//
you're reading...
Contest, My Job

Indahnya Takdir Allah

Tanda Tangan yang dicoret-coret

Tanda Tangan yang dicoret-coret

Aku punya seorang teman yang dapat membaca tanda tangan. Saat itu aku meminta dia untuk membaca tanda tangan ku, aku sih gak berpikir macam-macam, sebenarnya hanya ingin mengetesnya. Waktu itu dia melihat dengan serius tanda tangan ku, dibuatnya garis mendatar pada sisi tanda tangan dan memberinya label positif dan negatif. Dicoret-coretnya tanda tangan ku, dia bilang begini:

“Pernah terpuruk banget ya?” teman ku berkata dengan wajah serius. “iya kok tau sih?” jawab ku. “iya ini tanda tangan kamu jatuh banget ke sisi gelap (negatif) tapi perlahan bangkit terus”. “iya” jawab ku datar sambil berpikir mengenang kembali peristiwa itu.

***

Dari dulu ketika sudah mulai sekolah, aku merasa setiap rencana yang ku susun sesuai dengan apa yang aku harapkan. Mendapatkan peringkat kelas, bersekolah di sekolah negeri, masuk kuliah dengan jalur khusus tanpa tes hingga akhirnya aku mendapatkan pekerjaan sesuai dengan yang aku cita-citakan. Namun semua rencana ku yang sudah sangat aku perhitungan tiba-tiba tidak terealisasi sesuai dengan yang diharapan ketika aku harus kembali ke tempat suami berada.

Aku dan suami sempat terpisah jarak jauh antara Jabar dan Jatim meski kami sudah menikah. Aku tahu bahwa keadaan ini tidak akan berlangsung lama, cepat atau lambat aku harus mengundurkan diri dari perusahaan dan kembali ke tempat suami berada. Aku telah menyusun rencana setahun sebelum aku mengundurkan diri, aku mengambil pendidikan Akta IV di salah satu sekolah tinggi negeri yang ada disana. Harapan ku adalah ketika aku kembali ke tempat suami berada maka aku bisa mengajar untuk mengisi hari-hari ku disana. Maklum tempat suami adalah sebuah perkebunan tebu yang jauh dari mana-mana, kebayang kan kalo kita sudah terbiasa rutinintas di tempat yang ramai namun tiba-tiba harus berada di tempat yang sepi tanpa melakukan apa-apa pasti akan membuat kita stress.

Menjelang beberapa bulan waktu pengunduran diri ada tawaran beasiswa pasca sarjana dari perusahaan. Jujur saja sebenarnya aku tertarik, tetapi mengingat menimbang dan memutuskan jika aku menerimanya maka akan lebih lama lagi berpisah dengan suami, dan akhirnya aku memutuskan untuk tidak menerimanya. Kemudian tepat sebulan menjelang pengundurkan diri dari perusahaan, aku sudah lulus pendidikan Akta IV. Sejauh ini rencana yang telah aku susun berjalan dengan lancar.

Hamparan Kebun Tebu

Hamparan Kebun Tebu

Dan tiba saatnya aku harus kembali ke tempat suami berada, mental sudah sangat siap untuk kesana. Well… tidak ada yang lebih baik selain bersama dengan keluarga bukan? Tetapi kenyataannya jauh dari apa yang aku bayangkan. Tempatnya benar-benar jauh dari mana-mana, jika aku ingin mengajar maka aku harus menempuh jarak 7 km keluar kebun. Rasanya tidak sebanding dengan hasil yang ku terima. Lalu untuk apa aku mengambil Akta IV? seketika aku ingat ketika teman ku mengatakan bahwa sia-sia saja mengambil kuliah Akta IV, karena tidak akan terpakai. Waktu itu aku bersikeras jika kita sudah menganggap apa yang kita lakukan sia-sia maka semuanya akan sia-sia. Nampaknya apa yang dikatakan teman ku benar saat itu. Aku tidak mengajar sesuai rencana, aku tidak memiliki aktivitas rutin, tidak ada teman dan keramaian, semua itu membuat aku stress. Aku yang biasanya ceria dan dikelilingi oleh teman-teman seketika merasa hancur hingga aku menyalahkan suami ku mengapa dia memilih pekerjaan di tempat yang seperti ini. Butuh waktu lama untuk ku dapat menerima keadaan ini.

“Diantara penyebab kebahagiaan adalah beristikharah kepada Allah dan ridha terhadap qadha (ketetapan)-Nya” (HR Ahmad)

Setelah lima bulan lamanya berada disana, aku mulai sadar dan menerima kenyataan ini ketika diberi amanah menjadi seorang ibu. Aku mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Aku mulai berpikir qanaah (sikap merasa cukup, ridha atau puas atas karunia dan rezeki yang diberikan Allah SWT) bahwa pasti ada sesuatu hikmah dari semua yang aku jalani sekarang. Ku isi waktu ku dengan menulis meskipun hanya menulis di blog, tetapi cukup memberi ku pengalaman karena banyak teman-teman yang menginspirasi ku. Kehadiran seorang anak ditengah-tengah keluarga kecil kami juga membawa warna dalam kehidupan ku. Aku mulai bersyukur diberikan waktu yang cukup panjang untuk bersama dengan anak ku yang masih bayi. Aku tidak terbayang jika masih bekerja ditempat yang lama dan memiliki seorang bayi maka siapa yang akan mengurusnya, menyerahkannya kepada orang lain? Saya tidak berani membayangkan hal tersebut.

Kemudian ketika anak ku berumur hampir satu tahun aku melihat sebuah lowongan CPNS penyuluh pertanian. Dengan izin suami, orang tua dan tentunya bayi kecil ku akhirnya aku mengikuti tes tersebut dan Alhamdulillah aku lulus. Inilah titik balik ku, perlahan aku mulai mengalami anti klimaks keterpurukan ku. Aku mulai bangkit perlahan. Profesi yang aku jalani sekarang ternyata berhubungan dengan sifat ku yang senang bertemu dan berbicara dengan orang-orang, sesuai juga dengan pendidikan Akta IV ku karena aku harus membimbing dan mengajar petani.

Menjadi guru sekaligus penyuluh

Menjadi guru sekaligus penyuluh

Sungguh indah takdir Allah, sebaik-baiknya rencana manusia, tidak ada yang lebih baik dari rencana Allah. Ketika aku menyusun rencana untuk beraktivitas dalam rangka menyibukkan diri dan menghindari kejenuhan, Allah memberi ku anugerah menjadi seorang ibu yang membuatku mengisi hari-hari ku dengan merawat bayi yang ku lahirkan. Ketika aku ingin mengajar menjadi seorang guru, Allah memberikan anugerah dengan menjadi seorang penyuluh yang bertugas mendampingi dan memberikan ilmu serta pengetahuan ku untuk para petani. Kini aku dapat bekerja tanpa menyita waktu banyak untuk anak ku, jam kerja ku jelas meski sesekali aku harus pulang sore hari, paling tidak aku tidak harus lembur seperti di tempat ku dulu.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al Baqarah:216)

Segala sesuatu yang kita rencanakan mungkin tidak terelaksana sepenuhnya sesuai dengan yang kita harapkan tetapi kita harus bersikap khusnudzan (berbaik sangka) terhadap takdir Allah karena sebaik-baiknya rencana adalah rencana Allah. Mengapa kita harus merasakan jatuh, agar kita dapat bangkit lagi. Begitulah Allah mengajarkan kepada kita agar kita selalu berusaha menjadi lebih baik lagi, karena itulah sebenarnya yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan.

Ketika ku mohon pada Allah kekuatan, Allah memberi ku kesulitan agar aku menjadi kuat

Ketika ku mohon kebijaksanaan, Allah memberi ku masalah untuk dipecahkan

Ketika ku mohon keberanian, Allah memberi ku bahaya untuk diatasi

Ketika ku mohon sebuah cinta, Allah memberi ku orang-orang bermasalah untuk dibantu

Aku tak pernah menerima apa yang ku minta, tapi aku menerima segala yang ku butuhkan

(dari berbagai sumber)

Tulisan ini diikutsertakan dalam momtraveler’s first Giveaway “Blessing in Disguise” Periode 16 Juli-16 Agustus 2013. dan Alhamdulillah dapet urutan ke-8, Terimakasih😀

About evrinasp

I am an Agricultural Extension Officer, Blogger and Hiker

Discussion

9 thoughts on “Indahnya Takdir Allah

  1. makasih mba EEv.. tulisannya bagus bangett.. inspiring!🙂

    Posted by emafatimah | August 1, 2013, 5:18 am
  2. wah mirip juga cerita kita mbak, pernah jauhan ma suami, guru (aku dulu juga guru lho heheh)…
    love your post by the way, Allah memang selalu tahu ya apa yang terbaik buat kita
    makasih ya sudah meramaikan GA ku, langsung terdaftar ya🙂

    Posted by momtraveler | August 2, 2013, 4:49 am
  3. Sebelum Allah memberikan ujian, tanpa disadari.. jauh-jauh hari sebelumnya Alah telah memberikan bekal kekuatan dan ilmu untuk kita menghadapinya. Percaya ga?🙂
    Tinggal bagaimana kita berhasil melaluinya, karena itulah kenapa selalu ada hikmah disetiap kejadian yang menimpa kita..
    Bangkit adalah kata kuncinya🙂
    Tulisan yang bagus mba, semoga menang ya…
    Oh ya kuundang juga untuk meramaikan GA di blogku ya..🙂

    Posted by Artie | August 18, 2013, 11:25 pm
  4. Benar-benar menginspirasi dan penuh hikmah..🙂

    Posted by ayundaslamet | September 2, 2013, 7:26 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: When Blessings Are Revealed: Jawara Kontes My First Giveaway | momtraveler's Blog - September 1, 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: