//
you're reading...
Other

Gunung Kelud: Larung Sesaji, Anak Kelud dan Erupsi

1932355_10202661581437230_908248111_nMendengar serta melihat berita bencana gunung kelud di Jawa Timur sungguh membuat saya sedih. Rasanya Ingin sekali pergi ke sana untuk membantu saudara-saudara yang sedang tertimpa musibah. Saya yakin teman-teman juga merasakan hal yang sama seperti apa yang saya rasakan. Kediri, khususnya Pare adalah tempat saya bekerja dan belajar selama 3.5 tahun lamanya. Banyak hal yang saya peroleh baik pengalaman, pendidikan dan persahabatan yang membuat saya selalu merindukan kota tersebut. Kelud adalah salah satu destinasi wisata saya bersama teman-teman ketika dulu masih tinggal di Pare. Kelud memiliki keindahan yang membuat kami ingin  kembali mengunjunginya. Berikut adalah rekam jejak kami di Gunung Kelud yang dimulai dari upacara larung sesaji hingga terbentuknya Anak Gunung Kelud. Foto dan informasi mengenai letusan Gunung Kelud saya peroleh langsung dari rekan-rekan yang saat ini berada di Pare Kediri.

2007: Larung Sesaji dan Pembentukan Anak Gunung Kelud

Kelud adalah gunung yang berdiri di tiga wilayah yaitu  Kediri, Blitar dan Malang. Kelud sudah beberapa kali mengalami erupsi. Hasil erupsi terakhir sebelum meletus pada bulan September 2007 membentuk kawah hijau yang sangat cantik. Menurut informasi kawah hijau ini terbentuk dari air hujan yang bercampur dengan belerang. Bau belerang sangat pekat apabila kita mendekat kearah kawah. Saya sangat beruntung ketika 9 September 2007 lalu masih sempat menyaksikan upacara tahunan larung sesaji umat hindu di kawah Gunung Kelud.

Saya dan teman-teman ketika itu berangkat dari Desa Sumber Agung menuju Kelud melalui daerah Wates. Dari sana kami melewati kebun kakao, kemudian melalui jalan-jalan desa yang sarat dengan tanah lempung berpasir, hingga akhirnya tiba di daerah Ngancar menuju Kelud. Siang itu sangat terik, ditandai dengan langit biru dengan sedikit awan comulus. Tiba di area parkir kami langsung mengambil tempat untuk melihat iring-iringan larung sesaji. Rupanya disana sangat ramai, banyak masyarakat dan tokoh terkemuka yang hadir merayakan upacara ini. Kami beserta rombongan segera menuju kawah melalui lorong panjang tanpa cahaya (hanya terlihat cahaya di ujung lorong) di bawah bukit yang menghubungkan area parkir dengan tangga menuju kawah. Tangganya cukup banyak sehingga membuat kami kelelahan.

This slideshow requires JavaScript.

Larung sesaji terdiri dari tumpeng, hasil bumi, buah-buahan dan lainnya tetap setia dipanggul bersama meskipun medannya berat. Tiba di pelataran sekitar kawah, masyarakat mulai melakukan upacara larung sesaji yang dimulai dengan doa bersama. Saya sangat antusias ketika menyaksikan acara tersebut karena budaya dan adat istiadat masih sangat kental serta terpelihara di era globalisasi ini. Kami sempat mendekati kawah, kala itu saya melihat air kawah seperti mendidih. Airnya terasa hangat ketika menyentuh kulit serta sangat kental dengan aroma belerang. Meskipun sekitar kawah terasa hangat, Gunung Kelud yang sangat asri ini tetap memberikan udara yang sangat sejuk di sekitarnya.

Dan tibalah saatnya sesaji di larungkan (dihanyutkan) ke dalam kawah. Semua orang ingin melihat dan ikut melarungkan sesaji yang disediakan. Satu per satu sesaji di larungkan dengan iringan doa dari masyarakat seraya berharap agar Tuhan selalu melindungi dan berkenan melimpahkan rizkinya kepada masyarakat. Lewat tengah hari acara larung sesaji pun selesai, kami bersama masyarakat bersama-sama kembali ke daerah masing-masing. Saat itu adalah pertama dan terakhir kalinya saya melihat kawah Gunung Kelud karena beberapa minggu setelah upacara tersebut Gunung Kelud mengalami erupsi yang membentuk Anak Gunung Kelud.

2009-2010: Anak Gunung Kelud

Saya mulai menginjakkan kaki lagi ke Gunung Kelud setelah dua tahun lamanya. Saat itu kawah yang dulu ada di tengah-tengah gunung menjadi hilang tergantikan oleh Anak Gulung Kelud. Disebut Anak Gunung Kelud karena material erupsi ini membentuk gunung kecil yang tepat berada di tengah-tengah Gunung Kelud ini. Saya ingat ketika Kelud meletus kecil pada 2007 lalu. Abu vulkaniknya sampai ke daerah Pare tempat saya tinggal, namun tebalnya hanya mencapai kurang dari 1 cm. Meskipun begitu masyarakat yang dekat dengan Kelud, seperti di Desa Ngancar saat itu diwajibkan mengungsi ke daerah yang lebih aman hingga 10 km dari Gunung Kelud. Lahar dingin saat itu mengalir ke sungai-sungai termasuk sungai Brantas. Sebagian jalan tertutup material pasir dan batu kerikir yang terbawa aliran lahar dingin. Ada beberapa lahan pertanian dipinggir sungai ikut tergerus aliran lahar dingin ini. Namun bencana letusan kecil Kelud saat itu tidak berlangsung lama sehingga masyarakat yang tinggal di pengungsian bisa segera kembali ke rumah masing-masing.

This slideshow requires JavaScript.

Ketika saya berkunjung kembali kesana, saya melihat Anak Gunung Kelud telah berdiri dengan kokohnya. Materialnya masih baru terlihat dari warna dan asap belerang yang keluar dari permukaan. Di sekitarnya diberi pagar kawat dengan papan peringatan agar pengunjung tidak melewati batas pagar. Saya melihat satu dua orang pedagang menjajakan bongkahan belerang di sekitar pagar pengaman. Ketika saya benar-benar memperhatikan anak kelud seketika saya merinding membayangkan bagaimana proses terbentuknya Anak Kelud tersebut seraya mengagumi betapa Maha Besar Tuhan sang pencipta. Anak kelud ini kembali membuka mata dan mengingatkan saya betapa agungnya Allah SWT. Dinding Kelud yang berdiri kokokh mengelilingi anak kelud menambah kekaguman saya akan ciptaan Illahi.

Saya berpikir akankah Kelud meletus kembali karena asap belerang sepertinya tidak henti-hentinya keluar dari Anak Kelud ketika satu tahun kemudian saya kembali lagi mengunjungi Kelud. 28 Mei 2010, saya kembali mengunjungi Kelud. Kali ini saya melihat ada perbedaan pada Anak Kelud, ada beberapa kawah hijau kecil yang terbentuk di sekitarnya. Saya yakin airnya pasti panas disertai dengan bau belerang yang menyengat. Permukaan anak kelud tidak sehitam tahun lalu. Saat itu permukaannya agak berwarna hijau kehitaman. Anak kelud akan terlihat indah apabila kita memandangnya dari gardu pandang dengan menaiki tangga yang disediakan. Sekali lagi saya sangat mengagumi ciptaan yang Maha Kuasa karena tebing yang saya kagumi masih berdiri kokoh mengalahkan kekhawatiran saya akan aktivitas Anak Gunung Kelud yang seolah diam saat itu. Kini entah apa yang terjadi dengan Anak Kelud, nampaknya batu-batu beserta material yang membentuk anak Kelud tidak mampu lagi membendung magma yang ingin keluar dari perutnya. Kamis, 13 Februari 2014 sekitar pukul 22.00 lebih Gunung Kelud memuntahkan materialnya.

2014: Gunung Kelud Meletus

Saya memang tidak berada di sana saat Kelud meletus, tetapi saya ikut merasakan bagaimana khawatirnya ketika Gunung Kelud meletus. Melalui salah satu social messenger, teman-teman yang tergabung dalam grup QC Umum memberikan kabar mengenai kondisi mereka saat dan setelah Kelud meletus.

Pukul 21:57 saya mendapatkan kabar dari teman-teman di Pare bahwa gunung kelud telah ditingkatkan statusnya menjadi awas (level IV) dari status siaga (level III). Masyarakat diminta untuk tetap tenang dan selalu mengikuti arahan evakuator. Daerah pada jarak 10 km dari Kelud sudah harus disterilkan. Sekitar pukul 23:10 seorang teman kembali memberi kabar bahwa Kelud sudah meletus memuntahkan segala material yang dikandungnya, suaranya kencang menggelegar dan menggemuruh di langit malam kala itu. Foto yang saya peroleh dari teman saya di grup menggambarkan dasyatnya letusan Kelud. Asap beserta material vulkanik terlihat membumbung tinggi disertai kilatan cahaya. Pada saat itu juga daerah Pare mengalami hujan kerikil, bunyinya keras gemerutuk di atap genting warga.

This slideshow requires JavaScript.

Warga yang berjarak 10 Km dari puncak Kelud sudah terlebih dahulu mengungsi ke pengungsian terdekat. Salah satu tempat pengungsian ketika Kelud meletus adalah perusahaan benih yang ada di Tulung Rejo Pare. Malam itu suasananya menghawatirkan karena abu dan kerikil terus menerus turun ditambah dengan gelapnya suasana sekitar lantaran listrik padam. Warga saling bahu-membahu menolong dan mengingatkan satu sama lain demi keselamatan mereka.

Pagi hari teman-teman kembali memberi kabar bahwa hujan kerikil sudah berhenti. Hanya saja debu vulkanik yang terdiri dari abu beserta pasir menutupi permukaan yang dilaluinya hingga mencapai ketebalan 15 cm. Pohon-pohon disekitarnnya sebagian terlihat layu, debu bertebaran menutupi jalan yang membuat pengendara motor berjalan pelan agar tidak terpeleset. Abu vulkanik ini tidak hanya menyelimuti daerah perbatasan gunung kelud saja, nyatanya abu vulkanik kelud bertebaran ke daerah lain seperti Madiun, Jogjakarta bahkan hingga Garut.

Malam ini teman saya kembali mengabarkan bahwa kondisi sudah lebih kondusif, listrik sudah kembali menyala. Mereka semua kelelahan karena harus membersihkan tebalnya abu dan pasir Kelud yang menyelimuti lingkungan mereka.

Mari kita bantu saudara-saudara kita yang sedang tertimpa bencana, minimal dengan mendoakan mereka agar tabah dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Karena saya yakin, walaupun jauh disana, yang namanya persaudaraan akan selalu dekat di hati.

#PrayForKelud

About evrinasp

I am an Agricultural Extension Officer, Blogger and Hiker

Discussion

2 thoughts on “Gunung Kelud: Larung Sesaji, Anak Kelud dan Erupsi

  1. Sepertinya emang dahsyat ya mba letusannya,,dr berita di tv, pak surono bilang muntahan gunung kelud waktu erupsi kmrn itu setaa dg muntahan erupsi merapi sebulan,,semoga warga2 di sekitar kelud selalu dlm lindungan Allah SWT, amin

    Posted by Tita Bunda Aisykha | February 15, 2014, 5:46 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: