utk membantu yang membutuhkan. aamiin

    Posted by evrinasp | November 25, 2012, 3:45 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: