//
you're reading...
Contest

My Unforgettable Journey: From Bogor to Pati-Kudus

Holla Mak Muna dan teman-teman, izinkan saya bercerita tentang unforgettable journey dalam rangka ikutan GA nya Mak Muna yang cantik jelita ini ya (usaha ngerayu hehe, just kidding). Waktu menuliskan cerita ini saya agak sedikit kesulitan karena foto-fotonya kurang, maklum perjalanan ini sudah terjadi sejak delapan tahun yang lalu tepatnya tahun 2006, terus waktu itu saya belum punya kamera digital dan HP nya masih jadoel. Beruntung nih ada teman yang peralatannya lengkap sehingga bisa merekam beberapa memory yang kami jalani saat itu. Mari kita mulai, eng ing enggggg……

rinaJadi cerita ini terjadi ketika saya belum lulus kuliah. Waktu itu saya masih menyusun dan melakukan perbaikan skripsi. Dosen menyuruh saya untuk ikut magang disalah satu perusahaaan pestisida supaya pengalaman saya bertambah, karena pada saat magang nanti kami diharuskan terjun langsung sambil menawarkan produk pestisida perusahaan ke petani di Pati dan Kudus Provinsi Jawa Tengah (Jateng). Saya langsung menyetujui saran Beliau karena pastinya akan menambah pengalaman, menambah wawasan, menambah teman dan menambah uang saku hahaha.

“Mengapa hal tersebut menjadi perjalanan tak terlupakan? Karena ini adalah perjalanan pertama saya jauhhhhh keluar dari Bogor, sendiri tanpa diantar orang tua dan dalam waktu yang lama”

Maklum teman-teman, orang tua (ortu) saya ini agak protective. Sudah berapa kali saya kepingin bepergian ke tempat yang agak jauh supaya mendapatkan pengalaman baru, tapi surat izin dari ortu susah bener turunnya. Mereka terlalu khawatir anaknya yang manis ini nanti bakalan kenapa-kenapa hehe. Alhamdulillah dengan argumentasi dan kemampuan diplomasi yang cukup bagus (ehem), akhirnya saya mendapatkan surat izin tersebut dengan catatan hanya di pulau Jawa saja, ‘gak boleh lebih dari itu kecuali dalam rangka jalan-jalan yang hanya makan waktu kurang dari seminggu. Wow okelah surat izin sudah dipegang, sekarang tinggal membuktikan kepada mereka kalau saya bisa mandiri hehe.

Dua Minggu Pertama di Pati

Indahnya Pati

Indahnya Pati

Kota Pati adalah kota kecil di ujung timur Provinsi Jawa Tengah (Jateng) yang merupakan kota pertama tempat saya, kak Yiyi (yang sekarang sudah jadi suami saya nih hihi), Dita, santi, Mas Raton, Amir dan Mas Taufik, menginjakkan kaki dalam program magang FMC. Kotanya kecil, sepi, dan sedikit sekali angkotnya. Hanya ada becak dan andong yang hilir mudik disana. Sebelum terjun ke lapangan, kami mendapatkan pembekalan dulu di hotel, kami diberikan materi seputar budidaya kacang hijau karena memang saat itu sedang musim tanam kacang hijau serta materi seputar aplikasi pestisida milik perusahaan. Hari kedua kami langsung diterjunkan ke lapangan di sekitar kota Pati. Waduh saya deg-degan banget karena belum pernah turun langsung ke petani yang ada di Jateng. Walaupun saya keturunan suku Jawa, tetap saja saya agak susah menangkap bahasa jawa yang diucapkan petani. Syukur alhamdulillah ternyata petaninya mengerti bahasa Indonesia, jadi gak susah komunikasi deh.

di Sambirejo Pati

di Sambirejo Pati

Keesokannya, kami langsung ditempatkan ke desa tujuan yaitu Desa Sambirejo. Kami diantar menuju desa melewati kali Juwana yang sangat lebar, katanya kalau sedang musim hujan kali ini bisa meluap dan merendam sawah disekitarnya. Sepanjang jalan mata saya terasa segar, meskipun cuaca sangat sumuk (panas) karena Pati dekat dengan laut, tapi saya senang karena di kanan maupun kiri jalan terbentang luas hamparan kacang hijau. Wah medan kerja sudah menyambut, harus ekstra kerja keras nih.

Tibalah kami dirumah bapak ketua kelompok (lupa saya namanyah), rumahnya berbentuk joglo, atapnya menjulang tinggi dengan menggunakan genting. Bapak dan ibu cukup ramah dan bersedia meminjamkan salah satu motor mereka untuk operasional kami. Hari-hari pertama di sana, kami isi dengan melakukan pengenalan wilayah dulu, tentunya harus akrab dengan pemilik rumah serta orang-orang di sekitar. Nah, di Pati ini tanahnya pasir berlempung, jadi kalau sedang musim panas debunya banyak banget. Kalau muka dielap pake tisu bisa-bisa tisunya jadi cokelat karena tebalnya debu.

Kami membantu pak ketua dengan menanam kacang hijau di lahan bekas padi. Tanahnya keras, kami harus menugal tanah dengan tenaga ekstra. Air yang mengalir tidak ada, petani disana lebih banyak menggunakan sumur bor untuk mengairi sawah mereka. Kasihan jadi bertambah biaya operasionalnya. Tapi para petani tidak mengeluh karena hasil produksi yang mereka terima cukup menguntungkan.

Kegiatan di Pati

Kegiatan di Pati

Hari-hari kamipun dimulai. Berawal dari Desa Sambirejo kamipun menyusuri setiap petani yang ada. Kami berangkat pagi sekali untuk menjumpai para petani. Kami menyusuri Pati hingga daerah Kayen yang sangat indah sekali pemandangannya. Petani di Pati sangat ramah, mereka menyambut kedatangan kami meskipun kami hanya membagikan voucher untuk pembelian pestisida saja. Kadang kami disuguhi makanan dan minuman apabila ada rumah petani yang dekat dengan sawah mereka. Bahasa jawa saya sedikit demi sedikit mulai lancar karena sering berkomunikasi dengan mereka walaupun ketika saya bicara petaninya jadi ketawa lantaran saya menggunakan bahasa jawa dengan  logat betawi hehe.

Atas: singkong yang diberi gula merah (lupa nama makanannya), bawah: garang asem maknyusss

Atas: singkong yang diberi gula merah (lupa nama makanannya), bawah: garang asem maknyusss

Nah tidak lengkap kalau jalan-jalan ke tempat orang apabila tidak merasakan kulinernya. Kuliner Pati yang khas yaitu Nasi Gandul. Nasi gandul itu adalah nasi dengan daging yang dipotong-potong bersama kuah daging plus kecap. Mengapa disebut nasi gandul? karena nasi gandul ini disajikan di atas daun pisang. Rasanya unik beda dengan rawon walau kadang agak mirip. Untuk memperkaya rasanya, kita bisa menambahkan sambal supaya nasi gandul ini menjadi pedas manis. Kemudian ada satu lagi yang kami coba, yaitu garang asem. Garang asem adalah ayam yang dikukus dalam daun pisang bersama potoongan cabe, bawang dan tomat plus bumbu lainnya. Rasanya maknyus, segar, pedas, gurih pokonya asik apabila dimakan pada siang hari yang panas. Nanti kalau teman-teman ke Pati harus di coba ya.

Masih di Pati (lupa namanya tapi)

Masih di Pati (lupa namanya tapi)

Setelah berpetualang selama dua minggu lamanya di Pati, akhirnya kami harus meneruskan langkah menuju kota selanjutnya yaitu Kudus. Selamat tinggal Pati, terimakasih Bapak Ibu, terimakasih para petani semuanya maaf kami sudah merepotkan ya.

Dua Minggu Terakhir di Kudus

Dua minggu terakhir kami pindah tugas. Saat itu kami ditempatkan di Kudus, dekat dengan kotanya. Dibanding dengan Pati, Kota Kudus lebih ramai, sudah banyak angkotnya jadi kalo ‘gak ada motor gak masalah. Di sini kami memang agak kesulitan untuk memperoleh motor karena di tempat baru kami ini Ibunya tidak memiliki motor lebih, jadi, kalau kami mau pergi kemana-mana sangat tergantung dari rekan-rekan yang ada di Kudus. Ibu pemilik rumah juga sangat baik, orangnya tenang dan rajin beribadah. Kadang kami suka diingatkan apabila waktu shalat telah tiba. Kami tidak boleh pulang terlalu malam karena bisa mengganggu tetangga di sekitar. Di tempat Ibu, norma kesopanan masih ditegakkan jadi kalau belum menikah gak boleh keluyuran sampai larut malam.

Hijaunya Kudus

Hijaunya Kudus

Hari-hari di Kudus masih sama seperti di Pati. Kami dengan semangat melakukan blusukan ke pelosok desa untuk menyebarkan informasi seputar produk perusahaan. Kami senang karena bekerjasama dengan rekan-rekan dari Universitas Muria Kudus (UMK). Konco-konco alias teman-teman dari UMK ini sangat baik sekali, kami tidak hanya diajak berkeliling Kudus tapi juga diajak untuk mengikuti kegiatan mereka yang super sekali. Petani di Kudus juga welcome terhadap kehadiran kami, bahkan ada yang senang ketika kami ambil foto mereka.

fotos_20140408122436

Nah, kalau Kuliner dari Kudus yang saya sukai itu ada tiga, saya jejerkan dari yang paling saya sukai ya:

1. Lentog Tanjung

Sampai sekarang saya masih terngiang-ngiang sama lentog yang satu ini. Hampir setiap pagi saya dan teman-teman sarapan dengan lontong plus kuah sayur nangka dan sayur tahu ini. Rasanya menurut saya gurih banget. Penjual lentog menjajakan makanannya dengan menggunakan bakul pikul. Lentog tanjung disajikan di atas piring kecil dengan tambahan menu tempe tahu, telur, daging atau telur puyuh. Biasanya saya akan nambah satu piring lagi yang membuat teman saya geleng-geleng kepala haha. Sayang sekali fotonya tidak ada satupun walau sudah mengubek-ubek tumpukan CD jaman dulu. Kalau teman ingin tahu lentog tanjung seperti apa silahkan cari di mbah google aja yah hehe.

2. Soto Kudus

Nah, soto kudus ini sangat seger banget, gurih dan nikmat. Ini penggantinya bakso kalo saya sedang di Kudus. Soto kudus terdiri dari potongan kol, toge dan daging ayam yang diletakan di atas nasi. Kemudian potongan telur disajikan di atas soto kudus tadi. Soto ini disajikan dengan menggunakan mangkok kecil. Bedanya dengan soto di Jawa Barat adalah soto ini disajikan menyatu dengan nasinya. Perasan jeruk nipis semakin menambah segar kuah soto kudus yang sangat enak. Apabila saya makan soto ini tidak ada bekas yang bersisa lho, mangkok yang tadi penuh jadi kosong bahkan kering heeeee.

3. Ayam Penyet Pasar Kliwon

Di Pasar Kliwon Kudus ada kuliner yang buka di malam hari. Tempatnya lesehan di pinggir jalan. Pertama kali mencoba saya langsung suka dengan ayam penyet plus sambalnya. Pedasnya sambal ditambah ayam panggang yang nikmat dijamin bikin perut kenyang sepuasnya. Karena letaknya dipinggir jalan plus lesehan sangat enak buat kita-kita yang mau nongkrong.

Makan-makaaaan

Makan-makaaaan

Sewaktu kami tidak melakukan tugas dihari libur, kami menyempatkan diri untuk jalan-jalan di daerah sekitar kudus. Kami diajak rekan2 dari UMK untuk mengunjungi Jepara tempat kelahiran RA. Kartini yang terletak di ujung barat Jateng dekat dengan Laut Jawa. Kami senang sekali karena Jepara tidak hanya bersih dan rapih, di kanan kiri jalan menuju Pantai Kartini ini terbentang maha karya seni ukir dari orang-orang Jepara. Karya seni pahat disana memang bagus-bagus. Selepas dari Pantai Kartini, kami mengunjungi salah satu stand ukiran. Wuihhhh apik-apik, mulai dari kursi, meja, lemari hingga pernak-pernik kecil seperti jam dinding dan lainnya. Sayapun membeli salah satu produk seni ukir yang ditawarkan stand yaitu jam dengan hiasan kapal, karena kalau beli kursi ‘gak bisa bawanya. Tapi kemana ya sekarang jam tersebut? Hemmm.

Pantai Kartini-Jepara

Pantai Kartini-Jepara

Tidak terasa sudah sebulan lamanya saya berada di Jateng. Banyak pengalaman berharga yang saya peroleh dari kegiatan magang ini, diantaranya adalah menambah pertemanan, belajar bersabar karena medannya jauh dan berat, memahami orang lain, belajar rendah hati dan bersyukur terhadap apapun yang diberikan oleh Allah SWT seperti yang dicontohkan para petani yang saya jumpai. Setelah pulang dari Jateng saya langsung grasak-grusuk karena skripsi harus sudah jadi supaya September 2006 saya bisa ikutan wisuda. Alhamdulillah berkat bantuan dosen pembimbing sayapun wisuda dibulan September tahun 2006. Magangnya dapet, pengalaman dapet, wisuda juga dapet. Perfect!

Dan yang paling tidak kalah penting nih, saya berhasil membuktikan kepada ortu kalau saya bisa survive di tempat yang jauh dari Bogor, berawal dari magang ini akhirnya saya dipercaya ketika meminta izin untuk bekerja dan merantau di Kediri Jawa Timur. Alhamdulillah.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam GA Unforgettable Journey Momtraveler’s Tale”

About evrinasp

I am an Agricultural Extension Officer, Blogger and Hiker

Discussion

13 thoughts on “My Unforgettable Journey: From Bogor to Pati-Kudus

  1. Sukses ya, untuk GA-nya..
    Ceritanya panjang banget..🙂
    Salam..

    Posted by Kopiah Putih | April 8, 2014, 10:45 pm
  2. Seru banget mak kisahnya…… Baca jenis makanannya bikin ngiler, terutama lentog-nya ……🙂

    Posted by ferdiasbookelmann | April 9, 2014, 2:13 am
  3. aih serunyaaa. jadi lapar nih mak liat makanannya🙂

    Posted by Liza | April 10, 2014, 8:16 am
  4. Kak, mampir yaaa….. Aku lagi nyoba-nyoba ikutan juga nih hehe http://gebrokenruit.blogspot.com/2014/04/my-unforgettable-journey-ke-jakarta.html

    Posted by Fathur Rosiy | April 10, 2014, 3:00 pm
  5. pemandangannya bikin seger mata

    Posted by myra anastasia | April 12, 2014, 12:14 am
  6. ish aku bolak balik cuma Surabaya-Semarang cuma ngelewatin dua kota itu mak hihihi…jadi malu.
    mkasih ya mak, sudah terdaftar sebagai peserta🙂

    Posted by momtraveler | April 15, 2014, 3:10 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Daftar Peserta Momtraveler Giveaway | Momtraveler's Tale - April 10, 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: