//
you're reading...
Contest

Menghadapi Kolaborasi TB-HIV

TB dan HIV

TB dan HIV

Dua permasalahan kesehatan yang harus segera diatasi adalah kasus HIV dan TB. Bersama dengan malaria, kedua penyakit tersebut menjadi komitmen global dalam MDGs (Millenium Development Goals) untuk pengendaliannya. Baik HIV maupun TB merupakan penyakit menular yang jumlah kasusnya cenderung bertambah dalam kurun waktu tertentu sehingga perlu penanganan maksimal untuk menekan penyebarannya. Kedua penyakit tersebut memiliki perbedaan cara penularan dan mengakibatkan infeksi yang berbeda pula, namun apabila keduanya bersekutu, kedua penyakit tersebut dapat menjadi ancaman bagi keselamatan seseorang baik seseorang dengan HIV positif maupun orang yang sehat. Untuk lebih jelasnya mari kita bahas satu per satu.

Pengetahuan Umum Tentang HIV

HIV atau Human Imunodeficiency Virus adalah virus yang dapat menyebabkan penurunan imunitas tubuh. Infeksi HIV akan menyebabkan beberapa gejala penyakit yang dapat menyerang tubuh atau disebut dengan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Gejala penyakit yang akan menyerang penderita akibat HIV seperti berbagai macam penyakit infeksi dan kanker yang tidak biasa. Virus HIV menyerang sistem pertahanan tubuh karena dia mampu membunuh satu jenis sel darah putih yang disebut dengan sel CD4. Sel ini merupakan bagian penting dari sistem kekebalan tubuh kita, sistem kekebalan tubuh akan menjadi lemah apabila jumlah sel CD4 jumlahnya berkurang.

Seseorang yang tertular HIV tidak akan langsung merasakan kekebalan tubuhnya melemah, dia dapat hidup bersama HIV selama bertahun-tahun tanpa merasakan gangguan kesehatan yang berat. Gejala awal yang dirasakan oleh penderita apabila terinfeksi HIV sama dengan penyakit infeksi akibat virus seperti demam, flu, sakit kepala dan lain-lain. Setelah dua minggu gejala tersebut akan hilang karena virus HIV sedang memasuki fase inkubasi. Beberapa tahun hingga sekitar sepuluh tahun kemudian penderita baru akan merasakan tanda dan gejala sebagai penderita AIDS [1].

Kasus HIV/AIDS di Indonesia menjadi salah satu prioritas penanganan karena cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Data yang diperoleh dari Kementerian Kesehatan (2013) menunjukan sampai dengan tahun 2005 kasus baru HIV positif sebesar 859 kasus kemudian meningkat menjadi 21.511 kasus pada tahun 2012 dengan jumlah estimasi ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) dewasa tahun 2012 sebesar 591.823 orang. Provinsi dengan jumlah HIV tertinggi terdapat pada DKI Jakarta, Papua, dan Jawa Timur yang sebagian besar ditemukan pada usia produktif. Penularan melalui hubungan heteroseksual merupakan cara penularan dengan persentase tertinggi sebesar 77,75%, diikuti oleh penggunaan jarum suntik sebesar 9,16% dan penularan HIV dari ibu ke anak sebesar 3,76%.

Tuberkulosis (TB)

Seperti yang sudah dibahas pada minggu sebelumnya, TB atau Tuberkulosis adalah penyakit menular akibat bakteri Mycobacterium tuberculosis. TB lebih banyak menyerang organ paru-paru manusia meskipun dapat menyerang organ-organ tubuh lainnya. Gejala seperti batuk berdahak yang tidak kunjung sembuh hingga tiga minggu lamanya, meriang, berkeringat dimalam hari, penurunan berat badan dan lemah menjadi indikator seseorang terkena TB. Kuman TB dapat menular melalui dropet (cairan ludah) seseorang yang mengandung kuman TB ketika dia bersin atau batuk. Kuman TB dapat bertahan beberapa saat di udara meskipun akan mati apabila terpapar sinar matahari. Seseorang yang positif terjangkit TB akan menjalani pengobatan dengan mengkonsumsi beberapa obat anti TB (OAT) yang telah direkomendasikan secara teratur dan tidak terputus hingga minimal enam bulan lamanya.

Angka notifikasi merupakan kecenderungan meningkat atau menurunnya penemuan pasien TB disuatu wilayah, angka ini menunjukan kasus baru TB paru dengan BTA positif (tuberculosis paru dengan jenis bakteri yang tahan asam positif) dari tahun 2007-2011 mengalami peningkatan kecuali tahun 2012 yang sedikit menurun menjadi 82 per 100.000 penduduk. Sedangkan angka notifikasi seluruh kasus BTA positif semenjak 2007 sampai 2012 cenderung meningkat (Kemenkes, 2013). Sedangkan berdasarkan Global Report WHO Tahun 2013 (dalam www.tbindonesia.or.id) menunjukan pada tahun 2012 diperkirakan 8,6 juta orang terjangkit TB dan 1,3 juta orang meninggal karena TB termasuk 320 ribu kematian diantaranya dengan HIV Positif.

Ko Infeksi TB-HIV

Ko Infeksi TB dengan HIV

Ko Infeksi TB dengan HIV

Baik TB maupun HIV apabila berdiri sendiri saja sudah menjadi suatu ancaman bagi kesehatan seseorang. Kedua penyakit tersebut menyumbangkan beban kasus yang cukup besar untuk segera ditangani. Akan lebih berbahaya lagi apabila TB bersekutu dengan HIV karena penanganannya baik penyebaran maupun pengobatan menjadi lebih berat.

Keberhasilan program pengendalian TB di dunia berhubungan erat dengan penanganan HIV karena fakta menunjukan jumlah kasus TB meningkat pada negara dengan beban infeksi HIV yang tinggi seperti Afrika. Mengapa hal tersebut terjadi? Seperti yang dibahas sebelumnya HIV adalah virus yang dapat menurunkan daya tahan tubuh. Seseorang dapat hidup dengan HIV didalam tubuhnya selama bertahun-tahun tanpa merasa sakit atau mengalami gangguan kesehatan yang berat karena virus HIV sedang mengalami masa inkubasi. Namun lamanya masa sehat ini akan diperpendek apabila penderita terserang TB [2]. Jumlah CD4 yang semula masih memungkinkan untuk kesehatannya akan menurun drastis sehingga melemahkan pasien.

Begitu pula sebaliknya, seseorang yang terinfeksi bakteri TB tidak langsung terkena penyakit TB karena bakteri TB dalam tubuh mengalami dormansi atau tidak aktif (TB laten) ditambah dengan kondisi kesehatan yang terjaga dan daya tahan tubuhnya kuat mampu menekan bakteri ini sehingga tidak akan menderita TB. Namun apabila seseorang yang mengandung TB laten terkena HIV maka bakteri TB tadi akan aktif dan menyerang penderita. Itulah sebabnya mengapa TB dan HIV saling berkaitan, TB dapat menyerang seseorang yang terjangkit HIV dan TB dapat aktif dalam tubuh seseorang apabila dia terkena HIV. Pasien yang terdapat TB dengan HIV dalam tubuhnya dan ODHA dengan TB disebut dengan pasien ko-infeksi TB-HIV.

Pentingnya Deteksi Dini Infeksi TB dan HIV

Mengetahui sejak dini bahwa seseorang terjangkit TB memudahkan dirinya untuk melakukan pengobatan sejak awal karena penyakit TB ini memerlukan pengobatan secara teratur dalam rentang waktu yang cukup lama hingga enam bulan lamanya tergantung dengan beratnya penyakit. Sedangkan mengetahui bahwa seseorang terinfeksi HIV selain melakukan tindakan preventif untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya melalui pengobatan ART (anti retroviral) juga sebagai pencegahan agar pasien dengan HIV positif maupun ODHA tidak terjangkit TB, mengingat TB mudah sekali menyerang seseorang yang memiliki kekebalan tubuh rendah.

Diperkirakan jumlah pasien TB dengan status HIV positif di Indonesia pada tahun 2013 sebesar 7,5% mengalami peningkatan dibanding tahun 2012 sebesar 3,3% (Global Report WHO 2013 dalam www.tbindonesia.or.id). Peningkatan ini cukup besar yang mengindikasikan bahwa kedua penyakit tersebut sangat berhubungan erat sehingga mengetahui sejak dini dapat menimimalisir berkembanganya TB pada pasien HIV positif sekaligus menekan penyebaran keduanya.

Tantangan Utama dalam Pengendalian TB dan HIV

Tantangan utama dalam pengendalian TB dan HIV adalah mencegah meluasnya penularan kedua penyakit tersebut dan mencegah terjadinya interaksi diantara kedua penyakit tersebut. Eratnya kaitan antara TB dengan HIV membutuhkan kolaborasi penanganan antara keduanya secara tepat dan tegas. Hal tersebut adalah tantangan utama yang harus dihadapi dalam penanganan TB dan HIV dari awal hingga akhir, artinya mulai dari proses penanganan untuk pencegahan dini hingga proses monitoring dan evaluasi. Tepat dalam arti sesuai dengan sasaran dan tujuan penanganan dan tegas dalam arti berdasarkan peraturan sehingga penanganan berada dalam koridor yang ditetapkan. Beberapa tantangan utama terkait pengendalian TB dan HIV maupun interaksi TB-HIV dapat dijabarkan dalam poin-poin berikut ini:

Pertama, Meningkatkan Pelayanan TB-HIV Secara Terpadu

Seringkali penderita TB terdeteksi terkena HIV apabila sudah mengidap TB terlebih dahulu, sedangkan ODHA dapat dengan mudah terkena TB apabila berinteraksi dengan orang yang terkena TB positif sehingga pelayanan TB-HIV secara terpadu perlu dilakukan. Pelayanan ini meliputi penyediaan fasilitas kesehatan misalnya klinik TB-HIV, kemudahan akses untuk mendeteksi dini, tersedianya sumber daya manusia dalam bidang medis untuk menangani serta tersedia kebijakan serta peraturan yang menaungi. Misalnya pasien TB-HIV dapat mengunjungi satu klinik saja untuk konsultasi maupun melakukan pengobatan; terdapat pelayanan yang cepat berkat tersedianya tenaga medis yang memadai sehingga dapat mengurangi interaksi ODHA dengan pasien TB lainnya begitu pula sebaliknya sehingga resiko penularan menjadi minim; kemudian apabila pasien TB dicurigai terinfeksi HIV maka segera diberi rujukan untuk melakukan tes HIV [2]. Kecenderungannya adalah pasien terdeteksi HIV positif setelah terinfeksi TB sehingga upaya pencegahan menjadi terhambat. Maka upaya pendeteksian dini secara terpadu pada satu fasilitas kesehatan diharapkan dapat meminimalisir interaksi kedua penyakit tersebut.

Pelayanan TB-HIV terpadu

Pelayanan TB-HIV terpadu

Kedua, Memastikan pelayanan optimal bagi pasien terdiagnosis TB-HIV

Bagi pasien yang sudah terdiagnosis TB-HIV perlu diberikan pelayanan yang optimal dengan dukungan pengobatan HIV melalui pemberian Krotimoksasol dan ARV. Pelayanan yang optimal tidak berhenti hanya sampai pada pemberian obat saja. Pemantauan ketika pasien TB-HIV mengkonsumsi OAT maupun ART juga perlu dilakukan. ODHA yang terinfeksi TB maupun sebaliknya akan mengkonsumsi obat yang banyak sekaligus yaitu OAT dan ARV yang seringkali menimbulkan efek samping. Efek samping ini kadang sulit untuk diketahui dari obat yang mana karena beban obat dapat terlalu besar sehingga diperlukan pemantauan terhadap konsumsi kedua jenis obat agar pasien tidak merasakan terbebani dengan memperhatikan waktu serta besarnya infeksi dari masing-masing penyakit.

Ketiga, Meningkatkan Fasilitas Pelayanan TB-HIV

Fasilitas pelayanan TB-HIV terpadu diharapkan tersedia secara merata pada semua daerah untuk mengoptimalkan pencegahan interaksi kedua penyakit tersebut, terutama pada daerah-daerah endemis TB maupun HIV. Pada tahun 2012 diketahui bahwa Jumlah kasus tertinggi TB yang dilaporkan terdapat pada provinsi dengan jumlah penduduk yang tinggi yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, sedangkan provinsi dengan jumlah HIV tertinggi yaitu DKI Jakarta, Papua, dan Jawa Timur (Kemenkes, 2013). Fasilitas Layanan kolaborasi TB-HIV pada tahun 2012 mencapai 223 layanan dimana pada Jawa Barat terdapat 20 layanan, Jawa Tengah 20 layanan, DKI Jakarta 19 layanan, dan Papua sebanyak 18 layanan kolaborasi TB-HIV. Sementara untuk provinsi lainnya hampir sebagian besar masih dibawah 10 layanan pada tahun 2012.

Keempat, Upaya Pencegahan Melalui Pendeteksian Dini dan Skrining

Untuk mengendalikan penularan kuman TB dapat dilakukan upaya pendeteksian dini terhadap pasien dengan suspect TB. Langkah pencegahan dini selain memudahkan pengobatan juga menekan kuman TB menjadi resisten yang tentunya berbahaya jika bersekutu dengan HIV. Sedangkan untuk mencegah penyebaran HIV juga dapat melalui pendeteksian dini dan penemuan penderita melalui skrining HIV dan AIDS. Skrining dapat dilakukan terhadap hasil donor darah, pemantauan pada kelompok berisiko seperti penderita penyakit menular seksual (PMS), pengguna narkoba melalui jarum suntik dan pada kelompok berisiko rendah seperti ibu rumah tangga.

Apabila kuman penyakit bisa berkolaborasi maka kita juga dapat berkolaborasi untuk mengendalikannya dengan menjaga lingkungan tetap bersih, menyadari gejala yang dirasakan melalui pendeteksian dini, menjaga perilaku dengan mematuhi norma-norma yang ada serta peduli antara satu dengan yang lainnya untuk saling mengingatkan dan menguatkan bahwa TB-HIV bisa kita hadapi.

Kalau kuman saja bisa bersatu, masa kita tidak bisa?

together we can

together we can

Tulisan ini diikutsertakan pada lomba blog #SembuhkanTB Serial Ke-5: “TB dan HIV: Tantangan ke Depan”

Sumber Informasi Tulisan:

http://www.tbindonesia.or.id

http://www.depkes.go.id

Pusat Data dan Informasi Kemeterian kesehatan Republik Indonesia. 2013. Profil Kesehatan Indonesia 2012. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. 507hal.

http://health.kompas.com/read/2014/03/03/1709531/HIV.Bikin.Angka.Kejadian.TB.Tinggi.Kenapa.

[1] http://www.slideshare.net/budi_hermawan_a/buku-informasi-pp-pl-2013

[2] Yayasan Spiritia. 2006. Seri Buku Kecil HIV dan TB. Jakarta: Yayasan Spiritia, 36hal.

Sumber Gambar:

Yayasan Spiritia. 2006. Seri Buku Kecil HIV dan TB. Jakarta: Yayasan Spiritia, 36hal.

textbookofbacteriology.net

www.hivehealthmedia.com

 

About evrinasp

I am an Agricultural Extension Officer, Blogger and Hiker

Discussion

10 thoughts on “Menghadapi Kolaborasi TB-HIV

  1. Jiahh…slalu keyenn. Kayaknya menang bakalan menang nih🙂

    Posted by wyuliandari | June 1, 2014, 9:51 am
  2. wah bakalan menang nih kayaknya hehe…

    Posted by moocensusan | June 1, 2014, 10:41 am
  3. Mantep, nih.detail banget, Minder aku baca postinganmu, mak🙂

    Posted by Efi Fitriyyah | June 1, 2014, 11:06 am
  4. Sukses mak…tulisannya lengkap. aku pamit dulu nggak ikut seri 5

    Posted by ida nur Laila | June 1, 2014, 11:46 am
  5. lengkap cekaliii…:)

    Posted by Yuni andriyani | June 1, 2014, 2:08 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: