//
you're reading...
Contest

Pencegahan dan Pengobatan TB Resisten

Sumber Gambar

Beban penyakit Tuberkulosis (TB) di Indonesia masih cukup tinggi meskipun terdapat pengurangan jumlah kasus TB baru setelah diberlakukannya program DOTS sejak tahun 1996. Pemberantasan terhadap penyakit ini memang sangat kompleks karena membutuhkan kerjasama dari semua lini. Upaya kampanye penyembuhan TB, pendeteksian dini serta pemberian obat gratis bagi pasien Tuberkulosis tidak akan berjalan maksimal apabila semuanya tidak bersinergi. Gencarnya kampanye serta upaya pemberantasan yang sudah dilakukan tidak akan efektif apabila masyarakat masih lemah untuk melakukan pendeteksian dini terhadap infeksi TB. Termasuk dengan pemberian obat gratis terhadap pasien TB, apabila tidak memiliki kepatuhan dalam mengkonsumsi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) secara teratur maka akan memberikan dampak yang lebih besar lagi yaitu meningkatnya status TB menjadi TB resisten.

TB resisten obat adalah TB yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang telah mengalami kekebalan terhadap OAT. Hal tersebut tentunya akan menambah beban pemerintah dalam upaya menanggulangi kasus TB di Indoensia.

Mengapa TB bisa menjadi Resisten?

Dalam ilmu biologi, kemampuan suatu mahluk hidup untuk tahan terhadap suatu perlakuan disebut dengan resistensi. Biasanya perlakuan tersebut diberikan pada organisme pengganggu seperti halnya kuman maupun hama penyakit. Kemampuan resistensi ini kebanyakan ditemukan pada makhluk hidup yang terus menerus diberikan suatu perlakuan dengan dosis atau takaran yang tidak sesuai. Hal itu terjadi karena kuman maupun organisme pengganggu mempunyai kemampuan mempertahankan dan mewariskan sifat resistensi pada keturunannya. Dia mempunyai kemampuan untuk tetap hidup dan bertahan meskipun terpapar suatu material yang dapat membunuhnya. Pemberian obat terhadap suatu penyakit mungkin dapat membunuh bakteri atau kuman yang peka, tetapi individu yang resisten akibat kesalahan prosedur maupun faktor lainnya dapat menyebabkan kuman bertahan hidup dan berkembangbiak. Kejadian ini akan berulang dari generasi ke generasi, sehingga populasi didominasi oleh individu kuman yang resisten.

Bakteri TB merupakan salah satu kuman penyakit yang akan menjadi resisten apabila penderita tidak mendapatkan atau tidak menjalani pengobatan secara lengkap hingga tuntas. Petugas kesehatan yang memberikan pengobatan tidak tepat baik paduan, dosis, lama pengobatan dan kualitas obat juga menjadi salah satu mengapa TB menjadi resisten obat. Resistensi terhadap OAT diindikasikan oleh menurunnya efektivitas OAT dalam memberantas TB pertama kali. TB yang sudah resistensi terhadap OAT ini dapat menular melalui udara dari penderita kepada orang yang sehat.

Hubungan TB resisten dengan TB MDR dan XDR

Sumber Gambar

TB yang telah resisten terhadap OAT ini akan berkembang menjadi TB MDR dan TB XDR yang jangka waktu pengobatan serta dosis obatnya lebih tinggi lagi ketimbang serangan TB pertama kali.

TB MDR atau TB Multi Drug Resistant adalah TB resisten obat terhadap minimal dua OAT yang paling ampuh yaitu INH dan Rifampisin secara bersama-sama atau disertai resisten terhadap OAT lini pertama (first line) lainnya seperti etambutol, streptomycin, dan pirazinamid. TB MDR tidak akan merespon standar pengobatan TB yang dijalankan selama 6 bulan dan akan membutuhkan waktu dua tahun lamanya untuk diobati dengan obat yang 100 kali lebih mahal dari pengobatan lini pertama. Lain halnya dengan TB XDR (extensively drug-resistant), bentuk TB ini sudah resisten terhadap pengobatan lini kedua, artinya lebih bahaya lagi ketimbang TB MDR dan merupakan tingkat lanjut dari TB MDR. TB XDR ini resisten terhadap hampir semua obat anti TB yang efektif seperti golongan fluorokuinolon dan satu bentuk pengobatan lain (second-line) yang diinjeksikan seperti amikacin, kanamycin atau capreomycin.

Kasus TB MDR di Indonesia sendiri menduduki peringkat ke 8 terbanyak di dunia dari 27 negara yang memilki kasus TB MDR terbanyak. Diperkirakan pasien TB MDR di Indonesia mencapai 6900 kasus dimana 1.9% merupakan kasus baru dan 12% berasal dari kasus pengobatan ulang. Dari 6900 kasus, ditemukan 5900 kasus merupakan kasus TB paru baru dan 1000 kasus dari TB paru pengobatan ulang (WHO Global Report 2013 dalam www.tbindonesia.or.id). Banyaknya kasus TB resisten yang harus ditanggulangi ini merupakan salah satu ancaman utama terhadap keefektifan program pengobatan TB yang sejak dulu sudah ditempuh. Oleh karena itu kepatuhan terhadap pengobatan harus dijalankan dengan seksama.

Siapa saja yang dapat terjangkit TB Resisten dan bagaimana cara mengobatinya?

Seperti halnya TB biasa, TB resisten obat juga dapat menginfeksi siapa saja. Orang yang tadinya sehat dapat terinfeksi apabila berasal atau tinggal di lingkungan yang adaptif terhadap kuman TB resisten, TB MDR maupun TB XDR. Orang yang memiliki kontak cukup erat dengan penderita TB juga beresiko terinfeksi karena hanya melalui batuk, bersin, bicara, atau meludah maka kuman TB tersebut akan terbawa udara dan menularkan orang lain dengan perkiraan angka infeksi sekitar 22% [1]. Penyebab lain mengapa TB menjadi resisten terhadap OAT ditemukan pada ketidakpatuhan pasien dalam menuntaskan pengobatan TB lini pertama atau terjangkit penyakit TB kembali sementara dia sudah memiliki riwayat pengobatan TB sebelumnya.

Hasil Tes DST, Sumber Gambar

Sebelum dilakukan pengobatan, akan dilakukan diagnosis terlebih dahulu terhadap kemungkinan terjangkitnya TB resisten obat, TB MDR maupun TB XDR pada diri sesorang. Diagnosis dilakukan melalui tes cepat dengan metode PCR (Xpert MTB/RIF), pemeriksaan biakan bakteri serta pengujian kepekaan kuman terhadap obat TB atau dikenal dengan Drugs Sensitivity Test (DST). Apabila seseorang dinyatakan positif terhadap TB resisten maka harus segera melakukan pengobatan yang jangka waktunya lebih lama dengan jenis obat yang harganya lebih mahal.

TB resisten dan TB MDR ini dapat disembuhkan dalam jangka waktu 18-24 bulan lebih lama dari TB biasa. Hanya saja penanganannya jauh lebih rumit dan menimbulkan efek samping bagi penderita selain harganya yang mahal. Untuk kasus TB MDR dibutuhkan obat lain selain obat standard pengobatan TB yaitu obat fluorokuinolon seperti siprofloksasin, ofloxacin, levofloxacin [2]. Sedangkan untuk mengobati TB XDR akan lebih sulit lagi karena pilihan paduan obat bagi TB XDR sangat terbatas mengingat jenis TB ini sudah kebal terhadap pengobatan lini pertama maupun kedua. Angka kesembuhan TB XDR memang tak setinggi TB MDR maupun TB biasa, tergantung seberapa parah penyakitnya, imunitas tubuh seseorang, serta berapa banyak OAT lini pertama dan kedua yang sudah tak bisa lagi digunakan.

Pencegahan timbulnya TB Resisten

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan suatu kuman menjadi resisten diantaranya adalah faktor genetik, lingkungan maupun operasional. Faktor genetik adalah faktor yang sangat sulit ditekan ketimbang faktor lingkungan karena faktor genetik umumnya terbawa sifat dan dapat diwariskan. Faktor lingkungan meliputi kebersihan tempat tinggal disertai dengan perilaku hidup sehat. Sedangkan faktor operasional meliputi jenis, lamanya waktu, dosis serta kepatuhan seorang pasien dalam megkonsumsi OAT.

Agar TB dapat disembuhkan dan tidak meningkat statusnya menjadi TB resisten maka kita perlu melakukan berbagai pencegahan yang dapat dilakukan secara bersama, diantaranya:

1. Meningkatkan kesadaran dari penderita

Memberantas TB memang tidak semudah membalik telapak tangan karena melibatkan pasien dengan karakter yang berbeda-beda. Upaya pendekatan serta pemberian pemahaman secara kontinyu diharapkan dapat meningkatkan kesadaran pasien agar menuntaskan pengobatannya secara teratur sesuai petunjuk medis yang telah ditentukan agar TB yang Ia derita dapat disembuhkan dan tidak meningkat statusnya menjadi TB resisten. Selain itu pemberian pemahaman terhadap tanda-tanda terjangkitnya TB resisten juga perlu dilakukan agar pasien dapat mendeteksi dini gejala penyakit tersebut sehingga pengobatan lini kedua dapat segera dilakukan.

2. Dukungan dari lingkungan sekitar penderita

Keluarga adalah orang terdekat dari pasien yang diharapkan dapat menjadi kekuatan bagi pasien agar melawan penyakitnya. Keluarga berfungsi sebagai pengawas minum obat (PMO) untuk memastikan pasien mengonsumsi obat secara teratur yang merupakan salah satu komponen dalam pelaksanaan DOTS. Selain itu meningkatkan kebiasaan hidup bersih dan menjaga lingkungan tetap sehat secara gotong royong selain dapat menjaga kesehatan juga mampu meminimalisir penyebaran kuman yang ada.

3. Keterlibatan pencegahan TB resisten dari para medis

Pengobatan yang tidak standar baik perpaduan obat, jangka waktu pengobatan dan cara pemberian merupakan salah satu pencetus seorang pasien terkena TB resisten sehingga diperlukan standart khusus yang dapat diterapkan oleh semua kalangan medis baik dilingkungan pemerintah maupun swasta. Selain itu tenaga medis juga dapat berperan sebagai PMO yang bertugas untuk mengawasi dan memberikan dorongan kepada pasien untuk menuntaskan pengobatan secara teratur sehingga statergi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course- pengawasan langsung menelan obat jangka pendek oleh pengawas pengobatan) dapat berjalan optimal.

4. komitmen dari pemerintah

Komitmen pemerintah sangat diperlukan dalam hal peningkatan kemampuan sumberdaya manusia untuk mendeteksi TB, penyediaan fasilitas pengobatan serta penyediaan OAT standar yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat Indonesia yang menderita TB. Komitmen ini harus berjalan secara utuh dan menyeluruh serta terintegrasi dari pemerintah daerah hingga pusat sehingga penanggulangan TB benar-benar berjalan sebagai gerakan nasional.

Melalui sinergitas dan kontinuitas dari masing-masing lini baik pasien, tenaga medis maupun pemerintah untuk melakukan pemberantasan secara bersama, maka TB resisten dapat dicegah dan disembuhkan.

Mari Bersama Melawan TB, Sumber Gambar

Tulisan ini diikut sertakan pada Lomba blog Temukan dan Sembuhkan Pasien TB Serial ke #4: TB Resisten Obat.

Sumber Informasi:

http://www.tbindonesia.or.id

[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Tuberkulosis

[2] http://medicastore.com/tbc/pengobatan_tbc.htm

 

About evrinasp

I am an Agricultural Extension Officer, Blogger and Hiker

Discussion

22 thoughts on “Pencegahan dan Pengobatan TB Resisten

  1. semoga Indonesia bisa bebas TB dan Tb resisten

    Posted by Ida Nur Laila | May 18, 2014, 7:42 am
  2. kereen, serius nih nulisnya…🙂 yuk ganteng pasien TB biar ga ada lg yg TB resisten

    Posted by rodamemn | May 18, 2014, 11:12 am
  3. sukses mak..:)

    Posted by Erlina Fitriani | May 18, 2014, 12:17 pm
  4. Keren! ulasannya lengkap.

    Posted by Sary Melati | May 18, 2014, 2:08 pm
  5. informasi yang bermanfaat, dan berkualitas
    nice share🙂

    Posted by Fazril | May 20, 2014, 6:01 am
  6. mak…maukah terima liebster award dariku ? http://supertayo.blogspot.com/2014/05/liebster-award-dariku-untukmu.html

    Posted by arifah wulansari | May 20, 2014, 2:23 pm
  7. semoga Indonesia bisa bebas dari TB secepatnya

    Posted by myra anastasia | May 20, 2014, 4:46 pm
  8. Andai gua ngerti tentang TB, pasti gua ikutan ini lomba😦

    Posted by maembie | May 21, 2014, 6:07 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: