//
archives

Archive for

Matur Suwun Jatim

Sambil menunggu jadwal keberangkatan kereta menuju Bogor, saya menghabiskan waktu untuk mengunjungi toko buku Gramedia di Plaza Madiun. Ada beberapa buku yang ingin saya berikan kepada teman-teman. Buku 5 cm. dan komik Conan. Ada beberapa buku yang juga menarik perhatian saya yaitu buku tentang fotografi. Saya memang sedang ingin belajar fotografi guna melengkapi hobi saya yang narsis dan melengkapi gambar-gambar di blog. Tidak ada darah fotografi yang mengalir di dalam tubuh tetapi tidak ada salahnya untuk mencoba, tidak ada yang tidak bisa kalau mau berusaha bukan?
image

Buku sudah dibeli, ternyata saya mendapatkan souvenir kalender dari Kompas Gramedia. Kalendernya bagus baik dari fotografi maupun pesan moral yang disampaikan.

Sambil duduk di food court yang ada di plaza Madiun, saya mulai membaca apa yang tertulis di kalender. Saya sangat tertarik dengan tulisan Ninok Leksono yang berjudul Masa Depan Milikmu di kalender ini. Dia berkata seperti ini:

“Wahai orang muda, jangan terbujuk, setialah pada hati nurani”

Sepertinya ini nasehat untuk saya pribadi supaya tidak terlalu terhanyut arus yang ada di tempat kerjaan saya. Yah, saya tidak perlu menceritakan seperti apa tepatnya. Tetapi kalau senior bilang ikuti arus saja tapi jangan sampai terhanyut hehe. Sepertinya saya memang kurang bersyukur, di tempat yang dulu suka mengeluh, sekarang juga, padahal semua itu adalah pilihan dan saya telah memilih jalan ini. Padahal saya sering bertemu dengan orang-orang yang dengan susah payah mencari nafkah seperti tukang becak, pemulung, bahkan petani yang berjibaku dengan cuaca dan serangan hama penyakit. Baiklah mulai saat ini kurangi keluh kesah dan mulailah untuk selalu bersyukur karena dengan bersyukur tentu nikmat akan semakin bertambah bukan?

Bertemu dengan teman- teman kemarin kembali membuka mata saya, bahwa masa depan adalah kita yang menentukan mau apa kita nanti. Saya senang dengan semangat teman-teman yang ingin terus menuntut ilmu. Terus terang saja saya memang belum berpikir ke arah sana karena saya juga masih bingung dengan profesi saat ini. Tetapi satu yang pasti bahwa menuntut ilmu itu tidak terbatas oleh waktu. Semoga nanti ada cahaya yang mencerahkan saya untuk menuju kesana. Aamiin.
image

image

Selesai di Plaza Madiun, saya diantar sofi mengunjungi tempat batik. Mamah saya kepengen oleh-oleh daster batik, tantenya Alfi dan si ayah juga. Saya di antar sofi ke Pusat Batik di jalan Kolonel Marhadi Madiun dekat Alun- Alun Kota Madiun. Harga batiknya sangat terjangkau dan bagus-bagus sampai saya bingung milihnya. Hampir satu jam disana akhirnya selesai juga milih batiknya.
image

image

Setelah membeli oleh-oleh batik, saya diantar sofi untuk makan Gudeg Solo di jalan Buni. Gudegnya menurut saya enak, rasanya pas dan khas Jateng. Kami tidak terlalu lama di sana karena masih ada satu destinasi lagi yaitu pusat oleh-oleh brem asli Madiun di Toko Taman Sari jalan Salak Raya Ujung Barat. Disini banyak dijual oleh-oleh seperti brem aneka rasa, sambal pecel Madiun, aneka keripik, jenang dan lain-lain. Hargany sangat terjangkau untuk setiap jenis makanan. Saya mendapat oleh-oleh khusus dari Sofi. Terimakasih ya Sofi.
image

image

Hari sudah semakin sore… kereta sebentar lagi datang. Beribu-ribu terimakasih saya ucapkan untuk teman-teman atas sambutannya selama dua hari di Jatim. Saya berharap teman-teman dapat berkunjung balik ke Bogor dan semoga tali silaturahim kita tetap terjaga. Aamiin.

From Pare With Love (3)

Minggu, 19 Januari 2014

Hari ini adalah hari terakhir kami di Pare karena baik kami dan teman-teman besok harus sudah kembali beraktivitas. Rencananya hari ini kami akan berkumpul di Sribu Asri, Bendo, Pare. Tempatnya masih dekat dengan pusat Pare, tepatnya di belakang gudang pabrik rokok Gudang Garam yang merupakan perusahaan rokok terbesar di Kediri. Bicara tentang rokok, saya menemukan beberapa merk rokok unik yaitu Grendel dan Jambu Bol. Merk tersebut tidak ada di Jabar. Meskipun saya mengetahui hal tersebut tetapi saya bukan perokok lho.

image

Sribu Asri merupakan tempat makan lesehan plus pemancingan. Saya mengenal tempat ini sudah beberapa tahun yang lalu ketika perpisahan rekan kami yang bernama Budi. Tempat yang jam operasinya mulai dari jam 9 hingga jam 10 malam ini sangat ramai apabila hari libur tiba. Terlihat disana-sini banyak orang yang memancing. Kamipun tidak ketinggalan untuk memancing. Rizal dan Zezen rekan kami sangat terampil mengayunkan kail pancing hingga mendapatkan 3 buah ikan bawal segar. Ikan bawal ini yang nantinya akan menjadi santapan kami.

image

image

image

Di taman ini juga terdapat binatang-binatang lucu seperti kucing, burung kakak tua, burung hantu, biawak, bunglon dan lain-lain yang membuat pengunjung usia anak-anak senang melihatnya.

image

image

image

Karena teman-teman sudah mulai berkumpul, kamipun mulai menuju lesehan untuk menikmati hasil pancingan. Tiga buah ikan bawal bakar, satu buah gurame bakar, 2 porsi tempe terong penyet, 3 porsi cah kangkung plus minuman khas berupa beras kencur menambah kenikmatan acara kumpul hari ini. Hmmmm rasanya enak, lezat, gurih. Memang kalau makan secara bersama akan terasa nikmat. Alhamdulillah.

image

image

image

Waktu sudah nenunjukan pukul 11 siang. Kami mulai saling bersalaman dan berpamitan. Rasa senang, sedih, haru mulai mewarnai perpisahan kami hari itu. Ucapan terimakasih kami ucapkan setinggi-tingginya untuk teman-teman di Pare karena walaupun sudah tiga tahun lamanya tidak bertemu, mereka tetap tidak berubah, mereka masih sangat baik dan setia seperti dulu. Hal inilah yang membuat saya sangat merindukan Pare, tidak hanya tempat tetapi persahabatannya. Iringan doa satu dengan yang lainnya mengantarkan kepergian kami.

Alhamdulillah cuaca saat itu sangat bersahabat. Cuaca cerah mengantarkan perjalanan kami kembali ke tempat masing-masing.

Terimakasih Pare, Terimakasih teman-teman atas keceriaan dan persahabatannya. Sampai jumpa lagi dilain waktu. Semoga tali silaturahim kita terus terjaga. Aamiin.

Happy Birth Day KEB-Kumpulan Emak2 Penginspirasi #KEBdiMataku

Assalamualaikum emak2 blogger dan kawan-kawan semua…… saya mau ikutan memposting serentak dalam rangka ultah KEB yang ke 2 sebelumnya saya mau nyanyi dulu ya, spesial buat KEB, begini ni:

Selamat hari lahir, iringan doa ku tulus, bersyukur kepada-Nya atas nikmat

usia

Selamat hari lahir KEB, semoga KEB selalu eksis, menjadi wadah inspirasi para emak-emak dan kaum wanita. Pokonya love-love-love deh sama KEB. Maaf ya KEB saya jarang aktif di KEB karena belum bisa memanage kerjaan dengan baik jadiny suka dikerjain kerjaan deh dan waktu buat nulis-nulis di blog agak terganggu. Tapi saya tetap mengikuti lho perkembangan KEB. Dan alhamdulillah sekarang sudah mulai bisa nulis lagi sedikit-sedikit.

Mau tau gak? Saya nulisnya pas lagi di kereta Bangun Karta jam 03:40 lho. Saya lagi perjalanan menuju Jatim. Postingan ini saya publish khusus kalau nanti sudah sampai Pare biar KEB juga merasakan kegembiraan ketika saya ada di Pare hehehe. Maaf kalau lebay. Khusus buat KEB saya mau kasih hadiah, ini gambar sawah di jatim hehe.

Awal saya bergabung di KEB karena ajakan teman. Saya baru tau darinya kalau ada grup yang namanya KEB. Waktu itu saya bergabung di KEB pertengahan 2012. Sudah lama banget ya KEB. Saya senang bisa bergabung di KEB. Mau tahu kenapa? Ini lho alasannya #KEBdimataku:

1. Di KEB banyak emak-emak yang menginspirasi, penulis, pemenang blog, emak yang cerdas pokoknya banyak deh tetapi mereka gak pelit ilmu sama emak-emak yang kemampuannya masih minim dalam menulis kayak saya hehe. Mereka sering menshare tips-tips tentang menulis dan juga menyemangati kita-kita ini

2. Jiwa sosial di KEB juga tinggi dengan adanya acara kopdar sebagai ajang silaturahim, kadang juga ada postingan-postingan mendidik yang mengingatkan kita sebagai emak-emak tentunya

3. KEB itu unik, hal itu dapat dilihat dari adanya pemilihan emak of the month yang tentunya dapat menginspirasi kita semua. Design covernya juga saya suka mak sumpah deh hehe

4. KEB itu keren karena mampu membuat acara lomba blog yang hadiahnya keren-keren banget. Apalagi acara tahunan Srikandi Bloggernya subhanaallah saya salut akan acara tersebut walaupun saya gakbikutan hehe

Dan masih banyak lagi tentang KEB lainnya. Pokoknya gak nyesel kalau bergabung sama KEB deh. Terimakasih ya KEB sudah menginspirasi selama ini. Harapan saya semoga kedepannya KEB terus eksis di dunia perblogan. Jangan bosan-bosan apabila bertemu emak-emak seperti saya hehe. Sekali lagi saya ucapkan:

Happy Birth Day KEB

From Pare With Love (2)

Sabtu, 18 Januari 2014

Waktu menunjukan pukul 03:30, masih di dalam kereta bangun karta. Tetapi saya sudah bangun karena takut kebablasan, maklum dijadwal kereta akan sampai Madiun pukul 4:30. Rasanya sudah gak sabar menginjakan kaki dan menghirup udara jatim. Saya melihat ke jendela tapi masih gelap jadi gak tau sudah sampai mana. Teman saya sofi sudah membangunkan dan mengingatkan jangan sampai tidur terlalu pules kalau sudah sampai Solo Balapan. Hehe tenang sofi karena tiap pemberhentian diumumkan dan ada petugas yang membangunkan. Tetapi tetap saja saya harus siap. Sambil menunggu saya mau membuat postingan untuk ultah KEB hari ini. Postingan KEB sudah dibuat tinggal diposting nanti siang kalau sudah tiba di Pare hehe.

Alhamdulillah pukul 04:45 saya sudah tiba di stasiun Madiun. Akhirnya menghirup udara jatim lagi horreeeeeee…. dan mendengar serta melihat bahasa jawa lagi. Hehe norak ya saya. Kereta Bangun Karta berhenti sejenak selama 5 menit di stasiun Madiun untuk pengecekan. Sambil menunggu sofi datang, saya mencoba menuliskan lagi lanjutan cerita ini. Stasiun Madiun tak banyak berubah, bersih dan rapih.
image

image

Lima menit kemudian sofi sudah datang menjemput di pintu keluar stasiun. Di luar sana sudah banyak bapak-bapak yang menawarkan jasa ojeg. “Mbak ojegnya mboten?” Tanya bapak-bapak itu. Sayapun menjawab “mboten pak”. Terdengar suara salah seorang bapak yang mengatakan “kok iso bilang mboten”, ya kalo cuma bilang mboten bisa pak hehe. Sofi sudah menunggu di pintu luar. Motor Yamahanya membawa saya keluar stasiun. Wuiiih sejuk banget madiun, pukul 05:30 ruas jalan masih sepi. Motor sesekali hilir mudik dengan kencang. Tidak seperti bogor kalau jam segitu pasti sudah ramai. Kalau mau motoran di jatim kits harus hati-hati. Lebih baik tidak usah ngebut-ngebut karena jalanan disini tidak seramai di Jabar sehingga banyak kendaraan yang jalannya ngebut. Saya melihat ada 3-4 motor dan 2 mobil yang menerobos bangjo (abang ijo alias lampu merah) karena jalanan yang sepi. Kami tidak ikut menerobos khawatir ada kendaraan dari arah berlawanan.

Setelah beristirahat sekitar 1.5 jam di rumah sofi yang berada di daerah nglames madiun, kamipun bergegas menuju kediri. Dengan iringan doa dari ibu serta nasehat dari oyan untuk tidak menyalip kendaraan lain di daerah saradan, kami mulai melaju menyusuri jalan-jalan madiun. Kami memotong jalan melewati wonosari yang tembus ke jalan raya caruban. Sepanjang jalan saya melihat hamparan padi bagaikan permadani hijau. Rasanya ingin sekali gegulingan di sana. Saya sangat salut terhadap petani disini yang kompak untuk tanam serempak menanam padi. Hal tersebut dapat memberikan dampak positif terutama dalam hal memutus rantai hama penyakit. Tidak seperti di daerah saya yang sulit sekali untuk penanaman serentak lantaran kurang tenaga kerja dan alsintan.
image

Memasuki caruban suasananya tidak terlalu berbeda seperti dulu. Jalanannya masih lenggang dan lebar. Kita bisa agak ngebut di jalanan ini tetapi tetap berhati-hati guna menghindari hal yang tidak diinginkan. Beberapa menit kemudian marka jalanan mulai berubah menjadi garis putih lurus tidak terputus. Itu pertanda kami telah memasuki Saradan. Seperti kata oyan, jangan menyalip kendaraan yang ada di depan karena memang jalanan ini rawan kecelakaan. Konturnya agak berbelok dan permukaan jalanan tidak terlalu mulus karena sering dilalui truk tronton serta bus besar seperti Eka, Mira, Restu, Sumber Selamet dan lain lain. Kami mematuhi nasehat oyan untuk tidak ngebut dan tidak menyalip di saradan. Kamipun minggir ketika bus Restu membunyikan klakson di belakang kami. Jalanan di kanan-kini saradan banyak ditanami pohon jati. Sesekali saya melihat karya seni berupa kursi yang dibuat sangat ciamik dari pohon jati. Adanya pohon jati membuat daerah saradan terlihat sangat sejuk dan rindang. Sayapun membuka kaca helm serta masker untuk menghirup sejuknya tiupan angin saradan.
image

Beberapa saat kemudian kami memasuki Kota dan Kabupaten Nganjuk. Daerah ini memang tidak seramai Madiun atau Kediri, makanya banyak orang-orang Nganjuk yang sering main ke Kediri atau Madiun. Sama seperti Madiun, Nganjuk juga merupakan daerah sentra penanaman padi. Sepanjang jalan mata ini kembali dibuat terlena oleh hamparan hijau tanaman padi. Beberapa saat kemudian kami melewati Kertosono, dulu saya sering sekali naik kereta dari kertosono ketika hendak pulang ke Bogor. Motor biasanya saya titipkan di Stasiun Kertosono. Apabila sudah memasuki daerah ini artinya Kediri semakin dekat. Daaannnn setelah melewati perempatan, melalui jembatan yang di bawahnya terdapat Sungai Brantas, akhirnya kamipun memasuki gerbang yang bertuliskan selamat datang di Kabupaten Kediri di daerah Papar Kabupaten Kediri. Dulu apabila saya melewati daerah ini, saya tidak berani membawa motor dengan kencang karena jalanan ini bergelombang dan banyak dilalui kendaraan besar. Tetapi sekarang berbeda, jalanannya mulus sehingga kami merasa nyaman ketika melalui jalan ini. Apabila memandang ke sebelas kiri akan terlihat para petani bawang merah yang sedang menanam umbinya dan beberapa petani yang sedang menebar pupuk di pertanaman padi. Padi juga menjadi komoditas utama di daerah ini.
image

Akhirnya rasa pegal karena duduk di motor selama 2.5 jam (biasanya saya paling lama motoran 1 jam) terbayar juga karena kami sudah tiba di Pare yang disambut oleh Tugu Garuda.

Saya dengan sofi mulai senyam-senyum sendiri, ternyata Pare banyak berubah. Ada beberapa bangunan baru seperti plaza, taman dan tempat makan. Di dekat Masjid Agung An Nur Pare terdapat Taman Kilisuci. Menurut arek-arek taman ini merupakan taman yang baru dibuat. Di sana saya melihat sekumpulan anak muda yang sibuk mengabadikan persahabatan mereka. Kami sudah tidak sabar untuk mengunjungi teman-teman.
image

image

Sebelum menuju tempat surprise, kami check in terlebih dahulu di Hotel Surya Kediri supaya tas yang berat ini tidak perlu di bawa kesana -kesini. Dan sekitar jam 10 tepat kami mulai melaju menuju Tulung Rejo. Motor melaju melewati perempatan pasar Pare dan perempatan Tulung Rejo. Beberapa meter kedepan setelah melewati lapangan futsal di sebelah kanan, kami tiba di tempat tujuan. Rasanya deg-degan takut kami tidak diizinkan masuk. Tetapi siapa yang menyangka ternyata pak satpam masih ingat dengan kami semua. Rasanya sangat terharu. Pak satpam menyuruh kami untuk masuk saja tanpa meninggalkan identitas. Setelah memarkir motor, kami mulai berjalan lewat belakang kantor. Daaaaannn taraaaaa….. semuanya bengong melihat kedatangan kami, misi berhasilllllll. Tetapi jujur saja bukan hanya mereka yang bengong, tetapi saya juga karena tempat kerja dulu banyak berubah. Yang tidak berubah adalah persahabatan, mereka masih sama seperti dulu, baik dan sangat peduli. Saya dan sofipun mulai mengelilingi perusahaan, melihat setiap proses kegiatan, bertemu dengan teman-teman di bagian lain. Alhamdulillah mereka masih mengingat kami.
image

Tadinya selepas dari Tulung Rejo kami ingin mengunjungi kantor di Sumber Agung, tetapi karena sedang ada acara di Simpang Lima Gumul, maka orang-orang banyak yang tidak ada di kantor. Akhirnya kami juga ikut ke tempat acara di Simpang Lima Gumul untuk bertemu dengan atasan kami yang dulu.

Selama di sana kami jadi canggung sendiri, maklum tamu tidak diundang hehe. Banyaknya orang membuat kami celingak- celinguk sendiri mencari dimana keberadaan si bapak. Alhamdulillah setelah setengah jam celingukan, akhirnya kami bertemu juga dengan si bapak. Senang banget, bapak sehat dan masih seperti dulu hehe. Dan siapa sangka kami juga bertemu dengan teman-teman lainnya. Sekali mendayung satu dua pulau terlampaui. Ini melebihi apa yang saya harapkan. Alhamdulillah.

Kembali ke Pare, beristirahat sejenak di hotel. Setelah bersih-bersih dan shalat, kami melanjutkan misi selanjutnya. Sekarang sudah bergabung teman kami dari Malang. Misi kami selanjutnya adalah bersilaturahim dengan ibu kos di Gedang Sewu Pare. Ibu kos pertama yang kami kunjungi adalah ibu kosnya Fajar, Yudi dan Mas Alam. Mbah Wiryo namanya. Kami sudah mendengar kalau si Mbah sakit, tetapi kami tidak menyangka apabila sakit si Mbah sudah membuatnya kurus kering. Sedih melihatnya, apalagi si Mbah juga sudah tidak mengingat kami, bahkan tidak mengingat Fajar, Yudi atau Mas Alam. Kami hanya bisa mendoakan semoga si Mbah tabah dan selalu mendapatkan perlindungan dari Allah SWT. Aamiin. Beranjak dari tempat Si Mbah, kami berjalan ke rumah depan yang merupakan tempat kos dua teman ku ini. Ibu dan bapak kos masih mnegingat kami, mereka masih ceria dan baik seperti dulu. Sayangnya ibu kos ku Mbah Mispan tidak ada di rumah, Beliau sedang ada di Kalimantan di tempat anaknya hingga bulan depan. Saya hanua mendapatkan info kalau si Mbah mulai sakit-sakitan. Sedih rasanya tidak bisa bertemu si Mbah, tetapi tidak apa-apa melihat rumahnya saja sudah mengobati rasa kangen.
image

Magrib pun tiba, suara azan memanggil kami untuk sujud menghadap Nya di mesjid Agung An Nur Pare. Mesjid ini sungguh indah berdiri kokoh di Pare. Kami bermunajat dan menghaturkan rasa syukur sebesar-besarnya atas segala rahmat dan karunia. Termasuk atas segala rahmat Nya karena mengizinkan kami untuk kembali mengunjungi Pare. Alhamdulillah.

Badan sebenarnya sudah mulai lelah, ditambah dengan mata yang mulai mengantuk. Tetapi tidak menghalangi kami untuk mengelilingi kota Kediri bersama teman kami. Kediri masih seperti dulu, ada beberapa tempat baru dan tempat lama yang tidak ada lagi. Tidak lengkap rasany apabila ke Kediri tidak mampir ke Monumen Gumul, kami melihat banyak pengunjung yang mengunjunginya. Tetapi bukan itu destinasi kami, kami berencana untuk mengunjungi sahabat kami di kota Kediri.
image

Setelah bersilaturahim dengannya, kamipun bergegas untuk makan malam di Soto Tamanan di Terminan Tamanan Kediri. Sudah sejak lama saya mendengar kalau soto ini enak. Tetapi sejak dulu saya belum pernah mencoba. Melihat banyaknya pengunjung sepertinya soto ini memang enak. Bedanya dengan soto di Jabar adalah nasi dan kuah langsung disatukan dalam satu mangkok. Kita dengan bebas menaburkan sayuran yang berupa kol dan toge ke dalam soto kita sendiri. Di sini tidak menggunakan sambal, tetapi cabe besar yang dikenal dengan lombok belis. Jangan lupa tambahkan perasan jeruk nipis supaya segar. Selamat makaaaaan.
image

image

image

Hari sudah semakin malam, kamipun kembali ke hotel untuk beristirahat. Rencana untuk keesokan harinya sudah tersusun dengan rapih. Terimakasih untuk hari ini. Alhamdulillah.

From Pare With Love

Dreaaaaaam comes true…..Dream comes

true

Jumat, 17 Januari 2014

Bojonggede dari pagi diguyur hujan, hingga siang hari tiba kelihatannya persediaan air dilangit masih banyak, air hujanpun terus-menerus turun membasahi bumi. Meskipun begitu saya tidak mengeluh, hari ini sy semangat karena akhirnya mimpi itu terwujud. Mimpi apatuh? Mimpi mau dolan (main) ke Pare, Kediri, Jatim. Saya ingin bersilaturahim dengan kota pare, dengan teman-teman dan juga ibu kos yang sudah lama banget terpisah selama 3 tahun lamanya.

Hmmm…. kaya apa ya Pare sekarang??? Pertanyaan itu terus terngingan di kepala. Pasti sudah banyak perubahan. Sambil beres-beres rumah, mempersiapkan perbekalan dan bermain dengan Alfi, saya sesekali mengontak teman-teman di Pare. Saya dan rekan-rekan di jatim sengaja merahasiakan kedatangan kami ke Pare supaya surprise, tau-tau besok kita sudah muncul dihadapan mereka. O iya pasti banyak yang bertanya mengapa saya bisa ke Pare padahal sudah jadi emak-emak yang punya tanggungan? Alhamdulillah keluarga termasuk Alfi dan suami mengizinkan saya untuk kesana, terlebih saya mempunyai misi terkait kerjaan selain bersilaturahim.

Setelah shalat zhuhur sayapun bergegas untuk berangkat ke stasiun. Stasiun tujuan saya adalah Gambir. Hujan masih saja menghiasi langit Bogor. Setelah membeli tiket single trip commuter line saya bergegas pula menuju kereta yang datang. Wah alhamdulillah, keretanya sepi saya bisa dengan leluasa duduk di gerbong khusus wanita. Derasnya air hujan terlihat dari bercecernya air hujan di lantai kereta.
image

Menjelang daerah Cawang bangku kereta mulai penuh. Mata saya menerawang ke kanan-kiri, meneropong melalui jendela keadaan ibu kota sekarang. Kemudian sayapun tiba di stasiun tujuan saya yaitu Gondangdia. Dari sana saya melanjutkan perjalanan menuju stasiun Gambir dengan menggunakan ojeg. Saya membayar jasa ojeg Rp. 15000 padahal jaraknya tidak terlalu jauh. Kalau dihitung hampir 3x lipat dengan harga ojeg di desa. Yah namanya juga kota beda dengan kampung yang biaya hidupnya masih lebih rendah.

Tiba di stasiun Gambir saya agak bingung karena sudah lama tidak bepergian ke luar daerah Jabar, stasiun Gambir kini berubah, banyak outlet makanan bagi penumpang yang menunggu datangnya kereta katena ternyata kita tidak boleh masuk ke lantai dua dimana kereta nantinya akan masuk.

image

Waktu saya masih panjang, saya harus menunggu sekitar 2 jam hingga kereta Bangun Karta datang. Sambil memanfaatkan waktu sebaiknya saya mencetak print out tiket di tempat pengeprinan tiket mandiri (self service) karena sebelumnya saya sudah membooking tiket melalui salah satu toko frenchise.

image

Fasilitas ini ada di lantai dasar dekat dengan loket pemesanan tiket. Ternyata antri juga untuk mengeprint tiket, hal itu terjadi karena tidak semua penumpang mengerti cara mengeprint tiket secara mandiri terutama para orang tua. Beruntung ada petugas pendamping yang membantu penumpang mengatasi permasalahan ini.
image

Tiket sudah diprint, masih sekitar satu jam lagi kereta datang. Ngapain ya sekarang? Mending isi perut dulu supaya di kereta nanti tinggal duduk manis aja. Kalau hujan begini pengennya makan bakso atau mie ayam, tapi jangan deh mending makan nasi aja. Sambil melihat tugu monas yang menjulang tinggi sayapun mulai melahap ayam teriyaki. Hmmm lumayan enak dan yang pasti kenyang.

image

Sudah jam 17:30 saya bergegas masuk melalui pintu selatan. Kali ini saya sudah diperbolehkan naik ke lantai 3 karena oleh petugas baru diperbolehkan masuk apabila sudah jam 5. Ternyata penumpang juga sudah mulai penuh, sedikit terhibur karena ada band yang sedang tampil di lantai dua. Berada di lantai 3 membuat mata saya lebih segar karena saya sedang dilanda ngantuk berat gara-gara begadang tadi malam. Kereta commuter hilir mudik dijalur sebelah kanan saya. Angin yang bertiup memberikan kesan dingijln di wajah. Kereta yang dinantipun tiba, Bangun Karta, kereta yang membawa saya dari Gambir menuju Madiun. Sebelum ke Pare saya mau mampir dulu ke Madiun untuk mengunjungi teman saya yang bernama sofi. Dari sana kami akan berangkat bareng dari Madiun menuju Pare menggunakan motor.

image

image

Oke sekarang saya sudah naik kereta Bangun Karta. Saatnya saya menikmati perjalanan. Posting tentang Pare masih terus berlanjut.

Jiwa yang Bermekaran

Kuncup bunga itu bukan tak ingin mekar

Ia menunggu datangnya sang surya

Ia kumpulkan energi dimasa tunggunya

Agar dapat bermekaran dengan indah

Kini sang surya telah menampakkan cahayanya

Menuntun jalan sang bunga

Bungapun bermekaran tanda musim semi telah tiba

***

Sambil mendengarkan lagu-lagu indihe (baca india) dari film Yeh Jaawani Yeh Deewani (2013), saya mau menuliskan tentang semangat yang sedang bermekaran diantara saya dan teman-teman penyuluh karena yang tadinya bingung sekarang sudah mulai mendapatkan titik cerah. Rasanya film india itu cocok sebagai back sound ketika saya menulis, karena film tersebut menceritakan persahabatan 4 orang manusia yang memiliki hobi traveling dan mendaki gunung, masing-masing mempunyai impian sendiri dan berusaha untuk mewujudkannya. Kaya 5 cm ya, tapi beda kok.

Empat sahabat di film Yeh Jawaani Hai Deewani, Gambar diambil dari: http://www.santabanta.com

Nah, berawal dari bulan Desember 2013 lalu ketika mengucapkan sumpah dan janji sebagai abdi negara dihadapan Bapak Bupati dan bersumpah atas nama Allah, kamipun seperti mendapatkan suntikan semangat. Memang setahun kemarin kami sempat bingung, sampai bertanya sendiri ke dalam diri bisa gak ya jadi penyuluh, karena ternyata susah sekali lho mengajak masyarakat untuk memberdayakan dirinya menjadi masyarakat yang mandiri. Benar kata senior-senior, satu tahun saja belum cukup untuk membuat diri kita diterima di masyarakat, butuh soft skill yang lebih untuk menghadapi kondisi tersebut karena setinggi apapun pendidikan yang kita punya kalau tidak didukung dengan soft skill sangat susah untuk masuk ke dalam masyarakat.

ketika pengambilan sumpah jabatan

ketika pengambilan sumpah jabatan

Apa itu soft skill? Kalau di penyuluhan soft skill itu kemampuan untuk berkomunikasi, berinteraksi dan bertingkah laku dalam masyarakat. Misalnya bagaimana caranya berbicara dan menghadapi petani. Saya sendiri sedikit demi sedikit belajar bahasa sunda, karena petani lebih senang apabila kita berkomunikasi dengan bahasa daerah. Kemudian kalau kita mau berkunjung jangan sampai menggangu waktu mereka, jika mereka sedang menanam ya kita ikut menanam, kemudian apabila ditawarkan makanan atau minuman ya diminum karena apabila kita menolak bisa jadi besok-besok tidak disajikan lagi yang berarti kita tidak menghargai mereka. Nah, petani senang sama yang namanya ngopi kalau sedang ngobrol, karena saya tidak terlalu suka kopi terutama kopi hitam, kita bisa memberitahu pelan-pelan kalau kita tidak minum kopi supaya mereka tidak tersinggung. Memang sih tidak semua petani seperti itu, beberapa petani yang saya temui ada yang supel dan ada yang tidak. Kita tinggal adaptasi saja.

Mengenai soft skill ini, dalam acara syukuran pengangkatan yang digelar beberapa minggu lalu kami mendapatkan pencerahan dari bapak ustadz Nurudin mengenai bekerja. Ternyata bekerja tidak boleh hanya semata-mata mengharapkan gaji atau imbalan tetapi harus ada valuenya. Bekerja tidak hanya mengharapkan imbalan tetapi meberikan nilai dalam kehidupan apapun profesi kita karena ternyata ada nilai yang lebih berharga ketimbang benefit. Sang ustadz memberikan contoh begini:

Salah satu Ibu penjual makanan, profesi seperti ini memberikan value untuk orang lain, sumber: http://kisah-anak-kost-kikos.blogspot.com/2012/05/nyari-tempat-makan-di-kampus-b-unair.html

“Ada seorang ibu-ibu di Surabaya yang setiap pagi berjualan sarapan. Dia berjalan dari rumah ke rumah di kampungnya untuk menjajakan makanan sarapan tersebut. Tetapi ibu ini bukanlah ibu yang tidak berkecukupan materi sehingga dia berjualan. Si ibu orang yang sangat berkecukupan, dia memiliki penghasilan tetap dari usahanya, dari suami dan anak-anaknya memiliki kendaraan dan sebagainya. Lalu mengapa beliau melakukan hal tersebut? sampai-sampai para tetangga bertanya apa gak cukup bu penghasilan dari keluarga padahal ibu adalah orang yang mampu. Lantas si ibu menjawab, saya bukan mencari keuntungan, kalau saya berhenti jualan bagaimana nanti anak-anak sekolah yang mau sarapan, bagaimana nanti orang-orang bekerja yang tidak sarapan karena tidak sempat memasak?”

Sampai seperti itu si ibu bekerja karena memikirkan kepentingan orang lain. Keuntungan yang ibu terima tidak lebih dari Rp. 1000 rupiah, kadang hanya Rp. 500 saja tetapi dia tetap ikhlas menjajakan makanannya.

Dari kisah ibu penjaja makanan ini kita dapat mengambil hikmah bahwa bekerja tidak semerta-merta mengharapkan benefit saja tetapi harus memberikan value, memberikan manfaat bagi orang lain sehingga memberikan kedamaian di hati. bekerja dengan memberikan value ternyata salah satu bentuk rasa syukur kita akan segala karunia yang telah Allah berikan.

Mendengar penjelasan yang ustadz berikan membuat mata saya terbuka, jujur saja saya sering berpikir kalau saya bekerja untuk mendapatkan materi, dan ternyata kalau kita berpikir seperti itu tidak memberikan kepuasan secara batin. Lain halnya jika kita bekerja sebagai value, apabila kita bisa membantu orang lain pasti memberikan perasaan bahagia, senang dan damai dalam hati. Hal tersebutlah yang saya rasakan ketika dapat membantu petani yang terkena masalah. Ucapan terimakasih dari mereka karena telah membantu memecahkan masalahnya (meskipun itu adalah tugas) ternyata memberikan kepuasan tersendiri bagi saya. senang sekali rasanya.

Saya termasuk orang yang sering mengeluh bahwa tugas yang saya bawa ini berat sekali. Sebagai orang lapangan yang selalu diterpa matahari atau hujan kadang saya pulang dengan berat hati karena menemukan beberapa masyarakat yang sulit untuk dibina atau kadang saya pulang dengan rasa bangga lantaran mampu membantu mereka. Tetapi sang ustadz kembali mengingatkan bahwa:

“Pelaut yang hebat tidak lahir dari laut yang tenang tetapi lahir dari laut yang berombak dasyat, hanya pelaut hebat yang mampu menaklukan dasyatnya gelombang laut”

Captain Jack Sparrow, pelaut hebat menurut saya walaupun fiksi hehe, Sumber: http://www.moddb.com/mods/new-horizons/features/hoist-the-colours-storyline-preview

Nah, kita mau menjadi pelaut yang bagaimana? Pelaut hebat apa pelaut yang gagal? Semua tahapan memerlukan proses, kita memang harus sabar dan ikhlas menghadapi segala permasalahan karena segala permasalahan pasti ada jalan keluarnya.

Saat ini jiwa kami sedang bermekaran, semangat kami sedang terpompa. Perlahan tapi pasti kami mengikuti semua proses, memperbaiki diri sendiri, menambah ilmu pengetahuan agar mampu menjadi abdi negara yang baik. Kemudian kamipun memiliki cita-cita, seperti anak yang baru belajar jalan, kami ingin mengetahui semua hal yang belum kami gapai karena saat ini hanya mampu berjalan dengan tertatih-tatih. Kami percaya bahwa suatu saat kami bisa berjalan dengan lancar menggapai impian. Mengutip kata-kata dari Alchemist:

“When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it”

Percaya gak? Itu benar saya rasakan lho, ketika saya mempunyai impian yang keukeuh pokoknya harus tercapai ternyata alhamdulillah tercapai walaupun membutuhkan waktu dua tahun lamanya dan harus melewati berbagai proses kehidupan dulu. So teman-teman gantungkanlah impian kita setinggi-tingginya dan yakinkan dalam hati kalau kita mampu mencapainya, inget lho di kanan-kiri kita ada malaikat yang insyaAllah ikut mengaminkan segala doa dan pengharapan kita. Terlebih kita memiliki Allah sang Maha Pengatur yang mampu mengabulkan doa-doa hambanya yang selalu berikhtiar. Jadi, jangan menyerah ya, teruslah bermimpi dan biarkan jiwa itu bermekaran. Semangat!!!!

Sang Pemenang mampu menaklukan segala rintangan, sumber gambar: http://suhartono-chandra.blogspot.com/2012/03/v-behaviorurldefaultvmlo.html

Jadilah seorang Pemenang

Lebih baik mencoba kemudian gagal, dari pada gagal mencoba

Untuk menjadi seorang pemenang tidak harus  melakukan hal yang berbeda

Tetapi lakukanlah dengan cara yang berbeda

Quote dari Adlai Stevenson:

“lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan”

“lebih baik belajar daripada mengutuk orang yang pintar”

Lebih baik berusaha daripada mengutuk orang yang kaya”

Lebih baik berkreativitas daripada mengutuk orang yang sukses”

 

Mengudara Lagi

Hai teman-teman…….hai juga buat blog ku (menyapa blog sendiri).

Sudah lama absen dari dunia per-blogan nih, sudah lama pula ketinggalan berita dan event-event penting seputar blog. Hampir dua bulan lamanya saya tidak corat-coret di blog, benar-benar ketinggalan berita dan ‘gak update. Biasanya sesibuk apapun saya masih bisa menyempatkan diri untuk menulis di blog, tapi dua bulan kemarin sedang saya memang banyak kegiatan dan pelaporan (maklum akhir tahun) sampai malampun masih berkutat dengan kerjaan (kasian banget ya dikerjain kerjaan). Tapi sekarang sudah lebih ringan, paling tidak tugas yang harus saya kerjakan merupakan tanggung jawab pribadi dan tidak terkait organisasi atau orang lain. Saya senang, saya pikir blog saya ora payu (‘gak laku) gara-gara sudah lama ‘gak update, ternyata masih banyak juga yang berkunjung, happy rasanya. Saya mau mencoba flashback apa saja sih yang sudah saya lakukan di tahun 2013 kemarin.

Alfi sekarang sudah besar :D

Alfi sekarang sudah besar 😀

Tahun kemarin merupakan tahun dimana saya memulai langkah baru, bertransformasi dari seorang ibu rumah tangga yang akhirnya ikut terjun sebagai penyuluh lapangan. Tahun 2013 juga merupakan tahun pembelajaran bagi saya, karena tidaklah mudah menjalani dua peran sekaligus, yaitu sebagai ibu dan sebagai penyuluh. Pada awalnya saya sempat was-was ketika bekerja, memikirkan bagaimana anak saya yang kala itu masih belum bisa berjalan, masih jalan merembet atau terkadang merangkak. Saat itu saya masih ingat membawa-bawa cooler bag yang disangka tas makanan oleh teman-teman kantor. Beberapa kali saya menolak tawaran untuk mengikuti diklat (pendidikan dan latihan) yang untuk sebagian besar orang hal tersebut sangat dinantikan. Semua itu karena saya belum siap meninggalkan Alfi, anak saya yang saat itu masih bayi. Hingga akhirnya terpaksa meninggalkannya selama tiga minggu untuk mengikuti diklat prajabatan. Dari situ saya mulai berani untuk melakukan perjalanan dinas yang memang penting dan harus dilakukan karena memang Alfi sudah mulai terbiasa ditinggalkan beberapa hari.

Dukungan dari anak, suami dan orang tua tidak serta merta membuat saya mencintai profesi saya saat ini. Jujur saja saya masih sangat bingung ketika harus berhadapan dengan masyarakat yang dalam hal ini adalah masyarakat petani.

Pertama kali pertemuan, cuma mendampingi kelompok saja, masih cupu abis

Pertama kali pertemuan, cuma mendampingi kelompok saja, masih cupu abis

Kadang saya pulang dengan hati senang karena berhasil membantu mereka, kadang juga membuat saya cukup galau karena susah sekali mengajak mereka untuk maju atau paling tidak mampu memberdayakan diri sendiri. Belum lagi pesan yang selalu disampaikan oleh atasan yang membuat saya merasa memiliki beban berat, Beliau berkata begini: “maju atau tidaknya suatu kelompok tergantung bagaimana kamu memberi warna pada kelompok tersebut”, sebuah kalimat yang sangat dalam dan terasa sangat berat untuk dijalankan. Apalagi diantara sesama teman penyuluh kami sering bercanda begini: “kalau menjadi penyuluh itu harus bisa jadi penyuluh polivalen; ya pertanian, peternakan, perikanan bahkan kehutanan harus bisa”. Itulah yang saya rasakan ketika saya belum mampu menjawab pertanyaan beberapa petani yang bertanya seputar perikanan atau peternakan karena background saya yang lulusan pertanian. Yaaa kalau menjawab seputar budidaya ternak kelinci agak-agak mengerti karena ternak kelinci merupakan hobi yang pernah saya geluti, tapi kalau sudah bertanya soal ternak domba, kerbau dan kawan-kawannya bisa-bisa gigit jari deh. Dalam hal pertanian saja, saya masih kurang lihai dibanding petani, saya tidak akan berbohong karena yang saya tahu hanyalah teoritik saja sementara aplikasinya kadang tidak sesuai dengan teori. Dan… jadilah pulang dengan hati galau karena tidak mampu memfasilitasi keinginan kelompok ditambah dengan deru debu serta kehujanan dijalanan yang membuat badan hampir tiap dua minggu sekali merasakan pijatan dari Mbok Kasni mewarnai hari-hari saya sebagai penyuluh. Tetapi ada satu dua hari dalam seminggu yang membuat saya merasa bahagia ketika mendapatkan ucapan terimakasih dari petani atau mendapatkan sekantong plastik ubi jalar sebagai penghargaan kepada saya karena mampu membantu beberapa petani membuat saya merasa tidak sepenuhnya gagal sebagai seorang penyuluh.

Sekarang udah lebih pede nih, aku (kiri) bareng petugas dari dinas (kanan)

Sekarang udah lebih pede nih, aku (kiri) bareng petugas dari dinas (kanan)

Namun dibalik itu semua ada satu hal yang menghibur saya, yaitu ngeblog. Menulis di blog telah menjadi hobi saya beberapa tahun terakhir, baik menulis biasa atau untuk mengikuti perlombaan. Menang atau kalah bukanlah tujuan ketika menulis, tetapi perasaan puas ketika bisa menulis sesuai ketentuan memberikan sensasi tersendiri bagi saya disela-sela rutinitas. Blog telah membuat saya cukup dikenal di lingkungan kantor, pernah saya mendengar seseorang yang berbicara seperti ini: “itu lho si mba yang rajin banget nulis di blog”, secara tidak langsung memberikan arti bahwa blog saya dikunjungi dan diketahui oleh rekan-rekan. Senang sekali rasanya….. dan ternyata menulis di web terutama dalam bidang pertanian dapat memberikan angka kredit yang cukup besar bagi tenaga fungsional seperti saya ini. Makanya atasan cukup mengapresiasi ketika mengetahui anak buahnya memiliki blog aktif meskipun belum banyak artikel seputar pertanian. Kedepannya saya harus memperbanyak artikel-artikel seputar pertanian karena ketika menulis sama saja kita belajar kembali dan paling tidak terekam dalam ingatan mengenai materi yang kita tuliskan.

Dibalik semua rutinitas dan permasalahan yang melanda, saya sangat menikmati akhir pekan bersama keluarga kecil kami, biasanya kami cukup berjalan-jalan di sekitar Bogor atau Depok untuk memberikan kebahagiaan bagi anak kami, atau jika suami sedang tidak pulang, kadang saya dan Alfi, berduaan saja jalan-jalan di sekitar Cibinong. Hal tersebut mampu memberikan spirit tersendiri bagi saya ketika harus kembali bekerja pada hari senin, dan juga buat Alfi tentunya. Saya mendedikasikan hari sabtu dan minggu khusus untuk keluarga karena sudah terlalu banyak waktu yang habis terpakai untuk bekerja.

Punya hobi yang sama, ngubek-ngubek toko buku

Punya hobi yang sama, ngubek-ngubek toko buku

Tahun 2014, satu tahun kedepan harus lebih baik dari tahun sebelumnya. Seperti layaknya organisasi, saya memiliki beberapa rencana ditahun ini yang merupakan hasil evaluasi satu tahun belakang. Teman-teman pasti punya rencanakan? Tetapi membuat rencana itu ternyata tidak mudah lho, seperti membuat rencana kerja yang sampai sekarang belum selesai dilakukan lantaran harus sesuai dengan identifikasi dan potensi daerah (itu sih karena ditambah malas saja hehe). Rencana saya saat ini yang kepingin banget dan harus dipenuhi adalah membangun rumah dan pergi ke Pare-Kediri-Jatim selain rencana lainnya yang telah tersusun rapih (‘gak usah dibeberkan disini ya hehe). Belajar dan terus belajar dalam bidang pertanian supaya menjadi penyuluh professional serta menjadi orang tua yang lebih baik lagi adalah salah satu prioritas dari rencana yang telah tersusun, hmmm semoga saya bisa melaksanakannya dengan baik. Aamiin.

Terakhir, jangan lupa gapailah impian dan cita-cita karena umur tidak membatasi seseorang untuk menggapai cita-cita, jadi walaupun sudah emak-emak gini tetap harus menggapai cita-cita dan impian. Semoga dapat terwujud. Aamiin. Semangattttt!!!!

Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan kening kamu. Dan… sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih banyak dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas -5 CM-

Evrinasp.com

Evventure Blog

Kumpulan Emak Blogger

kumpulan-emak-blogger

Warung Blogger

Photobucket

Blog Stats

  • 465,966 hits

Follow TWITTER

Kicauan TWITTER

Almanak

January 2014
M T W T F S S
« Nov   Feb »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
%d bloggers like this: