//
you're reading...
Other, Traveling

From Pare With Love (2)

Sabtu, 18 Januari 2014

Waktu menunjukan pukul 03:30, masih di dalam kereta bangun karta. Tetapi saya sudah bangun karena takut kebablasan, maklum dijadwal kereta akan sampai Madiun pukul 4:30. Rasanya sudah gak sabar menginjakan kaki dan menghirup udara jatim. Saya melihat ke jendela tapi masih gelap jadi gak tau sudah sampai mana. Teman saya sofi sudah membangunkan dan mengingatkan jangan sampai tidur terlalu pules kalau sudah sampai Solo Balapan. Hehe tenang sofi karena tiap pemberhentian diumumkan dan ada petugas yang membangunkan. Tetapi tetap saja saya harus siap. Sambil menunggu saya mau membuat postingan untuk ultah KEB hari ini. Postingan KEB sudah dibuat tinggal diposting nanti siang kalau sudah tiba di Pare hehe.

Alhamdulillah pukul 04:45 saya sudah tiba di stasiun Madiun. Akhirnya menghirup udara jatim lagi horreeeeeee…. dan mendengar serta melihat bahasa jawa lagi. Hehe norak ya saya. Kereta Bangun Karta berhenti sejenak selama 5 menit di stasiun Madiun untuk pengecekan. Sambil menunggu sofi datang, saya mencoba menuliskan lagi lanjutan cerita ini. Stasiun Madiun tak banyak berubah, bersih dan rapih.
image

image

Lima menit kemudian sofi sudah datang menjemput di pintu keluar stasiun. Di luar sana sudah banyak bapak-bapak yang menawarkan jasa ojeg. “Mbak ojegnya mboten?” Tanya bapak-bapak itu. Sayapun menjawab “mboten pak”. Terdengar suara salah seorang bapak yang mengatakan “kok iso bilang mboten”, ya kalo cuma bilang mboten bisa pak hehe. Sofi sudah menunggu di pintu luar. Motor Yamahanya membawa saya keluar stasiun. Wuiiih sejuk banget madiun, pukul 05:30 ruas jalan masih sepi. Motor sesekali hilir mudik dengan kencang. Tidak seperti bogor kalau jam segitu pasti sudah ramai. Kalau mau motoran di jatim kits harus hati-hati. Lebih baik tidak usah ngebut-ngebut karena jalanan disini tidak seramai di Jabar sehingga banyak kendaraan yang jalannya ngebut. Saya melihat ada 3-4 motor dan 2 mobil yang menerobos bangjo (abang ijo alias lampu merah) karena jalanan yang sepi. Kami tidak ikut menerobos khawatir ada kendaraan dari arah berlawanan.

Setelah beristirahat sekitar 1.5 jam di rumah sofi yang berada di daerah nglames madiun, kamipun bergegas menuju kediri. Dengan iringan doa dari ibu serta nasehat dari oyan untuk tidak menyalip kendaraan lain di daerah saradan, kami mulai melaju menyusuri jalan-jalan madiun. Kami memotong jalan melewati wonosari yang tembus ke jalan raya caruban. Sepanjang jalan saya melihat hamparan padi bagaikan permadani hijau. Rasanya ingin sekali gegulingan di sana. Saya sangat salut terhadap petani disini yang kompak untuk tanam serempak menanam padi. Hal tersebut dapat memberikan dampak positif terutama dalam hal memutus rantai hama penyakit. Tidak seperti di daerah saya yang sulit sekali untuk penanaman serentak lantaran kurang tenaga kerja dan alsintan.
image

Memasuki caruban suasananya tidak terlalu berbeda seperti dulu. Jalanannya masih lenggang dan lebar. Kita bisa agak ngebut di jalanan ini tetapi tetap berhati-hati guna menghindari hal yang tidak diinginkan. Beberapa menit kemudian marka jalanan mulai berubah menjadi garis putih lurus tidak terputus. Itu pertanda kami telah memasuki Saradan. Seperti kata oyan, jangan menyalip kendaraan yang ada di depan karena memang jalanan ini rawan kecelakaan. Konturnya agak berbelok dan permukaan jalanan tidak terlalu mulus karena sering dilalui truk tronton serta bus besar seperti Eka, Mira, Restu, Sumber Selamet dan lain lain. Kami mematuhi nasehat oyan untuk tidak ngebut dan tidak menyalip di saradan. Kamipun minggir ketika bus Restu membunyikan klakson di belakang kami. Jalanan di kanan-kini saradan banyak ditanami pohon jati. Sesekali saya melihat karya seni berupa kursi yang dibuat sangat ciamik dari pohon jati. Adanya pohon jati membuat daerah saradan terlihat sangat sejuk dan rindang. Sayapun membuka kaca helm serta masker untuk menghirup sejuknya tiupan angin saradan.
image

Beberapa saat kemudian kami memasuki Kota dan Kabupaten Nganjuk. Daerah ini memang tidak seramai Madiun atau Kediri, makanya banyak orang-orang Nganjuk yang sering main ke Kediri atau Madiun. Sama seperti Madiun, Nganjuk juga merupakan daerah sentra penanaman padi. Sepanjang jalan mata ini kembali dibuat terlena oleh hamparan hijau tanaman padi. Beberapa saat kemudian kami melewati Kertosono, dulu saya sering sekali naik kereta dari kertosono ketika hendak pulang ke Bogor. Motor biasanya saya titipkan di Stasiun Kertosono. Apabila sudah memasuki daerah ini artinya Kediri semakin dekat. Daaannnn setelah melewati perempatan, melalui jembatan yang di bawahnya terdapat Sungai Brantas, akhirnya kamipun memasuki gerbang yang bertuliskan selamat datang di Kabupaten Kediri di daerah Papar Kabupaten Kediri. Dulu apabila saya melewati daerah ini, saya tidak berani membawa motor dengan kencang karena jalanan ini bergelombang dan banyak dilalui kendaraan besar. Tetapi sekarang berbeda, jalanannya mulus sehingga kami merasa nyaman ketika melalui jalan ini. Apabila memandang ke sebelas kiri akan terlihat para petani bawang merah yang sedang menanam umbinya dan beberapa petani yang sedang menebar pupuk di pertanaman padi. Padi juga menjadi komoditas utama di daerah ini.
image

Akhirnya rasa pegal karena duduk di motor selama 2.5 jam (biasanya saya paling lama motoran 1 jam) terbayar juga karena kami sudah tiba di Pare yang disambut oleh Tugu Garuda.

Saya dengan sofi mulai senyam-senyum sendiri, ternyata Pare banyak berubah. Ada beberapa bangunan baru seperti plaza, taman dan tempat makan. Di dekat Masjid Agung An Nur Pare terdapat Taman Kilisuci. Menurut arek-arek taman ini merupakan taman yang baru dibuat. Di sana saya melihat sekumpulan anak muda yang sibuk mengabadikan persahabatan mereka. Kami sudah tidak sabar untuk mengunjungi teman-teman.
image

image

Sebelum menuju tempat surprise, kami check in terlebih dahulu di Hotel Surya Kediri supaya tas yang berat ini tidak perlu di bawa kesana -kesini. Dan sekitar jam 10 tepat kami mulai melaju menuju Tulung Rejo. Motor melaju melewati perempatan pasar Pare dan perempatan Tulung Rejo. Beberapa meter kedepan setelah melewati lapangan futsal di sebelah kanan, kami tiba di tempat tujuan. Rasanya deg-degan takut kami tidak diizinkan masuk. Tetapi siapa yang menyangka ternyata pak satpam masih ingat dengan kami semua. Rasanya sangat terharu. Pak satpam menyuruh kami untuk masuk saja tanpa meninggalkan identitas. Setelah memarkir motor, kami mulai berjalan lewat belakang kantor. Daaaaannn taraaaaa….. semuanya bengong melihat kedatangan kami, misi berhasilllllll. Tetapi jujur saja bukan hanya mereka yang bengong, tetapi saya juga karena tempat kerja dulu banyak berubah. Yang tidak berubah adalah persahabatan, mereka masih sama seperti dulu, baik dan sangat peduli. Saya dan sofipun mulai mengelilingi perusahaan, melihat setiap proses kegiatan, bertemu dengan teman-teman di bagian lain. Alhamdulillah mereka masih mengingat kami.
image

Tadinya selepas dari Tulung Rejo kami ingin mengunjungi kantor di Sumber Agung, tetapi karena sedang ada acara di Simpang Lima Gumul, maka orang-orang banyak yang tidak ada di kantor. Akhirnya kami juga ikut ke tempat acara di Simpang Lima Gumul untuk bertemu dengan atasan kami yang dulu.

Selama di sana kami jadi canggung sendiri, maklum tamu tidak diundang hehe. Banyaknya orang membuat kami celingak- celinguk sendiri mencari dimana keberadaan si bapak. Alhamdulillah setelah setengah jam celingukan, akhirnya kami bertemu juga dengan si bapak. Senang banget, bapak sehat dan masih seperti dulu hehe. Dan siapa sangka kami juga bertemu dengan teman-teman lainnya. Sekali mendayung satu dua pulau terlampaui. Ini melebihi apa yang saya harapkan. Alhamdulillah.

Kembali ke Pare, beristirahat sejenak di hotel. Setelah bersih-bersih dan shalat, kami melanjutkan misi selanjutnya. Sekarang sudah bergabung teman kami dari Malang. Misi kami selanjutnya adalah bersilaturahim dengan ibu kos di Gedang Sewu Pare. Ibu kos pertama yang kami kunjungi adalah ibu kosnya Fajar, Yudi dan Mas Alam. Mbah Wiryo namanya. Kami sudah mendengar kalau si Mbah sakit, tetapi kami tidak menyangka apabila sakit si Mbah sudah membuatnya kurus kering. Sedih melihatnya, apalagi si Mbah juga sudah tidak mengingat kami, bahkan tidak mengingat Fajar, Yudi atau Mas Alam. Kami hanya bisa mendoakan semoga si Mbah tabah dan selalu mendapatkan perlindungan dari Allah SWT. Aamiin. Beranjak dari tempat Si Mbah, kami berjalan ke rumah depan yang merupakan tempat kos dua teman ku ini. Ibu dan bapak kos masih mnegingat kami, mereka masih ceria dan baik seperti dulu. Sayangnya ibu kos ku Mbah Mispan tidak ada di rumah, Beliau sedang ada di Kalimantan di tempat anaknya hingga bulan depan. Saya hanua mendapatkan info kalau si Mbah mulai sakit-sakitan. Sedih rasanya tidak bisa bertemu si Mbah, tetapi tidak apa-apa melihat rumahnya saja sudah mengobati rasa kangen.
image

Magrib pun tiba, suara azan memanggil kami untuk sujud menghadap Nya di mesjid Agung An Nur Pare. Mesjid ini sungguh indah berdiri kokoh di Pare. Kami bermunajat dan menghaturkan rasa syukur sebesar-besarnya atas segala rahmat dan karunia. Termasuk atas segala rahmat Nya karena mengizinkan kami untuk kembali mengunjungi Pare. Alhamdulillah.

Badan sebenarnya sudah mulai lelah, ditambah dengan mata yang mulai mengantuk. Tetapi tidak menghalangi kami untuk mengelilingi kota Kediri bersama teman kami. Kediri masih seperti dulu, ada beberapa tempat baru dan tempat lama yang tidak ada lagi. Tidak lengkap rasany apabila ke Kediri tidak mampir ke Monumen Gumul, kami melihat banyak pengunjung yang mengunjunginya. Tetapi bukan itu destinasi kami, kami berencana untuk mengunjungi sahabat kami di kota Kediri.
image

Setelah bersilaturahim dengannya, kamipun bergegas untuk makan malam di Soto Tamanan di Terminan Tamanan Kediri. Sudah sejak lama saya mendengar kalau soto ini enak. Tetapi sejak dulu saya belum pernah mencoba. Melihat banyaknya pengunjung sepertinya soto ini memang enak. Bedanya dengan soto di Jabar adalah nasi dan kuah langsung disatukan dalam satu mangkok. Kita dengan bebas menaburkan sayuran yang berupa kol dan toge ke dalam soto kita sendiri. Di sini tidak menggunakan sambal, tetapi cabe besar yang dikenal dengan lombok belis. Jangan lupa tambahkan perasan jeruk nipis supaya segar. Selamat makaaaaan.
image

image

image

Hari sudah semakin malam, kamipun kembali ke hotel untuk beristirahat. Rencana untuk keesokan harinya sudah tersusun dengan rapih. Terimakasih untuk hari ini. Alhamdulillah.

About evrinasp

I am an Agricultural Extension Officer, Blogger and Hiker

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: