//
you're reading...
Traveling

From Pare With Love

Dreaaaaaam comes true…..Dream comes

true

Jumat, 17 Januari 2014

Bojonggede dari pagi diguyur hujan, hingga siang hari tiba kelihatannya persediaan air dilangit masih banyak, air hujanpun terus-menerus turun membasahi bumi. Meskipun begitu saya tidak mengeluh, hari ini sy semangat karena akhirnya mimpi itu terwujud. Mimpi apatuh? Mimpi mau dolan (main) ke Pare, Kediri, Jatim. Saya ingin bersilaturahim dengan kota pare, dengan teman-teman dan juga ibu kos yang sudah lama banget terpisah selama 3 tahun lamanya.

Hmmm…. kaya apa ya Pare sekarang??? Pertanyaan itu terus terngingan di kepala. Pasti sudah banyak perubahan. Sambil beres-beres rumah, mempersiapkan perbekalan dan bermain dengan Alfi, saya sesekali mengontak teman-teman di Pare. Saya dan rekan-rekan di jatim sengaja merahasiakan kedatangan kami ke Pare supaya surprise, tau-tau besok kita sudah muncul dihadapan mereka. O iya pasti banyak yang bertanya mengapa saya bisa ke Pare padahal sudah jadi emak-emak yang punya tanggungan? Alhamdulillah keluarga termasuk Alfi dan suami mengizinkan saya untuk kesana, terlebih saya mempunyai misi terkait kerjaan selain bersilaturahim.

Setelah shalat zhuhur sayapun bergegas untuk berangkat ke stasiun. Stasiun tujuan saya adalah Gambir. Hujan masih saja menghiasi langit Bogor. Setelah membeli tiket single trip commuter line saya bergegas pula menuju kereta yang datang. Wah alhamdulillah, keretanya sepi saya bisa dengan leluasa duduk di gerbong khusus wanita. Derasnya air hujan terlihat dari bercecernya air hujan di lantai kereta.
image

Menjelang daerah Cawang bangku kereta mulai penuh. Mata saya menerawang ke kanan-kiri, meneropong melalui jendela keadaan ibu kota sekarang. Kemudian sayapun tiba di stasiun tujuan saya yaitu Gondangdia. Dari sana saya melanjutkan perjalanan menuju stasiun Gambir dengan menggunakan ojeg. Saya membayar jasa ojeg Rp. 15000 padahal jaraknya tidak terlalu jauh. Kalau dihitung hampir 3x lipat dengan harga ojeg di desa. Yah namanya juga kota beda dengan kampung yang biaya hidupnya masih lebih rendah.

Tiba di stasiun Gambir saya agak bingung karena sudah lama tidak bepergian ke luar daerah Jabar, stasiun Gambir kini berubah, banyak outlet makanan bagi penumpang yang menunggu datangnya kereta katena ternyata kita tidak boleh masuk ke lantai dua dimana kereta nantinya akan masuk.

image

Waktu saya masih panjang, saya harus menunggu sekitar 2 jam hingga kereta Bangun Karta datang. Sambil memanfaatkan waktu sebaiknya saya mencetak print out tiket di tempat pengeprinan tiket mandiri (self service) karena sebelumnya saya sudah membooking tiket melalui salah satu toko frenchise.

image

Fasilitas ini ada di lantai dasar dekat dengan loket pemesanan tiket. Ternyata antri juga untuk mengeprint tiket, hal itu terjadi karena tidak semua penumpang mengerti cara mengeprint tiket secara mandiri terutama para orang tua. Beruntung ada petugas pendamping yang membantu penumpang mengatasi permasalahan ini.
image

Tiket sudah diprint, masih sekitar satu jam lagi kereta datang. Ngapain ya sekarang? Mending isi perut dulu supaya di kereta nanti tinggal duduk manis aja. Kalau hujan begini pengennya makan bakso atau mie ayam, tapi jangan deh mending makan nasi aja. Sambil melihat tugu monas yang menjulang tinggi sayapun mulai melahap ayam teriyaki. Hmmm lumayan enak dan yang pasti kenyang.

image

Sudah jam 17:30 saya bergegas masuk melalui pintu selatan. Kali ini saya sudah diperbolehkan naik ke lantai 3 karena oleh petugas baru diperbolehkan masuk apabila sudah jam 5. Ternyata penumpang juga sudah mulai penuh, sedikit terhibur karena ada band yang sedang tampil di lantai dua. Berada di lantai 3 membuat mata saya lebih segar karena saya sedang dilanda ngantuk berat gara-gara begadang tadi malam. Kereta commuter hilir mudik dijalur sebelah kanan saya. Angin yang bertiup memberikan kesan dingijln di wajah. Kereta yang dinantipun tiba, Bangun Karta, kereta yang membawa saya dari Gambir menuju Madiun. Sebelum ke Pare saya mau mampir dulu ke Madiun untuk mengunjungi teman saya yang bernama sofi. Dari sana kami akan berangkat bareng dari Madiun menuju Pare menggunakan motor.

image

image

Oke sekarang saya sudah naik kereta Bangun Karta. Saatnya saya menikmati perjalanan. Posting tentang Pare masih terus berlanjut.

About evrinasp

I am an Agricultural Extension Officer, Blogger and Hiker

Discussion

2 thoughts on “From Pare With Love

  1. Sing arep dolan ke Pare rek

    Posted by Heri | January 18, 2014, 9:36 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: