//
you're reading...
Contest

Petani Unggul Menjawab Tantangan Swasembada Pangan

Sawah ini mulai mengalami alih fungsi lahan, sebagian terlantar karena tak terurus

Sawah ini mulai mengalami alih fungsi lahan, sebagian terlantar karena tak terurus

Miris sekali ketika mendengar lahan pertanian tiap tahun semakin berkurang, sementara dilain pihak kita dituntut untuk swasembada beras. Menjadi sebuah dilema apabila pembangunan pada sektor non pertanian yang banyak menyedot tenaga kerja terus berkembang sementara lahan pertanian yang menjadi lumbung pangan kian hari kian berkurang. Secara keseluruhan lahan pertanian di Indonesia berkurang 27 ribu hektar pertahun [1]. Dampak yang dihadapi pada berkurangnya lahan pertanian adalah sulit tercapainya swasembada beras karena jumlah penduduk Indonesia yang setiap tahunnya terus bertambah tidak diimbangi dengan peningkatan produksi. Sebenarnya produktivitas padi di Indonesia hampir sama dengan negara pengekspor beras seperti Vietnam, dimana Indonesia mampu mencapai produktivitas sebesar 5.02 ton/ha, hanya 0.3 ton/ha lebih kecil dari Vietnam [2]. Akan tetapi besarnya produktivitas tersebut tidak diimbangi dengan jumlah penduduk Indonesia yang besarnya mencapai 239 juta jiwa, sehingga hasil panen dalam negeri belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan beras nasional.

Mengapa hal tersebut terjadi?

Faktor utama yang menjadi penyebab alih fungi lahan adalah kebutuhan ekonomi selain faktor-faktor lainnya. Sektor non pertanian seperti industri dan perdagangan dinilai lebih menguntungkan serta cepat mendatangkan hasil ketimbang sektor pertanian. Hal tersebut yang pada akhirnya membuat para pemuda meletakkan cangkul mereka untuk berbondong-bondong pergi ke kota. Beberapa daerah sentra pertanian yang pernah saya datangi menunjukan minimnya para pemuda yang terjun ke sawah dan ladang. Padahal mereka berasal dari keluarga petani yang mungkin akan mewariskan usaha tani orang tuanya. Bahka ketika pemerintah menawarkan program magang bagi pemuda tani di Jepang hanya sedikit dari mereka yang tertarik untuk berangkat.

Kurangnya tenaga kerja menyebabkan pengelolaan usaha tani kurang maksimal

Kurangnya tenaga kerja menyebabkan pengelolaan usaha tani kurang maksimal

Tidak hanya pemuda, kaum ibu yang merupakan wanita tanipun kini sudah mulai beralih profesi. Mereka lebih memilih profesi sebagai buruh cuci, penjaga kantin atau tukang bersih-bersih yang menurut mereka lebih layak penghasilannya ketimbang bertani. Alhasil, tenaga kerja pada bidang pertanian yang dalam hal ini petani tanaman pangan menjadi berkurang, sehingga sangat mempengaruhi produktivitas yang dihasilkan. Beberapa petani yang saya jumpai bahkan sudah patah arang dan membiarkan sawah ladangnya terbengkalai tak terurus hingga akhirnya tergiur untuk menjual lahan mereka.

Pemerintah daerah sebenarnya sudah melakukan berbagai macam cara untuk menganggulangi hal tersebut, misalnya dengan memberikan jaminan sertifikat kepemilikan lahan secara gratis dengan syarat lahan pertanian tersebut tidak boleh dijual atau dialih fungsikan seumur hidupnya. Nyatanya fasilitas yang dianggap meringankan beban petani ini ditolak mentah-mentah oleh petani karena mereka memahami harga jual tanah tiap tahun meningkat dan akan lebih menguntungkan untuk menjual tanah mereka ketimbang bertani yang hasilnya sulit diprediksi. Kemudian bantuan subsidi pupuk yang bertujuan meringankan beban petani dalam budidaya ternyata tidak membuat beberapa petani benar-benar mengoptimalkan lahan mereka. Belum lagi bantuan alsintan (alat mesin pertanian) untuk menanggulangi permasalahan kurangnya tenaga kerja pada daerah-daerah tertentu rupanya juga belum mampu meningkatkan penghasilan petani yang lagi-lagi menggiurkan beberapa petani untuk menjual sawah ladang mereka.

Petani kecil yang tersebar pada daerah yang bukan merupakan sentra produksi umumnya merupakan petani gurem (bertani untuk mencukupi kebutuhan sendiri) yang keberadaannya memegang cukup andil bagi ketahanan pangan nasional. Bahkan di Asia Afrika ketergantungan kepada petani kecil lebih tinggi dengan perkiraan sekitar 80% konsumsi pangan dihasilkan petani kecil [3]. Oleh karena itu keberadaan mereka sebagai penyedia pangan seharusnya diprioritaskan.

Pekerjaan sebagai petani merupakan pekerjaan mulia karena belum tentu semua orang mau serta bisa melakukan profesi yang satu ini. Ada beberapa hal yang menyebabkan petani akhirnya beralih profesi atau mengalih fungsikan lahan mereka diantaranya:

1. Kondisi cuaca

Apabila dulu musim di Indonesia dapat dibagi menjadi musim kering dan musim hujan pada bulan-bulan yang sudah pasti, kini hal tersebut tidak terjadi lagi. Pergeseran iklim akibat fenomena global warming membuat petani sulit memprediksi musim tanam mereka khususnya bagi petani padi yang tergantung akan kebutuhan air. Pada beberapa daerah yang dulunya ditanami padi karena kesulitan untuk menjangkau air kini lebih banyak ditanam oleh palawija atau komoditas hortikultura. Perubahan iklim ini turut serta membuat serangan hama penyakit tanaman kian merajalela yang membuat produktivitas menurun dan merugikan petani. Maka tak jarang beberapa petani akhirnya pasrah sehingga enggan untuk menanam kembali pada musim berikutnya.

2. Lemahnya permodalan

Lemahnya permodalan juga menjadi permasalahan yang utama. Banyak dari para petani yang akhirnya terjebak pada rayuan tengkulak. Mereka tidak bisa menaikan harga jual kepada tengkulak karena si tengkulak inilah yang mengatur harga lantaran telah “berjasa” meminjamkan modal kepada petani. Meskipun pemerintah sudah membantu melalui subsidi pupuk ternyata hal tersebut tidak cukup meringankan beban petani.

3. Kurangnya tenaga kerja

Faktor kurangnya tenaga kerja sebenarnya sudah diantisipasi dengan pemberian alsintan. Hanya saja bantuan alsintan ini lebih banyak tertuju pada daerah yang kawasannya cukup luas (misalnya dalam satu hamparan seluas 25 ha) sementara petani kecil yang memiliki luas lahan sempit belum terjamah oleh bantuan tersebut. Langkah pemberian alsintan juga sebenarnya belum banyak membantu karena alsintan yang ada cenderung lebih banyak diperuntukan pada persiapan budidaya seperti traktor untuk pengolahan tanah, sementara tenaga kerja untuk pemeliharaan serta panen masih kurang.

4. Adopsi dan penerapan teknologi

Tingkat adopsi teknologi petani kita memang masih rendah ketimbang petani di negara lain. Hanya sedikit petani yang dapat mengakses informasi. Hal tersebut bukan karena informasi sulit diakses tetapi karena memang fasilitas seperti internet baik melalui mobile atau pc yang tidak ada di pedesaan. Walaupun fasilitas tersebut ada belum tentu mereka dapat mengoperasikannya. Hal itu sebenarnya juga sudah diantisipasi dengan pendampingan penyuluh yang setiap saat menjadi perantara masuknya teknologi kepada petani. Tetapi jumlah penyuluh dengan area yang dibinanya sangat jauh berbeda sehingga belum semua petani tercover oleh penyuluh.

Video Conference Para Pelaku Pertanian, Sumber: Materi TOT MP3, BBPP Lembang

Video Conference Para Pelaku Pertanian, Sumber: Materi TOT MP3, BBPP Lembang

Beberapa negara yang bergerak di bidang pertanian sudah menerapkan teknologi dalam usah tani sehingga memungkinkan petani dapat memperoleh informasi dengan cepat. Contohnya seperti India yang sudah menerapkan metode penyuluhan secara langsung dimana petani dengan penyuluh dapat berkomunikasi secara langsung melalui video call sehingga kapanpun petani membutuhkan konsultasi maka si penyuluh dapat menjawabnya dengan cepat. Kemudian seperti Jepang yang kita semua tahu bahwa Jepang merupakan negara yang sangat maju teknologinya. Pertanian di Jepang sangat didukung oleh teknologi canggih dan tidak hanya terbatas pada lahan sawah. Mereka menggunakan green house yang di set sedemikian rupa sehingga dapat mengatur sirkulasi udara, karbondioksida bahkan sinar matahari yang masuk. Belum lagi kebijakan pemerintah Jepang yang mengumpulkan petani kecil pada suaru hamparan untuk kemudian diberikan infrastruktur pendukung usaha tani seperti irigasi dan jalan secara terpusat yang mendukung dan memudahkan petani melakukan usaha budidayanya [4]. Itulah yang menyebabkan mengapa petani di luar negeri sangat mencintai profesinya ketimbang di Indonesia yang dianggap sebagai profesi kurang menguntungkan.

Apa solusi yang bisa ditawarkan?

Kita tentu tidak bisa berpangku tangan saja melihat kondisi di atas. Banyak hal yang sebenarnya dapat kita dan pemerintah lakukan untuk melindungi petani dan meminimalisir alih fungsi lahan untuk swasembada pangan tersebut. Solusi yang bisa ditawarkan untuk mengatasi permasalahan tersebut diantaranya:

Pertama, memberikan subsidi output harga jual bagi petani.

Dimana pemerintah memberikan subsidi harga bagi hasil produk pertanian. Pemerintah membeli produk petani dengan harga mahal tetapi melepasnya dengan harga yang lebih murah dari harga beli di petani kepada pasar. Akan tetapi kebijakan tersebut memerlukan budget lebih untuk subsidi. Beberapa pakar pada bidang pertanian memandang kebijakan tersebut lebih melindungi serta dapat mendorong petani untuk terus bercocok tanam ketimbang memberikan subsidi pupuk, namun hal tersebut perlu dilakukan kaji ulang terkait kesiapan anggran yang belum tentu dimiliki pemerintah.

Kedua, peningkatan kualitas SDM dengan membentuk petani unggul.

Apabila beberapa solusi di atas sulit untuk terpenuhi sementara laju pengurangan lahan juga sulit untuk dihentikan maka solusi yang dapat dilakukan selanjutnya adalah meningkatkan kualitas SDM. Peningkatan kualitas SDM diarahkan pada peningkatan pengetahuan sikap dan perilaku untuk memaksimalkan potensi lahan yang ada dengan menerapkan teknologi yang mengarah pada pembentukan petani unggul.

Petani unggul bukanlah petani kaya yang memiliki berhektar-hektar lahan tetapi petani unggul adalah petani yang memiliki karakteristik khas dalam usaha tani dibanding petani lainnya serta berhasil dalam bidangnya. Petani unggul diharapkan menjadi agen perubahan serta pelopor bagi petani lain di sekitarnya dalam pembaharuan teknologi, kultur teknis, serta perubahan sosio kultur.

Karakteristik petani unggul diantaranya:

1. Selalu mengupdate informasi, baik mengenai perkembangan pasar maupun kebijakan di bidang pertanian

2. Mampu menghidupkan diri sendiri, dalam hal ini petani tersebut mampu melakukan usaha taninya tanpa bantuan pihak lain

3. Memiliki manajemen usaha tani yang berorientasi pasar, artinya apa yang petani tanam saat ini memang diperutukan bagi permintaan pasar yang terjadi saat dia panen nanti

4. Mampu memanfaatkan lahan yang ada untuk menghasilkan tanaman yang berkualitas dan bernilai ekonomis. Petani unggul tidak harus memiliki lahan yang berhektar-hektar tetapi petani unggul memiliki visi untuk mengoptimalkan segala sumber daya yang ada misalnya bertanam secara vertikultur atau hidroponik pada lahan yang sempit, kemudian untuk meningkatkan kualitas dan harga jual maka komoditas yang ditanam mengarah pada pertanian organik

5. Menerapkan inovasi teknologi dalam budidayanya dan dapat diterapkan oleh petani lain secara berkesinambungan. Petani unggul adalah petani yang telah mengadopsi teknologi atau menciptakan inovasi sendiri untuk meningkatkan hasil. Inovasi ini dapat diterapkan secara berkesinambungan serta mampu diterapkan oleh petani lain disekitarnya.

Dengan mengacu pada karakteristik tersebut kita dapat menentukan seorang petani untuk menjadi petani unggul yang dapat menjadi pelopor serta agen perubahan bagi petani di sekitarnya. Tujuannya adalah agar petani yang lain juga dapat meningkatkan penghasilannya melalui aspek khas yang dimiliki oleh masing-masing daerah. Calon petani unggul yang telah ditentukan kemudian diberikan pendidikan serta pelatihan untuk meningkatkan kemampuannya sesuai aspek khas yang dia kuasai. Pendidikan serta pelatihan ini diharapkan mampu menjadikan dirinya sebagai petani unggul dalam kelompoknya sehingga ia mampu menjadi agen perubahan bagi pengetahuan, sikap dan perilaku petani lainnya.

Bapak Agus mampu memproduksi pupuk kompos dan bokashi dari pertanian terpadu

Bapak Agus mampu memproduksi pupuk kompos dan bokashi dari pertanian terpadu

Contoh petani unggul yang pernah saya temui misalnya Bapak H. Moh Agus Asmara di Cimande Kabupaten Bogor yang menjadi pelopor pertanian terpadu dimana dia mampu meningkatkan produksi dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada sehingga dapat meminimalisir bahan yang terbuang (zero waste). Bapak Agus memadukan antara pertanian, peternakan dan perikanan dimana peternakan menjadi kunci utama dalam usaha taninya. Kotoran dari ternak kambing yang Ia kelola digunakan sebagai pupuk organik serta bahan pembuatan bokashi yang dipadukan dengan jerami padi. Sekam padi diolahnya menjadi arang sekam sebagai bahan untuk media tanam yang tentunya dapat dikomersilkan. Sayuran yang Ia tanam pada ladang menghasilkan sampah dedaunan yang dapat dimanfaatkan untuk pakan ikan. Begitu seterusnya hingga sedikit sekali bahan yang terbuang dari pertanian terpadu yang Ia terapkan. Karena usahanya tersebut Bapak Agus mendapatkan pelatihan dan pendidikan mengenai pertanian terpadu yang membuat dirinya mampu mengelola pusat pelatihan pertanian terpadu swadaya. Berkat pengetahuan yang dimiliki, kini Ia sering sekali menjadi instruktur di berbagai daerah untuk mengajarkan pertanian terpadu. Apa yang sudah dilakukan oleh Bapak Agus ternyata mampu diadopsi dan diterapkan oleh petani lain yang ada di sekitarnya secara berkesinambungan.

Melihat apa yang telah dilakukan oleh Bapak Agus di atas memberikan cerminan bahwa petani unggul dapat dibentuk dengan melakukan pembinaan dan peningkatan pengetahuan terhadap aspek khas yang dimiliki oleh seorang petani. Membentuk dan membina petani unggul tidak hanya bergantung pada pemerintah saja, kalangan akademisi dan LSM maupun pihak yang terkait dapat ikut serta membantu membentuk serta membina petani unggul sesuai dengan kearifan lokal yang dimiliki. Keberadaan petani unggul diharapkan dapat menularkan pengetahuan serta teknologi yang Ia miliki kepada petani lainnya sehingga mereka dapat berdaya dan mampu meningkatkan produktivitasnya sendiri. Dari sini ketika produktivitas meningkat sehingga ketahanan pangan ditingkat petani terpenuhi maka ketahanan pangan nasional juga dapat terpenuhi yang dapat membawa kita menuju swasembada pangan.

Tulisan ini diikutsertakan pada Kompetisi Blog Piala Bapak Dino Patti Djalal Periode 13 Desember 2013-28 februari 2014 Kategori 1 (Mahasiswa dan Umum) dan alhamdulillah mendapatkan Juara 2.

Sumber Informasi:

[1] http://www.setneg.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=4617

[2] Zaini, Z. 2014. Perpadian di Asia Tenggara. Materi Seminar. Disampaikan Pada Seminar Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan 20 Februari 2014.

[3] Materi Pelatihan Untuk Perempuan Pelatih Program Agri-Fin Mobile. Mercy Corps Indonesia. 2014

[4] http://www.bimbingan.org/peralatan-dan-cara-pertanian-petani-jepang-modern.htm

About evrinasp

I am an Agricultural Extension Officer, Blogger and Hiker

Discussion

10 thoughts on “Petani Unggul Menjawab Tantangan Swasembada Pangan

  1. yuhuuu, kereeen, aku juga mau ikutan ev, tapi belum beres, memang menciptakan petani unggul itu butuh dukungan dari banyak pihak ya terutama pemerintah dan petaninya sendiri, sebab jika tidak ada niatan kuat dari petaninya ingin unggul ya sia-sialah dukungan lainnya.

    Posted by rodamemn | February 28, 2014, 8:42 am
  2. Mantap artikelnya, Mak… *Jadi ingin belajar menulis ilmiah lagi😀. Semoga sukses lombanya…

    Posted by Euisry Noor | February 28, 2014, 2:16 pm
  3. hmmm menarik nih , saya jadi lebih benyak belajar dari share ini, Oh petani ku sayang, petani ku malang”🙂 jadi inget alm. kakekku dulu ia petani di kampuangku..🙂 semoga saja yah ke depannya petani kita lebih baik keadaannya amien … very cool sharing!! tku

    Posted by depalpiss | June 2, 2015, 12:34 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: