//
archives

Archive for

Jangan Takut Karena TB Bisa Disembuhkan

Hai sobat, jumpa lagi dengan saya masih dalam rangkaian cerita #SembuhkanTB. Pada minggu lalu kita sudah membahas bagaimana ciri penyakit Tuberkulosis (TB) yang dapat kita gunakan untuk mendeteksi dini gejala TB serta mengetahui bahwa obat TB itu diberikan gratis baik di Puskesmas, rumah sakit milik pemerintah, maupun rumah sakit dan klinik swasta yang sudah bekerja sama dengan Program Penanggulangan TB Nasional. Nah, pada kesempatan ini saya akan membahas seri ketiga dengan tema TB bisa disembuhkan.

tbBeban penanggulangan penyakit TB di negara kita saat ini memang masih cukup tinggi. Terbukti dengan ditemukannya 460.000 kasus baru serta 67.000 kasus kematian akibat TB setiap tahunnya [1]. Penyakit ini tidak boleh kita pandang sebelah mata karena menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004 lalu, TB merupakan pembunuh nomor satu diantara penyakit menular dan merupakan peringkat tiga dalam daftar 10 penyakit pembunuh tertinggi di Indonesia [2].

Di Indonesia sendiri Program Penanggulangan TB Nasional sudah dijalankan sejak lama dan telah memberikan hasil yang signifikan sejak program tersebut dilaksanakan.

Akan tetapi mengapa angka TB di Indonesia masih sangat tinggi?”

tb2Banyak faktor yang menyebabkan mengapa angka TB masih sangat tinggi di Indonesia, diantaranya:

1. Beban kasus TB baru yang cukup tinggi karena lambat terdeteksi.

Gejala penyakit TB seperti batuk berdahak seringkali diabaikan oleh penderita karena dianggap sebagai batuk biasa sehingga pemeriksaan awal adanya TB menjadi terlambat. Padahal batuk berdahak lebih dari dua minggu merupakan salah satu indikasi seseorang terinfeksi kuman TB.

2. Meningkatnya jumlah kasus TB MDR atau multi drug resistance dimana bakteri TB menjadi kebal terhadap pengobatan TB.

Diperkirakan ada sekitar 6.000 kasus TB MDR dan hanya sekitar 1.000 orang yang diobati dengan obat lini kedua [1]. TB MDR ini terjadi karena ketidakpatuhan pasien untuk menuntaskan pengobatannya secara teratur dalam jangka waktu yang sudah ditetapkan. Kebanyakan dari mereka tidak menuntaskan pengobatan karena tubuh seorang penderita akan merasa lebih baik pada dua bulan pertama padahal kuman TB di dalam tubuhnya masih ada.

3. TB berkaitan dengan masalah gizi, kondisi ekonomi dan sosial masyarakat

Sejumlah fakta di lapangan memperlihatkan bahwa gejala TB lebih banyak di derita oleh masyarakat dengan kondisi ekonomi menengah kebawah yang memiliki angka kecukupan gizi rendah sehingga daya tahan tubuhnya lebih lemah. Hal tersebut terjadi karena ketidak mampuan dalam memenuhi kebutuhan gizi yang berkaitan dengan faktor ekonomi serta kurangnya pengetahuan akan pemenuhan gizi yang baik.

4. Kurangnya kebiasaan untuk hidup bersih dan sehat

Kebiasaan hidup bersih dan sehat juga menjadi salah satu penyebab mengapa TB mudah menyerang. Lingkungan yang kotor tidak hanya mengganggu pemandangan tetapi juga mengganggu kesehatan karena tempat yang kotor merupakan sarang dari kuman penyakit. Salah satunya adalah bakteri TB (Mycobacterium tuberculosis) yang dapat dengan mudah menempel pada permukaan benda seperti meja, kursi dan lainnya. Apabila kita menyentuh permukaan benda tersebut kemudian tidak mencuci tangan sebelum makan, maka dengan mudah bakteri TB akan masuk ke dalam tubuh. Bakteri yang sudah masuk ke dalam tubuh umumnya tertahan dalam paru-paru oleh sistem kekebalan tubuh pada bagian tuberkel. Apabila daya tahan tubuh kita melemah tuberkel ini dapat menjadi kurang kuat dan membiarkan bakteri lolos sehingga menjadi aktif [3].

Picture1

5. Kemampuan kuman TB untuk bertahan dan menginfeksi.

Kuman TB yang terbawa udara melalui percikan dahak penderita ketika bersin atau batuk dapat bertahan di udara selama beberapa jam walaupun kuman ini cepat mati jika terpapar sinar matahari. Apabila seseorang dengan daya tahan tubuh yang lemah menghirupnya maka bakteri TB ini akan masuk ke dalam tubuh dan menginfeksi tubuh.

Meskipun angka TB masih cukup tinggi di Indonesia, kita tidak perlu khawatir karena TB itu bisa disembuhkan asalkan patuh terhadap terapi pengobatan yang diberikan. Kepatuhan disini berarti bahwa kita harus mengkonsumsi obat yang benar dengan takaran, waktu dan cara yang benar [3].

Mengapa kita harus patuh? Karena itu tadi, apabila kita tidak patuh dalam melaksanakan pengobatan hingga tuntas maka TB yang kita derita akan menjadi resisten atau kebal terhadap pengobatan yang diberikan. Nah, kalau sudah resisten jenis pengobatannya akan lebih banyak lagi dan membutuhkan waktu yang lebih lama. TB yang biasa saja sudah membuat seseorang bosan karena harus rutin minum obat selama minimal enam bulan lamanya, apalagi kalau sudah menjadi TB MDR.

tb3Untuk menanggulangi dampak TB ini memang diperlukan suatu langkah agar masyarakat terutama pasien yang positif TB dapat berjuang dan yakin bahwa TB itu bisa disembuhkan. Hal itu karena TB bukanlah penyakit turunan atau penyakit kiriman (guna-guna) yang terkadang sulit untuk dikendalikan.

Bagaimana caranya? salah satunya melalui upaya promotif dan preventif dalam penanggulangan TB. Misalnya dengan menggandeng seseorang yang pernah menderita TB untuk turut serta mengedukasi masyarakat melalui pengalaman yang pernah dia jalani. Upaya promotif ini dapat dilakukan melalui jejaring sosial sebagai media penyampaian, melalui kelompok masyarakat atau media lainnya. Selain itu upaya pendampingan dan pembinaan kepada masyarakat secara berkelanjutan juga diharapkan dapat menyembuhkan pasien yang menderita TB sekaligus mengurangi jumlah kasus TB yang masih tinggi.

Mengobati saja belum sepenuhnya mampu untuk mengatasi permasalahan TB secara utuh. Dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak serta kesadaran masyarakat untuk hidup sehat dan bersih agar dapat menekan penyebaran kuman TB yang banyak bertebaran di lingkungan.

Tulisan ini diikut sertakan pada Lomba Blog #SembuhkanTB Serial ke-3: TB Bisa Disembuhkan Periode 23 April-4 Mei 2014

Sumber Informasi:

[1] http://www.investor.co.id/family/beban-tb-di-indonesia-masih-tinggi/80791

[2] http://tbindonesia.or.id/

[3] Green, C. W. 2006. HIV dan TB. Yayasan Spiritia. Jakarta: 36 hal.

http://www.depkes.go.id/

Obat TB Gratis Bagi Pasien TB

Di Indonesia sektor kesehatan menempati posisi kedua setelah pendidikan dalam program aksi prioritas yang dicanangkan pemerintah. Pada sektor ini memang masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi oleh pemerintah maupun kita semua selaku masyarakat yang hidup di dalamnya. Salah satunya adalah upaya penanggulangan penyakit menular Tuberkulosis (TB) yang menjadikan Indonesia menduduki peringkat ketiga setelah Cina dan India diantara 22 negara dengan masalah TB terbesar di dunia.

Mengapa hal tersebut terjadi? Karena penduduk Indonesia jumlahnya cukup banyak mencapai lebih dari 250 juta jiwa didukung dengan mudahnya cara penyebaran kuman penyebab penyakit TB. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis ini dengan mudah menyebar melalui percikan dahak penderita yang terbawa udara ketika batuk maupun bersin. Penyebaran melalui udara tersebut membuat siapapun yang menghirupnya dapat terinfeksi dengan mudah. Untuk itu upaya pengendalian dan pencegahan tidak dapat kita serahkan hanya kepada pemerintah saja. Peran serta masyarakat juga diperlukan melalui upaya pendeteksian dini terhadap infeksi TB. Bagi seseorang yang dinyatakan positif terjangkit TB tidak perlu khawatir karena TB dapat disembuhkan asalkan kita patuh untuk terus mengkonsumsi Obat Anti TB (OAT) selama minimal enam bulan lamanya.

Menghadapi kenyataan tersebut, seseorang yang dinyatakan terinfeksi TB pasti memiliki sejumlah pertanyaan yang membuatnya cukup khawatir. Paling tidak itulah yang saya alami ketika dulu memiliki seorang teman yang terinfeksi TB. Selain mendampingi dan menyemangatinya untuk sembuh, sayapun membantunya untuk mencarikan informasi seputar pengobatan TB yang akan dia laksanakan, diantaranya….

tempPasien tidak perlu mengeluarkan biaya karena obat anti TB ini diberikan secara cuma-cuma alias Gratis oleh pemerintah bagi pasien yang masuk dalam program penanggulangan TB Nasional. Hal tersebut diatur melalui KEPMENKES Nomor 1190/Menkes/SK/X/2004 tanggal 19 Oktober 2004 tentang pemberian gratis Obat Anti TB (OAT) dan Obat Anti Retro Viral (ARV) untuk HIV/AIDS.

IMG-20140419-WA0000Obat anti TB gratis tersedia pada unit kesehatan milik pemerintah terdekat yaitu di puskesmas. Pasien dapat mendatangi unit kesehatan tersebut untuk melakukan pemeriksaan dan mengikuti Program Penanggulangan TB Nasional apabila dinyatakan positif terinfeksi TB. Selain itu Rumah Sakit maupun Dokter Praktek Swasta yang sudah bekerjasama dengan Program Penganggulangan TB Nasional juga menyediakan OAT gratis apabila pasien dinyatakan masuk kedalam program tersebut .

Screenshot_2014-04-19-07-31-52Obat TB yang diberikan kepada pasien umunya dalam bentuk tablet kombinasi atau paket  fix dose combination (FDC). Tablet kombinasi ini sudah mulai diterapkan sejak tahun 2005/2006 yang berisi kombinasi obat INH, Rimfapisin, Pirazinamid, Entambutol

Untuk orang dewasa yang merupakan pasien TB baru dengan hasil pemeriksaan BTA Positif harus menjalani pengobatan melalui dua tahap, yaitu tahap intensif pada 2 bulan pertama dan tahap lanjutan pada beberapa bulan berikutnya. Pada tahap intensif, pasien diwajibkan untuk meminum obat INH, Rifampisin, Pirazinamid, dan Etambutol setiap hari. Sedangkan pada tahap lanjutan yaitu selama 4 bulan selanjutnya pasien diwajibkan minum obat INH dan Rifampisin tiga kali dalam seminggu. Lamanya pengobatan tergantung beratnya penyakit yang ditimbulkan oleh kuman TB, tetapi umumnya pengobatan dilakukan minimal enam bulan sejak dinyatakan positif TB.

tempPasien dinyatakan sembuh apabila pada pemeriksaan ulang dahak satu bulan sebelum masa akhir pengobatan dan pemeriksaan pada akhir pengobatan tidak ditemukan lagi bakteri TB. Semua itu dapat terjadi apabila penderita mematuhi anjuran untuk minum obat secara kontinyu tanpa terputus sesuai intruksi petugas kesehatan. Karena apabila obat anti TB diminum secara terputus dapat menimbulkan resiko kuman tersebut kebal terhadap OAT yang pernah diberikan.

Penyakit TB yang sudah kebal terhadap OAT disebut dengan Tuberkulosis Multi Drug Resistant (TB-MDR). Orang yang sudah terkena TB-MDR ini memerlukan obat yang lebih kuat dengan biaya yang lebih mahal, sedangkan obat untuk kuman yang sudah kebal ini tidak tersedia pada semua fasilitas kesehatan. Selain itu jangka waktu penyembuhan bagi pasien dengan TB-MDR ini memerlukan waktu yang lebih lama ketimbang TB sebelumnya karena kuman TB sudah mengalami kekebalan, dan yang lebih dikhawatirkan lagi adalah peluang menularkan kuman TB yang kebal ini lebih besar ketimbang sebelumnya.

Fasilitas yang telah disediakan oleh pemerintah dalam menyediakan obat anti TB Gratis ini tidak akan maksimal dalam memberantas penyakit TB apabila tidak didukung dengan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan secara teratur karena hal tersebut justru menjadi kunci utama untuk menyembuhkan penyakit TB dan menekan laju penyebaran penyakit TB. Jadi OAT gratis bagi pasien TB ditambah dengan komitmen untuk melakukan pengobatan secara teratur menjadi solusi yang harus dijalankan secara bersama dalam rangka memberantas penyakit TB secara nasional.

TB

Tulisan ini diikutsertakan pada Lomba Blog Temukan, Sembuhkan Pasien TB Serial #2: Obat TB Gratis Periode 7-19 April 2014

Sumber Informasi:

http://www.tbindonesia.or.id/

http://www.depkes.go.id/index.php?vw=2&id=2145

http://www.tanyadok.com/kesehatan/tuberkulosis-paru-harus-selalu-diwaspadai

My Unforgettable Journey: From Bogor to Pati-Kudus

Holla Mak Muna dan teman-teman, izinkan saya bercerita tentang unforgettable journey dalam rangka ikutan GA nya Mak Muna yang cantik jelita ini ya (usaha ngerayu hehe, just kidding). Waktu menuliskan cerita ini saya agak sedikit kesulitan karena foto-fotonya kurang, maklum perjalanan ini sudah terjadi sejak delapan tahun yang lalu tepatnya tahun 2006, terus waktu itu saya belum punya kamera digital dan HP nya masih jadoel. Beruntung nih ada teman yang peralatannya lengkap sehingga bisa merekam beberapa memory yang kami jalani saat itu. Mari kita mulai, eng ing enggggg……

rinaJadi cerita ini terjadi ketika saya belum lulus kuliah. Waktu itu saya masih menyusun dan melakukan perbaikan skripsi. Dosen menyuruh saya untuk ikut magang disalah satu perusahaaan pestisida supaya pengalaman saya bertambah, karena pada saat magang nanti kami diharuskan terjun langsung sambil menawarkan produk pestisida perusahaan ke petani di Pati dan Kudus Provinsi Jawa Tengah (Jateng). Saya langsung menyetujui saran Beliau karena pastinya akan menambah pengalaman, menambah wawasan, menambah teman dan menambah uang saku hahaha.

“Mengapa hal tersebut menjadi perjalanan tak terlupakan? Karena ini adalah perjalanan pertama saya jauhhhhh keluar dari Bogor, sendiri tanpa diantar orang tua dan dalam waktu yang lama”

Maklum teman-teman, orang tua (ortu) saya ini agak protective. Sudah berapa kali saya kepingin bepergian ke tempat yang agak jauh supaya mendapatkan pengalaman baru, tapi surat izin dari ortu susah bener turunnya. Mereka terlalu khawatir anaknya yang manis ini nanti bakalan kenapa-kenapa hehe. Alhamdulillah dengan argumentasi dan kemampuan diplomasi yang cukup bagus (ehem), akhirnya saya mendapatkan surat izin tersebut dengan catatan hanya di pulau Jawa saja, ‘gak boleh lebih dari itu kecuali dalam rangka jalan-jalan yang hanya makan waktu kurang dari seminggu. Wow okelah surat izin sudah dipegang, sekarang tinggal membuktikan kepada mereka kalau saya bisa mandiri hehe.

Dua Minggu Pertama di Pati

Indahnya Pati

Indahnya Pati

Kota Pati adalah kota kecil di ujung timur Provinsi Jawa Tengah (Jateng) yang merupakan kota pertama tempat saya, kak Yiyi (yang sekarang sudah jadi suami saya nih hihi), Dita, santi, Mas Raton, Amir dan Mas Taufik, menginjakkan kaki dalam program magang FMC. Kotanya kecil, sepi, dan sedikit sekali angkotnya. Hanya ada becak dan andong yang hilir mudik disana. Sebelum terjun ke lapangan, kami mendapatkan pembekalan dulu di hotel, kami diberikan materi seputar budidaya kacang hijau karena memang saat itu sedang musim tanam kacang hijau serta materi seputar aplikasi pestisida milik perusahaan. Hari kedua kami langsung diterjunkan ke lapangan di sekitar kota Pati. Waduh saya deg-degan banget karena belum pernah turun langsung ke petani yang ada di Jateng. Walaupun saya keturunan suku Jawa, tetap saja saya agak susah menangkap bahasa jawa yang diucapkan petani. Syukur alhamdulillah ternyata petaninya mengerti bahasa Indonesia, jadi gak susah komunikasi deh.

di Sambirejo Pati

di Sambirejo Pati

Keesokannya, kami langsung ditempatkan ke desa tujuan yaitu Desa Sambirejo. Kami diantar menuju desa melewati kali Juwana yang sangat lebar, katanya kalau sedang musim hujan kali ini bisa meluap dan merendam sawah disekitarnya. Sepanjang jalan mata saya terasa segar, meskipun cuaca sangat sumuk (panas) karena Pati dekat dengan laut, tapi saya senang karena di kanan maupun kiri jalan terbentang luas hamparan kacang hijau. Wah medan kerja sudah menyambut, harus ekstra kerja keras nih.

Tibalah kami dirumah bapak ketua kelompok (lupa saya namanyah), rumahnya berbentuk joglo, atapnya menjulang tinggi dengan menggunakan genting. Bapak dan ibu cukup ramah dan bersedia meminjamkan salah satu motor mereka untuk operasional kami. Hari-hari pertama di sana, kami isi dengan melakukan pengenalan wilayah dulu, tentunya harus akrab dengan pemilik rumah serta orang-orang di sekitar. Nah, di Pati ini tanahnya pasir berlempung, jadi kalau sedang musim panas debunya banyak banget. Kalau muka dielap pake tisu bisa-bisa tisunya jadi cokelat karena tebalnya debu.

Kami membantu pak ketua dengan menanam kacang hijau di lahan bekas padi. Tanahnya keras, kami harus menugal tanah dengan tenaga ekstra. Air yang mengalir tidak ada, petani disana lebih banyak menggunakan sumur bor untuk mengairi sawah mereka. Kasihan jadi bertambah biaya operasionalnya. Tapi para petani tidak mengeluh karena hasil produksi yang mereka terima cukup menguntungkan.

Kegiatan di Pati

Kegiatan di Pati

Hari-hari kamipun dimulai. Berawal dari Desa Sambirejo kamipun menyusuri setiap petani yang ada. Kami berangkat pagi sekali untuk menjumpai para petani. Kami menyusuri Pati hingga daerah Kayen yang sangat indah sekali pemandangannya. Petani di Pati sangat ramah, mereka menyambut kedatangan kami meskipun kami hanya membagikan voucher untuk pembelian pestisida saja. Kadang kami disuguhi makanan dan minuman apabila ada rumah petani yang dekat dengan sawah mereka. Bahasa jawa saya sedikit demi sedikit mulai lancar karena sering berkomunikasi dengan mereka walaupun ketika saya bicara petaninya jadi ketawa lantaran saya menggunakan bahasa jawa dengan  logat betawi hehe.

Atas: singkong yang diberi gula merah (lupa nama makanannya), bawah: garang asem maknyusss

Atas: singkong yang diberi gula merah (lupa nama makanannya), bawah: garang asem maknyusss

Nah tidak lengkap kalau jalan-jalan ke tempat orang apabila tidak merasakan kulinernya. Kuliner Pati yang khas yaitu Nasi Gandul. Nasi gandul itu adalah nasi dengan daging yang dipotong-potong bersama kuah daging plus kecap. Mengapa disebut nasi gandul? karena nasi gandul ini disajikan di atas daun pisang. Rasanya unik beda dengan rawon walau kadang agak mirip. Untuk memperkaya rasanya, kita bisa menambahkan sambal supaya nasi gandul ini menjadi pedas manis. Kemudian ada satu lagi yang kami coba, yaitu garang asem. Garang asem adalah ayam yang dikukus dalam daun pisang bersama potoongan cabe, bawang dan tomat plus bumbu lainnya. Rasanya maknyus, segar, pedas, gurih pokonya asik apabila dimakan pada siang hari yang panas. Nanti kalau teman-teman ke Pati harus di coba ya.

Masih di Pati (lupa namanya tapi)

Masih di Pati (lupa namanya tapi)

Setelah berpetualang selama dua minggu lamanya di Pati, akhirnya kami harus meneruskan langkah menuju kota selanjutnya yaitu Kudus. Selamat tinggal Pati, terimakasih Bapak Ibu, terimakasih para petani semuanya maaf kami sudah merepotkan ya.

Dua Minggu Terakhir di Kudus

Dua minggu terakhir kami pindah tugas. Saat itu kami ditempatkan di Kudus, dekat dengan kotanya. Dibanding dengan Pati, Kota Kudus lebih ramai, sudah banyak angkotnya jadi kalo ‘gak ada motor gak masalah. Di sini kami memang agak kesulitan untuk memperoleh motor karena di tempat baru kami ini Ibunya tidak memiliki motor lebih, jadi, kalau kami mau pergi kemana-mana sangat tergantung dari rekan-rekan yang ada di Kudus. Ibu pemilik rumah juga sangat baik, orangnya tenang dan rajin beribadah. Kadang kami suka diingatkan apabila waktu shalat telah tiba. Kami tidak boleh pulang terlalu malam karena bisa mengganggu tetangga di sekitar. Di tempat Ibu, norma kesopanan masih ditegakkan jadi kalau belum menikah gak boleh keluyuran sampai larut malam.

Hijaunya Kudus

Hijaunya Kudus

Hari-hari di Kudus masih sama seperti di Pati. Kami dengan semangat melakukan blusukan ke pelosok desa untuk menyebarkan informasi seputar produk perusahaan. Kami senang karena bekerjasama dengan rekan-rekan dari Universitas Muria Kudus (UMK). Konco-konco alias teman-teman dari UMK ini sangat baik sekali, kami tidak hanya diajak berkeliling Kudus tapi juga diajak untuk mengikuti kegiatan mereka yang super sekali. Petani di Kudus juga welcome terhadap kehadiran kami, bahkan ada yang senang ketika kami ambil foto mereka.

fotos_20140408122436

Nah, kalau Kuliner dari Kudus yang saya sukai itu ada tiga, saya jejerkan dari yang paling saya sukai ya:

1. Lentog Tanjung

Sampai sekarang saya masih terngiang-ngiang sama lentog yang satu ini. Hampir setiap pagi saya dan teman-teman sarapan dengan lontong plus kuah sayur nangka dan sayur tahu ini. Rasanya menurut saya gurih banget. Penjual lentog menjajakan makanannya dengan menggunakan bakul pikul. Lentog tanjung disajikan di atas piring kecil dengan tambahan menu tempe tahu, telur, daging atau telur puyuh. Biasanya saya akan nambah satu piring lagi yang membuat teman saya geleng-geleng kepala haha. Sayang sekali fotonya tidak ada satupun walau sudah mengubek-ubek tumpukan CD jaman dulu. Kalau teman ingin tahu lentog tanjung seperti apa silahkan cari di mbah google aja yah hehe.

2. Soto Kudus

Nah, soto kudus ini sangat seger banget, gurih dan nikmat. Ini penggantinya bakso kalo saya sedang di Kudus. Soto kudus terdiri dari potongan kol, toge dan daging ayam yang diletakan di atas nasi. Kemudian potongan telur disajikan di atas soto kudus tadi. Soto ini disajikan dengan menggunakan mangkok kecil. Bedanya dengan soto di Jawa Barat adalah soto ini disajikan menyatu dengan nasinya. Perasan jeruk nipis semakin menambah segar kuah soto kudus yang sangat enak. Apabila saya makan soto ini tidak ada bekas yang bersisa lho, mangkok yang tadi penuh jadi kosong bahkan kering heeeee.

3. Ayam Penyet Pasar Kliwon

Di Pasar Kliwon Kudus ada kuliner yang buka di malam hari. Tempatnya lesehan di pinggir jalan. Pertama kali mencoba saya langsung suka dengan ayam penyet plus sambalnya. Pedasnya sambal ditambah ayam panggang yang nikmat dijamin bikin perut kenyang sepuasnya. Karena letaknya dipinggir jalan plus lesehan sangat enak buat kita-kita yang mau nongkrong.

Makan-makaaaan

Makan-makaaaan

Sewaktu kami tidak melakukan tugas dihari libur, kami menyempatkan diri untuk jalan-jalan di daerah sekitar kudus. Kami diajak rekan2 dari UMK untuk mengunjungi Jepara tempat kelahiran RA. Kartini yang terletak di ujung barat Jateng dekat dengan Laut Jawa. Kami senang sekali karena Jepara tidak hanya bersih dan rapih, di kanan kiri jalan menuju Pantai Kartini ini terbentang maha karya seni ukir dari orang-orang Jepara. Karya seni pahat disana memang bagus-bagus. Selepas dari Pantai Kartini, kami mengunjungi salah satu stand ukiran. Wuihhhh apik-apik, mulai dari kursi, meja, lemari hingga pernak-pernik kecil seperti jam dinding dan lainnya. Sayapun membeli salah satu produk seni ukir yang ditawarkan stand yaitu jam dengan hiasan kapal, karena kalau beli kursi ‘gak bisa bawanya. Tapi kemana ya sekarang jam tersebut? Hemmm.

Pantai Kartini-Jepara

Pantai Kartini-Jepara

Tidak terasa sudah sebulan lamanya saya berada di Jateng. Banyak pengalaman berharga yang saya peroleh dari kegiatan magang ini, diantaranya adalah menambah pertemanan, belajar bersabar karena medannya jauh dan berat, memahami orang lain, belajar rendah hati dan bersyukur terhadap apapun yang diberikan oleh Allah SWT seperti yang dicontohkan para petani yang saya jumpai. Setelah pulang dari Jateng saya langsung grasak-grusuk karena skripsi harus sudah jadi supaya September 2006 saya bisa ikutan wisuda. Alhamdulillah berkat bantuan dosen pembimbing sayapun wisuda dibulan September tahun 2006. Magangnya dapet, pengalaman dapet, wisuda juga dapet. Perfect!

Dan yang paling tidak kalah penting nih, saya berhasil membuktikan kepada ortu kalau saya bisa survive di tempat yang jauh dari Bogor, berawal dari magang ini akhirnya saya dipercaya ketika meminta izin untuk bekerja dan merantau di Kediri Jawa Timur. Alhamdulillah.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam GA Unforgettable Journey Momtraveler’s Tale”

Temukan TB Sebelum Terlambat

Ini merupakan kisah nyata dari seseorang yang saya sebut sebagai survivor TB (Tuberkulosis)….

Panggil saja dia Wulan (bukan nama sebenarnya), seorang gadis riang, sangat aktif dan rajin berorganisasi sejak SMA. Dua belas tahun yang lalu dia baru saja masuk ke perguruan tinggi favoritnya. Menjadi seorang mahasiswa membuatnya sangat sibuk sekali. Dia sering telat makan dan pulang larut malam karena kecintaannya terhadap kegiatan kampus. Kondisi yang serba sibuk tersebut sangat dinikmati Wulan. Namun dia tidak mengindahkan kondisi kesehatan dirinya sendiri. Hingga suatu hari dia mulai terkena batuk berdahak. “Ah paling batuk biasa, minum OBH juga sembuh” begitu pikir Wulan. Dia memang tidak suka pergi berobat karena menurutnya pergi berobat itu untuk orang yang sudah sakit parah.

Waspadai gejala TB, sumber gambar orang sedang batuk disini

Waspadai gejala TB, sumber gambar orang sedang batuk disini

Batuknya tidak kunjung sembuh setelah sebulan lamanya. Dia harus menahan sakit diperut ketika batuk, kadang batuknya tersebut membuat dia hampir muntah. Meskipun begitu dia tetap saja melanjutkan aktivitasnya seperti biasa. Hingga suatu hari dia mulai merasakan gejala lain. Dia sering gelisah ketika malam tiba, tidur tidak nyenyak, sering terbangun karena punggungnya basah saat tidur. Berat badan Wulan yang dulunya ideal kini menurun drastis, tubuhnya kurus hingga tulangnya kelihatan. Ketika nafasnya mulai sesak dan demam melanda. Akhirnya Wulanpun memutuskan untuk berobat. Dia diharuskan melakukan tes dahak dan tes darah selain melakukan rongent.

Alangkah terkejutnya dia karena hasil rongent memperlihatkan adanya semburat putih yang menyatu seperti gumpalan awan pada paru-parunya. Rupanya itu merupakan kumpulan bakteri Tuberkulosis (TB) yang membentuk koloni. Bakteri tersebut telah menginfeksi paru-paru Wulan. Tes dahak dan tes darah yang dilakukan Wulan juga memberikan hasil positif bahwa Wulan mengidap TB Paru. Dokter yang memeriksa Wulan sangat menyayangkan mengapa dia baru datang ke rumah sakit setelah bakteri tersebut menyebar di kedua parunya. Beruntung Wulan tidak mengalami batuk berdarah karena itu berarti paru-parunya sudah sangat terinfeksi.

paru-paru yang terinfeksi TB, sumber gambar kiri disini dankanan disini

paru-paru yang terinfeksi TB, sumber gambar kiri disini dan kanan disini

Dokter menyarankan beberapa hal kepadanya terkait penyakit yang sedang Ia derita saat itu:

Pertama, dia harus minum obat anti TB (OAT) selama sembilan bulan lamanya tanpa terputus, Karena sekali terputus maka dia harus melakukannya dari awal lagi dengan dosis yang lebih tinggi.

Kedua, untuk mencegah penularan kuman Mycobacterium tuberculosis penyebab TB maka dia harus menghindari kontak langsung dengan orang yang masih sehat terutama melalui udara, peralatan makanan maupun peralatan pribadi lainnya karena kuman TB bisa menular melalui air ludah, bersin, atau aktifitas lain yang berasal dari tubuhnya.

Ketiga, dia harus mengkonsumsi makanan yang bergizi untuk membantu tubuhnya melawan penyakit karena sehebat apapun kuman apabila tubuh sehat maka akan memiliki pertahanan untuk melawan kuman selain menggunakan obat.

Ada yang membuatnya cukup sedih, karena menurut dokter pasien yang sudah terkena TB akan sulit untuk bepergian ke luar negeri. Kemudian dokter mengatakan walaupun sudah sembuh, proses pengembalian kondisi paru-paru seperti semula membutuhkan waktu yang cukup lama, maksudnya serangan kuman TB ini akan meninggalkan bekas pada paru-paru meskipun sudah dinyatakan sembuh. Sama seperti kita mengalami luka pada kulit maka mengembalikan kulit seperti sediakala tanpa bekas membutuhkan waktu yang cukup lama.

Wulan sebenarnya anak yang pintar. Tinggal di kosan dan jauh dari orang tua membuatnya lupa menjaga kesehatan. Pada masa itu akses internet tidak semarak seperti saat ini, sehingga membuat dia enggan mencari informasi lebih lanjut mengenai gejala yang Ia alami. Wulan menjalankan apa yang disarankan dokter untuk kesembuhannya. Beruntung teman-temannya sangat pengertian, baik di kelas maupun di kosan mereka tidak ekstrim menjauhinya meskipun sedang sakit.

Setelah sembilan bulan pengobatan Wulanpun dinyatakan bersih dari TB meskipun hasil rongent masih menunjukkan bekas semburat infeksi bakteri. Ternyata bekas infeksi TB ini cukup merepotkan Wulan meskipun sudah empat tahun sembuh dari TB. Hampir saja dia ditolak untuk bekerja di salah satu perusahaan swasta lantaran hasil tes kesehatan menunjukan bekas infeksi tersebut masih ada. Beruntung Wulan diberi kesempatan oleh perusahaan untuk melakukan tes ulang pada bagian paru-parunya di dokter spesialis paru. Dokter menyatakan bahwa Wulan sudah sembuh tapi memang bekasnya masih ada.

Hasil rongent terakhir sekitar satu tahun yang lalu menunjukan bahwa paru-parunya sudah bersih, tidak meninggalkan luka semburat seperti sebelumnya. Bila dihitung, Wulan membutuhkan waktu 11 tahun lamanya untuk menghilangkan bekas tersebut. Kini dia sangat berhati-hati menjaga kesehatan tubuhnya sebagai pelajaran karena dulu terlalu menyepelekan penyakit.

Pengalaman adalah guru yang terbaik……..

Setidaknya itulah yang menjadi alasan mengapa saya ingin menuliskan penyakit yang dialami Wulan dengan harapan agar tidak ada lagi orang yang mengalaminya. Sebenarnya penyakit tersebut bisa kita hindari asalkan kita peduli dengan kondisi tubuh dan menjaganya dengan baik. Beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari pengalaman di atas antara lain:

1. Jangan menyepelekan batuk

Batuk memang reaksi alami tubuh untuk mengeluarkan sesuatu dari saluran pernafasan. Batuk kadang bisa sembuh dengan sendirinya, namun kita perlu hati-hati apabila batuk tidak kunjung sembuh hingga dua minggu lamanya. Ada baiknya memeriksakan diri kepada petugas kesehatan sebagai upaya pencegahan terhadap hal yang tidak diinginkan.

2. Kenali tanda-tanda TB di sekitar kita

Masyarakat harus terus kita edukasi tentang penyakit ini karena nyatanya tiap tahun masih saja ada yang terinfeksi TB. Penyakit ini tidak hanya menyerang masyarakat awam karena masyarakat yang melek digital sekalipun masih saja kecolongan. Dari pengalaman Wulan tadi kita tahu bahwa batuk berdahak selama lebih dari dua minggu bisa menjadi indikasi adanya serangan TB. Kemudian kita harus lebih waspada dan jangan menunda apabila tanda-tanda lain mulai muncul seperti nafas terasa sesak, mengalami nyeri pada dada, demam dan meriang, munculnya keringat dimalam hari terutama pada bagian punggung, nafsu makan berkurang dan berat badan menurun. Maka segeralah lakukan pemeriksaan sebelum semuanya terlambat.

3. Segera sembuhkan jangan ditunda

Pemahaman pergi ke dokter hanya ketika sedang sakit masih cukup tinggi di Indonesia, jadi kalau tubuh dirasa masih sehat meskipun sudah ada gejala lebih sering menunda untuk berobat. Padahal tidak ada salahnya untuk konsultasi terlebih dahulu seperti kebanyakan orang di luar negeri. Hal tersebutlah yang menjadi salah satu penyebab terlambatnya melakukan pencegahan infeksi TB. Seseorang dinyatakan positif mengidap TB apabila hasil diagnosa menunjukan gejala, kemudian pemeriksaan laboratorium menyatakan BTA positif serta pemeriksaan rontgen juga memperlihatkan adanya aktivitas bakteri TB. Maka segera lakukan pengobatan sebagai upaya penyembuhan dan pencegahan penularan TB. Pasien diberi OAT (Obat Anti Tuberkulosis) yang harus diminum setiap hari sesuai dosis yang dianjurkan selama minimal enam bulan tanpa terputus. Meskipun dalam jangka waktu dua hingga tiga bulan sudah menunjukan kesembuhan, pengobatan harus terus dilanjutkan. Pengobatan ini tidak hanya bertujuan untuk menyembuhkan dan mencegah kematian, tetapi juga mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT.

4. Jangan minder dan jangan jauhkan penderita

Seseorang yang mengidap penyakit menular cenderung minder karena takut menularkan penyakit tersebut kepada orang lain. Hal tersebut justru akan membuat dia semakin tidak bersemangat ketika memulihkan kesehatannya. Padahal dukungan dari orang sekitar amat penting bagi penyembuhan sakit pasien. Oleh karena itu kita tidak perlu minder apabila sedang terjangkit penyakit TB karena yang terpenting adalah memahami bagaimana cara agar penyakit tersebut tidak menular ke orang lain. Seperti dengan memimalisir kontak langsung dengan menggunakan masker, memisahkan barang-barang pribadi termasuk alat makan. Kemudian kita sebagai orang yang ada di sekitar pasien sebaiknya tidak langsung melakukan tindakan ekstrim dengan menjauhi pasien karena hal tersebut akan membuat semangatnya turun dan merasa dikucilkan. Kita harus menyemangatinya untuk terus berjuang menyembuhkan penyakit tersebut karena penyembuhan TB memakan waktu minimal 6 bulan lamanya.

5. Sebarkan informasi ini kepada sesama agar mereka tidak terkena

Agar tidak ada yang kecolongan lagi seperti Wulan maka kita harus memiliki rasa peduli dengan orang-orang di sekitar. Pencegahan penularan itu sangat penting mengingat kuman ini dapat menghinggap hanya melalui kontak udara. Di udara memang terdapat berjuta-juta kuman bakteri, virus, dan jamur yang tidak kasat mata. Oleh karena itu memberikan pemahamam kepada masyarakat untuk melakukan pencegahan terhadap penyakit TB harus terus dilakukan sebelum semuanya terlambat.

Ayo Berantas TB!

Ayo Berantas TB!

Menjadi Duta TB di Lingkungan  

Peringatan Hari TB Sedunia pada tahun 2014 ini memiliki tema global “reach the three million, find, treat, cure for all”, yang disederhanakan dalam bahasa Indonesia menjadi “Temukan dan Sembuhkan TB”. Tuberkulosis atau TB sudah sejak dulu menjadi perhatian pemerintah sebagai salah satu penyakit menular yang harus diberantas dan ditangani secara serius mengingat angka pengidap TB dan angka kematian akibat TB di Indonesia masih tergolong tinggi. Penyakit ini juga menyita perhatian dunia karena menjadi salah satu indikator dalam pencapaiaan tujuan Millenium Development Goals (MDG) pada tahun 2015 mendatang.

Sumber: Profil Kesehatan Indonesia 2012, Kemenkes RI

Sumber: Profil Kesehatan Indonesia 2012, Kemenkes RI

Gambar di atas menunjukkan data yang diperoleh dari “World Health Statistics 2013” mengenai Prevalensi TB pada negara ASEAN. Tiga negara ASEAN yang memiliki angka prevalensi (jumlah kasus tuberkulosis pada suatu titik waktu tertentu) tertinggi per 100.000 penduduk, yaitu Kamboja dengan 817 per 100.000 penduduk, Laos dengan 540 per 100.0000 penduduk, dan Myanmar dengan 506 per 100.000. Singapura merupakan negara dengan prevalensi tuberculosis terendah yaitu sebesar 46 per 100.000 penduduk. Sedangkan Indonesia berada di posisi keenam untuk prevalensi tuberkulosis dengan 281 per 100.000 penduduk. Di antara 10 negara di ASEAN angka kematian akibat tuberkulosis di Indonesia merupakan peringkat kelima (27 per 100.000 penduduk) sejalan dengan prevalensi tuberculosis (Kemenkes, 2012).

Sumber: Profil Kesehatan Indonesia 2012, Kemenkes RI

Sumber: Profil Kesehatan Indonesia 2012, Kemenkes RI

Masih mengacu pada data Kemenkes (2012) pada gambar di atas, diketahui bahwa jumlah kasus TB tertinggi yang dilaporkan terdapat pada provinsi dengan jumlah penduduk tertinggi yaitu diseluruh Pulau Jawa dengan proporsi temuan kasus tertinggi pada jenis kelamin laki-laki sebesar 59,4%. Sedangkan bila dirinci lebih lanjut penyakit ini lebih banyak ditemukan pada kelompok usia produktif umur 25-34 tahun yaitu sebesar 21,72% diikuti kelompok umur 35-44 tahun sebesar 19,38% dan pada kelompok umur 45-54 tahun sebesar 19,26%. Beruntung kasus baru untuk BTA+ (mengidap TB), kelompok umur 0-14 tahun merupakan proporsi yang paling rendah. Hal ini membuat kita bertanya-tanya mengapa cenderung lebih banyak ditemukan TB pada kelompok usia produktif. Logikanya usia kelompok ini adalah kelompok yang seharusnya lebih mudah memahami mengenai bahaya, gejala dan pencegahan TB .

Jumlah pengidap TB yang masih cukup tinggi di Indonesia serta banyaknya temuan pada usia produktif memberikan PR (pekerjaan rumah) besar bagi kita semua untuk mencegah bertambahnya pasien baru. Hal tersebut menunjukan upaya sosialisasi, pemahaman dan penyebaran informasi harus terus menerus dilakukan agar dapat melakukan pencegahan lebih awal dengan menemukan orang dengan suspect TB yang belum tentu positif terjangkit TB.

Upaya pengobatan kasus TB dilakukan dengan menerapkan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) yang direkomendasikan oleh WHO secara global untuk menanggulangi TB. Strategi ini menekankan pentingnya pengawasan terhadap pasien TB untuk memastikan pasien menyelesaikan pengobatannya sesuai ketentuan sampai dinyatakan sembuh. Strategi ini dinilai cukup berhasil karena menghasilkan angka kesembuhan yang tinggi yaitu mencapai 85%.

Strategi DOTS efektif mencegah TB

Strategi DOTS efektif mencegah TB

Penanggulangan TB ini sudah dilaksanakan secara global baik oleh pemerintah, swasta, LSM dan masyarakat melalui promosi, penggalangan kerja sama dan kemitraan dalam wujud Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan TB (Gerdunas TB). Kita juga bisa membantu gerakan ini dengan menjadi duta TB pada lingkungan masing-masing dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat di sekitar mengenai gejala penyakit TB beserta cara pencegahan dan pengobatan. Pemberian pemahaman untuk menciptakan lingkungan tempat tinggal yang sehat juga perlu dilakukan untuk mencegah timbulnya kuman TB ini. Selain itu pemberian pemahaman untuk tidak malas memeriksakan diri juga penting karena umumnya masyarakat enggan untuk berobat ketika belum dirasakan sakit.

Untuk menanggulangi serangan TB yang tidak kasat mata, perlu kerjasama dan gandengan tangan secara menyeluruh dari berbagai pihak. Oleh karena itu, berperanlah sebagai Duta TB pada lingkungan masing-masing dan temukan TB sedini mungkin agar tidak ada lagi yang terjangkit TB demi kesehatan dan kesejahteraan bersama.

Tulisan ini dikutsertakan pada Blog Competition yang diadakan oleh TB Indonesia Serial 1 dengan tema” Temukan Pasien TB” Periode 24 Maret-6 April 2014.

Sumber Informasi:

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2012. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2012. Jakarta: 507hal.

Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Peta Kesehatan Indonesia Tahun 2012. Jakarta: 54hal.

https://extranet.who.int/sree/Reports?op=Replet&name=%2FWHO_HQ_Reports%2FG2%2FPROD%2FEXT%2FTBCountryProfile&ISO2=ID&LAN=EN&outtype=html

http://www.tbindonesia.or.id/epidemiologi-tb-indonesia/

http://www.slideshare.net/budi_hermawan_a/buku-informasi-pp-pl-2013

 

Evrinasp.com

Evventure Blog

Kumpulan Emak Blogger

kumpulan-emak-blogger

Warung Blogger

Photobucket

Blog Stats

  • 444,594 hits

Follow TWITTER

Kicauan TWITTER

Almanak

April 2014
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
%d bloggers like this: