//
you're reading...
Contest

Ramadhan di Perantauan

Film Merantau, Gambar Diambil Dari Sini

Di perantauan, begitulah judul tulisan ini. Tetapi gak’ seperti film Merantau yang dibintangi oleh Iko Uwais itu lho, karena merantau yang saya lakukan gak’ jauh sampai menyebrang pulau seperti di film. Saya hanya merantau ke Jawa Timur (Jatim), kok hehe. Jika tujuan Iko Uwais melakukan perantauan adalah mencari jati diri, sedangkan saya merantau di Jatim karena ingin mencari pengalaman di daerah lain yang berbeda budayanya dengan tempat saya berada sekarang sekaligus menghasilkan rejeki.

“L’homme c’est rien-l’ oeuvre c’est tout” manusia itu tak berarti apa-apa, pekerjaan itulah yang membuat hidupnya berarti [1].

Bekerja di luar Jabar memang sudah menjadi cita-cita saya setelah lulus kuliah. Meskipun begitu, syarat yang saya ajukan gak’ terlalu ekstrim kok karena ada syarat yang mengikat juga dari orang tua yaitu saya hanya diperbolehkan merantau di Pulau Jawa saja. Baiklah, yang penting bisa berpetualang di luar Jabar. Memangnya kenapa sih kok pengen banget bekerja di sana padahal banyak orang yang berlomba-lomba mencari penghidupan di Jabar? Alasannya simple karena saya ingin mencari pengalaman baru dengan budaya yang berbeda dari budaya Jabar hehe.

Alhamdulillah keinginan tersebut tercapai, begitu lulus kuliah sayapun mulai bekerja disalah satu perusahaan swasta yang bergerak pada bidang agribisnis di Pare, Kabupaten Kediri, Jatim. Alangkah senangnya waktu itu. Pada tahun pertama bekerja, saya benar-benar menikmati pengalaman seru diperantauan, hingga akhirnya saya tersadar akan suatu moment berharga bersama keluarga yang membuat saya merasa rindu sekali dengan Jabar dan berpikir kembali tentang perantauan ini.

Moment itu adalah Ramadhan, moment berharga yang saya rindukan.

Tahun 2007-2008, Ramadhan Ceria di Pare

“ Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 183.

Berpuasa di bulan ramadhan adalah kewajiban dan termasuk ke dalam rukun islam, jadi sebagai seorang muslim-muslimah kita wajib berpuasa dibulan ramadhan dimanapun kita berada. Nah, Berpuasa dibulan ramadhan pada awal tahun pertama diperantauan bagi saya tidak terlalu berat karena masih memiliki beberapa teman seangkatan yang senasib seperjuangan. Acara seperti buka bersama dan tarawih bersama sering dilakukan dengan teman-teman baik di kantor maupun di luar kantor. Jika tidak sedang keluar dengan teman-teman, saya berbuka puasa dengan ibu kos yang bernama Mbah Mispan. Si Mbah sudah menyiapkan hidangan baik untuk berbuka maupun sahur, maklum saja saya tidak sempat memasak saat itu. O iya sehari sebelum puasa dimulai, saya memperkenalkan tradisi pafajar/cucurak kepada teman-teman kantor. Sebenarnya hanya makan bersama saja tetapi beda nuansanya karena menyambut ramadhan.

Masjid Agung An-Nur, Pare, Kediri, Gambar Diambil Dari Sini

Di Pare, nuansa kekeluargaan dan budayanya masih besar sekali lho. Hal itu terlihat dari kegiatan saling memberi hidangan santap berbuka antar tetangga, kemudian ketika waktu sahur tiba ada iring-iringan kelompok yang bertugas membangunkan orang-orang untuk sahur. Seingat saya dulu pernah diadakan lomba iring-iringan patroli sahur, seru deh ada yang bernuansa islam, ada yang kental dengan budaya jawa dan lain-lainnya.

Nah, yang seru adalah ketika saya dan teman-teman shalat tarawih di masjid dekat kosan kami di Batos (Banana Thousand) alias Gedang Sewu. Kami berjalan sepanjang gang bersama warga di sana, moment seperti tarawih inilah yang semakin mendekatkan kami dengan warga Gedang Sewu. Warga di sana sangat baik sekali, mereka sangat menerima akan kehadiran kami.

Ada suatu kejadian lucu nih, ketika itu teman saya mengajak untuk tarawih di masjid Agung An-Nur Pare, sebuah masjid bercat putih yang sangat besar dan indah. Jaraknya kurang lebih 10 menit bila menggunakan motor dari kosan. Dengan penuh semangat 45 kami menuju masjid tersebut. Setelah shalat isya kami sempat terkejut dan terbengong-bengong seperti sapi ompong ketika imam memberikan ceramah dengan bahasa jawa kromo (bahasa jawa yang sangat halus).

Walah, ora mudeng aku [2]” saya berkata kepada teman saya yang sama-sama bingung.

“jane aku yo podo, meskipun wong jowo nek kromo ngene yo ora paham [3]” jawab teman saya sambil senyam-senyum.

Saya yang bukan orang jatim walau agak sedikit paham bahasa jawa hanya bisa mengangguk-ngangguk saja seolah-olah mengerti terhadap isi ceramah padahal sama sekali tidak paham terhadap apa yang disampaikan oleh sang imam. Sedangkan teman saya yang asli orang jatim hanya bisa tertawa karena dia sendiri tidak mengerti bahasa kromo. Akhirnya kami hanya sekali saja shalat tarawih di masjid itu dan memilih kembali tarawih di masjid semula. Hingga saat ini kenangan tersebut masih saya ingat dengan jelas.

Simpang Lima Gumul

Simpang Lima Gumul

Ramadhan di tahun kedua juga masih sama menyenangkannya karena kehadiran teman-teman. Dua tahun bekerja membuat saya cukup mengenal orang-orang di sana. Jika ada acara berbuka bersama baik di kantor maupun acara yang diadakan oleh teman-teman maka saya selalu berusaha untuk menghadirinya. Tak jarang ketika akhir pekan dibulan ramadhan datang, kami habiskan untuk berbuka di luar Pare, misalnya ke kota Kediri yang jarak tempuhnya memakan waktu kurang lebih 45 menit jika menggunakan motor atau ke kota Malang yang sejuk tempat teman kami berada. Tempat yang asik untuk ngabuburit (ngabubur beurit begitu saya menjelaskan ke teman-teman di Pare karena gak tau artinya) yang enak di Kediri itu di Simpang Lima Gumul, tempatnya dekat dengan Kota Kediri. Di sana ada bangunan berbentuk kotak berupa monumen yang asik untuk ngabuburit. Jika magrib tiba, kita bisa langsung berangkat ke Kota Kediri, jika menggunakan motor hanya memakan waktu kurang lebih 10 menit menuju Kota Kediri.

Menjelang idul fitri, kami yang berasal dari Jabar mulai sibuk mempersiapkan ritual mudik. Hal utama yang kami persiapkan adalah berburu tiket. Kami lebih menyukai menggunakan transportasi kereta api ketimbang lainnya. Kereta api langganan kami adalah Bangun Karta jurusan Pasar Senen-Jombang. Kami tidak perlu khawatir akan kehabisan tiket, karena perjalanan mudik yang kami lakukan melawan arus, jika kebanyakan orang melakukan mudik ke arah timur, maka kami melakukan perjalanan mudik menuju ke arah barat. Meskipun begitu kami tetap mengantisipasi agar tidak kehabisan tiket dengan membeli tiket satu bulan sebelum libur lebaran. Ritual mudik begitu menyenangkan, tidak ada yang tidak bahagia waktu itu. Semua senang kembali ke Jabar.

Begitulah ramadhan dalam dua tahun pertama perantauan saya di Jatim. Tahun 2007-2008 yang menyenangkan.

Tahun 2009-2010, Ramadhan Mandiri

Ramadhan pada dua tahun terakhir perantauan saya di Pare mulai berubah. Teman-teman secara bergiliran mulai jarang berkumpul karena sebagian ada yang sudah berkeluarga dan ada yang memang mengundurkan diri dari perusahaan karena alasan tertentu. Maka tak jarang jika ada acara buka puasa bersama yang diadakan oleh perusahaan maupun sebagian teman kantor, saya pasti akan menyempatkan hadir supaya tidak merasa sendiri. Haduuhhhh kasian amat ya… hehe.

Berbuka bersama keluarga, nikmaaatttt

Berbuka bersama keluarga, nikmaaatttt

Saya ingat saat itu, ketika pulang kerja saya selalu mampir ke tempat penjual makanan guna membeli lauk-pauk untuk berbuka puasa. Mbah Mispan memang sudah menyiapkan hidangan untuk berbuka, namun ada beberapa makanan yang kurang cocok dengan selera saya. Guna menjaga perasaan si Mbah maka saya memakan lauk yang saya beli dengan diam-diam di kamar kos. Entahlah, kira-kira si Mbah tau gak ya?. Gak’ enak rasanya ketika harus berbuka puasa sendiri di kamar. Tidak hanya itu, jika dulu saya rajin tarawih ke masjid, maka ditahun-tahun terakhir itu saya lebih banyak tarawih sendiri di kosan karena gak’ ada teman untuk diajak berangkat tarawih bersama ke mesjid. Sebenarnya itu tidak boleh dijadikan alasan ya dalam beribadah, tapi tetap saja kalau sendirian rasanya garing hehe. Tetapi ada positifnya juga lho, saya jadi agak khusuk untuk beribadah di bulan ramadhan karena sudah jarang untuk main keluar kosan.

Waktu itu saya merasa benar-benar mandiri, makan sendiri (ya iya dong masa disuapin hehe), main sendiri pada tahun-tahun terakhir diperantauan. Terlebih ketika saya akhirnya sudah menikah dan menjalani kehidupan pernikahan jarak jauh. Ramadhan seketika terasa sepi. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan dan kesepakatan dengan suami, saya memutuskan untuk kembali ke Jabar dan mengundurkan diri dari perusahaan. Saya sadar bahwa bersama dengan keluarga adalah hal yang sangat membahagiakan terlebih ketika saat ramadhan datang. Saya kembali ke tanah Jabar pada tahun 2010 dan kembali menyatu dengan suami beserta keluarga hingga saat ini. Tidak ada lagi berbuka sendiri, tarawih sendiri atau ngumpet di kamar karena tidak enak untuk makan menu kesukaan. Meskipun begitu, saya sangat merindukan masa-masa ramadhan ketika diperantauan karena banyak pengalaman seru yang saya lakukan bersama dengan teman-teman.

Ramadhan adalah bulan penuh berkah, selain segala amalan kita dilipat gandakan pahalanya, juga sebagai tempat berkumpulnya keluarga. Saya sangat bersyukur karena masih diberikan kesempatan bertemu dengan bulan nan suci ini bersama keluarga tercinta. Kini kami telah berkumpul bersama dan menjalankan ibadah dibulan ramadhan bersama-sama. Alhamdulillah.

Tulisan ini diikutsertakan untuk GA dalam rangka Ramadhan Giveaway dipersembahkan oleh Zaira Al ameera, Thamrin City blok E7 No. 23 Jakarta Pusat

Referensi:

[1] Doyle, C. 2013. Sherlock Holmes The Adventure. Immortal Publisher. 438hal.

Arti Tulisan:

[2] Walah, aku juga tidak mengerti

[3] Sebenarnya aku juga sama, meskipun orang jawa tapi kalau bahasa kromo kaya seperti itu tidak mengerti

About evrinasp

I am an Agricultural Extension Officer, Blogger and Hiker

Discussion

4 thoughts on “Ramadhan di Perantauan

  1. Nice…. Ikut larut juga vin.. Scara aq juga 2x Ramadhan disono.. Untung dpt istri org kediri, jd tiap lebaran ada ksempatan bt nostalgia.. Wkwkwk
    Gd luck Bisi!!!

    Posted by budi prast | July 25, 2013, 12:45 am
  2. Wah seru ya, saya juga pengen sekali merantau untuk kerja atau menuntut ilmu, tapi kalau sekarang nggak tega ninggalin anak, hehe. Terima kasih partisipasinya🙂

    Posted by Karina amalia | July 25, 2013, 5:16 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: