//
you're reading...
Contest

Pengembangan Jamu Sebagai Warisan Budaya

Jamu Gendong

Jamu Gendong

Jamu adalah obat tradisional berbahan alami warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi untuk kesehatan. Pengertian jamu dalam Permenkes No.003/Menkes/Per/I/2010 adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Sebagian besar masyarakat mengkonsumsi jamu karena dipercaya memberikan andil yang cukup besar terhadap kesehatan baik untuk pencegahan dan pengobatan terhadap suatu penyakit maupun dalam hal menjaga kebugaran, kecantikan dan meningkatkan stamina tubuh. Menurut WHO, sekitar 80 % dari penduduk dibeberapa negara Asia dan Afrika menggunakan obat tradisional untuk mengatasi masalah kesehatannya, sedangkan beberapa negara maju, 70%-80% dari masyarakatnya telah menggunakan beberapa bentuk pengobatan komplementer atau alternatif serta obat herbal [1].

Sejarah tentang jamu dapat kita telusuri dari beberapa bukti sejarah yang ada. Diantaranya adalah [2]:

  1. Dokumentasi tertua tentang jamu yang terdapat pada relief Candi Borobudur (tahun 772 SM), dimana terdapat lukisan tentang ramuan obat tradisional atau jamu.
  2. Relief-relief pada Candi Prambanan, Candi Penataran (Blitar), dan Candi Tegalwangi (Kediri) yang menerangkan tentang penggunaan jamu pada zaman dahulu
  3. Kitab yang berisi tentang tata cara pengobatan dan jenis-jenis obat tradisional
  4. Pada tahun 991-1016 M, perumusan obat dan ekstraksi dari tanaman ditulis pada daun kelapa atau lontar, misalnya seperti Lontar Usada di Bali, dan Lontar Pabbura di Sulawesi Selatan. Beberapa dokumen tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia maupun bahasa asing.
  5. Pada masa kerajaan-kerajaan di Indonesia, pengetahuan mengenai formulasi obat dari bahan alami juga telah dibukukan, misalnya Bab kawruh jampi Jawi oleh keraton Surakarta yang dipublikasikan pada tahun 1858 dan terdiri dari 1734 formulasi herbal

Perkembangan industri jamu di Indonesia sendiri baru dimulai Sekitar tahun 1900-an dimana pabrik-pabrik jamu besar mulai berdiri di Indonesia seperti Jamu Jago, Mustika Ratu, Nyonya Meneer, Leo, Sido Muncul, Jamu Simona, Jamu Borobudur, Jamu Dami, Jamu Air Mancur, Jamu Pusaka Ambon, Jamu Bukit Mentjos, dan tenaga Tani Farma (Aceh) [3].

Industri Jamu, Gambar diambil dari sini

Hingga saat ini keberadaan jamu terus berkembang, hal in tercermin pada permintaan terhadap jamu yang terus mengalami peningkatan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya, tetapi apabila dibandingkan dengan permintaan obat modern dari industry farmasi nasional, permintaan produk jamu masih kalah jauh. Analisis tentang permintaan jamu hingga tahun 2010 memberikan hasil jumlah permintaan terhadap produk jamu masih lebih rendah yaitu pasar obat modern sebesar Rp 37,5 trilyun dan obat herbal hanya Rp 7,2 trilyun. Walaupun pangsa pasar industri jamu masih tetap rendah dibandingkan dengan industri farmasi tetapi pertumbuhan pangsa pasar industri jamu jauh lebih baik dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan industri farmasi yang malah mengalami penurunan [4].

Mengapa jamu mengalami peningkatan? Trend saat ini yang serba back to nature menyadarkan masyarakat akan pentingnya penggunaan bahan alami terhadap segala aktivitas kehidupan terutama yang menyangkut tentang kesehatan. Kebanyakan orang telah mengerti bahwa penggunaan obat tradisional selain harganya yang murah, mudah diperoleh, juga memberikan sedikit efek samping terhadap kesehatan. Hal tersebut memberikan peluang pasar yang perlu direspon dengan baik melalui perencanaan produksi yang tepat baik jenis, kuantitas, kualitas, maupun kontinuitas sehingga keberadaan jamu harus terus berkembang.

Mengapa harus dikembangkan?

Jamu merupakan aset bangsa yang harus terus dikembangkan karena jamu tidak hanya sebagai obat tradisional, juga sebagai warisan budaya yang menyentuh aspek ekonomi dan sosial. Berikut adalah beberapa alasan mengapa jamu harus dikembangkan:

1. Meminum jamu dapat menjaga kesehatan dengan sedikit efek samping

Kebanyakan orang mengkonsumsi jamu untuk menjaga kesehatannya, memelihara kecantikan tubuh, supplement penambah tenaga dan gairah hidup. Jamu yang terdiri dari tanaman obat memberikan dampak yang terlihat lambat tetapi bersifat memperbaiki dibanding obat kimiawi yang memberikan efek cepat tetapi bersifat merusak. Oleh karena itu jamu sering digunakan sebagai kombinasi pengobatan untuk mengobati penyakit kronis. Pengobatan dengan menggunakan tanaman obat memiliki beberapa keuntungan, yaitu relatif aman untuk dikonsumsi, memiliki toksisitas yang rendah serta tidak meninggalkan residu [5].

Contoh tanaman obat yang banyak digunakan untuk mengobati penyakit dan telah lulus uji saintifikasi adalah Temulawak dan Kunyit. Informasi yang dihimpun dari Pusat Studi Biofarmaka IPB menyebutkan bahwa Curcuma xanthorrhiza Roxb atau yang lebih dikenal temulawak dan Curcuma domestica Val atau yang lebih dikenal dengan kunyit merupakan tanaman obat dari family zingiberaceae yang banyak terdapat di Indonesia. Penelitian menunjukan Temulawak dapat berfungsi sebagai anti mikroba, antimetastatik, anti kanker, anti candida, antioksidan dan antihipolipidemik sedangkan Penelitian farmakologi menyebutkan bahwa kunyit dapat berfungsi sebagai anti inflamasi, antioksidan, anti protozoa, nematisidal, anti bakteri, anti venom, anti HIV, dan anti tumor. Warna kuning pada kedua rimpang merupakan cerminan dari senyawa bioaktif kurkuminoid yang dapat berfungsi sebagai penangkap radikal bebas, penghambat nitrit oksida, antiinflamasi, anti tumor, anti alergi, dan anti dementia [6].

Sari kunyit, gambar diambil dari sini

2. Indonesia berpotensi dalam pengembangan jamu karena memiliki beragam flora didukung oleh tanah yang subur

Dari sekitar 250.000 jenis tumbuhan yang terdapat di seluruh dunia, WHO memperkirakan 14-28% di antaranya merupakan jenis yang potensial dikembangkan menjadi obat. Di Indonesia sendiri dari sekitar 20.000 jenis tumbuhan yang ada, 7.000 jenis diantaranya memiliki potensi unntuk dikembangkan menjadi tanaman obat. Hal ini menunjukkan kondisi agroklimat Indonesia sangat mendukung pertumbuhan tanaman obat atau biofarmaka [7]

3. Permintaan terhadap jamu terus meningkat baik domestic maupun internasional

Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Jamu, penjualan obat herbal/jamu  di Indonesia pada 2010 menembus angka Rp 7,2 triliun dan pada tahun 2011 mencapai Rp12 triliun, lalu terus meningkat pada tahun 2012  menjadi Rp 13 triliun. Bahkan menurut data riset sekitar 93 persen masyarakat yang pernah minum jamu menyatakan bahwa minum jamu memberikan manfaat bagi tubuh [8]

Selain untuk konsumsi nasional, jamu tradisional juga berpotensi untuk diekspor ke pasar internasional. Negara tujuan ekspor, menurut data Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat bahan alam Indonesia (GP Jamu), yaitu Malaysia, Korea Selatan, Filipina, Vietnam, Hongkong, Taiwan, Afrika Selatan, Nigeria, Arab Saudi, Timur Tengah, Rusia dan Cile. Ekspor jamu tradisional tersebut sebagian besar masih dilakukan oleh industri jamu yang cukup besar [3].

4. Jamu sebagai sumber pendapatan

Berbagai usaha dibidang jamu, baik dalam industri berskala kecil atau rumahan hingga industri besar dapat menambah penghasilan negara melalui pajak dan devisa ekspornya. Industri jamu juga tidak membebani pemerintah dengan impor bahan baku jamu karena bahan-bahan pembuatan jamu terdapat di dalam negeri. Walaupun keuntungan yang diperoleh industri jamu tidak sebesar industri rokok atau industri farmasi, tetapi industri ini menyumbangkan dana bakti bagi pelayanan kesehatan masyarakat, karena jamu termasuk jenis alat pengobatan [4]

Adanya industri jamu baik industri kecil maupun besar mampu menyerap tenaga kerja yang berdampak pula pada pengurangan pengangguran serta sebagai sumber pendapatan bagi berbagai pihak mulai dari petani, pekerja hingga pengusaha.

5. Minum jamu sudah menjadi kebiasaan

Istilah jamu memang lebih identik dengan kebudayaan jawa, meskipun begitu Jamu tidak hanya dikonsumsi oleh masyarakat jawa. Keberadaan jamu telah menyebar dibeberapa daerah. Jamu telah ada sejak dulu sebelum ilmu farmasi modern memasuki Indonesia. Saat ini tradisi minum Jamu menjadi populer dikalangan orang indonesia pada umumnya, dimana hampir 80% orang Indonesia menggunakan tradisi minum jamu. Bagi orang Indonesia, jamu sama dengan populernya seperti populernya tradisi minum susu bagi orang-orang barat [9]. Kebiasaan minum jamu masih dipertahankan hingga saat ini karena mengkonsumsi jamu tidak memberikan dampak yang negative terhadap tubuh, kebanyakan orang mengkonsumsi jamu untuk menjaga kesehatan tubuh mereka.

minum jamu

minum jamu

Masih banyak lagi alasan mengapa jamu harus dikembangkan. Setelah mengetahui manfaat dari pengembangan jamu, lalu bagaimanakah caranya mengembangkan jamu di Indonesia? Berikut adalah caranya:

Bagaimana Cara Mengembangkan Jamu

Telah dijelaskan di atas bahwa Indonesia sangat berpotensi dalam mengembangkan jamu karena memiliki beragam jenis tanaman obat yang didukung dengan kesuburan tanah. Akan tetapi dalam perjalanan ditemukan berbagai kendala untuk pengembangannya terutama pada tingkat pelaku utama (petani) maupun pelaku usaha seperti kualitas produk yang masih standar, tidak memiliki pasar serta harga jual yang terlalu rendah yang dapat merugikan pelaku utama dan pelaku usaha pengembang jamu. Oleh karena itu dibutuhkan berbagai cara dalam rangka pengembangan jamu di Indonesia, diantaranya adalah:

1. Memberikan kemudahan untuk memperoleh akses permodalan terutama pada usaha jamu tradisional.

Bagi industri jamu tradisional baik usaha baru maupun yang sudah berjalan terdapat Pola Pembiayaan Usaha Kecil (PPUK) Industri Jamu Tradisional yang dilaksanakan oleh  Direktorat Kredit, BPR dan UMKM Bank Indonesia. Analisis yang telah dilakukan memberikan hasil bahwa total biaya investasi yang dibutuhkan untuk usaha jamu tradisional dengan kapasitas 9,6 ton produk adalah Rp.417.581.000. Sedangkan biaya modal kerja yang dibutuhkan adalah Rp 146.200.000. Industri jamu tradisonal secara finansial layak dilaksanakan dengan pola pembiayaan syariah karena berdasarkan analisis kelayakan keuangan usaha industri jamu tradisional dengan masa proyek 5 tahun dan tingkat margin 12% untuk usaha baru dan 10% untuk usaha yang sudah berjalan dapat membayar kewajiban kepada shahibul maal (LKS) dengan pola pembiayaan dan menghasilkan keuntungan yang memadai. Artinya industry jamu tradisional secara finansial layak dilaksanakan [3]

2. Membantu memfasilitasi pelaku utama dan pelaku usaha dalam mengembangkan produk jamu yang berorientasi pasar.

Kendala utama yang dihadapi oleh pelaku utama dan pelaku usaha dalam mengembangkan usaha jamu adalah pengembangan produk serta pemasaran. Baik pelaku utama maupun pelaku usaha sebenarnya sudah mahir dalam memproduksi dan mengolah bahan baku jamu hanya saja untuk menciptakan produk yang berkualitas dan memasarkan produk yang dihasilkan masih menemui kendala, ditambah dengan banyaknya kompetitor baik dari dalam maupun luar negeri. Untuk itu diperlukan upaya fasilitasi untuk pengembangan jamu berorientasi pasar bagi pelaku utama dan pelaku usaha.

Dalam hal ini Pusat Studi Biofarmaka telah melaksanakan kegiatan Pelatihan Pemberdayaan dan Bisnis Petani Temulawak di Desa Nagrak Kabupaten Sukabumi guna meningkatkan ketrampilan petani Temulawak mulai dari sisi budidaya berstandar GAP (Good Agricultural Practices), pengolahan produk berstandar GMP (Good Manufacturing Practices) dan juga penguatan orientasi bisnis yakni perlunya penanaman jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) dan penyusunan business plan. Para petani juga dilatih menghitung kelayakan bisnis secara sederhana untuk 3 (tiga) jenis produk olahan Temulawak, yaitu Rimpang, Simplisia, dan Puder. Selain itu mereka juga dilatih menghitung harga jual yang layak untuk produk yang dipraktekkan, yaitu Curcuma Candy, Curcuma Jelly, dan Curcuma Sirop [10]

3. Membentuk kemitraan dengan petani untuk mengembangkan tanaman obat bahan baku jamu.

Produk hasil pertanian ditingkat petani umumnya monoton tanpa perlakuan lebih lanjut. Selain itu rancangan usaha tani umunya tidak muncul ditingkat petani tetapi lebih banyak berasal dari pengusaha atau swasta sehingga keuntungan yang diterima petani rendah. Dengan adanya kemitraan diharapkan dapat memberikan keuntungan bagi petani sehingga dapat menjadikan tanaman obat sebagai salah satu komoditas utama yang diusahakan pada lahan usaha taninya.

Dalam rangka kegiatan pengabdian pada masyarakat, Peneliti Pusat Studi Biofarmaka LPPM IPB dengan dukungan pendanaan dari Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia melakukan pengembangan model kemitraan dengan masyarakat petani di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi. Kelompok petani diarahkan untuk menjadikan komoditi biofarmaka sebagai salah satu komoditi utama. Komoditi yang dijadikan sasaran adalah temulawak dan kunyit. Tim peneliti melakukan pelatihan-pelatihan sebagai salah satu metode untuk penguatan kelompok tani dan Gapoktan, juga membuat kesepakatan dengan perusahaan produk biofarmaka untuk menjembatani pemasaran hasil pertanian biofarmaka dari petani binaan. Kemitraan dengan perusahaan dalam upaya pemasaran produk pertanian biofarmaka dijalin dengan PT SOHO dan PT Biofarindo [11]

4. Membuat peraturan serta prosedur pengujian laboratorium (terkait izin edar dan lain-lain) yang tidak memberatkan industri jamu tradisional baik dari segi proses maupun biayanya.

Prosedur pengujian guna memperoleh sertifikasi diharapkan tidak berbelit-belit dan tidak memakan waktu yang cukup lama karena dikhawatirkan mengganggu kelangsungan produksi jamu tradisional.

5. Menumbuh kembangkan kesadaran masyarakat untuk menanam tanaman obat keluarga (toga) sebagai sumber bahan baku jamu melalui pemanfaatan perkarangan.

Indonesia sangat berpotensi dalam pengembangan tanaman obat pada lahan perkarangan karena Indonesia memiliki luas lahan perkarangan secara nasional sekitar 10.3 juta ha atau 14% dari keseluruhan luas lahan pertanian [12]. Pengusahaan toga pada lahan perkarangan juga sangat mudah dengan melibatkan ibu-ibu rumah tangga sebagai penggerak. Program ini telah dilakukan baik oleh pemerintah, LSM maupun dari kalangan akademisi.

Seperti yang telah dilaksankan oleh Divisi Pengabdian Pada Masyarakat dan Pengembangan Pasar Biofarmaka (PMPPB) bekerja sama dengan Divisi Pengembangan Sumber Daya Alam dan Budidaya Biofarmaka (PSDABB) Pusat Studi Biofarmaka LPPM IPB melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pengenalan tanaman obat keluarga (TOGA) kepada ibu-ibu PKK Kelurahan Situ Gede, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor. Kegiatan ini diisi oleh penjelasan mengenai jenis dan kegunaan tanaman obat keluarga, cara sederhana budidaya tanaman obat dengan memanfaatkan lahan terbatas (budidaya vertikultur), serta tanya jawab seputar penggunaan dan budidaya tanaman obat. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman para ibu terhadap tanaman obat yang dapat dibudidayakan di lingkungan rumah. Di samping itu, melalui kegiatan ini diharapkan kesadaran para ibu untuk menggunakan obat bahan alam (biofarmaka) dapat meningkat [13].

Pemanfaatan pekarangan

Pemanfaatan pekarangan

6. Mengedukasi masyarakat akan manfaat jamu

Sebagian masyarakat memang telah memahami bahwa jamu sangat baik untuk kesehatan, tetapi ada sebagian masyarakat yang masih takut untuk mengkonsumsi jamu lantaran ditemukan beberapa produk jamu yang mengandung bahan obat kimia (BOK) beredar di masyarakat. Sehingga diperlukan sosialisasi untuk mengedukasi masyarakat dalam rangka mengkonsumsi produk jamu yang aman. Sosialisasi tentang upaya saintifikasi jamu juga diperlukan sehingga masyarakat percaya kembali terhadap produk jamu yang aman. Adanya produk jamu yang berbahan kimia sangat merugikan karena dapat menghilangkan keprecayaan masyarakat untuk mengkonsumsi jamu yang berdampak pula pada produsen jamu.

Upaya pengembangan jamu memang telah dilakukan, tetapi upaya ini harus terus ditingkatkan dan berkelanjutan mulai dari pelaku utama, pelaku usaha maupun pada tingkat konsumen agar jamu yang dihailkan memiliki kualitas sehingga mampu bersaing dengan obat modern maupun competitor dari luar negeri sehingga keberadaan jamu sebagai warisan budaya dapat terus lestari.
Dies Natalis PSB 2013

Tulisan ini diikutsertakan pada lomba penulisan artikel jamu dengan tema ”Lestarikan Jamu Sebagai Budaya Indonesia” yang diadakan oleh Pusat Studi Biofarmaka Institut Pertanian Bogor Periode Juni-15 September 2013.

Daftar Pustaka:

[1] Biofarmaka IPB. 2013. Quality of Herbal Medicine Plants and Traditional Medicine. http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-news/brc-article/587-quality-of-herbal-medicine-plants-and-traditional-medicine-2013

[2] Maulana, A et al. 2011. Makalah Konsep Herbal Indonesia. Masalah Saintifikasi Jamu dan Kaitannya Dengan Program Magister Herbal. Program Magister Herbal Departemen Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia. 17 hal.

[3] Direktorat Kredit, BPR, dan UMKM. 2013. Pola Pembiayaan Usaha Kecil (PPUK) Industri Jamu Tradisional (Pola Pembiayaan Syariah). Bank Indonesia. 43 hal.

[4] Lestari, E.D. 2007. Analisis Daya Saing, Strategi dan Prospek Indsutri Jamu di Indonesia. Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajeman Institut Pertanian Bogor. 40hal.

[5] Biofarmaka IPB. 2013. The Ginger Potential as Alternative Treatment for Chronic Respiratory Diseases. http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-news/brc-article/469-the-ginger-potential-as-alternative-treatment-for-chronic-respiratory-diseases-2013

[6] Biofarmaka IPB. 2013. Curcuminoid Contents Antioxidant and Anti Inflammatory Activities of Curcuma Xanthorrizha Roxb and Curcuma Domestica Val Promissing Lines. http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-news/brc-article/265-curcuminoid-contents-antioxidant-and-anti-inflammatory-activities-of-curcuma-xanthorrhiza-roxb-and-curcuma-domestica-val-promising-lines

[7] Prasatyawati. D. 2013. Pemanfaatan Pekarangan Untuk Tanaman Obat. Tabloid Sinar Tani Edisi 23-29 Januari 2013 No. 3491 Tahun XLIII.

[8] Akhir, D. J. 2013. Pemerintah Bantu Kembangkan Industri Jamu. Edisi Selasa 30 Juli 2013. http://economy.okezone.com/read/2013/07/30/320/844630/pemerintah-bantu-kembangkan-industri-jamu

[9] Javanessia. Sejarah Tentang Jamu. http://javanessia.com/aboutjamu.htm

[10] Biofarmaka IPB. 2013. Training of Empowerment and Business of Temulawak Farmers at Village Nagrak District Sukabumi. http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-news/brc-article/413-training-of-empowerment-and-business-of-temulawak-s-farmers-at-village-nagrak-district-sukabumi

[11] Biofarmaka. 2013. Development of Partnership Model between BRC and Farmers of Biopharmaca in District Sukabumi. http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-news/brc-article/267-development-of-partnership-model-between-brc-and-farmers-of-biopharmaca-in-district-sukabumi

[12] BPTP Kalimantan Barat. 2013. Model kawasan rumah pangan lestari di kota Pontianak, kabupaten kubu raya, kabupaten Pontianak dan kota singkawang-provinsi Kalimantan barat. http://kalbar.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=265:mkrpl&catid=66:program-utama&Itemid=209

[13] Biofarmaka IPB. 2013. Introduction of Herbal Family Plant to PKK of Situ Gede Village at Sub District of West Bogor. http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-news/brc-article/371-introduction-of-herbal-family-plant-to-pkk-of-situ-gede-village-at-sub-district-of-west-bogor

About evrinasp

I am an Agricultural Extension Officer, Blogger and Hiker

Discussion

3 thoughts on “Pengembangan Jamu Sebagai Warisan Budaya

  1. Artikel yang sangat menarik …
    Terus berkarya…

    Posted by wahyu adi | June 4, 2015, 5:29 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: » Peserta Lomba Penulisan Artikel Jamu di Blog Tiest's Blog - October 8, 2013

  2. Pingback: Pengembangan Jamu Sebagai Warisan Budaya | umunihayah - January 19, 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: