//
you're reading...
Contest

Ruwatan Rambut Gimbal di Tanah Persemayaman Para Dewa

Kebudayaan Indonesia sangat beraneka ragam yang berasal dari masing-masing daerah dengan ciri khas tertentu. Salah satu kebudayaan yang tetap lestari terdapat pada daerah dengan ciri khas dataran tinggi yaitu Wonosobo. Wono yang berarti hutan, dan Sobo yang berarti dikunjungi ini memiliki kaitan dengan peran tiga orang pengembara yaitu Kyai Kolodete, Kyai Karim, dan Kyai Walik. Secara berurutan mereka membuka tiga wilayah di Wonosobo yaitu Dataran Tinggi Dieng, Kalibeber, dan wilayah yang saat ini menjadi Kota Wonosobo. Diusianya yang menginjak 169 tahun tepat pada tanggal 24 Juli 2014, Wonosobo kembali menunjukkan potensi yang dimilikinya melalui Dieng Culture Festival dengan menampilkan Ruwatan Rambut Gimbal kebudayaan asli Wonosobo khususnya pada Dataran Tinggi Dieng.

Dieng Culture Festival

Dieng Culture Festival

Berawal dari mitos

Menurut informasi Dieng berasal dari bahasa kawi, dimana “Di” memiliki arti tempat atau gunung dan “hyang” yang berarti dewa, sehingga Dieng dapat diartikan sebagai tempat tinggi yang menjadi persemayaman para dewa. Ditanah ini terjadi fenomena unik yaitu munculnya rambut gimbal pada anak-anak mulai dari usia 40 hari hingga enam tahun meskipun ketika dilahirkan rambut anak-anak tersebut tidak gimbal.

Masyarakat Dieng meyakini munculnya rambut gimbal merupakan warisan leluhurnya yaitu Kyai Kolodete. Menurut cerita, demi kemakmuran desa, Kyai Kolodete bersumpah tidak akan memotong rambutnya dan tidak akan mandi sebelum desa yang dibukanya menjadi makmur, hal inilah yang menyebabkan keturunan Kyai Kolodete nantinya akan mempunyai ciri rambut yang sama seperti dirinya. Versi lain menyebutkan bahwa munculnya rambut gimbal pada anak-anak merupakan titipan Kanjeng Ratu Kidul di Pantai Selatan terutama bagi masyarakat yang masih menganut kepercayaan Kejawen. Hal ini terlihat dengan adanya partisipasi beberapa kelompok masyarakat Wonosobo dalam melakukan ritual seperti keraton Yogyakarta untuk Nyi Roro Kidul [1].

Munculnya rambut gimbal diawali dengan gejala demam selama beberapa waktu. Gejala ini tidak dapat disembuhkan dan akan sembuh dengan sendirinya. Ketika sembuh, rambut sang anak akan menempel satu sama lain hingga menjadi gimbal. Tidak hanya itu, perubahan lain yang dialami oleh anak gimbal adalah tingkah lakunya yang lebih banyak menyendiri. Pada kondisi ini masyarakat menganggap si anak sedang bermain dan berbicara dengan teman gaibnya. Anak-anak yang memiliki rambut gimbal dianggap membawa kesialan apabila rambutnya tidak diruwat dan sebaliknya akan memberikan rezeki setelah dilakukan pemangkasan.

Anak Dieng dengan rambut gimbal, sumber gambar: http://klikhotel.com

Proses ruwatan dapat dilakukan apabila sang anak telah meminta sendiri untuk dipangkas rambutnya. Apabila orang tua melanggar maka si anak akan jatuh sakit dan rambutnya menjadi gimbal kembali. Dalam upacara ruwatan nanti orang tua harus memenuhi permintaan yang diinginkan anak rambut gimbal. Permintaan mereka cukup unik ada yang meminta permen, sepeda, kambing, mainan, perhiasan, pakaian dan sebagainya sesuai keinginan mereka.

Tata cara ruwatan Rambut Gimbal

Upacara ruwatan dapat dilakukan apabila keinginan sang anak sudah dipenuhi oleh orang tuanya. Umumnya ritual ini dilakukan ketika si anak telah cukup umur sekitar 7 hingga 10 tahun sehingga tidak merasa takut untuk melaksanakan upacara. Prosesi ruwatan secara garis besar dapat digambarkan sebagai berikut (dirangkum dari berbagai sumber):

  1. Ritual doa, dimulai sehari sebelumnya dengan berdoa dibeberapa tempat agar upacara lancar. Tempat-tempat tersebut yaitu Candi Dwarawati, komplek Candi Arjuna, Sendang Maerokoco, Candi Gatot Kaca, Telaga Balai Kambang, Candi Bima, Kawah Sikidang, komplek Pertapaan Mandalasari (gua di Telaga Warna), Kali Pepek, dan tempat pemakaman Dieng.
  2. Upacara Jamasan Pusaka dimalam hari, yaitu pencucian pusaka yang dibawa saat kirab keesokan harinya.
  3. Kirab, dimulai dari rumah sesepuh pemangku adat menuju tempat pencukuran. Di rumah tersebut dipersiapkan berbagai sesaji seperti tumpeng dengan beberapa warna, jajanan pasar, bubur nasi, ayam panggang, dan juga kembang setaman. Selama berkeliling desa, anak-anak rambut gimbal mengenakan pakaian adat jawa dan memakai ikat kepala berwarna putih serta dikawal para sesepuh, para tokoh masyarakat, kelompok-kelompok paguyuban seni tradisional serta masyarakat dengan menaiki andong. Prosesi ini berakhir di Sendang Maerokoco atau Sendang Sedayu.
  4. Pemandian di sumur Sendang Sedayu atau Sendang Maerokoco. Saat memasuki sumur, anak-anak dilindungi payung Robyong dan kain panjang di sekitar Sendang Maerokoco, kemudian dikawal menuju tempat pencukuran.
  5. Prosesi pencukuran, anak berambul gimbal yang mengikuti prosesi dipanggil satu-persatu. Proses pencukuran rambut berlangsung sekitar 30 menit bertempat di depan Candi Arjuna. Rambut yang telah dicukur tersebut dibungkus dengan kain putih untuk dilarungkan kemudian.
  6. Penyerahan permintaan, upacara dilanjutkan dengan menyerahkan benda atau permintaan yang diinginkan oleh anak-anak tersebut.
  7. Pelarungan rambut, para abdi upacara bertugas menghanyutkan potongan rambut gimbal ke Telaga Warna yang mengalir ke Sungai Serayu dan berhilir ke Pantai Selatan di Samudera Hindia. Pelarungan ini memiliki arti pengembalian bala (kesialan) yang dibawa anak rambut gimbal kepada para dewa dengan harapan akan tergantikan dengan rejeki.

Berikut video prosesi ruwatan rambut gimbal yang diambil dari Youtube:

Dieng culture festival, Potensi Kearifan Lokal

Panorama Dieng yang sangat indah ditambah dengan prosesi ruwatan rambut gimbal menjadi nilai tambah tersendiri untuk mempromosikan potensi Wonosobo secara keseluruhan. Oleh karena itu pemerintah daerah memasukan prosesi ruwatan sebagai acara puncak dalam agenda tahunan pada “Dieng Culture Festival”. Banyak nilai positif yang didapatkan dalam Dieng Culture Festival ini, diantaranya:

  1. Melestarikan Kebudayaan, selain tradisi ruwatan, festival ini juga menampilkan berbagai kesenian seperti warok, lengger, tek-tek, rampakyaksa, barongsai, angklung, dan lain-lain sehingga secara tidak langsung ikut melestarikan kebudayaan.
  2. Mempromosikan potensi daerah, festival ini menjadi salah satu media promosi bagi pemerintah maupun masyarakat untuk memperkenalkan potensi daerah kepada pihak luar.
  3. Membantu masyarakat, prosesi ruwatan yang mengharuskan untuk menyediakan berbagai persyaratan serta melalui banyak tahapan tentunya membebani orang tua karena membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Adanya ruwatan masal dalam festival ini membuat masyarakat tidak perlu mengeluarkan biaya karena telah ditanggung pemerintah.
  4. Menambah pemasukan daerah dan masyarakat. Acara ini tentunya akan menarik para wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk datang ke Wonosobo. Hal ini akan menambah pemasukan daerah maupun masyarakat disekitar.
  5. Mengenalkan salah satu budaya Indonesia ke mata dunia.

Diusianya yang ke-189 tahun, Kabupaten Wonosobo telah mencapai berbagai macam keberhasilan, diharapkan pencapaian ini dapat terus dipertahankan bahkan ditingkatkan. Kedepannya semoga Kabupaten Wonosobo menjadi salah satu destinasi wisata favorit yang menjadi ciri khas Indonesia yang mampu membawa Indonesia khususnya Kabupaten Wonosobo terkenal dimata dunia.

Yuk, datang ke Wonosobo

Yuk, datang ke Wonosobo

Dirgahayu Kabupaten Wonosobo ke-189 tahun. Sukses selalu…..”

Postingan artikel ini diikutsertakan dalam Giveaway #HariJadiWonosobo189

 

About evrinasp

I am an Agricultural Extension Officer, Blogger and Hiker

Discussion

9 thoughts on “Ruwatan Rambut Gimbal di Tanah Persemayaman Para Dewa

  1. Ajakin akuh dong mak ke Dieng😉

    Posted by momtraveler | July 22, 2014, 4:44 am
  2. Sukses untuk lombanya ya🙂
    Sudah sering baca dan nonton di televisi tentang ruwatan gimbal ini, tapi tetap penasaran untuk melihatnya sendiri🙂

    Posted by indahjuli | July 25, 2014, 12:53 am
  3. wih keren nih, di Indonesia ada juga ritual kaya begini, rambut gimbal !
    ini bukti dari banyaknya kebudayaan Indonesia, Indonesia Raya..

    Posted by fazril | August 5, 2014, 4:56 am
  4. mmmhhh….kapan2 bawa anak2 liburan ke dieng seru kayaknya….tq infonya

    Posted by dewi lestari | August 5, 2014, 5:28 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Update Peserta Sementara Giveaway #HariJadiWonosobo189 | Majalah online Go lokal - July 23, 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: