//
archives

Archive for

TOT MP3 2013

Pembukaan TOT MP3 2013

Pembukaan TOT MP3 2013

Tidak terasa sudah hampir 21 hari berada di Lembang dalam rangka melaksanakan tugas diklat pada “Training of Trainers Metodologi Penyuluhan Pertanian Partisipatif” 28 Agustus sampai dengan 18 September 2013 di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang. Tujuan dilaksanakan diklat ini adalah:

  1. Meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan sikap aparatur pertanian dalam menggali dan menganalisis potensi petani maju dan kelompok tani unggulan sebagai sumber informasi, serta mensosialisasikannya kepada PEMDA setempat
  2. Meningkatkan kapasitas aparatur pertanian dalam rangka kesiapan untuk melatih peserta Diklat MP3 bagi penyuluh pertanian
  3. Meningkatkan kemampuan dalam memotivasi penyuluh pertanian agar lebih kompeten dan mandiri dalam melaksanakan tugas, fungsi dan tanggungjawabnya

Awalnya saya sempat HHC alias harap-harap cemas lantaran diklat kali ini tergolong diklat yang berat karena dibutuhkan jam terbang yang tinggi dan pengalaman lebih dalam menyuluh. Saya khawatir tidak bisa mengikuti materi yang diberikan sehingga membuat saya harus berlari-lari untuk memahami segala materi yang diberikan. Selain itu perbedaan usia yang cukup jauh antara saya dengan senior membuat saya khawatir tidak bisa beradaptasi dengan mereka. Tetapi alhamdulillah semua kekhawatiran tersebut tidak terbukti karena baik widyaiswara maupun penyuluh senior mampu membimbing kami yang minim pengalaman untuk dapat mengikuti diklat ini dengan baik. Berikut adalah beberapa tahapan dalam diklat yang telah kami lakukan:

1. Sesi 1-Field Work 1

Jumlah hari dan total jam pelajaran pada sesi 1 dan field work 1 adalah 6 hari dan 50 jam pelajaran. Pada sesi ini kami diajarkan beberapa materi sebelum menentukan metodogi penyuluhan diantaranya adalah:

  • Mengidentifikasi masalah: masalah yang diidentifikasi adalah masalah petani dan kelompok tani. Masalah adalah kesenjangan antara harapan dengan kenyataan. Pada bagian ini kami harus bisa mengidentifikasi dan membedakan antara masalah petani dengan masalah kelompok. Masalah petani lebih mengarah kepada masalah teknis, sedangkan masalah kelompok mengarah kepada masalah sosial, ekonomi dan manajeman. Kesulitan dalam mengidentifikasi masalah adalah membedakan antara masalah dengan penyebab, kadang kami tertukar antara masalah dengan penyebab.
  • Aspek khas inovasi teknologi spesifik lokalita: Aspek khas yang harus kami gali berasal dari petani maju dan kelompok tani unggulan. Aspek khas adalah suatu kelebihan yang tidak dimiliki oleh yang lain, serta memiliki ciri khas yang membedakan dengan yang lain. Aspek khas merupakan inovasi dari pengalaman petani yang sudah teruji sebagai bahan rekomendasi untuk penyuluhan. Menetukan aspek khas ternyata tidak semudah seperti yang tercantum pada teori. Untuk menggali aspek khas dibutuhkan suatu instrument yaitu butir-butir wawancara
  • Teknik observasi lapangan dan teknik wawancara, pada bagian ini kami dilatih bagaimana cara mengobservasi suatu masalah secara tepat serta dilatih menyusun butir-butir pertanyaan untuk wawancara. Hasilnya akan digunakan dalam praktek pada field work 1
  • Penggunaan kamera dan pembuatan foto
  • Field Work 1, field work 1 dilakukan di kelompok tani yang ada di Kabupaten Subang. Kami kebagian melakukan field work di Desa Jalancagak Kecamatan Jalancagak Kabupaten Subang
Suasana kelas

Suasana kelas

Observasi dan wawancara FW-1

Observasi dan wawancara FW-1

Hasil dari field work 1akan digunakan sebagai bahan pembelajaran pada sesi 2 dan field work 2.

2. Sesi 2 dan Field Work 2

Jumlah hari dan total jam pelajaran pada sesi 2 dan field work 2 adalah 6 hari dan 50 jam pelajaran. Pada sesi ini kami diajarkan beberapa materi untuk menggali hasil observasi dan wawancara pada field work 1, diantaranya adalah:

  • Pengolahan dan analisis aspek khas inovasi teknologi spesifikasi lokalita, pada tahap ini kami harus memilih, menetapkan, dan menyajikan hasil dari field work 1 dalam hal penentuan aspek khas
  • Penyusunan aspek khas inovasi teknologi spesifikasi lokalita, pada tahap ini kami dilatih untuk menyusun aspek khas petani maju (PM) dan aspek khas kelompok tani unggulan (KTU), format aspek khas PM dan KTU sudah tersedia sehingga memudahkan kami untuk menyusun dan menelaah lagi informasi tentang aspek khas yang dirasa kurang, apabila ada informasi ada kekurangan informasi mengenai aspek khas maka akan dilakukan penggalian lebih lanjut pada field work 2
  • Field Work 2, sebelum melaksanakan field work 2, kami telah menentukan terlebih dahulu PM dan KTU yang akan kami gali aspek khasnya.

Hasil penggalian informasi pada field work 2 akan dijadikan sebagai bahan pada sesi 3 dan field work 3.

Observasi dan wawancara FW-2

Observasi dan wawancara FW-2

Observasi dan wawancara FW-2

Observasi dan wawancara FW-2

3. Sesi 3 dan Field Work 3

Jumlah hari dan total jam pelajaran pada sesi 3 dan field work 3 adalah 5 hari dan 42 jam pelajaran. Pada sesi ini kami diajarkan beberapa materi untuk mempersiapkan bahan penyuluhan guna melakukan praktek penyuluhan pada field work 3, diantaranya adalah:

  • Metode penyuluhan pertanian, kami dilatih untuk menyusun dan menggunakan metode yang tepat dalam melakukan penyusunan agar tepat sasaran
  • Pembuatan dan penyajian materi penyuluhan, pada bagian ini kami diajarkan dalam menggunakan beberapa soft ware seperti power point, publisher, corel draw dan adobe photoshop untuk membuat dan menyusun media penyuluhan. Bagian ini sangat menyenangkan karena memberikan pengetahuan baru dibidang informasi dan teknologi bagi para penyuluh
  • Teknik presentasi dan fasilitasi, pada bagian ini kami dilatih untuk memberikan presentasi yang baik sehingga mampu menarik audience untuk ikut serta dalam pembelajaran. Climate setting perlu dilakukan dengan baik agar audience tertarik terhadap materi yang akan kita berikan
  • Field work 3, setelah semua media dan bahan penyuluhan selesai dibuat maka kami siap untuk melakukan uji coba penyajian materi dan uji coba media penyuluhan pada field work 3, field work 3 dilaksanakan di P4S Mekarsari Desa Tambak Sari Kecamatan Jalancagak Kabupaten Subang
Suasana FW-3

Suasana FW-3

Suasana Climate Setting

Suasana Climate Setting

4. Sesi 4

Jumlah hari dan total jam pelajaran pada sesi 4 adalah 2 hari dan 12 jam pelajaran. Sesi ini merupakan evaluasi dan tindak lanjut dari pelaksanaan field work 3 dengan beberapa materi diantaranya:

  • Ungkapan pengalaman uji coba (try out)
  • Membuat perencaaan pelatihan

Selain beberapa materi di atas, kami juga telah dibekali beberapa pengetahuan dari materi kelompok dasar seperti kebijakan pelatihan pertanian, kebijakan penyuluhan pertanian, dan kebijakan pemberdayaan petani; serta materi kelompok penunjang seperti kelembagaan tani dan dinamika proses pembelajaran.

Tiga minggu lamanya kami dipersatukan dalam TOT MP3 ini. Kami yang berasal dari 4 provinsi yaitu Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta dan yang terjauh dari Maluku Utara telah merasakan jalinan kebersamaan dan sikap saling bahu membahu satu sama lain. Selamat jalan kawan, sukses selalu menyertai kita semua.

Salam MP3!

Peserta MP3 2013

Peserta TOT MP3 2013

Peserta TOT MP3 2013 dengan Kapusluh

Peserta TOT MP3 2013 dengan Kapusluh

Ngebolang di Lembang-Bandung

Saya tidak menyangka akan berada kembali di Lembang dalam waktu yang cukup dekat. Bulan Juli kemarin adalah terakhir kali saya menginjakan kaki di daerah nan sejuk ini. Alhamdulillah kini saya merasakan lagi walaupun awalnya saya teramat berat untuk berangkat lantaran harus meninggalkan si kecil lagi. Namun belakangan ini saya amat bersyukur akan keberangkatan saya ke Lembang selama tiga minggu ini, selain mendapatkan ilmu tentunya, saya juga mendapatkan pengalaman berharga dan juga pelajaran dari beberapa hal dan orang-orang yang saya temui.

Disela-sela jadwal yang padat, saya dan teman-teman mendapatkan kesempatan untuk jalan-jalan dibeberapa tempat baik saat pendidikan atau ketika sedang rehat. Nah, disaat itu pula saya iseng mengabadikan beberapa hal yang menurut saya patut untuk diabadikan. Apa saja itu? ini adalah hasilnya:

1. Kaos Sablon

Di asrama tempat kami tinggal saat diklat, seringkali kedatangan penjual kaos Paris Van Java alias kaos Bandung. Sebagai seorang ibu pasti terpanggil hatinya untuk membelikan oleh-oleh untuk si buah hati (padahal sebenanya memang seneng jajan aja hehe), nah kaos Bandung ini bisa menjadi alternatif untuk oleh-oleh. Harganya yang murah dan kualitas bahannya yang juga masih terbilang cukup bagus untuk kaos seharga Rp. 20000,- membuat pedagang kaos ini laris-manis diserbu para pembeli. Namun, ada satu yang membuat saya tertarik dengan penjual kaos ini, yaitu pembuatan nama dengan cara disablon. Saya senang sekali memperhatikan si Mamang (begitu saya memanggilnya) dengan asiknya memoles cat sablon ke bahan kaos. Ternyata cara menyablonnya sangat mudah, asal ada cetakan, cat dan kuas maka kaos sablonpun jadi.

Kaos Sablon

Kaos Sablon

2. Nanas Madu

Sebelumnya saya sudah memposting tentang cara menentukan nanas madu. Nanas madu ini memang sangat manis rasanya, selain itu dagingnya juga empuk tidak seperti nanas biasanya. Tetapi jangan sampai salah dalam menentukan nanas madu ya. Ketika dalam perjalanan ke Subang, saya melihat hamparan kebun nanas madu di dekat perkebunan teh, kita cukup menanam crown (tunas nanas) ke dalam tanah maka nanas dapat tumbuh beradaptasi, sayangnya saya tidak mampu membawa tunas nanas untuk ditanam di Bogor lantaran barang bawaan yang sudah terlalu banyak.

Nanas Madu

Nanas Madu

3. Mie Kocok

Makan mie kocok di Lembang rasanya maknyus sekali, rasanya yang pedas segar dan panas membuat badan terasa hangat, maklum cuaca di lembang sangat dingin baik siang maupun malam hari. Nah, kalau mau makan mie kocok, silahkan mencoba di pasar Lembang kalau yang berada di dekat Lembang. Mie kocok ternyata merupakan mie yang terdiri dari campuran mie gepeng dan toge dengan topping daging sapi kikil. Kuahnya terasa segar seperti kuah bakso. Dulu saya pernah mencoba mie kocok di Cirebon, namun mie kocok di Cirebon kuahnya lebih kental daripada yang saya temukan di Lembang. Meskipun begitu rasanya sama-sama enak.

Mie Kocok

Mie Kocok

4. Makan Jengkol

Terakhir kali saya makan jengkol adalah ketika saya duduk dibangku sekolah dasar, saya masih ingat nikmatnya makan jengkol. Daaaannn….kali ini saya menemukan jengkol yang nikmat tersebut di lembang, sudah dua kali saya makan jengkol di sini, baik disemur atau direndang sama enaknya.

Rendang jengkol nikmat

Rendang jengkol nikmat

5. Senandung Kerbau

Ketika melakukan field work-1 di Desa Jalancagak Kecamatan Jalancagak Kabupaten Subang, saya menemukan seorang petani sedang membajak sawah sambil menyenandungkan lagu untuk kerbaunya. Saya jarang sekali menemukan hal tersebut di Bogor, kebanyakan kerbau hanya diperintah dengan menggunakan tali saja. Alasan petani menyenandungkan lagu saat kerbau membajak adalah supaya sang kerbau merasa tenang saat membajak sawah sehingga tidak merasa terpaksa.

Petani sedang menyenandungkan lagu

Petani sedang membajak sawah sambil menyenandungkan lagu

6. Pemanfaatan Pekarangan

Ketika sedang berjalan disekitar tempat diklat, saya menemukan pemanfaatan pekarangan yang membuat saya berpikir untuk menerapkan di desa binaan saya, karena lingkungannya hampir sama, minim lahan pekarangan.

Pemanfaatan pekarangan

Pemanfaatan pekarangan

7. Zucchini

Zucchini atau terong jepang sudah sering saya lihat ketika di swalayan. Nah, kebetulan saya berkesempatan untuk melihat langsung tanaman zucchini ini. Zucchini ditanam dengan menggunakan mulsa, daun tanamannya melebar serta terdapat bercak berwarna putih pada daun. Bercak putih tersebut bukanlah residu pestisida, tetapi memang salah satu karakteristik fenotipe dari tanaman zucchini. Ternyata zucchini berbuah pada bagian tengah tanaman, tidak seperti terong pada umumnya. Budidaya zucchinipun ternyata tidak terlalu sulit asalkan melakukan teknik budidaya sesuai dengan lokasi berada.

Tanaman Zucchini

Tanaman Zucchini

8. Seblak

Beberapa minggu yang lalu saya berkesempatan untuk jalan-jalan ke Bandung. Saat itu saya dikenalkan sebuah camilan yang murah meriah tapi legit rasanya, cemilan itu adalah seblak. Seblak terbuat dari campuran berbagai macam kerupuk yang dipadukan dengan siomay dan batagor, tetapi kerupuk ini tidak digoreng dulu, jadi langsung dimasak dengan kuah yang gurih dan pedas. Pertama melihat rasanya terlihat aneh, tetapi setelah dirasakan malah bikin ketagihan.

Seblak yang rasanya mantab

Seblak yang rasanya mantab

9. Biosecurity

Ketika saya berjalan menuju pasar Lembang, pandangan saya terkagum-kagum dengan biosecurity di Balai Inseminasi Buatan Lembang. Balai yang sudah menerapkan ISO 9001:2008 ini menerapkan biosecurity untuk menjaga kesterilan tempat dari segala kemungkinan serangan penyakit dengan menerapkan HACCP System dan Biosecurity in adalah salah satu dari Critical Control Point.

IMG_5527IMG_5528IMG_5530

10. Es Lilin dan Pasar Kaget

Di Lembang selalu digelar pasar kaget, pasar rakyat tempat orang berkumpul setelah olahraga. Biasanya orang-orang berangkat dai rumah sambil lari pagi menuju pasar kaget. Barang-barang yang dijual di pasar kaget yaitu pakaian, buku bekas, sepatu, kaca mata, topi, sayuran segar, ikan laut, makanan, minuman dan lain-lain. Kita bisa menemukan lobster tawar, rendang jengkol, hingga siput kari di sini. Nah, ada salah satu jajanan tradisional  dijual di sana dan jarang sekali ditemukan di Bogor, yaitu es lilin. Es lilin adalah jajanan tradisional ketika saya kecil dan saya menemukan lagi ketika sedang di Lembang.

lari pagi menuju pasar lembang

lari pagi menuju pasar lembang

Suasana Pasar kaget lembang

Suasana Pasar kaget lembang

Tersedia wisata kuda

Tersedia wisata kuda

Es lilin mah ceu-ceu

Es lilin mah ceu-ceu

Pulangnya naik andong

Pulangnya naik andong

11. BEC (Bandung Electronic City)

Sewaktu diajak jalan-jalan ke BEC, saya sangat terkagum-kagum melihat melimpahnya barang elektronik di BEC. Bisa dibilang hampir semuanya ada di sini. Saya dan teman-teman membeli flash dish sebesar 32 GB dengan harga yang terjangkau yaitu Rp 185000,-. Murah dan bermanfaat. Kalau mau nyari barang elektronik di Bandung ke BEC aja.

BEC

BEC

BEC-2

BEC-2

Suasana sekitar BEC

Suasana sekitar BEC

12. Sambal Ase

Baru pertama kali ini saya berjumpa dengan yang namanya sambal enak, gurih, pedas yang bikin ketagihan. Namanya sambal ase yang terbuat dari Cabe Gendot kata orang sunda. Cabe ini bentuknya besar-besar, rasanya pedas banget. Saya hanya berani makan setengah buahnya saja, karena perut sudah terasa panas. Teman saya yang pecinta pedas hanya kuat makan dua buah cabe gendot karena pedasnya benar-benar mantab.

Sambal Gendot

Sambal Gendot

13. Tangkuban Perahu

Ketika sedang olahraga dipagi hari, saya selalu menatap ke arah perbukitan di depan tempat saya berada. Di depan sana terbentang gunung tangkuban perahu. Tangkuban perahu kalau dilihat dari jarak jauh sungguh terlihat seperti perahu yang tertangkup (terbalik) dan pemandangannya sangat indah.

Gunung tangkupan perahu

Gunung tangkupan perahu

Masih banyak lagi hasil jeprat-jepret selama saya ngebolang di Lembang dan Bandung, tetapi tidak semuanya dapat saya tuliskan di blog ini, cukup diingat di dalam hati semoga suatu hari nanti saya bisa menginjakkan kaki di sini lagi.

Pengembangan Jamu Sebagai Warisan Budaya

Jamu Gendong

Jamu Gendong

Jamu adalah obat tradisional berbahan alami warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi untuk kesehatan. Pengertian jamu dalam Permenkes No.003/Menkes/Per/I/2010 adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Sebagian besar masyarakat mengkonsumsi jamu karena dipercaya memberikan andil yang cukup besar terhadap kesehatan baik untuk pencegahan dan pengobatan terhadap suatu penyakit maupun dalam hal menjaga kebugaran, kecantikan dan meningkatkan stamina tubuh. Menurut WHO, sekitar 80 % dari penduduk dibeberapa negara Asia dan Afrika menggunakan obat tradisional untuk mengatasi masalah kesehatannya, sedangkan beberapa negara maju, 70%-80% dari masyarakatnya telah menggunakan beberapa bentuk pengobatan komplementer atau alternatif serta obat herbal [1].

Sejarah tentang jamu dapat kita telusuri dari beberapa bukti sejarah yang ada. Diantaranya adalah [2]:

  1. Dokumentasi tertua tentang jamu yang terdapat pada relief Candi Borobudur (tahun 772 SM), dimana terdapat lukisan tentang ramuan obat tradisional atau jamu.
  2. Relief-relief pada Candi Prambanan, Candi Penataran (Blitar), dan Candi Tegalwangi (Kediri) yang menerangkan tentang penggunaan jamu pada zaman dahulu
  3. Kitab yang berisi tentang tata cara pengobatan dan jenis-jenis obat tradisional
  4. Pada tahun 991-1016 M, perumusan obat dan ekstraksi dari tanaman ditulis pada daun kelapa atau lontar, misalnya seperti Lontar Usada di Bali, dan Lontar Pabbura di Sulawesi Selatan. Beberapa dokumen tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia maupun bahasa asing.
  5. Pada masa kerajaan-kerajaan di Indonesia, pengetahuan mengenai formulasi obat dari bahan alami juga telah dibukukan, misalnya Bab kawruh jampi Jawi oleh keraton Surakarta yang dipublikasikan pada tahun 1858 dan terdiri dari 1734 formulasi herbal

Perkembangan industri jamu di Indonesia sendiri baru dimulai Sekitar tahun 1900-an dimana pabrik-pabrik jamu besar mulai berdiri di Indonesia seperti Jamu Jago, Mustika Ratu, Nyonya Meneer, Leo, Sido Muncul, Jamu Simona, Jamu Borobudur, Jamu Dami, Jamu Air Mancur, Jamu Pusaka Ambon, Jamu Bukit Mentjos, dan tenaga Tani Farma (Aceh) [3].

Industri Jamu, Gambar diambil dari sini

Hingga saat ini keberadaan jamu terus berkembang, hal in tercermin pada permintaan terhadap jamu yang terus mengalami peningkatan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya, tetapi apabila dibandingkan dengan permintaan obat modern dari industry farmasi nasional, permintaan produk jamu masih kalah jauh. Analisis tentang permintaan jamu hingga tahun 2010 memberikan hasil jumlah permintaan terhadap produk jamu masih lebih rendah yaitu pasar obat modern sebesar Rp 37,5 trilyun dan obat herbal hanya Rp 7,2 trilyun. Walaupun pangsa pasar industri jamu masih tetap rendah dibandingkan dengan industri farmasi tetapi pertumbuhan pangsa pasar industri jamu jauh lebih baik dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan industri farmasi yang malah mengalami penurunan [4].

Mengapa jamu mengalami peningkatan? Trend saat ini yang serba back to nature menyadarkan masyarakat akan pentingnya penggunaan bahan alami terhadap segala aktivitas kehidupan terutama yang menyangkut tentang kesehatan. Kebanyakan orang telah mengerti bahwa penggunaan obat tradisional selain harganya yang murah, mudah diperoleh, juga memberikan sedikit efek samping terhadap kesehatan. Hal tersebut memberikan peluang pasar yang perlu direspon dengan baik melalui perencanaan produksi yang tepat baik jenis, kuantitas, kualitas, maupun kontinuitas sehingga keberadaan jamu harus terus berkembang.

Mengapa harus dikembangkan?

Jamu merupakan aset bangsa yang harus terus dikembangkan karena jamu tidak hanya sebagai obat tradisional, juga sebagai warisan budaya yang menyentuh aspek ekonomi dan sosial. Berikut adalah beberapa alasan mengapa jamu harus dikembangkan:

1. Meminum jamu dapat menjaga kesehatan dengan sedikit efek samping

Kebanyakan orang mengkonsumsi jamu untuk menjaga kesehatannya, memelihara kecantikan tubuh, supplement penambah tenaga dan gairah hidup. Jamu yang terdiri dari tanaman obat memberikan dampak yang terlihat lambat tetapi bersifat memperbaiki dibanding obat kimiawi yang memberikan efek cepat tetapi bersifat merusak. Oleh karena itu jamu sering digunakan sebagai kombinasi pengobatan untuk mengobati penyakit kronis. Pengobatan dengan menggunakan tanaman obat memiliki beberapa keuntungan, yaitu relatif aman untuk dikonsumsi, memiliki toksisitas yang rendah serta tidak meninggalkan residu [5].

Contoh tanaman obat yang banyak digunakan untuk mengobati penyakit dan telah lulus uji saintifikasi adalah Temulawak dan Kunyit. Informasi yang dihimpun dari Pusat Studi Biofarmaka IPB menyebutkan bahwa Curcuma xanthorrhiza Roxb atau yang lebih dikenal temulawak dan Curcuma domestica Val atau yang lebih dikenal dengan kunyit merupakan tanaman obat dari family zingiberaceae yang banyak terdapat di Indonesia. Penelitian menunjukan Temulawak dapat berfungsi sebagai anti mikroba, antimetastatik, anti kanker, anti candida, antioksidan dan antihipolipidemik sedangkan Penelitian farmakologi menyebutkan bahwa kunyit dapat berfungsi sebagai anti inflamasi, antioksidan, anti protozoa, nematisidal, anti bakteri, anti venom, anti HIV, dan anti tumor. Warna kuning pada kedua rimpang merupakan cerminan dari senyawa bioaktif kurkuminoid yang dapat berfungsi sebagai penangkap radikal bebas, penghambat nitrit oksida, antiinflamasi, anti tumor, anti alergi, dan anti dementia [6].

Sari kunyit, gambar diambil dari sini

2. Indonesia berpotensi dalam pengembangan jamu karena memiliki beragam flora didukung oleh tanah yang subur

Dari sekitar 250.000 jenis tumbuhan yang terdapat di seluruh dunia, WHO memperkirakan 14-28% di antaranya merupakan jenis yang potensial dikembangkan menjadi obat. Di Indonesia sendiri dari sekitar 20.000 jenis tumbuhan yang ada, 7.000 jenis diantaranya memiliki potensi unntuk dikembangkan menjadi tanaman obat. Hal ini menunjukkan kondisi agroklimat Indonesia sangat mendukung pertumbuhan tanaman obat atau biofarmaka [7]

3. Permintaan terhadap jamu terus meningkat baik domestic maupun internasional

Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Jamu, penjualan obat herbal/jamu  di Indonesia pada 2010 menembus angka Rp 7,2 triliun dan pada tahun 2011 mencapai Rp12 triliun, lalu terus meningkat pada tahun 2012  menjadi Rp 13 triliun. Bahkan menurut data riset sekitar 93 persen masyarakat yang pernah minum jamu menyatakan bahwa minum jamu memberikan manfaat bagi tubuh [8]

Selain untuk konsumsi nasional, jamu tradisional juga berpotensi untuk diekspor ke pasar internasional. Negara tujuan ekspor, menurut data Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat bahan alam Indonesia (GP Jamu), yaitu Malaysia, Korea Selatan, Filipina, Vietnam, Hongkong, Taiwan, Afrika Selatan, Nigeria, Arab Saudi, Timur Tengah, Rusia dan Cile. Ekspor jamu tradisional tersebut sebagian besar masih dilakukan oleh industri jamu yang cukup besar [3].

4. Jamu sebagai sumber pendapatan

Berbagai usaha dibidang jamu, baik dalam industri berskala kecil atau rumahan hingga industri besar dapat menambah penghasilan negara melalui pajak dan devisa ekspornya. Industri jamu juga tidak membebani pemerintah dengan impor bahan baku jamu karena bahan-bahan pembuatan jamu terdapat di dalam negeri. Walaupun keuntungan yang diperoleh industri jamu tidak sebesar industri rokok atau industri farmasi, tetapi industri ini menyumbangkan dana bakti bagi pelayanan kesehatan masyarakat, karena jamu termasuk jenis alat pengobatan [4]

Adanya industri jamu baik industri kecil maupun besar mampu menyerap tenaga kerja yang berdampak pula pada pengurangan pengangguran serta sebagai sumber pendapatan bagi berbagai pihak mulai dari petani, pekerja hingga pengusaha.

5. Minum jamu sudah menjadi kebiasaan

Istilah jamu memang lebih identik dengan kebudayaan jawa, meskipun begitu Jamu tidak hanya dikonsumsi oleh masyarakat jawa. Keberadaan jamu telah menyebar dibeberapa daerah. Jamu telah ada sejak dulu sebelum ilmu farmasi modern memasuki Indonesia. Saat ini tradisi minum Jamu menjadi populer dikalangan orang indonesia pada umumnya, dimana hampir 80% orang Indonesia menggunakan tradisi minum jamu. Bagi orang Indonesia, jamu sama dengan populernya seperti populernya tradisi minum susu bagi orang-orang barat [9]. Kebiasaan minum jamu masih dipertahankan hingga saat ini karena mengkonsumsi jamu tidak memberikan dampak yang negative terhadap tubuh, kebanyakan orang mengkonsumsi jamu untuk menjaga kesehatan tubuh mereka.

minum jamu

minum jamu

Masih banyak lagi alasan mengapa jamu harus dikembangkan. Setelah mengetahui manfaat dari pengembangan jamu, lalu bagaimanakah caranya mengembangkan jamu di Indonesia? Berikut adalah caranya:

Bagaimana Cara Mengembangkan Jamu

Telah dijelaskan di atas bahwa Indonesia sangat berpotensi dalam mengembangkan jamu karena memiliki beragam jenis tanaman obat yang didukung dengan kesuburan tanah. Akan tetapi dalam perjalanan ditemukan berbagai kendala untuk pengembangannya terutama pada tingkat pelaku utama (petani) maupun pelaku usaha seperti kualitas produk yang masih standar, tidak memiliki pasar serta harga jual yang terlalu rendah yang dapat merugikan pelaku utama dan pelaku usaha pengembang jamu. Oleh karena itu dibutuhkan berbagai cara dalam rangka pengembangan jamu di Indonesia, diantaranya adalah:

1. Memberikan kemudahan untuk memperoleh akses permodalan terutama pada usaha jamu tradisional.

Bagi industri jamu tradisional baik usaha baru maupun yang sudah berjalan terdapat Pola Pembiayaan Usaha Kecil (PPUK) Industri Jamu Tradisional yang dilaksanakan oleh  Direktorat Kredit, BPR dan UMKM Bank Indonesia. Analisis yang telah dilakukan memberikan hasil bahwa total biaya investasi yang dibutuhkan untuk usaha jamu tradisional dengan kapasitas 9,6 ton produk adalah Rp.417.581.000. Sedangkan biaya modal kerja yang dibutuhkan adalah Rp 146.200.000. Industri jamu tradisonal secara finansial layak dilaksanakan dengan pola pembiayaan syariah karena berdasarkan analisis kelayakan keuangan usaha industri jamu tradisional dengan masa proyek 5 tahun dan tingkat margin 12% untuk usaha baru dan 10% untuk usaha yang sudah berjalan dapat membayar kewajiban kepada shahibul maal (LKS) dengan pola pembiayaan dan menghasilkan keuntungan yang memadai. Artinya industry jamu tradisional secara finansial layak dilaksanakan [3]

2. Membantu memfasilitasi pelaku utama dan pelaku usaha dalam mengembangkan produk jamu yang berorientasi pasar.

Kendala utama yang dihadapi oleh pelaku utama dan pelaku usaha dalam mengembangkan usaha jamu adalah pengembangan produk serta pemasaran. Baik pelaku utama maupun pelaku usaha sebenarnya sudah mahir dalam memproduksi dan mengolah bahan baku jamu hanya saja untuk menciptakan produk yang berkualitas dan memasarkan produk yang dihasilkan masih menemui kendala, ditambah dengan banyaknya kompetitor baik dari dalam maupun luar negeri. Untuk itu diperlukan upaya fasilitasi untuk pengembangan jamu berorientasi pasar bagi pelaku utama dan pelaku usaha.

Dalam hal ini Pusat Studi Biofarmaka telah melaksanakan kegiatan Pelatihan Pemberdayaan dan Bisnis Petani Temulawak di Desa Nagrak Kabupaten Sukabumi guna meningkatkan ketrampilan petani Temulawak mulai dari sisi budidaya berstandar GAP (Good Agricultural Practices), pengolahan produk berstandar GMP (Good Manufacturing Practices) dan juga penguatan orientasi bisnis yakni perlunya penanaman jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) dan penyusunan business plan. Para petani juga dilatih menghitung kelayakan bisnis secara sederhana untuk 3 (tiga) jenis produk olahan Temulawak, yaitu Rimpang, Simplisia, dan Puder. Selain itu mereka juga dilatih menghitung harga jual yang layak untuk produk yang dipraktekkan, yaitu Curcuma Candy, Curcuma Jelly, dan Curcuma Sirop [10]

3. Membentuk kemitraan dengan petani untuk mengembangkan tanaman obat bahan baku jamu.

Produk hasil pertanian ditingkat petani umumnya monoton tanpa perlakuan lebih lanjut. Selain itu rancangan usaha tani umunya tidak muncul ditingkat petani tetapi lebih banyak berasal dari pengusaha atau swasta sehingga keuntungan yang diterima petani rendah. Dengan adanya kemitraan diharapkan dapat memberikan keuntungan bagi petani sehingga dapat menjadikan tanaman obat sebagai salah satu komoditas utama yang diusahakan pada lahan usaha taninya.

Dalam rangka kegiatan pengabdian pada masyarakat, Peneliti Pusat Studi Biofarmaka LPPM IPB dengan dukungan pendanaan dari Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia melakukan pengembangan model kemitraan dengan masyarakat petani di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi. Kelompok petani diarahkan untuk menjadikan komoditi biofarmaka sebagai salah satu komoditi utama. Komoditi yang dijadikan sasaran adalah temulawak dan kunyit. Tim peneliti melakukan pelatihan-pelatihan sebagai salah satu metode untuk penguatan kelompok tani dan Gapoktan, juga membuat kesepakatan dengan perusahaan produk biofarmaka untuk menjembatani pemasaran hasil pertanian biofarmaka dari petani binaan. Kemitraan dengan perusahaan dalam upaya pemasaran produk pertanian biofarmaka dijalin dengan PT SOHO dan PT Biofarindo [11]

4. Membuat peraturan serta prosedur pengujian laboratorium (terkait izin edar dan lain-lain) yang tidak memberatkan industri jamu tradisional baik dari segi proses maupun biayanya.

Prosedur pengujian guna memperoleh sertifikasi diharapkan tidak berbelit-belit dan tidak memakan waktu yang cukup lama karena dikhawatirkan mengganggu kelangsungan produksi jamu tradisional.

5. Menumbuh kembangkan kesadaran masyarakat untuk menanam tanaman obat keluarga (toga) sebagai sumber bahan baku jamu melalui pemanfaatan perkarangan.

Indonesia sangat berpotensi dalam pengembangan tanaman obat pada lahan perkarangan karena Indonesia memiliki luas lahan perkarangan secara nasional sekitar 10.3 juta ha atau 14% dari keseluruhan luas lahan pertanian [12]. Pengusahaan toga pada lahan perkarangan juga sangat mudah dengan melibatkan ibu-ibu rumah tangga sebagai penggerak. Program ini telah dilakukan baik oleh pemerintah, LSM maupun dari kalangan akademisi.

Seperti yang telah dilaksankan oleh Divisi Pengabdian Pada Masyarakat dan Pengembangan Pasar Biofarmaka (PMPPB) bekerja sama dengan Divisi Pengembangan Sumber Daya Alam dan Budidaya Biofarmaka (PSDABB) Pusat Studi Biofarmaka LPPM IPB melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pengenalan tanaman obat keluarga (TOGA) kepada ibu-ibu PKK Kelurahan Situ Gede, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor. Kegiatan ini diisi oleh penjelasan mengenai jenis dan kegunaan tanaman obat keluarga, cara sederhana budidaya tanaman obat dengan memanfaatkan lahan terbatas (budidaya vertikultur), serta tanya jawab seputar penggunaan dan budidaya tanaman obat. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman para ibu terhadap tanaman obat yang dapat dibudidayakan di lingkungan rumah. Di samping itu, melalui kegiatan ini diharapkan kesadaran para ibu untuk menggunakan obat bahan alam (biofarmaka) dapat meningkat [13].

Pemanfaatan pekarangan

Pemanfaatan pekarangan

6. Mengedukasi masyarakat akan manfaat jamu

Sebagian masyarakat memang telah memahami bahwa jamu sangat baik untuk kesehatan, tetapi ada sebagian masyarakat yang masih takut untuk mengkonsumsi jamu lantaran ditemukan beberapa produk jamu yang mengandung bahan obat kimia (BOK) beredar di masyarakat. Sehingga diperlukan sosialisasi untuk mengedukasi masyarakat dalam rangka mengkonsumsi produk jamu yang aman. Sosialisasi tentang upaya saintifikasi jamu juga diperlukan sehingga masyarakat percaya kembali terhadap produk jamu yang aman. Adanya produk jamu yang berbahan kimia sangat merugikan karena dapat menghilangkan keprecayaan masyarakat untuk mengkonsumsi jamu yang berdampak pula pada produsen jamu.

Upaya pengembangan jamu memang telah dilakukan, tetapi upaya ini harus terus ditingkatkan dan berkelanjutan mulai dari pelaku utama, pelaku usaha maupun pada tingkat konsumen agar jamu yang dihailkan memiliki kualitas sehingga mampu bersaing dengan obat modern maupun competitor dari luar negeri sehingga keberadaan jamu sebagai warisan budaya dapat terus lestari.
Dies Natalis PSB 2013

Tulisan ini diikutsertakan pada lomba penulisan artikel jamu dengan tema ”Lestarikan Jamu Sebagai Budaya Indonesia” yang diadakan oleh Pusat Studi Biofarmaka Institut Pertanian Bogor Periode Juni-15 September 2013.

Daftar Pustaka:

[1] Biofarmaka IPB. 2013. Quality of Herbal Medicine Plants and Traditional Medicine. http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-news/brc-article/587-quality-of-herbal-medicine-plants-and-traditional-medicine-2013

[2] Maulana, A et al. 2011. Makalah Konsep Herbal Indonesia. Masalah Saintifikasi Jamu dan Kaitannya Dengan Program Magister Herbal. Program Magister Herbal Departemen Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia. 17 hal.

[3] Direktorat Kredit, BPR, dan UMKM. 2013. Pola Pembiayaan Usaha Kecil (PPUK) Industri Jamu Tradisional (Pola Pembiayaan Syariah). Bank Indonesia. 43 hal.

[4] Lestari, E.D. 2007. Analisis Daya Saing, Strategi dan Prospek Indsutri Jamu di Indonesia. Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajeman Institut Pertanian Bogor. 40hal.

[5] Biofarmaka IPB. 2013. The Ginger Potential as Alternative Treatment for Chronic Respiratory Diseases. http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-news/brc-article/469-the-ginger-potential-as-alternative-treatment-for-chronic-respiratory-diseases-2013

[6] Biofarmaka IPB. 2013. Curcuminoid Contents Antioxidant and Anti Inflammatory Activities of Curcuma Xanthorrizha Roxb and Curcuma Domestica Val Promissing Lines. http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-news/brc-article/265-curcuminoid-contents-antioxidant-and-anti-inflammatory-activities-of-curcuma-xanthorrhiza-roxb-and-curcuma-domestica-val-promising-lines

[7] Prasatyawati. D. 2013. Pemanfaatan Pekarangan Untuk Tanaman Obat. Tabloid Sinar Tani Edisi 23-29 Januari 2013 No. 3491 Tahun XLIII.

[8] Akhir, D. J. 2013. Pemerintah Bantu Kembangkan Industri Jamu. Edisi Selasa 30 Juli 2013. http://economy.okezone.com/read/2013/07/30/320/844630/pemerintah-bantu-kembangkan-industri-jamu

[9] Javanessia. Sejarah Tentang Jamu. http://javanessia.com/aboutjamu.htm

[10] Biofarmaka IPB. 2013. Training of Empowerment and Business of Temulawak Farmers at Village Nagrak District Sukabumi. http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-news/brc-article/413-training-of-empowerment-and-business-of-temulawak-s-farmers-at-village-nagrak-district-sukabumi

[11] Biofarmaka. 2013. Development of Partnership Model between BRC and Farmers of Biopharmaca in District Sukabumi. http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-news/brc-article/267-development-of-partnership-model-between-brc-and-farmers-of-biopharmaca-in-district-sukabumi

[12] BPTP Kalimantan Barat. 2013. Model kawasan rumah pangan lestari di kota Pontianak, kabupaten kubu raya, kabupaten Pontianak dan kota singkawang-provinsi Kalimantan barat. http://kalbar.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=265:mkrpl&catid=66:program-utama&Itemid=209

[13] Biofarmaka IPB. 2013. Introduction of Herbal Family Plant to PKK of Situ Gede Village at Sub District of West Bogor. http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-news/brc-article/371-introduction-of-herbal-family-plant-to-pkk-of-situ-gede-village-at-sub-district-of-west-bogor

Cara Menetukan Keaslian Nanas Madu

Seminggu yang lalu saya berkesempatan untuk mengunjungi salah satu kelompok tani di Desa Jalancagak Kecamatan Jalancagak Kabupaten Subang dalam rangkaian TOT MP3. Selain menambah pengalaman di daerah lain, saya juga mendapatkan ilmu baru mengenai cara menentukan nanas madu. Sebelumnya saya sudah mencicipi dulu bagaimana rasanya si nanas madu ini. Rasanya manis, segar, airnya banyak, dan dagingnya juga empuk. Kemudian saya juga mencicipi nanas yang lainnya ternyata bukan nanas madu walaupun masih dalam satu bak nanas. Nanas yang satu ini rasanya asam dan daging buahnya juga keras. Apabila kita amati, tidak ada perbedaan yang spesifik antara nanas madu dengan nanas yang biasa.

nanas madu

nanas madu

Lalu bagaimana caranya membedakan nanas madu dengan nanas biasa?

Pembimbing kami saat itu memberikan ilmunya tentang bagaimana cara membedakan nanas madu dengan nanas biasa.

Caranya adalah dengan mendengar suara jari telunjuk tangan yang dipukulkan pada nanas.

Pukulkan jari telunjuk ke daging nanas

Pukulkan jari telunjuk ke daging nanas

Apabila suaranya nyaring maka dia adalah nanas madu. Untuk mempermudah, pembimbing kami mengajarkan untuk menyentil jari telunjuk pada punggung tangan atau pada telapak tangan. Apabila suara nanas sama dengan suara sentilan jari telunjuk adi maka itu adalah nanas madu. Saya kemudian mencoba mempraktekan apa yang sudah diajarkan oleh pembimbing. Ternyata apa yang dikatakan oleh pembimbing benar adanya, suara nanas yang nyaring seperti suara sentilan jari telunjuk pada punggung tangan menunjukkan bahwa nanas tersebut adalah asli nanas madu.

Sentil jari telunjuk ke punggung tangan untuk mementukan suara nanas madu

Sentil jari telunjuk ke punggung tangan untuk mementukan suara nanas madu

Kemudian apa yang menyebabkan nanas begitu manis rasanya?  Berikut adalah beberapa factor yang menyebabkan rasa manis pada nanas:

  1. Pupuk kalium, semakin banyak jumlah pupuk kalium maka tingkat kemanisannya juga tinggi, tetapi ingat ada baiknya memakai pupuk sesuai dengan kebutuhan spesifik lokasi karena tiap lahan memiliki karakteristik yang berbeda-beda
  2. Penyinaran, semakin lama tanaman nanas diberikan penyinaran maka akan semakin manis.
  3. nanas di sepanjang jalan, ayo tebak mana yang nanas madu?

    nanas di sepanjang jalan, ayo tebak mana yang nanas madu?

    n, apabila buah nanas dipanen pada musim hujan maka rasanya akan asam, maka ada baiknya panen buah nanas saat musim kemarau

  4. Ketinggian tempat, semakin rendah suatu tempat maka rasa nanas akan semakin manis

Nah, apabila sudah memahami bagaimana caranya menetukan nanas madu atau bukan, nanti kalau datang ke Subang mau beli nanas madu jangan sampai tertukar dengan nanas yang biasa ya biar tidak salah beli dan menyesal.

Jamu, Warisan Budaya Kaya Manfaat

Si Mbok menuangkan kuynyit asam

Si Mbok menuangkan kunyit asam

Hari minggu pagi, selepas olahraga pasti aku melihatnya duduk di sana. Si Mbok jamu, dengan berbalut kain jarik dan bakul jamu di hadapan, si Mbok dengan sigap melayani kami yang ingin minum jamu racikannya. Meskipun kami memanggilnya si Mbok bukan berarti beliau sudah tua, usia si Mbok masih muda, sekitar 35 tahun. Memang tidak setiap hari si Mbok datang untuk menjajakan jamunya, dia lebih sering datang ketika hari minggu tiba karena saat itu kebanyakan orang berada di rumah. Kunyit asam ditambah sirih adalah jamu yang sering ku minum. Kunyit asam dan sirih bermanfaat untuk menjaga kesehatan kewanitaan, seperti mengatasi nyeri haid, keputihan, mengecilkan pori, menghilangkan bau serta banyak manfaat lainnya. Si mbok dengan sigap meracik jamu yang ku pesan. Dituangnya jamu berwarna kuning kecoklatan, ditambah sedikit air sirih berwarna kehitaman. Bagian terakhir adalah yang aku suka, si mbok selalu memberikan air jahe yang rasanya manis setelah minum jamu pahit. Jahe bermanfaat untuk menghangatkan tubuh. Minum jamunya si mbok murah meriah serta menyehatkan, kita cukup membayar satu gelas jamu sebesar Rp. 2000 saja untuk mendapatkan minuman yang sangat menyehatkan.

Sejak kecil Ibu sudah mengenalkan jamu kepada ku, dengan alasan agar aku terbiasa dengan rasa pahit. Jamu yang ku minum ketika aku masih kecil adalah beras kencur yang bermanfaat untuk menambah nafsu makan. Aku jadi ingat lagu tentang jamu ketika aku duduk di bangku sekolah dasar (SD), begini lagunya:

Mbok jamu mbok jamu

Lenggang luwes dan kemayu

Mbok jamu mbok jamu

Ada apa di bakul mu?

Mbok jamu, jasa mu sangat luar biasa. Tidak terbayang oleh ku bagaimana perjuangan mu, berjalan kaki sambil menggendong beratnya botol jamu. Mbok jamu…. Bagaimana riwayat mu kini?

Jamu, Bahan Alami Untuk Kesehatan

Jamu gendong

Jamu gendong

Jamu gendong merupakan salah satu bentuk jamu yang sering kita temukan. Keberadaannya tetap terjaga seiring dengan perubahan jaman, terlebih pada jaman yang serba praktis dan modern ini. Tidak hanya dikonsumsi oleh kalangan menengah ke bawah, jamu gendong kini juga mulai dinikmati oleh kalangan menengah ke atas. Oleh karena itu jamu gendong tidak hanya ditemukan di desa-desa tetapi sudah mulai merambah pada kota-kota besar. Data yang dihimpun oleh Departemen Kesehatan RI menunjukkan adanya peningkatan penjual jamu gendong yaitu mulai dari 13.128 orang pada 1989 menjadi 25.077 pada 1995, data tersebut didapat dan belum keseluruhan di tahun 2012 lalu. Angka itu masih belum mencakup jumlah keseluruhan penjual jamu gendong, mengingat mobilitas mereka yang sangat tinggi dan akan terus meningkat [1].

Jamu sebagai obat tradisional merupakan sediaan farmasi yang berasal dari tumbuhan maupun hewan. Seperti yang dijelaskan dalam Undang-undang Kesehatan No.36 Tahun 2009, bahwa obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Umumnya jamu yang beredar di masyarakat menggunakan bahan alami yang berasal dari tumbuhan.

Jamu menjadi pilihan sebagian orang untuk menjaga kesehatan karena harganya murah, tidak memberikan efek samping pada tubuh serta bahan bakunya mudah ditemukan dimana-mana. Meskipun begitu sebagian masyarakat masih meragukan khasiat jamu, belum lagi dengan adanya kekhawatiran akan bahan kimia obat (BKO) yang terdapat pada sebagian jamu. Di pasaran memang banyak ditemukan jamu-jamu berbahaya yang sebenarnya tidak boleh beredar lantaran mengandung zat kimia yang merugikan kesehatan. Tetapi kita tidak perlu khawatir karena pada dasarnya jamu yang mengandung BKO dengan jamu alami sangat berbeda. Umumnya jamu yang mengandung BKO memiliki nama yang aneh dan memiliki kemasan dengan gambar-gambar organ yang sebenarnya tidak diizinkan. Selain itu, jamu yang tidak menggunakan bahasa Indonesia juga patut dicurigai karena sudah dapat dipastikan jamu tadi tidak melewati pengawasan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Jamu berasal dari herbal alami sehingga efeknya tidak mungkin dirasakan secara langsung seperti jamu dengan BKO [2].

Jamu Ilegal, Gambar diambil dari Sini

Jamu (empirical based herbal medicine) yang diracik secara alami adalah obat bahan alam yang disediakan secara tradisional yang tidak memerlukan pembuktian ilmiah sampai dengan klinis, tetapi cukup dengan bukti empiri saja [3]. Walaupun demikian pemerintah tetap melakukan upaya untuk membuktikan khasiat jamu guna menjamin bahwa jamu tersebut aman dikonsumsi serta bermanfaat bagi kesehatan. Upaya tersebut dinamakan Saintifikasi Jamu yang merupakan salah satu program terobosan Kementerian Kesehatan. Saintifikasi jamu adalah upaya preventif dan promotif pemanfaatan jamu untuk kesehatan. Sesuai dengan perkembangan pelaksanaan program Saintifikasi Jamu, untuk program jangka pendek, tahun 2011 telah ditetapkan 15 jenis tanaman obat yang sangat dibutuhkan, yakni temulawak, kunyit, pegagan, tempuyung, secang, kumis kucing, seledri, sembung, meniran, timi, adas, brotowali, sambiloto, jati belanda dan kepel. Dalam program jangka panjang, bahkan telah ditentukan ada 55 jenis tanaman obat yang akan dipergunakan dalam layanan kesehatan Saintifikasi Jamu [4]. Dengan ditemukannya khasiat bahan baku tanaman obat sebagai bahan dasar jamu diharapkan dapat mengedukasi masyarakat akan manfaat dari jamu tersebut sehingga jamu tidak lagi dipandang sebelah mata dan dapat mengurangi ketergantungan terhadap obat-obatan kimia.

Meracik Jamu Sendiri

Trend yang serba back to nature, membuat semua hal yang dilakukan orang kini berdasarkan hal-hal yang alami. Tidak hanya mengkonsumsi pangan organik, untuk menjaga kesehatanpun saat ini kebanyakan orang lebih memilih mengkonsumsi bahan alami. Jamu menjadi pilihan sebagian orang untuk mengurangi ketergantungan pemakaian obat kimia dalam mengobati atau mencegah penyakit. Survey dilakukan untuk melihat seberapa populer jamu pada masyarakat indonesia. Hasilnya adalah hampir 50% penduduk indonesia pernah mengkonsumsi jamu untuk mengobati dirinya. Survey ini memperlihatkan walaupun pengobatan konvensional masih menjadi pilihan utama, namun masyarakat indonnesia juga mencari alternatif lain untuk pengobatannya, baik itu untuk menggantikan obat konvensional atau mendampingi terapi dengan obat konvensional [5].

Bahan Baku Jamu, Gambar Diambil dari Sini

Agar lebih aman, ada baiknya apabila kita meracik jamu sendiri. Tidak sulit untuk meracik jamu sendiri karena pada dasarnya bahan baku jamu mudah ditemukan mengingat Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki beragam flora. Ketersediaan bahan baku untuk pembuatan jamu tradisional di Indonesia cukup melimpah. Hasil riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan bahwa Indonesia memiliki 30.000 spesies tanaman obat dari total 40.000 spesies yang ada di di seluruh dunia. Walaupun Indonesia baru memanfaatkan sekitar 180 spesies sebagai bahan baku obat bahan alam dari sekitar 950 spesies yang berkhasiat sebagai obat [3].

Di desa kami, jamu dibuat dari herbal yang banyak tumbuh di sekitar perkarangan rumah baik herbal yang dibudidayakan ataupun yang tumbuh liar. Sebagian herbal ini merupakan warisan turun-menurun dari masyarakat sekitar. Beberapa herbal yang sering kami manfaatkan adalah:

1. Saga

Daun dari tanaman merambat ini biasanya kami gunakan untuk mengobati sariawan dengan meminum air rebusannya, caranya adalah dengan merebus setengah gelas air (±110 ml) dengan satu genggam daun saga

Tanaman Saga

Tanaman Saga

2. Babadotan

Daun babadotan sering kami gunakan untuk mengobati luka, caranya dengan meremas/menumbuk daun hingga keluar airnya kemudian ditempelkan pada luka tersebut

Babadotan

Babadotan

3. Binahong

Daun binahong ini dipercaya untuk mengobati segala penyakit. Biasanya rebusan daun binahong diminum untuk memulihkan kesehatan setelah jatuh sakit. Cara mengkonsumsinya adalah dengan meminum air rebusan daun binahong. Sebelumnya 10 lembar daun binahong dijemur selama satu hari. Kemudian direbus dengan dua gelas air hingga matang. Minumlah air rebusannya. Rasanya agak sepat namun tidak pahit. Menurut Pusat Studi Biofarmaka (PSB-LPPM IPB) daun Binahong dilaporkan mengadung saponin, alkaloid, dan polifenol. Karena kandungan saponinnya daun binahong berkhasiat sebagai antibakteri sehingga sering digunakan untuk menyembuhkan berbagai luka termasuk luka setelah operasi. Penelitian menunjukan bahwa binahong memiliki aktivitas antioksidan, juga aktivitas anti kejang. Disamping itu binahong juga dapat menyembuhkan batuk juga sakit paru-paru. Tanaman ini secara empiris dilaporkan dapat mengembalikan vitalitas daya tahan tubuh [6].

Tanaman Binahong

Tanaman Binahong

4. Kunyit

Selain bermanfaat untuk mengatasi masalah kewanitaan, rimpang kunyit juga bermanfaat untuk untuk mengobati diabetes mellitus, tifus, usus buntu, disentri, sakit keputihan, haid tidak lancar, perut mulas saat haid, memperlancar ASI, penyakit cangkrang, buang air besar berlendir, amandel dan morbili [7]. Kalau si mbok jamu tidak datang ke rumah, aku cukup minum parutan kunyit yang diseduh dengan air panas.

Kunyit

Kunyit

5. Kembang telang

Kebiasaan di desa ku, kembang telah lebih banyak digunakan untuk membersihkan kotoran pada mata bayi. Caranya dengan merendam kembang telang pada air biasa, kemudian airnya diteteskan pada mata bayi. Namun cara ini belum tentu aman untuk bayi, perlu dikonsultasikan oleh dokter atau bidan setempat. Pusat Studi Biofarmaka IPB menjelaskan tanaman ini berguna sebagai tonik otak yang baik, selain itu juga dapat mengobati sakit tenggorokan, infeksi mata, penyakit kulit, absea, bisul, radang mata merah, sakit telinga. Ekstrak kembang telang nyata menimbulkan aktivitas sitotoksik pada sel. Ekstrak etanol dari kembang telang memiliki potensi nephroprotective. Kembang telang berpotensi sebagai antioksidan alami [8]

6. Jeruk nipis

Jeruk nipis adalah salah satu dari sekian tanaman herbal yang kaya akan manfaat. Kami biasanya menggunakan jeruk nipis untuk mengobati batuk berdahak. Caranya adalah dengan meminum satu sendok perasan jeruk nipis dengan kecap manis. Menurut studi yang dilakukan oleh PSB IPB, jeruk nipis memiliki banyak manfaat antara lain minyak volatile yang dihasilkannya dapat mencegah terjadinya kangker kolon, mencegah kangker pancreas, mencegah tumor, serta mengobati penyakit amandel, malaria, ambeien, sesak napas, influenza, batuk, sakit panas, sembelit, disentri, sakit perut, masalah datang bulan, bau badan dan menangani keriput pada wajah [9].

7. Sirih

Selain berguna untuk mengobati keputihan, sirih juga bermanfaat untuk menghentikan pendarahan gusi dengan merebus empat lembar daun sirih bersama dua gelas air hingga mendidih dan dikumur-kumur. Jika gigi sedang sakit, sirih juga dapat digunakan untuk mengobatinya dengan cara merebus satu lembar daun dengan dua gelas air mendidih kemudian kumur-kumur.

Tanaman Sirih

Tanaman Sirih

8. Bunga Pukul Empat

Bunga pukul empat dapat mengobati penyakit bisul, infeksi saluran kencing, diabetes dan keputihan [10]. Bagian akar bunga pukul empat ini berguna untuk mengobati amandel

Bunga Pukul Empat

Bunga Pukul Empat

9. Daun Jambu Biji Merah

Daun jambu biji biasanya digunakan untuk mengobati diare. Caranya adalah dengan merebus daun jambu biji muda sebanyak 10 lembar dengan satu dua gelas air. Minum segera setelah sari-sarinya keluar.

10. Serai Dapur

Bermanfaat untuk meringankan sakit gigi, peluruh haid dan meringankan masuk angin. Akar segar serai direbus dengan satu gelas air, kemudian diminum dua kali sehari, masing-masing setengah gelas.

Seari Dapur

Serai Dapur

11. Anting-Anting

Anting-anting banyak ditemukan pada lingkungan kami. Tanaman ini tumbuh sebagai tanaman liar di sekitar rumah. Belum semua orang mengetahui manfaat tanaman yang bermanfaat untuk meringankan gejala batuk dan mimisan ini. Cara mengkonsumsinya adalah dengan meminum rebusan daun yang telah dikeringkan (sekitar 30-60 gram) dengan satu gelas air. Menurut PSB IPB, tanaman ini memiliki aktivitas antibakteri dan efektif menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli, Bacillus subtilis, dan Staphylococcus aureus. Anting-anting secara empiris digunakan untuk mengobati disentri, diare, batuk, dermatitis, dan diabetes [11].

anting-anting (2)

Herbal sebagai bahan dasar Jamu memiliki sifat menyeluruh dalam menyembuhkan penyakit dan tidak terpaku pada satu penyakit saja. Herbal bermanfaat sebagai pendamping untuk proses penyembuhan suatu penyakit. Dr Prapti Utami, seorang dokter dan juga herbalist, menuturkan bahwa setiap herbal memiliki efek simunostimulan herbal mampu meningkatkan daya tahan tubuh, memperbaiki sel dan merangsang antibody. Bila daya tahan tubuh baik maka antibody yang terbentuk dalam tubuh mampu bekerja dengan baik pula untuk menangkal setiap gangguan yang datang pada tubuh termasuk virus [12].

Sebenarnya masih banyak herbal lainnya yang dapat digunakan, baik yang berasal dari tanaman budidaya atau tanaman yang tumbuh secara liar. Berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah yang salah satunya melalui uji saintifikasi diharapkan kedepannya akan lebih banyak lagi tanaman selain tanaman obat yang dapat teridentifikasi sebagai tanaman yang berkhasiat untuk kesehatan mengingat Indonesia memiliki beragam flora yang tentunya bermanfaat bagi kehidupan. Dengan limpahan aneka flora sebagai sumber obat tradisional serta pengetahuan yang telah diwariskan secara turun menurun maka sudah sepantasnya kita menjaga apa yang telah diwariskan oleh leluhur kita karena:

Jamu adalah warisan budaya Indonesia.

Dies Natalis PSB 2013Tulisan ini diikut sertakan pada lomba blog yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Biofarmaka LPPM IPB dengan tema ”Lestarikan Jamu Sebagai Budaya Indonesia dan mendapatkan hadiah hiburan

Daftar Pustaka:

[1] JPPN. 2012. Jamu Rambah Masyarakat Elit. Edisi Jumat 1 Juni 2012. http://www.jpnn.com/read/2012/06/01/129195/Jamu-Rambah-Masyarakat-Elit-

[2] Kartika, U. 2013. Kiat Mengenali Jamu Berbahaya. Edisi Kamis 31 Januari 2013. http://health.kompas.com/read/2013/01/31/09021466/Kiat.Mengenali.Jamu.Berbahaya

[3] Bank Indonesia. 2013. Pola Pembiayaan Usaha Kecil  (PPUK) Industri Jamu Tradisional (Pola Pembiayaan Syariah). Direktorat Kredit BPR dan UMKM Bank Indonesia. 43 hal.

[4] Januwati, M. 2013. Saintifikasi Jamu: Membangun Kesejahteraan dan Kesehatan Masyarakat. http://balittro.litbang.deptan.go.id/ind/index.php/en/informasi-terkini/112-saintifikasi-jamu-membangun-kesejahteraan-dan-kesehatan-masyarakat

[5] IAI. 2012. Saintifikasi Jamu. Edisi 11 Oktober 2012. http://www.ikatanapotekerindonesia.net/articles/pharma-update/national-pharmacy/1978-saintifikasi-jamu.html

[6] Biofarmaka IPB. 2013. Binahong. http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection/593-herbal-plants-collection-binahong (Diakses tanggal 1 September 2013)

[7] Biofarmaka IPB. 2013. Kunyit. http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection/564-herbal-plants-collection-kunyit (Diakses tanggal 1 September 2013)

[8] Biofarmaka IPB. 2013. Kembang Telang. http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection/601-herbal-plants-collection-kembang-telang (Diakses tanggal 1 September 2013)

[9] Biofarmaka IPB. 2013. Jeruk Nipis. http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection/599-herbal-plants-collection-jeruk-nipis (Diakses tanggal 1 September 2013)

[10] Biofarmaka IPB. 2013. Bunga Pukul Empat. http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection/547-herbal-plants-collection-bunga-pukul-empat (Diakses tanggal 1 September 2013)

[11] Biofarmaka IPB. 2013. Anting-Anting. http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection/589-herbal-plants-collection-anting-anting (Diakses tanggal 1 September 2013)

[12] Titisari, A. 2012. Mengusir Perontok Janin. Trubus 06-januari 2012/XLIII hal 30

Evrinasp.com

Evventure Blog

Kumpulan Emak Blogger

kumpulan-emak-blogger

Warung Blogger

Photobucket

Blog Stats

  • 457,864 hits

Follow TWITTER

Kicauan TWITTER

Almanak

September 2013
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
%d bloggers like this: