//
you're reading...
Contest

Temukan TB Sebelum Terlambat

Ini merupakan kisah nyata dari seseorang yang saya sebut sebagai survivor TB (Tuberkulosis)….

Panggil saja dia Wulan (bukan nama sebenarnya), seorang gadis riang, sangat aktif dan rajin berorganisasi sejak SMA. Dua belas tahun yang lalu dia baru saja masuk ke perguruan tinggi favoritnya. Menjadi seorang mahasiswa membuatnya sangat sibuk sekali. Dia sering telat makan dan pulang larut malam karena kecintaannya terhadap kegiatan kampus. Kondisi yang serba sibuk tersebut sangat dinikmati Wulan. Namun dia tidak mengindahkan kondisi kesehatan dirinya sendiri. Hingga suatu hari dia mulai terkena batuk berdahak. “Ah paling batuk biasa, minum OBH juga sembuh” begitu pikir Wulan. Dia memang tidak suka pergi berobat karena menurutnya pergi berobat itu untuk orang yang sudah sakit parah.

Waspadai gejala TB, sumber gambar orang sedang batuk disini

Waspadai gejala TB, sumber gambar orang sedang batuk disini

Batuknya tidak kunjung sembuh setelah sebulan lamanya. Dia harus menahan sakit diperut ketika batuk, kadang batuknya tersebut membuat dia hampir muntah. Meskipun begitu dia tetap saja melanjutkan aktivitasnya seperti biasa. Hingga suatu hari dia mulai merasakan gejala lain. Dia sering gelisah ketika malam tiba, tidur tidak nyenyak, sering terbangun karena punggungnya basah saat tidur. Berat badan Wulan yang dulunya ideal kini menurun drastis, tubuhnya kurus hingga tulangnya kelihatan. Ketika nafasnya mulai sesak dan demam melanda. Akhirnya Wulanpun memutuskan untuk berobat. Dia diharuskan melakukan tes dahak dan tes darah selain melakukan rongent.

Alangkah terkejutnya dia karena hasil rongent memperlihatkan adanya semburat putih yang menyatu seperti gumpalan awan pada paru-parunya. Rupanya itu merupakan kumpulan bakteri Tuberkulosis (TB) yang membentuk koloni. Bakteri tersebut telah menginfeksi paru-paru Wulan. Tes dahak dan tes darah yang dilakukan Wulan juga memberikan hasil positif bahwa Wulan mengidap TB Paru. Dokter yang memeriksa Wulan sangat menyayangkan mengapa dia baru datang ke rumah sakit setelah bakteri tersebut menyebar di kedua parunya. Beruntung Wulan tidak mengalami batuk berdarah karena itu berarti paru-parunya sudah sangat terinfeksi.

paru-paru yang terinfeksi TB, sumber gambar kiri disini dankanan disini

paru-paru yang terinfeksi TB, sumber gambar kiri disini dan kanan disini

Dokter menyarankan beberapa hal kepadanya terkait penyakit yang sedang Ia derita saat itu:

Pertama, dia harus minum obat anti TB (OAT) selama sembilan bulan lamanya tanpa terputus, Karena sekali terputus maka dia harus melakukannya dari awal lagi dengan dosis yang lebih tinggi.

Kedua, untuk mencegah penularan kuman Mycobacterium tuberculosis penyebab TB maka dia harus menghindari kontak langsung dengan orang yang masih sehat terutama melalui udara, peralatan makanan maupun peralatan pribadi lainnya karena kuman TB bisa menular melalui air ludah, bersin, atau aktifitas lain yang berasal dari tubuhnya.

Ketiga, dia harus mengkonsumsi makanan yang bergizi untuk membantu tubuhnya melawan penyakit karena sehebat apapun kuman apabila tubuh sehat maka akan memiliki pertahanan untuk melawan kuman selain menggunakan obat.

Ada yang membuatnya cukup sedih, karena menurut dokter pasien yang sudah terkena TB akan sulit untuk bepergian ke luar negeri. Kemudian dokter mengatakan walaupun sudah sembuh, proses pengembalian kondisi paru-paru seperti semula membutuhkan waktu yang cukup lama, maksudnya serangan kuman TB ini akan meninggalkan bekas pada paru-paru meskipun sudah dinyatakan sembuh. Sama seperti kita mengalami luka pada kulit maka mengembalikan kulit seperti sediakala tanpa bekas membutuhkan waktu yang cukup lama.

Wulan sebenarnya anak yang pintar. Tinggal di kosan dan jauh dari orang tua membuatnya lupa menjaga kesehatan. Pada masa itu akses internet tidak semarak seperti saat ini, sehingga membuat dia enggan mencari informasi lebih lanjut mengenai gejala yang Ia alami. Wulan menjalankan apa yang disarankan dokter untuk kesembuhannya. Beruntung teman-temannya sangat pengertian, baik di kelas maupun di kosan mereka tidak ekstrim menjauhinya meskipun sedang sakit.

Setelah sembilan bulan pengobatan Wulanpun dinyatakan bersih dari TB meskipun hasil rongent masih menunjukkan bekas semburat infeksi bakteri. Ternyata bekas infeksi TB ini cukup merepotkan Wulan meskipun sudah empat tahun sembuh dari TB. Hampir saja dia ditolak untuk bekerja di salah satu perusahaan swasta lantaran hasil tes kesehatan menunjukan bekas infeksi tersebut masih ada. Beruntung Wulan diberi kesempatan oleh perusahaan untuk melakukan tes ulang pada bagian paru-parunya di dokter spesialis paru. Dokter menyatakan bahwa Wulan sudah sembuh tapi memang bekasnya masih ada.

Hasil rongent terakhir sekitar satu tahun yang lalu menunjukan bahwa paru-parunya sudah bersih, tidak meninggalkan luka semburat seperti sebelumnya. Bila dihitung, Wulan membutuhkan waktu 11 tahun lamanya untuk menghilangkan bekas tersebut. Kini dia sangat berhati-hati menjaga kesehatan tubuhnya sebagai pelajaran karena dulu terlalu menyepelekan penyakit.

Pengalaman adalah guru yang terbaik……..

Setidaknya itulah yang menjadi alasan mengapa saya ingin menuliskan penyakit yang dialami Wulan dengan harapan agar tidak ada lagi orang yang mengalaminya. Sebenarnya penyakit tersebut bisa kita hindari asalkan kita peduli dengan kondisi tubuh dan menjaganya dengan baik. Beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari pengalaman di atas antara lain:

1. Jangan menyepelekan batuk

Batuk memang reaksi alami tubuh untuk mengeluarkan sesuatu dari saluran pernafasan. Batuk kadang bisa sembuh dengan sendirinya, namun kita perlu hati-hati apabila batuk tidak kunjung sembuh hingga dua minggu lamanya. Ada baiknya memeriksakan diri kepada petugas kesehatan sebagai upaya pencegahan terhadap hal yang tidak diinginkan.

2. Kenali tanda-tanda TB di sekitar kita

Masyarakat harus terus kita edukasi tentang penyakit ini karena nyatanya tiap tahun masih saja ada yang terinfeksi TB. Penyakit ini tidak hanya menyerang masyarakat awam karena masyarakat yang melek digital sekalipun masih saja kecolongan. Dari pengalaman Wulan tadi kita tahu bahwa batuk berdahak selama lebih dari dua minggu bisa menjadi indikasi adanya serangan TB. Kemudian kita harus lebih waspada dan jangan menunda apabila tanda-tanda lain mulai muncul seperti nafas terasa sesak, mengalami nyeri pada dada, demam dan meriang, munculnya keringat dimalam hari terutama pada bagian punggung, nafsu makan berkurang dan berat badan menurun. Maka segeralah lakukan pemeriksaan sebelum semuanya terlambat.

3. Segera sembuhkan jangan ditunda

Pemahaman pergi ke dokter hanya ketika sedang sakit masih cukup tinggi di Indonesia, jadi kalau tubuh dirasa masih sehat meskipun sudah ada gejala lebih sering menunda untuk berobat. Padahal tidak ada salahnya untuk konsultasi terlebih dahulu seperti kebanyakan orang di luar negeri. Hal tersebutlah yang menjadi salah satu penyebab terlambatnya melakukan pencegahan infeksi TB. Seseorang dinyatakan positif mengidap TB apabila hasil diagnosa menunjukan gejala, kemudian pemeriksaan laboratorium menyatakan BTA positif serta pemeriksaan rontgen juga memperlihatkan adanya aktivitas bakteri TB. Maka segera lakukan pengobatan sebagai upaya penyembuhan dan pencegahan penularan TB. Pasien diberi OAT (Obat Anti Tuberkulosis) yang harus diminum setiap hari sesuai dosis yang dianjurkan selama minimal enam bulan tanpa terputus. Meskipun dalam jangka waktu dua hingga tiga bulan sudah menunjukan kesembuhan, pengobatan harus terus dilanjutkan. Pengobatan ini tidak hanya bertujuan untuk menyembuhkan dan mencegah kematian, tetapi juga mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT.

4. Jangan minder dan jangan jauhkan penderita

Seseorang yang mengidap penyakit menular cenderung minder karena takut menularkan penyakit tersebut kepada orang lain. Hal tersebut justru akan membuat dia semakin tidak bersemangat ketika memulihkan kesehatannya. Padahal dukungan dari orang sekitar amat penting bagi penyembuhan sakit pasien. Oleh karena itu kita tidak perlu minder apabila sedang terjangkit penyakit TB karena yang terpenting adalah memahami bagaimana cara agar penyakit tersebut tidak menular ke orang lain. Seperti dengan memimalisir kontak langsung dengan menggunakan masker, memisahkan barang-barang pribadi termasuk alat makan. Kemudian kita sebagai orang yang ada di sekitar pasien sebaiknya tidak langsung melakukan tindakan ekstrim dengan menjauhi pasien karena hal tersebut akan membuat semangatnya turun dan merasa dikucilkan. Kita harus menyemangatinya untuk terus berjuang menyembuhkan penyakit tersebut karena penyembuhan TB memakan waktu minimal 6 bulan lamanya.

5. Sebarkan informasi ini kepada sesama agar mereka tidak terkena

Agar tidak ada yang kecolongan lagi seperti Wulan maka kita harus memiliki rasa peduli dengan orang-orang di sekitar. Pencegahan penularan itu sangat penting mengingat kuman ini dapat menghinggap hanya melalui kontak udara. Di udara memang terdapat berjuta-juta kuman bakteri, virus, dan jamur yang tidak kasat mata. Oleh karena itu memberikan pemahamam kepada masyarakat untuk melakukan pencegahan terhadap penyakit TB harus terus dilakukan sebelum semuanya terlambat.

Ayo Berantas TB!

Ayo Berantas TB!

Menjadi Duta TB di Lingkungan  

Peringatan Hari TB Sedunia pada tahun 2014 ini memiliki tema global “reach the three million, find, treat, cure for all”, yang disederhanakan dalam bahasa Indonesia menjadi “Temukan dan Sembuhkan TB”. Tuberkulosis atau TB sudah sejak dulu menjadi perhatian pemerintah sebagai salah satu penyakit menular yang harus diberantas dan ditangani secara serius mengingat angka pengidap TB dan angka kematian akibat TB di Indonesia masih tergolong tinggi. Penyakit ini juga menyita perhatian dunia karena menjadi salah satu indikator dalam pencapaiaan tujuan Millenium Development Goals (MDG) pada tahun 2015 mendatang.

Sumber: Profil Kesehatan Indonesia 2012, Kemenkes RI

Sumber: Profil Kesehatan Indonesia 2012, Kemenkes RI

Gambar di atas menunjukkan data yang diperoleh dari “World Health Statistics 2013” mengenai Prevalensi TB pada negara ASEAN. Tiga negara ASEAN yang memiliki angka prevalensi (jumlah kasus tuberkulosis pada suatu titik waktu tertentu) tertinggi per 100.000 penduduk, yaitu Kamboja dengan 817 per 100.000 penduduk, Laos dengan 540 per 100.0000 penduduk, dan Myanmar dengan 506 per 100.000. Singapura merupakan negara dengan prevalensi tuberculosis terendah yaitu sebesar 46 per 100.000 penduduk. Sedangkan Indonesia berada di posisi keenam untuk prevalensi tuberkulosis dengan 281 per 100.000 penduduk. Di antara 10 negara di ASEAN angka kematian akibat tuberkulosis di Indonesia merupakan peringkat kelima (27 per 100.000 penduduk) sejalan dengan prevalensi tuberculosis (Kemenkes, 2012).

Sumber: Profil Kesehatan Indonesia 2012, Kemenkes RI

Sumber: Profil Kesehatan Indonesia 2012, Kemenkes RI

Masih mengacu pada data Kemenkes (2012) pada gambar di atas, diketahui bahwa jumlah kasus TB tertinggi yang dilaporkan terdapat pada provinsi dengan jumlah penduduk tertinggi yaitu diseluruh Pulau Jawa dengan proporsi temuan kasus tertinggi pada jenis kelamin laki-laki sebesar 59,4%. Sedangkan bila dirinci lebih lanjut penyakit ini lebih banyak ditemukan pada kelompok usia produktif umur 25-34 tahun yaitu sebesar 21,72% diikuti kelompok umur 35-44 tahun sebesar 19,38% dan pada kelompok umur 45-54 tahun sebesar 19,26%. Beruntung kasus baru untuk BTA+ (mengidap TB), kelompok umur 0-14 tahun merupakan proporsi yang paling rendah. Hal ini membuat kita bertanya-tanya mengapa cenderung lebih banyak ditemukan TB pada kelompok usia produktif. Logikanya usia kelompok ini adalah kelompok yang seharusnya lebih mudah memahami mengenai bahaya, gejala dan pencegahan TB .

Jumlah pengidap TB yang masih cukup tinggi di Indonesia serta banyaknya temuan pada usia produktif memberikan PR (pekerjaan rumah) besar bagi kita semua untuk mencegah bertambahnya pasien baru. Hal tersebut menunjukan upaya sosialisasi, pemahaman dan penyebaran informasi harus terus menerus dilakukan agar dapat melakukan pencegahan lebih awal dengan menemukan orang dengan suspect TB yang belum tentu positif terjangkit TB.

Upaya pengobatan kasus TB dilakukan dengan menerapkan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) yang direkomendasikan oleh WHO secara global untuk menanggulangi TB. Strategi ini menekankan pentingnya pengawasan terhadap pasien TB untuk memastikan pasien menyelesaikan pengobatannya sesuai ketentuan sampai dinyatakan sembuh. Strategi ini dinilai cukup berhasil karena menghasilkan angka kesembuhan yang tinggi yaitu mencapai 85%.

Strategi DOTS efektif mencegah TB

Strategi DOTS efektif mencegah TB

Penanggulangan TB ini sudah dilaksanakan secara global baik oleh pemerintah, swasta, LSM dan masyarakat melalui promosi, penggalangan kerja sama dan kemitraan dalam wujud Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan TB (Gerdunas TB). Kita juga bisa membantu gerakan ini dengan menjadi duta TB pada lingkungan masing-masing dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat di sekitar mengenai gejala penyakit TB beserta cara pencegahan dan pengobatan. Pemberian pemahaman untuk menciptakan lingkungan tempat tinggal yang sehat juga perlu dilakukan untuk mencegah timbulnya kuman TB ini. Selain itu pemberian pemahaman untuk tidak malas memeriksakan diri juga penting karena umumnya masyarakat enggan untuk berobat ketika belum dirasakan sakit.

Untuk menanggulangi serangan TB yang tidak kasat mata, perlu kerjasama dan gandengan tangan secara menyeluruh dari berbagai pihak. Oleh karena itu, berperanlah sebagai Duta TB pada lingkungan masing-masing dan temukan TB sedini mungkin agar tidak ada lagi yang terjangkit TB demi kesehatan dan kesejahteraan bersama.

Tulisan ini dikutsertakan pada Blog Competition yang diadakan oleh TB Indonesia Serial 1 dengan tema” Temukan Pasien TB” Periode 24 Maret-6 April 2014.

Sumber Informasi:

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2012. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2012. Jakarta: 507hal.

Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Peta Kesehatan Indonesia Tahun 2012. Jakarta: 54hal.

https://extranet.who.int/sree/Reports?op=Replet&name=%2FWHO_HQ_Reports%2FG2%2FPROD%2FEXT%2FTBCountryProfile&ISO2=ID&LAN=EN&outtype=html

http://www.tbindonesia.or.id/epidemiologi-tb-indonesia/

http://www.slideshare.net/budi_hermawan_a/buku-informasi-pp-pl-2013

 

About evrinasp

I am an Agricultural Extension Officer, Blogger and Hiker

Discussion

8 thoughts on “Temukan TB Sebelum Terlambat

  1. komplit mak

    Posted by Liza-fathia.com | April 6, 2014, 8:57 am
  2. lengkap banget mak ulasannya,

    Posted by damae | April 7, 2014, 1:57 am
  3. waw….agak serem sebenernya, tapi semoga dengan adanya info ini kita bisa menjaga kesehatan sendiri. menjaga lebih baik daripada mengobati, bukan begitu?…

    Posted by eka lesniawati (@e_lesniawati) | April 8, 2014, 7:07 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Obat TB Gratis Bagi Pasien TB | evRina shinOda - April 19, 2014

  2. Pingback: Jangan Takut Karena TB Bisa Disembuhkan | evRina shinOda - April 26, 2014

  3. Pingback: Pencegahan dan Pengobatan TB Resisten | evRina shinOda - May 18, 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: