//
you're reading...
Contest

Go Organic, Why Not?!

Salah satu produk organik

Salah satu produk organik

Tulisan yang terdapat pada blog Mba Evi Indrawanto menurut saya sangat menarik karena ada berbagai macam informasi bermanfaat yang dapat kita terapkan. Salah satu tulisan yang menarik buat saya adalah mengenai Menjadi Konsumen Organik yang Cerdas pada Jurnal Kesehatan. Tulisan Mba Evi tentang konsumen organik yang cerdas mengingatkan kembali agar kita menjadi konsumen yang cerdas, apalagi bertepatan dengan Hari Konsumen Nasional yang jatuh pada tanggal 20 April 2013 lalu dengan tema Gerakan Meningkatkan Kesadaran Konsumen. Undang-Undang Perlindungan Konsumen (UUPK) sendiri yaitu Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen menjelaskan hak dan kewajiban kita sebagai konsumen. Diantaranya:

Sebagai konsumen, kita berhak untuk :

  1. Mendapatkan kenyamanan, keamanan dan keselamatan
  2. Memilih barang/jasa yang akan digunakan
  3. Memperoleh informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa
  4. Didengar pendapat dan keluhannya
  5. Mendapatkan Advokasi
  6. Mendapat pembinaan
  7. Diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif
  8. Mendapatkan ganti rugi/kompensasi

Selain itu, juga berkewajiban untuk :

  1. Membaca atau mengikuti petunjuk/informasi dan prosedur pemakaian
  2. Beritikad baik dalam melakukan transaksi
  3. Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati
  4. Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen

Terkait dengan menjadi konsumen organik yang cerdas, kita harus paham terlebih dahulu mengenai produk organik. Apa dan bagaimana sebenarnya produk organik itu?

Seperti yang sudah dijelaskan oleh Mba Evi pada tulisannya, saat ini kita memang tengah berupaya untuk go organic karena memang pemakaian zat-zat kimia selain memberikan efek jangka panjang terhadap kesehatan tentunya juga merusak lingkungan. Pemakaian pupuk kimia seperti Urea, NPK, SP36 dan lainnya telah membuat tanah menjadi miskin unsur hara yang menyebabkan produktivitas tanaman menurun karena kurangnya unsur pembenah tanah, belum lagi kandungan kimia yang terserap oleh tanaman yang membahayakan manusia jika dikonsumsi. Program yang dulu dilaksanakan pada masa Orba yaitu BIMAS dan INSUS yang memakai pupuk kimia berlebihan demi mengejar swasembada pangan tanpa melihat kondisi tanah di seluruh lokasi menyebabkan kondisi tanah saat ini menjadi miskin unsur hara. Efek jangka panjang dari program tersebut kini dirasakan karena tanah di beberapa lokasi mengalami penurunan kualitas.

Secara perlahan pertanian kini diarahkan menuju pertanian organik

Secara perlahan pertanian kini diarahkan menuju pertanian organik

Oleh karena itu secara bertahap saat ini budidaya pertanian sedang diarahkan menuju pertanian organik baik tanaman pangan maupun hortikultura dengan memperbanyak penggunaan pupuk organik dan pestisida nabati serta mengurangi penggunaan pupuk kimia maupun pestisida. Menurut pandangan saya, produk organik itu adalah produk yang dihasilkan tanpa menggunakan zat kimia sedikit pun, dalam memproduksinya hanya menggunakan bahan alami. Contohnya untuk produk pertanian dengan menggunakan pupuk kandang sebagai pengganti pupuk kimia dan pestisida nabati sebagai pengganti pestisida kimia. Pada suatu sarasehan organic yang diadakan oleh Balai Penelitian Tanah beberapa bulan lalu yang dihadiri oleh petani organik, perusahaan swasta yang concern dalam pertanian organik, kalangan akademis, peneliti dan penyuluh terjadi perbedaan pandangan mengenai pertanian organik  ini. Pandangan tersebut adalah:

  1. Disebut pertanian organik apabila dalam budidaya tanaman meminimalisir penggunaan zat kimia dalam rangka penyelamatan lingkungan. Pandangan ini berpendapat bahwa sudah disebut pertanian organik karena penggunaan zat kimia sudah sangat diminimalisir, karena jika full organik tidak bisa menjamin kebenaran organiknya lantaran tanah untuk penanaman benar-benar harus sudah dinyatakan bebas dari zat kimia. Sementara untuk melakukan hal tersebut ditingkat petani saat ini sulit dilakukan karena selain uji analisis tanah cukup mahal, juga memakan waktu lama sementara petani harus terus menanam untuk menyambung hidupnya.
  2. Disebut pertanian orgaik untuk skala komersil maka harus memiliki sertifikat organik yang dicantumkan pada kemasan melalui proses sertifikasi. Seperti yang dijelaskan oleh Mba Evi bahwa suatu produk yang mengaku organik maka harus memiliki sertifikat organik. Hal itu untuk menjamin bahwa produk yang dihasilkan adalah produk organik. Serangkaian proses panjang harus ditempuh untuk mendapatkan sertifikat tersebut seperti lingkungan tempat tumbuh, perawatan, handling dan dokumen.

Beberapa pakar berpendapat bahwa jika ingin menghasilkan produk organik melalui pertanian organik maka seharusnya jangan mutlak murni organik, tetapi yang perlu digaris bawahi adalah semangat perbaikan dengan mengurangi sedikit penggunaan bahan-bahan kimia. Itu dikarenakan para petani masih bingung dengan standar codex mengenai aturan-aturan budidaya organik. Sedangkan untuk skala komersil, perusahaan harus benar-benar menjamin produknya adalah produk organik melalui sertifikat organik.

Saya sepakat dengan Mba Evi agar kita tidak tertipu dengan produk organik yang banyak dipasarkan di swalayan maka kita harus cerdas sebagai konsumen organik. Pastikan bahwa produk tersebut telah memiliki sertifikat organik. Pahami juga akan hak dan kewajiban kita sebagai konsumen seperti yang tercantum dalam UUPK. Mari kita beralih ke organik demi kelestarian lingkungan hidup, Go organic? Why not!

First Give Away : Jurnal Evi Indrawanto

About evrinasp

I am an Agricultural Extension Officer, Blogger and Hiker

Discussion

9 thoughts on “Go Organic, Why Not?!

  1. Memang Mbak Evrina, kalau memang mengaku produknya organik, syarat yg harus dipenuhi adalah sertifikan produk. Konsumen pemakai organik seharusnya tahu hal ini. Kalau tidak ada sertifikat tapi produk di[roses mengikuti proses organik, dicantuntumkan sebagai produk alami saja.

    Terima kasih atas keikutsertaannya ya Mbak. Sudah tercatat🙂

    Posted by Evi | April 23, 2013, 4:17 pm
  2. setuju mbak…..🙂
    sukses buat GAnya,,,,

    Posted by Mita Alakadarnya | April 24, 2013, 1:35 am
  3. Yup…betul, memang harus ada sertifikasi dari deptan dan lembaga sertifikasi lainnya… Dan mau memperkenalkan produk perusahaan kami, ExtraGEN biofertilizer bersertifikasi dari Deptan, Euro, Japan dan USA.😀

    Kami sangat mendukung slogan go green, itu sebabnya kami melangkah di jalan ini.

    Posted by wahid | April 24, 2013, 5:37 am
  4. Yup.. yang nampak bersih di swalayan belum tentu higienis bagi kesehatan

    terima kasih sudah menyemarakkan GA mbak Evi.. sudah tercatat sebagai peserta..

    salam kenal mbak🙂

    Posted by lozz akbar | April 25, 2013, 2:56 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: