//
you're reading...
Contest

Jangan Takut Karena TB Bisa Disembuhkan

Hai sobat, jumpa lagi dengan saya masih dalam rangkaian cerita #SembuhkanTB. Pada minggu lalu kita sudah membahas bagaimana ciri penyakit Tuberkulosis (TB) yang dapat kita gunakan untuk mendeteksi dini gejala TB serta mengetahui bahwa obat TB itu diberikan gratis baik di Puskesmas, rumah sakit milik pemerintah, maupun rumah sakit dan klinik swasta yang sudah bekerja sama dengan Program Penanggulangan TB Nasional. Nah, pada kesempatan ini saya akan membahas seri ketiga dengan tema TB bisa disembuhkan.

tbBeban penanggulangan penyakit TB di negara kita saat ini memang masih cukup tinggi. Terbukti dengan ditemukannya 460.000 kasus baru serta 67.000 kasus kematian akibat TB setiap tahunnya [1]. Penyakit ini tidak boleh kita pandang sebelah mata karena menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004 lalu, TB merupakan pembunuh nomor satu diantara penyakit menular dan merupakan peringkat tiga dalam daftar 10 penyakit pembunuh tertinggi di Indonesia [2].

Di Indonesia sendiri Program Penanggulangan TB Nasional sudah dijalankan sejak lama dan telah memberikan hasil yang signifikan sejak program tersebut dilaksanakan.

Akan tetapi mengapa angka TB di Indonesia masih sangat tinggi?”

tb2Banyak faktor yang menyebabkan mengapa angka TB masih sangat tinggi di Indonesia, diantaranya:

1. Beban kasus TB baru yang cukup tinggi karena lambat terdeteksi.

Gejala penyakit TB seperti batuk berdahak seringkali diabaikan oleh penderita karena dianggap sebagai batuk biasa sehingga pemeriksaan awal adanya TB menjadi terlambat. Padahal batuk berdahak lebih dari dua minggu merupakan salah satu indikasi seseorang terinfeksi kuman TB.

2. Meningkatnya jumlah kasus TB MDR atau multi drug resistance dimana bakteri TB menjadi kebal terhadap pengobatan TB.

Diperkirakan ada sekitar 6.000 kasus TB MDR dan hanya sekitar 1.000 orang yang diobati dengan obat lini kedua [1]. TB MDR ini terjadi karena ketidakpatuhan pasien untuk menuntaskan pengobatannya secara teratur dalam jangka waktu yang sudah ditetapkan. Kebanyakan dari mereka tidak menuntaskan pengobatan karena tubuh seorang penderita akan merasa lebih baik pada dua bulan pertama padahal kuman TB di dalam tubuhnya masih ada.

3. TB berkaitan dengan masalah gizi, kondisi ekonomi dan sosial masyarakat

Sejumlah fakta di lapangan memperlihatkan bahwa gejala TB lebih banyak di derita oleh masyarakat dengan kondisi ekonomi menengah kebawah yang memiliki angka kecukupan gizi rendah sehingga daya tahan tubuhnya lebih lemah. Hal tersebut terjadi karena ketidak mampuan dalam memenuhi kebutuhan gizi yang berkaitan dengan faktor ekonomi serta kurangnya pengetahuan akan pemenuhan gizi yang baik.

4. Kurangnya kebiasaan untuk hidup bersih dan sehat

Kebiasaan hidup bersih dan sehat juga menjadi salah satu penyebab mengapa TB mudah menyerang. Lingkungan yang kotor tidak hanya mengganggu pemandangan tetapi juga mengganggu kesehatan karena tempat yang kotor merupakan sarang dari kuman penyakit. Salah satunya adalah bakteri TB (Mycobacterium tuberculosis) yang dapat dengan mudah menempel pada permukaan benda seperti meja, kursi dan lainnya. Apabila kita menyentuh permukaan benda tersebut kemudian tidak mencuci tangan sebelum makan, maka dengan mudah bakteri TB akan masuk ke dalam tubuh. Bakteri yang sudah masuk ke dalam tubuh umumnya tertahan dalam paru-paru oleh sistem kekebalan tubuh pada bagian tuberkel. Apabila daya tahan tubuh kita melemah tuberkel ini dapat menjadi kurang kuat dan membiarkan bakteri lolos sehingga menjadi aktif [3].

Picture1

5. Kemampuan kuman TB untuk bertahan dan menginfeksi.

Kuman TB yang terbawa udara melalui percikan dahak penderita ketika bersin atau batuk dapat bertahan di udara selama beberapa jam walaupun kuman ini cepat mati jika terpapar sinar matahari. Apabila seseorang dengan daya tahan tubuh yang lemah menghirupnya maka bakteri TB ini akan masuk ke dalam tubuh dan menginfeksi tubuh.

Meskipun angka TB masih cukup tinggi di Indonesia, kita tidak perlu khawatir karena TB itu bisa disembuhkan asalkan patuh terhadap terapi pengobatan yang diberikan. Kepatuhan disini berarti bahwa kita harus mengkonsumsi obat yang benar dengan takaran, waktu dan cara yang benar [3].

Mengapa kita harus patuh? Karena itu tadi, apabila kita tidak patuh dalam melaksanakan pengobatan hingga tuntas maka TB yang kita derita akan menjadi resisten atau kebal terhadap pengobatan yang diberikan. Nah, kalau sudah resisten jenis pengobatannya akan lebih banyak lagi dan membutuhkan waktu yang lebih lama. TB yang biasa saja sudah membuat seseorang bosan karena harus rutin minum obat selama minimal enam bulan lamanya, apalagi kalau sudah menjadi TB MDR.

tb3Untuk menanggulangi dampak TB ini memang diperlukan suatu langkah agar masyarakat terutama pasien yang positif TB dapat berjuang dan yakin bahwa TB itu bisa disembuhkan. Hal itu karena TB bukanlah penyakit turunan atau penyakit kiriman (guna-guna) yang terkadang sulit untuk dikendalikan.

Bagaimana caranya? salah satunya melalui upaya promotif dan preventif dalam penanggulangan TB. Misalnya dengan menggandeng seseorang yang pernah menderita TB untuk turut serta mengedukasi masyarakat melalui pengalaman yang pernah dia jalani. Upaya promotif ini dapat dilakukan melalui jejaring sosial sebagai media penyampaian, melalui kelompok masyarakat atau media lainnya. Selain itu upaya pendampingan dan pembinaan kepada masyarakat secara berkelanjutan juga diharapkan dapat menyembuhkan pasien yang menderita TB sekaligus mengurangi jumlah kasus TB yang masih tinggi.

Mengobati saja belum sepenuhnya mampu untuk mengatasi permasalahan TB secara utuh. Dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak serta kesadaran masyarakat untuk hidup sehat dan bersih agar dapat menekan penyebaran kuman TB yang banyak bertebaran di lingkungan.

Tulisan ini diikut sertakan pada Lomba Blog #SembuhkanTB Serial ke-3: TB Bisa Disembuhkan Periode 23 April-4 Mei 2014

Sumber Informasi:

[1] http://www.investor.co.id/family/beban-tb-di-indonesia-masih-tinggi/80791

[2] http://tbindonesia.or.id/

[3] Green, C. W. 2006. HIV dan TB. Yayasan Spiritia. Jakarta: 36 hal.

http://www.depkes.go.id/

About evrinasp

I am an Agricultural Extension Officer, Blogger and Hiker

Discussion

13 thoughts on “Jangan Takut Karena TB Bisa Disembuhkan

  1. Wah… sudah beres lagi nih seri 3, nya. Seperti biasa, tulisan dan ilustrasinya selalu keren. Sukses, Mak. ^^

    Posted by niaharyanto | April 26, 2014, 6:06 am
  2. Wah…
    Ilustrasinya keren ..
    Saya suka.
    Menulis dengan diselingi ilustrasi.🙂

    Salam..

    Posted by Kopiah Putih | April 26, 2014, 7:18 am
  3. Makk… aku suka liat gambarnya. Aku juga ada tuh aplikasi itu di androku *komen salah fokus bangets ya…xixixix..tapi asli suka liat gambarnya.
    wah. Dah termin ke 3 ya. Sukses ya mak. Ini informasinya komplit banget.

    Posted by Ade Anita | April 26, 2014, 7:25 am
    • hehe mak iya ituh pake aplikasi di androhid, abis gambar sendiri belom bisa, jadi pake yg gampang2 aja deh. makasih mak ade udah mampir, nanti s gantian mampir hehe, ikut yuk mak #lanjutnongtonkorama

      Posted by evrinasp | April 26, 2014, 7:46 am
  4. Keren, mak. Smoga sukses ya..

    Posted by leyla hana | April 26, 2014, 8:05 am
  5. pilih sembuuuh…good luck lombanya ya…

    Posted by ida nur Laila | April 26, 2014, 9:10 am
  6. Mari ramai2 berikan desiminasi informasi TB media online melalui blog… Indonesia bebas TB.

    Posted by Adi Pradana | April 30, 2014, 3:12 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Pencegahan dan Pengobatan TB Resisten | evRina shinOda - May 18, 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: