//
you're reading...
Contest

Belajar dari Aceh, Berdamai dengan Bencana

Pagi itu menjadi pagi yang tidak terlupakan bagi bangsa Indonesia khususnya masyarakat Aceh ketika gempa dasyat menggoyang bumi rencong. Beberapa bangunan retak bahkan roboh dan masyarakat berhamburan ke tanah lapang untuk menghindari reruntuhan. Selang beberapa saat air lautpun surut membuat banyak ikan menggelepar sepanjang pantai. Fenomena ini memicu perhatian warga untuk mengumpulkan ikan yang berserakan. Tetapi siapa sangka, kejadian yang semula dianggap anugerah seketika berubah menjadi bencana ketika gulungan ombak dari Samudera Hindia menerjang deras ke arah pantai serta menghantam apapun yang menghalanginya. Aceh hari itu dirundung duka, dan saat itu juga mata dunia tertuju pada tanah kelahiran Cut Nyak Dien serta Teuku Umar ini. Air laut menggenangi daratan, korban berjatuhan, dan beberapa bangunan saat itu rata dengan tanah karena tersapu gelombang dasyat air laut yang dikenal dengan nama Tsunami. Bencana gempa dan tsunami tidak hanya menyisakan duka tetapi juga mewariskan pekerjaan besar untuk mengembalikan Aceh seperti sedia kala.

Gempa Aceh dan Akibatnya

Gempa yang melanda Aceh dan Sumatera Barat pada hari minggu tanggal 26 Desember 2004 lalu diketahui memiliki kekuatan sebesar 9,1-9,3 skala ritcher dengan kedalaman mencapai 30 km [1]. Gempa bumi itu menghasilkan rekahan sepanjang ±1600 km dengan epicenter gempa dekat Pulau Simeulue dan menerus sampai ke Kepulauan Andaman dengan kecepatan ±2 km/detik. Rekahan atau patahan yang panjang ini selesai dalam waktu ±10 menit saja dan menjadi sumber gangguan volume air laut yang selanjutnya menjadi tsunami besar [2]. Bencana gempa dan tsunami tersebut tidak hanya menimpa Indonesia, tetapi juga menimpa negara lain yang dekat dengan Samudera Hindia seperti Sri Lanka, India, Thailand, Maladewa, Somalia, Myanmar, dan Malaysia. Indonesia merupakan negara yang mengalami dampak terparah, dengan rincian korban di Aceh sebanyak 173.741 jiwa dinyatakan meninggal dan 116.368 orang dinyatakan hilang, sedangkan di Sumatera Utara sebanyak 240 orang dinyatakan meninggal (sumber data BNPB dalam BMKG) [3]. Apabila digabungkan dengan jumlah korban dari negara lain maka bencana ini menelan korban hingga 230.210-280.000 jiwa [1].

Selain memakan korban jiwa, bencana dasyat sepanjang sejarah ini juga menenggelamkan pemukiman di tepi pantai, menyapu bersih banyak bangunan, dan menghasilkan kerusakan infrastruktur yang sangat parah. Pasca gempa dan tsunami juga menyebabkan kelangkaan makanan dan air terutama pada daerah terisolir yang mengalami kerusakan terparah. Wabah penyakit menjadi ancaman lanjutan meskipun bencana sudah terjadi beberapa minggu yang lalu.

Dampak Gempa dan Tsunami Aceh, Sumber: Kompasiana

Kejadian ini membuka mata kita untuk selalu waspada terhadap segala bentuk ancaman yang mungkin terjadi baik di daratan maupun lautan, terlebih untuk negara kepulauan seperti Indonesia.

Mengapa Indonesia Harus Waspada Terhadap Bencana?

Bencana adalah salah satu proses alam yang merupakan ketetapan Tuhan. Bencana akan selalu mengintai mengingat bumi yang menjadi tempat berpijak umat manusia ini terus melakukan pergerakan untuk mencapai posisi stabil. Indonesia merupakan salah satu negara yang harus tanggap terhadap segala bentuk perubahan alam mengingat kepulauan Indonesia terletak pada Cincin Api Pasifik yang merupakan rangkaian gunung berapi dengan garis patahan membentang disepanjang pulau-pulau timur laut dekat dengan New Guinea dan Sabuk Alpide. Kawasan Indonesia yang termasuk dalam rangkaian cincin api tersebut membentang disepanjang kawasan selatan dan barat mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, Flores, hingga Timor-Timor [1].

Pusat Riset Tsunami dan Mitigasi Bencana atau Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) menyebutkan bahwa lempeng bumi dan sesar membuat Indonesia termasuk dalam kategori negara rawan gempa. Jenis tanah yang terdapat dinegara ini turut serta menentukan besarnya daya rusak. Ketiga faktor tersebut tidak dapat terpisahkan dan setiap saat dapat bersentuhan sehingga menyebabkan kerusakan di Indonesia. Lebih lanjut TDMRC menjelaskan bahwa lempeng Indo-Australia dan Pasifik adalah jenis lempeng samudera yang bersifat lentur, sedangkan Eurasia yang merupakan lempeng benua bersifat kaku. Hal tersebut membuat Indo-Australia dan Pasifik menjadi agresif melakukan subduksi (masuk) ke bawah Eurasia. Gesekan antar lempeng ini berlangsung tanpa jeda dengan pergeserannya 3 hingga 7 sentimeter per tahun. Jika ketegangan dan energi keduanya mencapai titik puncak maka terjadi pelepasan energi yang menyebabkan terjadinya gempa tektonik [4].

Gambar Lokasi Gempa di Indonesia, Sumber: http://manajemenproyekindonesia.com

 

Potensi Tsunami ditandakan dengan garis merah, Sumber: BMKG

Proses Terjadinya Tsunami, Sumber: BMKG

Kesiapsiagaan kita menghadapi kondisi geologis tersebut wajib dilakukan untuk menghindari jatuhnya korban jiwa dan besarnya dampak yang mungkin terjadi. Hal ini dapat dilakukan melalui upaya mitigasi bencana yang wajib dilakukan dan ketahui oleh seluruh masyarakat demi keselamatan mereka sendiri. Dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 Pasal 1 angka 9 dijelaskan bahwa Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

Apa yang telah menimpa Aceh hampir sepuluh tahun silam membuat kita belajar bahwa untuk tinggal di Indonesia mengharuskan kita harus selalu waspada akan bencana. Dalam rentang waktu hingga sepuluh tahun sejak bencana tersebut terjadi, Aceh telah melakukan perbaikan dengan melakukan upaya pencegahan, mitigasi bencana hingga terbentuknya kesiagaan dalam menghadapi segala kemungkinan perubahan alam.

Belajar dari Aceh

Bencana gempa dan tsunami yang telah berlalu 10 tahun silam telah memporak-porandakan Aceh. Masyarakat Aceh tidak hanya kehilangan harta benda, keluarga serta sanak saudara saja, tetapi juga menyisakan trauma psikologis yang mungkin masih diingat hingga saat ini. Namun kejadian yang sangat dasyat tersebut tidak menyurutkan semangat Aceh untuk bangkit. Kini Aceh telah bangkit, membangun dirinya untuk kembali seperti sedia kala, menjadi serambi mekah yang dapat menarik siapapun untuk mengunjunginya.

Apabila kita berkunjung ke Aceh maka akan melihat banyak perubahan seperti berdirinya gedung-gedung baru, jalan yang dulu rusak telah beraspal, beberapa bangunan seperti escape building (bangunan untuk evakuasi) telah berdiri sebagai respon dari tanggap darurat apabila bencana terjadi. Apabila dikalkulasikan maka sudah lebih dari 130.000 rumah, 250 km jalan, 18 rumah sakit baru dan infrastruktur lainnya telah dibangun. Kemudian lebih dari 80.000 hektar lahan pertanian telah direhabilitasi dan 15.000 hektar kolam ikan telah dibangun untuk dapat digunakan [5]. Proses rekontruksi yang memakan waktu hingga 8 tahun lamanya merupakan hasil kerjasama antara pemerintah dengan donor internasional melalui Multi Donor Fund for Aceh and Nias (MDF) yang dikelola oleh Bank Dunia. Proses ini tentunya melibatkan banyak pihak termasuk masyarakat itu sendiri.

Salah satu Escape Building, Sumber: http://www.erepublik.com

Selain itu pemerintah daerah serta lembaga terkait juga telah memberikan pendidikan serta pelatihan menghadapi bencana baik kepada petugas maupun masyarakat yang dilakukan secara kontinyu agar mereka siap terhadap segala gejolak alam. Kemudian hal yang lebih menggembirakan adalah telah berdirinya Pusat Riset Tsunami dan Mitigasi Bencana atau TDMRC yang dapat menjadi kiblat bagi daerah lain di Indonesia sekaligus sebagai sumber pembelajaran bagi negara lain mengenai kebencanaan. Guna melengkapi pengetahuan dan sebagai tindakan preventif, Aceh juga banyak belajar dari Jepang dalam hal kesiapsiagaan Jepang ketika menghadapi bencana dan rekonstruksi pasca bencana mengingat Jepang merupakan negara yang sangat berpengalaman dalam menghadapi permasalahan tersebut.

Pusat Riset Tsunami dan Mitigasi Bencana atau TDMRC, Sumber: http://www.tdmrc.org

Pada tingkat nasional Indonesiapun belajar dari Aceh dengan melakukan beberapa upaya diantaranya membentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah pada lebih dari 400 kabupaten di seluruh Indonesia. Selain itu pada tanggal 11 November 2008 lalu pemerintah telah meresmikan sistem peringatan dini tsunami yang diberikan nama dengan InaTEWS atau Indonesia Tsunamy Early Warning System. Informasi yang diambil dari situs BMKG menjelaskan bahwa sistem ini bertugas mendeteksi gejala-gejala alam yang berpotensi menimbulkan tsunami, mencari lokasi pusat gempa, memprediksi kemungkinan kerusakan yang ditimbulkan, menentukan daerah yang akan terkena dampak tsunami, serta meminimalkan jumlah korban jiwa. Sistem ini juga diklaim mampu mengirimkan peringatan tsunami hanya berselang lima menit setelah gempa terjadi apabila gempa itu berpotensi tsunami. Dari sistem ini pula, dapat dipetakan wilayah yang rentan terhadap tsunami di Indonesia, yakni Aceh, Sumatera Barat, Bengkulu, Banten, Bali, dan Cilacap. Di Aceh telah dibangun enam alarm peringatan dini tsunami yaitu empat di Banda Aceh, dan dua di Aceh Besar. Keberadaan alarm ini diharapkan dapat memberikan sinyal bahaya apabila tsunami datang kembali [6].

Upaya mitigasi baik melalui edukasi maupun menyediakan sarana fisik memerlukan perencanaan terpadu secara tersistem dari hulu hingga hilir. Upaya ini akan berjalan optimal apabila perpaduan antara naluri untuk survive (bertahan) dari masyarakat dapat terintegrasi dengan suatu sistem yang dijalankan melalui teknologi dan inovasi yang ada. Untuk itu membangun kesadaran masyarakat agar berdamai dengan bencana perlu diwujudkan.

Berdamai dengan Bencana

Berdamai dengan bencana memungkinkan kita untuk siap menghadapi berbagai kemungkinan, baik sebelum dan sesudah terjadinya bencana, juga dapat mengajarkan kita untuk hidup selaras dengan alam karena perubahan yang terjadi pada alam tidak dapat kita hindari. Sebagai negara yang dilalui oleh tiga lempeng tektonik besar maka sudah sepatutnya kita melakukan upaya tersebut. Berdamai dengan bencana memberikan arti bahwa fungsi mitigasi mampu berjalan efektif sebagai wujud usaha kita mengurangi dampak akibat bencana. Dengan berdamai maka masyarakat memahami langkah apa saja yang harus dilakukan jika alam menunjukan perubahannya sehingga kita tidak terus menerus memandang perubahan alam sebagai bencana.

Pendidikan menghadapi bencana merupakan salah satu bentuk berdamai dengan bencana, sumber: https://inatews.bmkg.go.id

Hal-hal yang dapat dilakukan agar dapat berdamai dengan bencana adalah dengan menyelaraskan pembangunan dan perencanaan mengikuti gejala alam. Seperti yang telah dilakukan oleh Jepang, mereka membangun gedung tinggi dan perkatoran dengan design anti gempa, membangun taman terbuka sebagai tempat berkumpul, mendirikan escape building, mendesign sistem antisipasi gempa dini serta melakukan latihan antisipasi gempa dan tsunami secara kontinyu [7]. Jepang juga membangun beberapa bangunan fisik seperti tanggul pemecah gelombang sepanjang pantai Sanriku, dua pemecah gelombang yang terkenal di Kota Kamaishi dan Ofunato, membangun tsunami gate (gerbang tsunami) di sejumlah sungai, hingga tembok beton sejajar pesisir sepanjang 300 km dan setinggi 10 meter di beberapa area di pantai timur Jepang [8].

Di Indonesia bukanlah hal yang tidak mungkin untuk membangun beberapa sarana fisik tersebut guna mengurangi dampak tsunami. Hanya saja untuk membangun sarana tersebut dibutuhkan banyak biaya yang mungkin sulit untuk dilaksanakan oleh negara berkembang seperti Indonesia mengingat kebutuhan dalam negeri juga cukup banyak. Maka beberapa upaya lain yang dapat kita lakukan untuk mengurangi dampak gejolak alam baik di daratan maupun lautan diantaranya:

  1. Melatih masyarakat untuk cerdas dalam menghadapi bencana. Upaya ini dilakukan agar masyarakat tidak panik ketika bahaya datang dan dapat berpikir bagaimana cara menyelamatkan diri untuk mengurangi resiko sebesar apapun. Pendidikan dan pelatihan yang diberikan seperti bagaimana mengambil tindakan ketika menghadapi gempa, tsunami, banjir, gunung meletus atau gejala alam lainnya. Dengan memberikan pelatihan secara kontinyu masyarakat akan terbiasa ketika menghadapi gejala alam sehingga tidak membuat mereka takut terhadap kemungkinan yang terjadi. Pelatihan ini harus dilakukan terus menerus khususnya pada generasi muda baik di sekolah-sekolah maupun perguruan tinggi.
  2. Menghindarkan berdirinya bangunan didaerah yang termasuk dalam kategori rawan bencana termasuk merelokasi pemukiman warga yang berdiri di sekitarnya. Misalnya tidak mendirikan pemukiman permanen di pesisir pantai yang berpotensi tsunami, tidak mendirikan bangunan pada lereng gunung yang memiliki potensi longsor dan diketahui bahwa gunung tersebut aktif, serta tidak mendirikan pemukiman di daerah aliran sungai agar sungai dapat mempertahankan fungsinya sehingga tidak terjadi banjir.
  3. Membuat sistem peringatan dini yang dapat dijangkau hingga ke pelosok desa. Peringatan ini dapat berisi sumber potensi bencana, kemungkinan bencana yang terjadi hingga lokasi pusat evakuasi terdekat. Informasi ini dapat disiarkan melalui siaran televisi atau radio yang dapat dijangkau oleh masyarakat dipelosok desa sekalipun. Informasi ini nantinya dapat terintegrasi mulai dari tingkat RT, RW hingga desa untuk melakukan evakuasi sebelum bahaya datang.
  4. Membuat jalur evakuasi dan tempat evakuasi yang memadai. Jalur evakuasi ini dibuat seefektif dan seefisien mungkin sehingga memungkinkan masyarakat dapat segera menjangkaunya sebelum bahaya itu tiba. Tempat evakuasi harus tersedia pada tempat-tempat umum yang dekat dengan pemukiman padat penduduk.
  5. Khusus untuk menghadapi tsunami, guna menyerap besarnya gelombang air laut maka di pesisir pantai dapat ditanamai tanaman bakau sebagai upaya melindungi pesisir pantai. Selain itu membiarkan beberapa lapangan terbuka untuk menyerap energi tsunami sehingga dampaknya tidak meluas.

Beberapa hal lain mungkin dapat dilakukan guna mengantisipasi gejolak alam sebagai bentuk sikap berdamainya manusia terhadap bencana. Namun, dalam setiap kejadian pasti terdapat hikmah yang dapat dipetik. Dari peristiwa gempa dan tsunami Aceh beberapa tahun silam mampu menjalin solidaritas dari berbagai penjuru dunia untuk saling bahu-membahu membantu saudara-saudara kita yang tertimpa musibah. Musibah tersebut juga membuka mata kita bahwa alam akan terus bergerak untuk menyesuaikan posisinya yang menuntut kita agar senantiasa siap menghadapi segala kemungkinan yang terjadi. Berdamai dengan bencana adalah solusi mengatasi segala bentuk kekhawatiran dan ketakutan, karena sesungguhnya perubahan alam itu pasti terjadi dan manusia harus mampu menyelaraskannya.

Belajar dari Aceh Berdamai dengan Bencana

Belajar dari Aceh Berdamai dengan Bencana

Tulisan ini diikutsertakan pada Lomba Menulis Kebencanaan Memperingati 10 Tahun Tsunami Aceh Kategori Menulis di Blog.

 

 

 

About evrinasp

I am an Agricultural Extension Officer, Blogger and Hiker

Discussion

12 thoughts on “Belajar dari Aceh, Berdamai dengan Bencana

  1. goodluck mbak…

    Posted by Adi Pradana | August 11, 2014, 7:15 am
  2. mantap, komplit sekali urainnya dan saya setuju bahwa kejadian alam tidak bisa dihindari yang ada kita yg harus siap dan mampu🙂

    Posted by rodamemn | August 11, 2014, 8:34 am
  3. Uraiannya komplit, Mba. Saya baru tau kalo ada lomba ini, pengen ikutan ah. Sukses ya, semoga menang.🙂

    Posted by alaikaabdullah | August 11, 2014, 9:03 am
  4. kejadian alam yg tidak terlupakan oleh bangsa ini, tapi harus terus berusaha untuk bangkit kembali

    bagus artikelnya

    Posted by fazril | August 15, 2014, 3:15 am
  5. Mbak Rina, semoga sukses ya🙂. Tulisannya inspiratif🙂.

    Posted by yrtriarto | August 17, 2014, 11:37 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: