//
you're reading...
Contest

My Sweet Moment, Menjadi Ibu

Dalam ingatan saya masih terekam jelas beberapa moment yang manis, baik bersama teman, keluarga dan lainnya. Moment tersebut tentu kita ingat karena memberikan kesan mendalam terhadap diri kita. Ingatan tersebut dikenal dengan nama imprinting. Imprinting tidak hanya memberikan ingatan tentang kejadian yang menyenangkan saja, tetapi kejadian yang tidak menyenangkan juga termasuk imprinting. Contohnya adalah kejadian diwaktu kecil yang masih kita ingat hingga sekarang. Nah, kali ini saya akan berbagi cerita tentang sweet moment ketika pertama kali saya mendapatkan gelar terindah yaitu menjadi seorang ibu. Mau tau ceritanya? Ini dia, cekidot ya…..

Ketika dulu saya masih menjadi mahasiswa bahkan ketika berstatus pelajar pasti ada saja orang yang bertanya mengenai rencana kita ke depan, dan hampir semua orang bertanya dengan pertanyaan yang sama. Pertanyaannya begini:

Status: pelajar

Pertanyaan: “kalo udah lulus mau kuliah dimana? Ambil jurusan apa?”

Status: mahasiswa

Pertanyaan: “ kapan wisuda?”

Status: bekerja

Pertanyaan: “kapan nikah? Gaji udah punya, kerjaan udah tetap jangan ditunda-tunda”

Status: menikah

Pertanyaan: “udah punya anak belum? cepet jangan ditunda-tunda”

Almost everybody asking me like that….

Nah, khusus pertanyaan yang terakhir adalah pertanyaan yang agak sensitive buat saya. Bagaimana tidak, karena setelah menikah saya dan suami masih terpisah dengan jarak yang cukup jauh antara Jabar (Jawa Barat) dengan Jatim (Jawa Timur). Waktu itu secara mental saya juga belum siap untuk memiliki anak, apalagi dengan kondisi yang jauh dari suami. Akhirnya ada beberapa teman yang menyadarkan saya untuk tidak menunda memiliki anak karena kehadirannya adalah anugerah. Pada akhir tahun 2010 yang lalu akhirnya saya mengundurkan diri dari perusahaan dan kembali ke Jabar ke tempat suami berada.

Di tempat suami, di kebun tebu yg jauh dari mana-mana

Di tempat suami, di kebun tebu yg jauh dari mana-mana

Berada di lingkungan tempat suami bekerja juga tidak mudah lho, karena saya harus beradaptasi di lingkungan perkebunan tebu yang jauuuuuuuh dari mana-mana. Suasananya sepi sekali. Teman-teman sering meledek dengan bahasa pertaniannya (maklum kami petani hehe), mereka mengatakan jika kami berada dilingkungan yang sepi dan jauh dari hiruk pikuk kota maka polinasi (penyerbukan) dan fertilisasi (pembuahan) harusnya mudah terjadi. Tetapi saya cuek saja, saya ingin menikmati moment berdua dengan suami dulu. Waktu itu kami sudah sembilan bulan menikah, jadi wajar saja jika setiap orang yang bertemu selalu bertanya mengapa belum juga memiliki anak.

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia  daripada setetes air mani yang bercampur yang Kami (hendak mengujinya dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat” Al Quran Surah Al Insan Ayat 2

Alhamdulillah sekitar akhir bulan Januari tahun 2011 ternyata saya positif hamil. Akhirnya saat itu saya dapat menjawab pertanyaan orang-orang mengenai memiliki anak. Suami juga turut senang karena akhirnya amanah itu datang. Tetapi setelah empat minggu dari tanggal kehamilan ternyata terdapat masalah. Tanggal 2 Maret 2011 kami melakukan pemeriksaan USG, hasil USG menyatakan bahwa janin saya belum berkembang. Dokterpun memvonis saya mengalami blight ovum (janin tidak berkembang, hanya kantung rahim saja yang berkembang) apabila dalam dua minggu kedepan tidak ada tanda-tanda kehadiran janin dalam kantung rahim. Kami sangat sedih mendapati hasil tersebut. Meskipun begitu, suami tetap memberikan semangat dan ketegaran kepada saya dalam menghadapi kenyataan tersebut.

kiri: hanya kantung rahim yg terlihat, tengah: janin mulai terbentuk, kanan: sudah mulai terlihat jelas

kiri: hanya kantung rahim yg terlihat, tengah: janin mulai terbentuk, kanan: sudah mulai terlihat jelas

Dua minggu yang dinantipun tiba, kami sudah sangat ikhlas terhadap hasil pemeriksaan nanti. Tanggal 16 Maret 2011 kami kembali melakukan pemeriksaan USG, kami mendapatkan antrian nomor dua ketika nama kami dipanggil masuk menuju ruangan dokter. Setelah diperiksa menggunakan USG, alhamdulillah janin sudah terlihat lengkap dengan denyut jantungnya. Vonis blight ovum-pun tidak terjadi. Kami sangat bahagia dan bersyukur atas berita bahagia tersebut. Belajar dari pengalaman tersebut, maka saya sangat menjaga kehamilan agar bayi yang masih dalam kandungan selalu sehat hingga lahir nanti. Ibu-ibu di sana selalu mendukung saya untuk selalu berolah raga, menjaga asupan nutrisi dan istirahat yang cukup.

Waktupun berlalu, usia kehamilan saya memasuki bulan ke-sembilan, waktu yang dinantipun tiba, saya bersiap menjadi seorang ibu. Kali ini saya mendapatkan cobaan lagi. Setelah dilakukan pemeriksaan dalam (PD) dokter mengatakan bahwa saya tidak bisa melahirkan secara normal karena pinggul yang sempit. Tetapi saya tidak mau larut dalam kesedihan karena sebentar lagi saya akan memiliki anak dan menjadi seorang ibu. Saya menanamkan dalam hati bahwa yang terpenting adalah ibu dan bayi selamat, jadi kalaupun harus melahirkan dengan jalan operasi cesar tidak apa-apa.

Dan tibalah saat itu, My sweet moment adalah ketika mendengar detik-detik tangisan suara bayi yang saya lahirkan, rasanya terharu dan luar biasa nikmatnya.

Hari itu, Selasa tanggal 4 Oktober 2011 pukul 10:23 WIB , saya resmi menjadi seorang ibu.

Alfian Dhiyaa Fahrizi

Alfian Dhiyaa Fahrizi

Kami dan keluarga besar sangat bahagia akan kehadirannya. Kami memberinya nama Alfian Dhiyaa Fahrizi. Alfi, begitu kami memanggilnya, dialah pelengkap kebahagiaan kami, setiap hari rasanya dunia penuh dengan cinta kepada Alfi.

Sekarang Alfi sudah besar, usianya hampir mencapai 2 tahun. Dia sudah sangat ceriwis sekali. Meskipun ditinggal bekerja sebentar saja, rasanya kangen terus sama Alfi. Ternyata benar, memiliki anak adalah anugerah yang tak terhingga dan mendatangkan rejeki yang tak terduga. Memiliki anak juga mengajarkan kita untuk lebih dewasa, karena apa yang kita lakukan akan ditiru olehnya. Semoga kami dapat menjaga amanah yang indah ini hingga dia besar nanti. Cita-cita saya kelak ingin membahagiakannya dan menjadikan anak yang sholeh serta berguna bagi dunia dan akhirat. Aamiin.

Untuk Alfi: “mamah akan selalu ingat tangisan pertama Alfi ketika Alfi terlihar di dunia, tangisan yang memberikan moment indah yang tak terlupakan bagi seorang ibu, terimakasih Alfi, Luv You”.

Ayah-Alfi-Mamah

Ayah-Alfi-Mamah

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway ‘Sweet Moment’ yang diselenggarakan oleh UnTu”

About evrinasp

I am an Agricultural Extension Officer, Blogger and Hiker

Discussion

2 thoughts on “My Sweet Moment, Menjadi Ibu

  1. pastinya bahagia sekali saat menjadi ibu ya Mbak..
    salam buat dedek Alfi..

    Makasih udah share ceritanya..
    OK. Tercatat sebagai peserta^^

    Posted by zaitunhakimiah | July 26, 2013, 2:47 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: