//
archives

Archive for

Berani Menoreh Mimpi

Memiliki impian bagi saya adalah hal yang membahagiakan karena dengan bermimpi kita akan memiliki target serta tujuan hidup. Hal ini akan membuat hidup kita menjadi lebih dinamis. Bagaimana tidak, bermimpi akan membuat kita untuk berusaha menggapainya dengan cara pun. Dan apabila saat itu tiba maka hidup akan terasa berwarna.

Jika ditanya apa impian anda, maka katakanlah dengan lantang. Karena sebuah mimpi memiliki kekuatan dasyat yang dapat mempengaruhi pikiran kita. Jangan malu untuk mengatakan mimpi yang kita punya karena menurut Zig Ziglar manusia yang paling miskin adalah manusia yang hidup tanpa impian. Bermimpi itu gratis, tidak ada yang melarangnya jadi jangan takut untuk bermimpi. Saya sangat menyukai kalimat dalam The Alchemist karya Paulo Coelho yang mengatakan ketika kita benar-benar menginginkan sesuatu, maka seluruh alam semesta akan bahu membahu membantu kita untuk mewujudkan mimpi menjadi nyata. Paling tidak itulah yang pernah saya rasakan, ketika memiliki mimpi dan terus memikirkannya, entah bagaimana caranya saya dapat meraih mimpi tersebut. Ketika itu seperti ada saja jalan yang memudahkan saya untuk menggapai mimpi itu. Begitu dasyat kekuatan mimpi sehingga membuat Bill Gates menjadi orang paling kaya di dunia saat usianya baru mencapai 30 tahun setelah berhasil mewujudkan impian untuk membuat komputer, dan mimpi jugalah yang membuat Mahatma Gandhi berhasil membebaskan India dari penjajahan tanpa menggunakan kekerasan, padahal kebanyakan orang menganggap impian tersebut adalah hal yang mustahil (Prakuso, 2010).

Jadi, masih takut untuk bermimpi? Kalau saya tidak, saya masih mempunyai beberapa daftar mimpi yang saat ini sudah dan akan dicapai. Menurut Bambang Prakuso seperti tertuang dalam bukunya yang berjudul My Dream, mimpi itu harus tertulis dan dipublikasikan, karena apabila kita malu untuk menyampaikan mimpi yang dimiliki justru akan membuat mimpi tersebut akan sulit terwujud. Oleh karena itu mulailah untuk menuliskan beberapa mimpi yang teman-teman miliki, dan yakinkan dalam diri kalau kita mampu untuk mewujudkannya.

Mau tahu impian saya? Impian yang ingin saya wujudkan dalam jangka waktu dekat ini tidak muluk-muluk dan mungkin sama dengan teman-teman semua. Berikut adalah daftar impian saya yang kebanyakkan berbau Mimpi Properti:

Mimpi ke #1: Memiliki Rumah Tropis Minimalis

Rumahnya sedang dibangun

Rumahnya sedang dibangun

Mendapatkan fasilitas rumah dinas tidak membuat saya dan suami terlena untuk menunda memiliki rumah pribadi, karena rumah dinas adalah milik negara yang suatu saat harus dikembalikan. Paling tidak saya dapat belajar dari beberapa kasus yang pernah saya lihat di televisi ketika seseorang terpaksa diusir dari rumah dinasnya lantaran hak pemakaian rumah tersebut sudah habis. Kami tidak ingin mengalami kejadian tersebut, maka memiliki rumah adalah impian kami yang paling pertama dan menjadi prioritas. Alhamdulillah mimpi tersebut terwujud setelah kami bahu membahu membeli sebidang tanah dan membangunnya dengan cita rasa kami sendiri.

Membangun rumah tropis minimalis, itulah impian kami. Sebuah rumah hijau dan asri yang menjadi tempat berkumpulnya keluarga. Membangun rumah ini cukup memakan banyak biaya, dan sampai saat ini kami masih dalam tahap penyelesaian. Tetapi melihat sedikit demi sedikit rumah impian tersebut terwujud membuat kami merasa bahagia. Rencananya kami ingin membuat taman kecil baik di halaman depan dan halaman belakang rumah, lengkap dengan tanamannya sesuai konsep tropis minimalis.

Mimpi ke #2: Memiliki Ruko

Ingin memiliki salah satu ruko

Ingin memiliki salah satu ruko

Mimpi properti saya selanjutnya adalah memiliki ruko atau rumah toko. Pada ruko tersebut saya ingin berwiraswata menyalurkan hobi yaitu menjadikannya sebuah toko pertanian yang modern. Pada toko tersebut tidak hanya menjual pelengkapan pertanian saja, juga turut serta menyebarkan semangat untuk gemar menanam dengan menyajikan berbagai inovasi penanaman bagi seseorang yang sulit untuk menanam di rumahnya. Harga ruko memang sangat mahal, apalagi jika letaknya sangat strategis. Tapi kalau kita sudah memiliki mimpi saya yakin suatu hari ruko tersebut dapat saya miliki.

Mimpi ke #3: Memiliki Mobil

ingin juga memiliki mobil sendiri

ingin juga memiliki mobil sendiri

Kebanyakan orang apabila sudah memiliki rumah maka prioritas selanjutnya adalah memiliki mobil. Namun tidak bagi saya, karena saya bukan termasuk orang yang sering bepergian ke luar kota, maka memiliki kendaraan motor saja sudah cukup untuk menemani kegiatan saya sehari-hari. Karena harga mobil sama mahalnya dengan harga ruko, maka saya lebih mendahulukan memiliki ruko yang nilai investasinya lebih menjanjikan. Apabila suatu hari saya bisa memiliki keduanya sekaligus rasanya akan senang sekali. Mari kembali bermimpi.

Apabila ketiga mimpi di atas erat sekali dengan kebutuhan pribadi, maka mimpi saya yang keempat ini berkaitan dengan orang lain terutama masyarakat di sekitar rumah. Mimpi saya yang keempat yaitu membangun sebuah Taman Bacaan untuk masyarakat.

Mimpi ke #4: Membangun Taman Bacaan

Harus punya taman bacaan

Harus punya taman bacaan

Saya sangat prihatin dengan semakin berkurangnya area bermain untuk anak-anak di lingkungan rumah. Tak jarang mereka harus menyingkir terlebih dahulu apabila ada mobil atau motor yang lewat lantaran mereka bermain di jalanan umum. Kadang saya juga melihat mereka duduk termenung seolah bosan dengan kegiatannya. Berbeda dengan masa kecil saya dulu dimana tanah lapang masih tersedia, saya beserta teman-teman bebas berlarian sesuka hati. Untuk itu saya ingin sekali membuat Taman Bacaan bagi masyarakat terutama anak-anak agar mereka memiliki kegiatan yang lebih produktif dengan membaca. Kebetulan saya dan suami suka mengoleksi buku seperti komik, novel dan buku cerita anak-anak, daripada diletakkan saja di lemari, akan lebih baik apabila buku-buku tersebut dapat dibaca oleh orang lain. Saya sudah menyampaikan hal ini kepada suami, kalau saya ingin membuat Taman Bacaan mini di rumah dengan memanfaatkan areal depan rumah, dan alhamdulillah suami sudah menyetujui. Semoga impian saya ini dapat terwujud suatu hari. Aamiin.

Keempat mimpi tersebut adalah mimpi saya yang pencapaiannya berwujud fisik. Namun masih ada mimpi lain yang ingin sekali saya wujudkan yaitu berdiri di puncak Mahameru, terbang ke Korea Selatan dan menjalankan Ibadah haji.

My Dream

My Dream

Rasanya akan bangga dan terharu sekali apabila kaki ini bisa melangkahkan kaki menuju puncak tertinggi di Pulau Jawa pada negeri tercinta ini. Membayangkan duduk di puncak Mahameru dan memandang lautan awan putih saja sudah membuat saya bersemangat sekali untuk kesana. Sayangnya, sampai sekarang saya belum berhasil menuju Mahameru, perjalanan yang memakan waktu lebih dari tiga hari belum memungkinkan saya dan teman-teman untuk melakukan perjalanan menuju Mahameru. Tapi, bolehkan kita bermimpi dan menggantungkan cita-cita ini setinggi langit karena siapa tahu suatu hari saya bisa kesana.

Suatu hari harus ke semeru

Suatu hari harus ke semeru

Lalu mengapa saya ingin sekali ke Korea Selatan? Saya adalah termasuk penggemar serial drama korea terutama yang bertemakan kolosal pada zaman Dinasti Joseon. Saya sangat penasaran sekali bagaimana bentuk aslinya Istana yang menjadi latar belakang drama Korea di zaman Joseon, juga ingin merasakan dinginnya musim gugur serta salju di Winter Sonata. Korea Selatan menyimpan sejuta wisata yang menakjubkan termasuk keindahan Pulau Jeju. Wisata kuliner serta wisata budaya juga menjadi daya tarik Korea Selatan. Siapa tahu saya bisa kesana dan bertemu para bintang Kpop yang cantik dan ganteng-ganteng itu. Sekali lagi bolehlah bermimpi.

Nah, mimpi untuk pergi haji ini wajib saya penuhi. Mulai saat ini saya harus sudah menabung dan meniatkan diri untuk pergi ke tanah suci Mekkah. Saya yakin semua orang ingin melangkahkan kaki juga kesana, maka jangan ragu untuk meniatkan dan berusaha mewujudkannya. Kata ustadz orang yang yakin akan menginjakkan kaki ke Mekkah akan dimudahan jalannya. Jadi benar tercapainya mimpi adalah bagaimana kita niat untuk mewujudkannya dan bukan hanya angan belaka.

Apabila melihat semua daftar mimpi tersebut kadang saya suka bertanya sendiri, kira-kira dapat terwujud tidak ya? Tidak usah khawatir karena sekali lagi bermimpilah setinggi-tingginya, apalagi tulisan tentang mengejar mimpi ini membebaskan kita untuk meluapkan mimpi setinggi-tingginya pada Kontes Mimpi Properti. Teman-teman dapat bebas meluapkan apa saja yang ingin diwujudkan pada kontes ini. Makanya ikutan Kontes Mimpi Properti yuk, masih ada waktu sampai tanggal 31 Agustus 2014 ini . Saya juga masih punya mimpi yang tak kalah dari mimpi-mimpi di atas yaitu menjelajah ke luar angkasa, suatu mimpi yang mustahil tapi bisa di wujudkan. Namun untuk mewujudkan mimpi itu kita harus fokus sehingga mempunyai langkah-langkah real untuk mewujudkannya.

Nah, jadi siapa yang masih takut untuk bermimpi? Siapa juga yang masih malu mengutarakan mimpinya? Bermimpilah setinggi-tingginya, karena melalui mimpi itu kita akan menjadi orang yang berhasil dan bermanfaat. Selamat bermimpi kawan.

“Kalau seorang dengan keyakinan menuju impian-impiannya dan berusaha untuk mewujudkan hidup yang telah diimajinasikannya, Ia akan bertemu dengan kesuksesan-kesuksesan yang tak terduga dalam waktu yang wajar”

–Henry David Thoreau-

Tulisan ini diikut sertakan pada Event Blog Kontes Mengejar Mimpi yang diadakan oleh Mimpi Properti Periode 21 Juli-31 Agustus 2014 dan Alhamdulillah masuk ke dalam 20 finalis 

Referensi:

Prakuso, B. 2010. My Dream (Impian Ku). Jakarta: Alfaleta. 67hal.

Advertisements

Rumah Baru Ku

Hallo teman-teman, piye kabare? apaik-apik wae tho? (baca: bagaimana kabarnya? baik-baik sajakan?

Postingan ini sebenarnya ‘gak penting banget sih, cuma mau woro-woro saja karena akhirnya punya situs pribadi sendiri menyusul teman-teman lainnya yang sudah punya rumahnya sendiri. Hehe. Sebenarnya saya ‘gak kepikiran lho untuk mempunyai rumah sendiri karena saya masih jarang untuk menulis, terus saya juga belum menetapkan kemana arah tulisan hendak difokuskan.

Alhamdulillah karena mendapatkan rejeki sekitar bulan Mei lalu dari Warung Blogger berkat tulisan saya yang berjudul Potensi Buah Pala di Kabupaten Bogor, saya mendapatkan free hosting dan domain. Nah, sayang dong kalau hadiahnya tidak dimanfaatkan, makanya sejak hari Sabtu tanggal 16 Agustus 2014 kemarin sayapun memberanikan diri untuk melaunching rumah baru yang sudah disiapkan sejak lama. Seneng banget rasanya karena akhirnya punya rumah sendiri hohoho.

Rencananya di situs pribadi ini saya ingin memfokuskan diri untuk menulis informasi seputar dunia pertanian. Karena profesi yang sedang saya jalani saat ini tidak hanya menuntut untuk mahir di lapangan tetapi juga di atas kertas. Dengan hadirnya rumah baru ini paling tidak membuat saya bertanggung jawab untuk menghidupkannya (halah!). Saya juga tetap ingin mengikuti lomba-lomba maklum saya masih butuh dana untuk mengisi rumah (rumah beneran ni heee) ;p. Kalau sudah punya situs sendiri maka saya harus memelihara dan rajin mengisinya, karena siapa tahu tulisan kita bermanfaat atau bahkan dapat menginspirasi orang lain. Aamiin.

Nah teman-teman, main yuk ke rumah baru saya, alamatnya di sini:

http://evrinasp.com

Teman-teman boleh cemal-cemil sepuas hati, mau jus, kopi atau teh? siap deh, yang penting main saja dulu yuk (main saja lho heee).

O iya sekarang kan sedang 17an ya, pada kesempatan ini saya juga ingin mengucapkan:

Selamat Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke 69

Jayalah Indonesia Ku!

Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT dan negeri tercinta ini juga selalu dalam keadaan yang damai dan sejahtera. Aamiin. Ditunggu ya kedatangannya, nanti kita dapat saling berkunjung dan mempererat tali silaturahim.

Terimakasih.

Belajar dari Aceh, Berdamai dengan Bencana

Pagi itu menjadi pagi yang tidak terlupakan bagi bangsa Indonesia khususnya masyarakat Aceh ketika gempa dasyat menggoyang bumi rencong. Beberapa bangunan retak bahkan roboh dan masyarakat berhamburan ke tanah lapang untuk menghindari reruntuhan. Selang beberapa saat air lautpun surut membuat banyak ikan menggelepar sepanjang pantai. Fenomena ini memicu perhatian warga untuk mengumpulkan ikan yang berserakan. Tetapi siapa sangka, kejadian yang semula dianggap anugerah seketika berubah menjadi bencana ketika gulungan ombak dari Samudera Hindia menerjang deras ke arah pantai serta menghantam apapun yang menghalanginya. Aceh hari itu dirundung duka, dan saat itu juga mata dunia tertuju pada tanah kelahiran Cut Nyak Dien serta Teuku Umar ini. Air laut menggenangi daratan, korban berjatuhan, dan beberapa bangunan saat itu rata dengan tanah karena tersapu gelombang dasyat air laut yang dikenal dengan nama Tsunami. Bencana gempa dan tsunami tidak hanya menyisakan duka tetapi juga mewariskan pekerjaan besar untuk mengembalikan Aceh seperti sedia kala.

Gempa Aceh dan Akibatnya

Gempa yang melanda Aceh dan Sumatera Barat pada hari minggu tanggal 26 Desember 2004 lalu diketahui memiliki kekuatan sebesar 9,1-9,3 skala ritcher dengan kedalaman mencapai 30 km [1]. Gempa bumi itu menghasilkan rekahan sepanjang ±1600 km dengan epicenter gempa dekat Pulau Simeulue dan menerus sampai ke Kepulauan Andaman dengan kecepatan ±2 km/detik. Rekahan atau patahan yang panjang ini selesai dalam waktu ±10 menit saja dan menjadi sumber gangguan volume air laut yang selanjutnya menjadi tsunami besar [2]. Bencana gempa dan tsunami tersebut tidak hanya menimpa Indonesia, tetapi juga menimpa negara lain yang dekat dengan Samudera Hindia seperti Sri Lanka, India, Thailand, Maladewa, Somalia, Myanmar, dan Malaysia. Indonesia merupakan negara yang mengalami dampak terparah, dengan rincian korban di Aceh sebanyak 173.741 jiwa dinyatakan meninggal dan 116.368 orang dinyatakan hilang, sedangkan di Sumatera Utara sebanyak 240 orang dinyatakan meninggal (sumber data BNPB dalam BMKG) [3]. Apabila digabungkan dengan jumlah korban dari negara lain maka bencana ini menelan korban hingga 230.210-280.000 jiwa [1].

Selain memakan korban jiwa, bencana dasyat sepanjang sejarah ini juga menenggelamkan pemukiman di tepi pantai, menyapu bersih banyak bangunan, dan menghasilkan kerusakan infrastruktur yang sangat parah. Pasca gempa dan tsunami juga menyebabkan kelangkaan makanan dan air terutama pada daerah terisolir yang mengalami kerusakan terparah. Wabah penyakit menjadi ancaman lanjutan meskipun bencana sudah terjadi beberapa minggu yang lalu.

Dampak Gempa dan Tsunami Aceh, Sumber: Kompasiana

Kejadian ini membuka mata kita untuk selalu waspada terhadap segala bentuk ancaman yang mungkin terjadi baik di daratan maupun lautan, terlebih untuk negara kepulauan seperti Indonesia.

Mengapa Indonesia Harus Waspada Terhadap Bencana?

Bencana adalah salah satu proses alam yang merupakan ketetapan Tuhan. Bencana akan selalu mengintai mengingat bumi yang menjadi tempat berpijak umat manusia ini terus melakukan pergerakan untuk mencapai posisi stabil. Indonesia merupakan salah satu negara yang harus tanggap terhadap segala bentuk perubahan alam mengingat kepulauan Indonesia terletak pada Cincin Api Pasifik yang merupakan rangkaian gunung berapi dengan garis patahan membentang disepanjang pulau-pulau timur laut dekat dengan New Guinea dan Sabuk Alpide. Kawasan Indonesia yang termasuk dalam rangkaian cincin api tersebut membentang disepanjang kawasan selatan dan barat mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, Flores, hingga Timor-Timor [1].

Pusat Riset Tsunami dan Mitigasi Bencana atau Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) menyebutkan bahwa lempeng bumi dan sesar membuat Indonesia termasuk dalam kategori negara rawan gempa. Jenis tanah yang terdapat dinegara ini turut serta menentukan besarnya daya rusak. Ketiga faktor tersebut tidak dapat terpisahkan dan setiap saat dapat bersentuhan sehingga menyebabkan kerusakan di Indonesia. Lebih lanjut TDMRC menjelaskan bahwa lempeng Indo-Australia dan Pasifik adalah jenis lempeng samudera yang bersifat lentur, sedangkan Eurasia yang merupakan lempeng benua bersifat kaku. Hal tersebut membuat Indo-Australia dan Pasifik menjadi agresif melakukan subduksi (masuk) ke bawah Eurasia. Gesekan antar lempeng ini berlangsung tanpa jeda dengan pergeserannya 3 hingga 7 sentimeter per tahun. Jika ketegangan dan energi keduanya mencapai titik puncak maka terjadi pelepasan energi yang menyebabkan terjadinya gempa tektonik [4].

Gambar Lokasi Gempa di Indonesia, Sumber: http://manajemenproyekindonesia.com

 

Potensi Tsunami ditandakan dengan garis merah, Sumber: BMKG

Proses Terjadinya Tsunami, Sumber: BMKG

Kesiapsiagaan kita menghadapi kondisi geologis tersebut wajib dilakukan untuk menghindari jatuhnya korban jiwa dan besarnya dampak yang mungkin terjadi. Hal ini dapat dilakukan melalui upaya mitigasi bencana yang wajib dilakukan dan ketahui oleh seluruh masyarakat demi keselamatan mereka sendiri. Dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 Pasal 1 angka 9 dijelaskan bahwa Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

Apa yang telah menimpa Aceh hampir sepuluh tahun silam membuat kita belajar bahwa untuk tinggal di Indonesia mengharuskan kita harus selalu waspada akan bencana. Dalam rentang waktu hingga sepuluh tahun sejak bencana tersebut terjadi, Aceh telah melakukan perbaikan dengan melakukan upaya pencegahan, mitigasi bencana hingga terbentuknya kesiagaan dalam menghadapi segala kemungkinan perubahan alam.

Belajar dari Aceh

Bencana gempa dan tsunami yang telah berlalu 10 tahun silam telah memporak-porandakan Aceh. Masyarakat Aceh tidak hanya kehilangan harta benda, keluarga serta sanak saudara saja, tetapi juga menyisakan trauma psikologis yang mungkin masih diingat hingga saat ini. Namun kejadian yang sangat dasyat tersebut tidak menyurutkan semangat Aceh untuk bangkit. Kini Aceh telah bangkit, membangun dirinya untuk kembali seperti sedia kala, menjadi serambi mekah yang dapat menarik siapapun untuk mengunjunginya.

Apabila kita berkunjung ke Aceh maka akan melihat banyak perubahan seperti berdirinya gedung-gedung baru, jalan yang dulu rusak telah beraspal, beberapa bangunan seperti escape building (bangunan untuk evakuasi) telah berdiri sebagai respon dari tanggap darurat apabila bencana terjadi. Apabila dikalkulasikan maka sudah lebih dari 130.000 rumah, 250 km jalan, 18 rumah sakit baru dan infrastruktur lainnya telah dibangun. Kemudian lebih dari 80.000 hektar lahan pertanian telah direhabilitasi dan 15.000 hektar kolam ikan telah dibangun untuk dapat digunakan [5]. Proses rekontruksi yang memakan waktu hingga 8 tahun lamanya merupakan hasil kerjasama antara pemerintah dengan donor internasional melalui Multi Donor Fund for Aceh and Nias (MDF) yang dikelola oleh Bank Dunia. Proses ini tentunya melibatkan banyak pihak termasuk masyarakat itu sendiri.

Salah satu Escape Building, Sumber: http://www.erepublik.com

Selain itu pemerintah daerah serta lembaga terkait juga telah memberikan pendidikan serta pelatihan menghadapi bencana baik kepada petugas maupun masyarakat yang dilakukan secara kontinyu agar mereka siap terhadap segala gejolak alam. Kemudian hal yang lebih menggembirakan adalah telah berdirinya Pusat Riset Tsunami dan Mitigasi Bencana atau TDMRC yang dapat menjadi kiblat bagi daerah lain di Indonesia sekaligus sebagai sumber pembelajaran bagi negara lain mengenai kebencanaan. Guna melengkapi pengetahuan dan sebagai tindakan preventif, Aceh juga banyak belajar dari Jepang dalam hal kesiapsiagaan Jepang ketika menghadapi bencana dan rekonstruksi pasca bencana mengingat Jepang merupakan negara yang sangat berpengalaman dalam menghadapi permasalahan tersebut.

Pusat Riset Tsunami dan Mitigasi Bencana atau TDMRC, Sumber: http://www.tdmrc.org

Pada tingkat nasional Indonesiapun belajar dari Aceh dengan melakukan beberapa upaya diantaranya membentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah pada lebih dari 400 kabupaten di seluruh Indonesia. Selain itu pada tanggal 11 November 2008 lalu pemerintah telah meresmikan sistem peringatan dini tsunami yang diberikan nama dengan InaTEWS atau Indonesia Tsunamy Early Warning System. Informasi yang diambil dari situs BMKG menjelaskan bahwa sistem ini bertugas mendeteksi gejala-gejala alam yang berpotensi menimbulkan tsunami, mencari lokasi pusat gempa, memprediksi kemungkinan kerusakan yang ditimbulkan, menentukan daerah yang akan terkena dampak tsunami, serta meminimalkan jumlah korban jiwa. Sistem ini juga diklaim mampu mengirimkan peringatan tsunami hanya berselang lima menit setelah gempa terjadi apabila gempa itu berpotensi tsunami. Dari sistem ini pula, dapat dipetakan wilayah yang rentan terhadap tsunami di Indonesia, yakni Aceh, Sumatera Barat, Bengkulu, Banten, Bali, dan Cilacap. Di Aceh telah dibangun enam alarm peringatan dini tsunami yaitu empat di Banda Aceh, dan dua di Aceh Besar. Keberadaan alarm ini diharapkan dapat memberikan sinyal bahaya apabila tsunami datang kembali [6].

Upaya mitigasi baik melalui edukasi maupun menyediakan sarana fisik memerlukan perencanaan terpadu secara tersistem dari hulu hingga hilir. Upaya ini akan berjalan optimal apabila perpaduan antara naluri untuk survive (bertahan) dari masyarakat dapat terintegrasi dengan suatu sistem yang dijalankan melalui teknologi dan inovasi yang ada. Untuk itu membangun kesadaran masyarakat agar berdamai dengan bencana perlu diwujudkan.

Berdamai dengan Bencana

Berdamai dengan bencana memungkinkan kita untuk siap menghadapi berbagai kemungkinan, baik sebelum dan sesudah terjadinya bencana, juga dapat mengajarkan kita untuk hidup selaras dengan alam karena perubahan yang terjadi pada alam tidak dapat kita hindari. Sebagai negara yang dilalui oleh tiga lempeng tektonik besar maka sudah sepatutnya kita melakukan upaya tersebut. Berdamai dengan bencana memberikan arti bahwa fungsi mitigasi mampu berjalan efektif sebagai wujud usaha kita mengurangi dampak akibat bencana. Dengan berdamai maka masyarakat memahami langkah apa saja yang harus dilakukan jika alam menunjukan perubahannya sehingga kita tidak terus menerus memandang perubahan alam sebagai bencana.

Pendidikan menghadapi bencana merupakan salah satu bentuk berdamai dengan bencana, sumber: https://inatews.bmkg.go.id

Hal-hal yang dapat dilakukan agar dapat berdamai dengan bencana adalah dengan menyelaraskan pembangunan dan perencanaan mengikuti gejala alam. Seperti yang telah dilakukan oleh Jepang, mereka membangun gedung tinggi dan perkatoran dengan design anti gempa, membangun taman terbuka sebagai tempat berkumpul, mendirikan escape building, mendesign sistem antisipasi gempa dini serta melakukan latihan antisipasi gempa dan tsunami secara kontinyu [7]. Jepang juga membangun beberapa bangunan fisik seperti tanggul pemecah gelombang sepanjang pantai Sanriku, dua pemecah gelombang yang terkenal di Kota Kamaishi dan Ofunato, membangun tsunami gate (gerbang tsunami) di sejumlah sungai, hingga tembok beton sejajar pesisir sepanjang 300 km dan setinggi 10 meter di beberapa area di pantai timur Jepang [8].

Di Indonesia bukanlah hal yang tidak mungkin untuk membangun beberapa sarana fisik tersebut guna mengurangi dampak tsunami. Hanya saja untuk membangun sarana tersebut dibutuhkan banyak biaya yang mungkin sulit untuk dilaksanakan oleh negara berkembang seperti Indonesia mengingat kebutuhan dalam negeri juga cukup banyak. Maka beberapa upaya lain yang dapat kita lakukan untuk mengurangi dampak gejolak alam baik di daratan maupun lautan diantaranya:

  1. Melatih masyarakat untuk cerdas dalam menghadapi bencana. Upaya ini dilakukan agar masyarakat tidak panik ketika bahaya datang dan dapat berpikir bagaimana cara menyelamatkan diri untuk mengurangi resiko sebesar apapun. Pendidikan dan pelatihan yang diberikan seperti bagaimana mengambil tindakan ketika menghadapi gempa, tsunami, banjir, gunung meletus atau gejala alam lainnya. Dengan memberikan pelatihan secara kontinyu masyarakat akan terbiasa ketika menghadapi gejala alam sehingga tidak membuat mereka takut terhadap kemungkinan yang terjadi. Pelatihan ini harus dilakukan terus menerus khususnya pada generasi muda baik di sekolah-sekolah maupun perguruan tinggi.
  2. Menghindarkan berdirinya bangunan didaerah yang termasuk dalam kategori rawan bencana termasuk merelokasi pemukiman warga yang berdiri di sekitarnya. Misalnya tidak mendirikan pemukiman permanen di pesisir pantai yang berpotensi tsunami, tidak mendirikan bangunan pada lereng gunung yang memiliki potensi longsor dan diketahui bahwa gunung tersebut aktif, serta tidak mendirikan pemukiman di daerah aliran sungai agar sungai dapat mempertahankan fungsinya sehingga tidak terjadi banjir.
  3. Membuat sistem peringatan dini yang dapat dijangkau hingga ke pelosok desa. Peringatan ini dapat berisi sumber potensi bencana, kemungkinan bencana yang terjadi hingga lokasi pusat evakuasi terdekat. Informasi ini dapat disiarkan melalui siaran televisi atau radio yang dapat dijangkau oleh masyarakat dipelosok desa sekalipun. Informasi ini nantinya dapat terintegrasi mulai dari tingkat RT, RW hingga desa untuk melakukan evakuasi sebelum bahaya datang.
  4. Membuat jalur evakuasi dan tempat evakuasi yang memadai. Jalur evakuasi ini dibuat seefektif dan seefisien mungkin sehingga memungkinkan masyarakat dapat segera menjangkaunya sebelum bahaya itu tiba. Tempat evakuasi harus tersedia pada tempat-tempat umum yang dekat dengan pemukiman padat penduduk.
  5. Khusus untuk menghadapi tsunami, guna menyerap besarnya gelombang air laut maka di pesisir pantai dapat ditanamai tanaman bakau sebagai upaya melindungi pesisir pantai. Selain itu membiarkan beberapa lapangan terbuka untuk menyerap energi tsunami sehingga dampaknya tidak meluas.

Beberapa hal lain mungkin dapat dilakukan guna mengantisipasi gejolak alam sebagai bentuk sikap berdamainya manusia terhadap bencana. Namun, dalam setiap kejadian pasti terdapat hikmah yang dapat dipetik. Dari peristiwa gempa dan tsunami Aceh beberapa tahun silam mampu menjalin solidaritas dari berbagai penjuru dunia untuk saling bahu-membahu membantu saudara-saudara kita yang tertimpa musibah. Musibah tersebut juga membuka mata kita bahwa alam akan terus bergerak untuk menyesuaikan posisinya yang menuntut kita agar senantiasa siap menghadapi segala kemungkinan yang terjadi. Berdamai dengan bencana adalah solusi mengatasi segala bentuk kekhawatiran dan ketakutan, karena sesungguhnya perubahan alam itu pasti terjadi dan manusia harus mampu menyelaraskannya.

Belajar dari Aceh Berdamai dengan Bencana

Belajar dari Aceh Berdamai dengan Bencana

Tulisan ini diikutsertakan pada Lomba Menulis Kebencanaan Memperingati 10 Tahun Tsunami Aceh Kategori Menulis di Blog.

 

 

 

Bahagia di Usia Senja

Berbahagia diusia senja, Sumber Gambar

Kalau boleh meminta, pada setiap kali bertambah usia saya ingin didoakan agar memiliki umur yang berkah, yang berarti bahwa umur yang kita miliki dapat memberikan manfaat dan bermakna baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Jangan seperti Edward Cullen yang memiliki keabadian tetapi terlihat bosan dalam menjalani hidup lantaran harus mengulang kejadian dari waktu ke waktu, atau seperti Coi Kang Chi seorang siluman serigala yang merasa hidupnya tidak berarti walaupun memiliki keabadian lantaran dirinya bukan manusia (eh itu sih di film ya hehe).

Usia yang dianugerahi Tuhan sudah sepatutnya kita isi dengan kegiatan yang bermakna sehingga akan mendatangkan kebahagiaan untuk hidup ini. Terutama ketika kita memasuki usia senja, karena pada usia ini aktivitas kita terutama fisik mulai terbatas lantaran faktor usia. Seseorang pernah berkata kepada saya seperti ini: “orang tua haruslah bangga karena dia telah mampu melewati masa muda” yang artinya Ia telah mampu menghadapi segala macam cobaan hidup. Cobaan adalah salah satu jalan untuk pendewasaan dan pemahaman diri, oleh karena itu orang yang memiliki usia lebih tua cenderung dianggap matang dan dewasa. Tetapi anggapan tersebut tidak semuanya benar karena dewasa tidak hanya terkait dengan usia saja tetapi juga dengan sikap dan perbuatan kita. Maka dari itu ada baiknya apabila kita dapat mengisi usia dengan penuh makna melalui sikap dan perbuatan kita.

Agar umur memiliki makna terutama saat memasuki usia senja maka kita harus mempersiapkan sedini mungkin karena kita tidak pernah tahu bagaimana rejeki, umur dan jodoh yang merupakan rahasia Illahi. Tetapi tidak ada salahnya apabila kita sebagai manusia untuk terus berusaha agar ketetapan yang nantinya kita dapatkan adalah ketetapan yang terbaik.

Bagi saya, usia 60 tahun nanti adalah awal kehidupan baru karena telah memasuki masa pensiun. Rencananya saya ingin berkonsentrasi pada hobi yang insha Allah akan mulai dirintis jauh hari sebelum memasuki masa pensiun. Oleh karena itu saya harus berusaha mulai saat ini agar umur yang saya miliki adalah umur yang berkah berapapun usia yang diberikan oleh Allah. Beberapa hal yang sudah, sedang, dan akan saya lakukan agar hidup bermakna berapapun usianya adalah dengan memelihara kesehatan. Bila diibaratkan dengan sebuah pohon apabila kita rajin memelihara dan memberikan nutrisi maka akan memberikan hasil panen yang baik sebelum akhirnya pohon itu mati. Sejak muda kita tidak boleh mengabaikan kesehatan karena apa yang kita berikan bagi kesehatan tentunya akan berdampak pada usia tua nanti. Memelihara kesehatan dapat kita lakukan dengan rajin berolah raga secara teratur, mengkonsumsi makanan dan minuman sehat serta menjalankan hidup yang sehat. Memelihara kesehatan juga merupakan salah satu bentuk rasa syukur kita atas nikmat sehat yang diberikan.

Kemudian hal lain yang dapat kita lakukan adalah mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Seringkali kita tidak menyadari akan anugerah yang sudah kita dapatkan dari Allah lantaran terlalu banyak keinginan. Keinginan yang banyak itu cenderung membuat hidup seolah banyak kekurangan. Seseorang yang mengisi hidupnya dengan banyak tuntutan cenderung kurang mensyukuri apa yg sudah dimiliki sehingga untuk berubah ke arah yang lebih baik akan sulit terpenuhi. Rasa syukur akan memberikan ketenangan dan kenyamanan tersendiri dalam menjalani hidup terutama ketika sudah lanjut usia, maka dari itu jangan sampai kita telat dalam bersyukur ya.

“25% Orang di Amerika merasa lebih bahagia setelah setiap hari selama 10 minggu mencatat hal-hal yang mereka syukuri” Robert A Emmons

Usaha lain yang dapat kita lakukan agar umur berkah hingga usia senja adalah ketika kita mampu berdamai dengan diri sendiri. Setiap orang pasti memiliki cita-cita yang ingin dicapai, namun karena berbagai kondisi membuat kita tidak mampu mewujudkannya. Hal tersebut kadang membuat diri menjadi patah semangat dalam menghadapi kenyataan. Untuk mengatasinya kita harus berdamai kepada diri sendiri dengan menerima kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri kita. Menurut Psikolog Fitriani F Syahrul, Msi, Psi orang yang berdamai dengan dirinya sendiri akan merasa bahagia dan mampu menebarkan kebahagiaan pada lingkungan karena Ia bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan, tak ada kegelisahan dalam diri, tidak banyak mengeluh dan memiliki kesejahteraan emosional yang tinggi. Bayangkan apabila kita mampu melakukannya maka hidup akan tentram dan kebahagiaan insha Allah akan selalu datang karena tidak ada beban pada setiap langkah. Kalau sudah tidak ada beban maka “kerutan” pada dahipun akan berkurang, kita lebih terlihat sehat dan bahagia.

“Bagian yang paling menakutkan dan sekaligus menyulitan adalah menerima diri sendiri secara utuh dan hal yang paling sulit dibuka adalah pikiran yang tertutup” Carl Gustav Jung

Usaha lain yang tak kalah pentingnya adalah memperdalam spiritualitas dan memperbanyak amalan shaleh karena urusan duniawi tidak akan pernah ada habisnya. Terkadang urusan ini cukup menyita waktu dan pikiran kita, dengan berpegang teguh kepada agama dalam menjalankan segala aktivitas jelas memberikan energi yang besar terutama disaat galau melanda. Dalam suatu hadist disebutkan “barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai obsesinya maka Allah akan memberikan rasa puas dalam hatinya dan menghimpun segala keinginannya dan duniapun akan mendatanginya dengan merunduk. Dan barang siapa menjadikan dunia sebagai obsesinya maka Allah akan menjadikan kemiskinan di depan matanya, membuyarkan segala keinginannya dan dunia tidak akan mendatanginya melainkan apa yang sudah ditentukan baginya” (HR Tirmidzi). Maka jauhkanlah istilah taubat ketika usia tua dan bersenang-senang ketika muda karena sesungguhnya dunia ini hanyalah sementara dan akhiratlah kehidupan yang sebenarnya. Bila kita selalu mengingat hal itu tentu setiap perbuatan yang akan kita lakukan akan lebih terencana dan penuh tanggung jawab sehingga membuat hati menjadi tenang.

Masih banyak lagi hal-hal yang dapat kita lakukan untuk mengisi usia senja. Setiap orang pasti memiliki cara tersendiri untuk mengisi hidupnya dengan melakukan hal bermanfaat. Namun semua orang pasti memiliki tujuan yang sama yaitu hidup bahagia. Dengan berbahagia kita akan selalu bersemangat, tidak mudah mengeluh, serta memiliki kehidupan yang bermakna bagi diri sendiri dan lingkungan berapapun usia kita.

Artikel  ini diikutsertakan pada Giveaway Seminggu:  Road To 64

Referensi bacaan:

Majalah Ummi Edisi Januari 2012

Majalah Tarbawi Edisi 101 Tahun 6/Dzulhijjah 1425 H/5 Februari 2005 M

Evrinasp.com

Evventure Blog

Kumpulan Emak Blogger

kumpulan-emak-blogger

Warung Blogger

Photobucket

Blog Stats

  • 481,895 hits

Follow TWITTER

Kicauan TWITTER

Almanak

August 2014
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
%d bloggers like this: