//
you're reading...
Contest

Pembangunan Nasional Berwawasan Kesehatan Melalui Perdesaan Sehat

Persoalan kesehatan menjadi salah satu pekerjaan rumah yang harus ditangani oleh pemerintah sejak dulu hingga saat ini. Masalah kesehatan memang tidak pernah usai lantaran banyak faktor yang mempengaruhi dinamika kehidupan manusia. UUD 1945 yang menjadi dasar konstitusi negara mengamanatkan secara tegas bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Hal ini mencakup hak-hak warga negara untuk memperoleh jaminan kesehatan karena kesehatan termasuk dalam hak asasi manusia. Oleh karena itu pemerintah sudah sepatutnya menjamin setiap warga negara untuk mendapatkan standar kesehatan yang terjangkau dan berkualitas.

Kesehatan memang menjadi salah satu tolak ukur yang digunakan pemerintah untuk menilai keberhasilan pembangunan nasional. Sayangnya, kualitas kesehatan masyarakat Indonesia saat ini masih tertinggal jauh dari negara-negara di benua Asia. Hasil survey terakhir yang dilakukan pada tahun 2012 memperlihatkan bahwa kualitas kesehatan Indonesia menempati urutan kedua terendah di Asia [1].

Permasalahan Kesehatan di Indonesia
Permasalahan Kesehatan di Indonesia

Rendahnya kualitas kesehatan yang terjadi di Indonesia ini disebabkan oleh berbagai macam persoalan yang kompleks. Apabila dirangkum maka persoalan kesehatan secara umum yang harus diatasi adalah:

  1. Kurangnya jumlah maupun kompetensi tenaga kesehatan. Contohnya untuk tenaga dokter spesialis, berdasarkan data terakhir Kementerian Kesehatan RI mencatat bahwa sebanyak 52,8 persen dokter spesialis berada di Jakarta, sementara di NTT dan provinsi di bagian Timur Indonesia lainnya hanya sekitar 1-3 persen saja [2].
  2. Belum meratanya akses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik. World Vision, sebuah organisasi kemanusiaan dunia, melakukan pengkajian kepada 176 negara diseluruh dunia mengenai besarnya kesenjangan yang terjadi antara masyarakat yang dapat mengakses layanan kesehatan dengan baik serta mereka yang masih sulit mengaksesnya. Dalam laporan yang berjudul The Killer Gap: A Global Index of Health Inequality for Children diketahui bahwa Indonesia berada pada peringkat ke-100 pada indeks global ini [3].
  3. Rendahnya kesadaran masyarakat untuk terlibat dalam pembangunan kesehatan. Tingkat pendidikan, pemahaman dan kondisi sosial ekonomi masyarakat turut serta mempengaruhi kesadaran untuk memiliki kualitas hidup yang sehat.
  4. Peralatan dan fasilitas kesehatan belum merata dan kurang memadai khususnya bagi daerah yang jauh dari kota-kota besar. Diketahui dari sekitar 9.599 puskesmas dan 2.184 rumah sakit yang ada di Indonesia, sebagian besar masih berpusat di kota-kota besar [2] sehingga masih banyak masyarakat di daerah yang belum dapat mengakses pelayanan kesehatan.
  5. Alokasi dana untuk menangani persoalan kesehatan belum sesuai dengan amanat undang-undang. Menurut catatan “The Indonesian Institute” pada tahun 2014, pemerintah hanya mengalokasikan 2,4 persen saja dari APBN untuk bidang kesehatan. Padahal berdasarkan Undang-undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009 mengamanatkan bahwa dana kesehatan harus dialokasikan sebesar 5 persen dari APBN [2].

Sebagian besar permasalahan kesehatan yang telah diuraikan di atas terutama yang berkaitan dengan tingkat sosial ekonomi, fasilitas dan jumlah tenaga medis, kemudahan mengakses pelayanan kesehatan serta kesadaran masyarakat banyak ditemukan pada daerah yang jauh dan sulit dijangkau. Daerah ini dikenal dengan nama Daerah Tertinggal.

Peta penyebaran kabupaten daerah tertinggal

Peta penyebaran kabupaten daerah tertinggal

Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT) mendefinisikan Daerah Tertinggal sebagai daerah Kabupaten yang masyarakat serta wilayahnya relatif kurang berkembang dibandingkan daerah lain dalam skala nasional. Beberapa faktor penyebab suatu daerah dapat dikategorikan sebagai daerah tertinggal diantaranya kondisi geografis yang relatif sulit dijangkau, daerah yang tidak memiliki potensi sumberdaya alam, rendahnya kualitas sumberdaya manusia, keterbatasan prasarana dan sarana serta daerah terisolasi, rawan konflik dan rawan bencana yang dapat menyebabkan terganggunya kegiatan pembangunan sosial dan ekonomi.

Penetapan kriteria daerah tertinggal dilakukan dengan menggunakan pendekatan relatif berdasarkan pada perhitungan 6 kriteria dasar yaitu: perekonomian masyarakat, sumber daya manusia, prasarana (infrastruktur), kemampuan keuangan daerah, aksesibilitas serta karakteristik daerah. Berdasarkan kriteria tersebut maka hingga saat ini terdapat 183 kabupaten yang masuk dalam kategori Daerah Tertinggal dan sekitar 70% nya berada di Kawasan Timur Indonesia. Dari 183 kabupaten tersebut diketahui sebanyak 32 ribu dari 74 ribu desa di Indonesia masuk dalam kategori tertinggal dengan total jumlah penduduk sebanyak 57,5 juta jiwa [4]. Karena kondisinya tersebut, desa tertinggal memiliki permasalahan tersendiri yang jauh berbeda dari daerah maju. Permasalahan yang banyak ditemukan pada desa tertinggal diantaranya adalah tingginya angka kematian ibu dan angka kematian bayi, fasilitas penunjang kesehatan serta tenaga medis yang masih minim, kesulitan dalam mengakses air minum, kondisi sanitasi yang buruk, serta adanya gizi buruk.

Guna mengejar ketertinggalan, maka pemerintah mencanangkan suatu program percepatan untuk membangun kesehatan pada daerah tertinggal. Program ini dinamakan Percepatan Pembangunan Kualitas Kesehatan Berbasis Perdesaan di Daerah Tertinggal. Upaya percepatan ini dilakukan melalui terbentuknya perdesaan sehat yang telah dilaksanakan sejak dua tahun yang lalu. Visi perdesaan sehat adalah meningkatnya kualitas kesehatan masyarakat daerah tertinggal yang setara dengan daerah lainnya dalam rangka mewujudkan percepatan pembangunan yang inklusif dan berkeadilan pada tahun 2025. Kebijakan perdesaan sehat kemudian dikembangkan melalui dua strategi utama yaitu:

  1. Percepatan peningkatan keterjangkauan dan kualitas kesehatan dasar. Kebijakan ini menitik beratkan pada aspek ketersediaan tenaga kesehatan yaitu Dokter Puskesmas di setiap puskesmas serta Bidan Desa untuk setiap desa.
  2. Percepatan peningkatan keberdayaan masyarakat. Kebijakan ini menitik beratkan pada aspek ketersediaan air bersih dan sanitasi pada setiap rumah tangga serta gizi seimbang khususnya bagi ibu hamil/menyusui dan balita.

Kelima aspek tersebut selanjutnya dikenal sebagai 5 pilar perdesaan sehat yaitu Dokter Puskesmas, Bidan Desa, Air Bersih, Sanitasi, dan Status Gizi. Untuk memajukan perdesaan maka 5 pilar tersebut harus tersedia pada setipa desa, terjangkau bagi seluruh masyarakat desa, serta keberterimaan dan memiliki kualitas baik dalam kompetensi maupun dalam memberikan pelayanan. Dengan adanya Dokter Puskesmas dan Bidan Desa diharapkan mampu mewujudkan pembangunan kualitas kesehatan dasar di desa-desa terutama desa tertinggal sekaligus menggerakan kemandirian masyarakat untuk mencapai ketersediaan air bersih dan sanitasi bagi setiap rumah tangga, serta peningkatan status gizi melalui ketersediaan gizi seimbang. Sehingga apabila kelima pilar tersebut terpenuhi maka akan terbentuk perdesaan sehat yang menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan pembangunan berbasis kesehatan.

5 Pilar Perdesaan Sehat

5 Pilar Perdesaan Sehat

Salah satu daerah tertinggal yang saat ini sedang melakukan Percepatan Pembangunan Kualitas Kesehatan Melalui Perdesaan Sehat adalah Kabupaten Pandeglang di Provinsi Banten. Kabupaten Pandeglang adalah satu dari dua Kabupaten di Provinsi Banten yang masuk dalam kategori daerah tertinggal. Di Kabupaten Pandeglang terdapat 335 desa dengan 4 jalan utama berupa tanah belum teraspal. Daerah ini memiliki Puskesmas sebanyak 36 unit yang dibantu oleh 46 Poliklinik Desa (Polindes) (kpdt.bps.go.id, 2011). Diketahui bahwa idealnya satu unit Puskesmas mampu melayani 30.000 jiwa [5], apabila jumlah penduduk Kabupaten Pandeglang berjumlah 1.183.000 jiwa (banten.bps.go.id, 2013) maka dibutuhkan 39-40 Puskesmas dengan rata-rata satu puskesmas melayani 3.531 jiwa per desa. Dengan melihat perhitungan di atas, maka masih ada beberapa desa yang belum tercover dengan baik untuk mengakses pelayanan kesehatan di Puskesmas.

Salah satu desa yang terdapat di Kabupaten Pandeglang adalah Desa Sorongan. Desa ini terletak di Kecamatan Cibaliung. Untuk mencapai Desa Sorongan kita harus menempuh waktu perjalanan sekitar 4-5 jam dari kabupaten dan 2 jam dari kecamatan. Kondisi jalan desa yang memprihatinkan berupa tanah berbatu membuat jumlah alat transportasi yang menghubungkan desa dengan kecamatan sangat minim. Minimnya sarana transportasi juga menjadi penyebab mengapa masyarakat di Desa Sorongan kurang mengkonsumsi protein. Hal ini disebabkan untuk mencari sumber protein yang tersedia di pasar mereka harus melalui kontur jalan berbukit dan memakan biaya yang cukup mahal. Sehingga masyarakat di sana lebih banyak mengolah hasil kebun mereka sendiri ketimbang membeli bahan pangan di pasar untuk konsumsi sehari-hari.

Permasalahan yang sama juga ditemui ketika hendak mengakses pelayanan kesehatan pada Puskesmas lantaran letaknya yang cukup jauh dari desa. Namun di Puskesmas sudah terdapat dokter puskesmas maupun bidan desa yang siap melayani masyarakat. Untuk mendapatkan air bersih, saat ini masyarakat tidak kesulitan memperolehnya karena masing-masing rumah telah mempunyai sumur meskipun masih ada beberapa warga yang kerap menggunakan air sungai. Sedangkan untuk masalah sanitasi, sebagian saluran pembuangan pada rumah-rumah warga sudah tertutup meskipun masih ada beberapa rumah dengan saluran pembuangan limbah yang terbuka, fasilitas seperti MCK juga sudah dimiliki masing-masing oleh sebagian besar masyarakat. Masyarakat juga sudah mulai menyadari pentingnya tidak membuang sampah sembarangan dengan membakar sampah yang mereka kumpulkan. Meskipun begitu tetap harus dilakukan pembinaan karena tidak semua sampah baik untuk dibakar lantaran dapat mencemari udara di sekitar.

Perdesaan Sehat KPDT Lakukan Kunjungan Desa Tertinggal di Pandeglang Banten,

Desa Sorongan adalah satu dari 32 ribu desa yang masuk dalam kawasan daerah tertinggal. Namun jangan salah, meskipun sebuah desa termasuk dalam daerah maju belum tentu fasilitas kesehatan dan kualitas hidupnya sudah cukup memadai. Contohnya terdapat di Desa Pasir Jambu Kecamatan Tanggeung Kabupaten Cianjur. Berdasarkan peta KPDT, Kabupaten Cianjur termasuk dalam kategori daerah maju. Meskipun begitu desa ini masih memerlukan peningkatan kualitas kesehatan bagi masyarakatnya.

Desa Pasir Jambu yang berada di bawah kaki Gunung Bongkok dan Gunung Masigit memiliki jumlah penduduk sebanyak 4.927 jiwa (Sumber: Monografi Desa Pasir Jambu, 2013). Di desa ini sudah terdapat Polindes yang diisi oleh satu orang bidan desa. Untuk mengakses pelayanan Puskesmas di kecamatan, masyarakat harus menempuh perjalanan sejauh 7 km dengan kondisi yang hampir sama dengan Desa Sorongan. Mereka harus menggunakan alat transportasi berupa jasa ojeg yang biayanya cukup mahal apabila hendak pergi ke kecamatan. Puskesmas yang ada di kecamatan Tanggeung menangani 12 desa. Apabila kita anggap jumlah penduduk desa lainnya hampir sama dengan Desa Pasir Jambu maka Puskesmas ini melayani >48.000 jiwa, padahal idealnya satu Puskesmas hanya melayani 30.000 jiwa saja. Apalagi di Puskesmas ini jumlah dokter puskesmas sangat minim yaitu hanya terdapat satu orang dokter umum dan satu orang dokter gigi.

Meskipun begitu, kualitas kesehatan masyarakat Desa Pasir Jambu memang lebih baik ketimbang Desa Sorongan di Pandeglang. Masyarakat desa sudah mulai menyadari akan pentingnya gizi. Mereka mulai mengkonsumsi buah dan mengatur jenis menu makanannya dengan mengkonsumsi minimal protein nabati setiap hari. Sedangkan untuk akses air bersih, masyarakat desa juga sudah menggunakan sumur pompa meskipun ada beberapa warga yang masih mengandalkan sumber air bersih dari aliran mata air langsung. Hanya saja, kesadaran masyarakat masih perlu ditingkatkan dalam hal sanitasi karena masih ada beberapa warga yang memiliki kualitas sanitasi cukup buruk pada rumahnya. Selain itu, kesadaran untuk memeriksakan diri pada tenaga kesehatan juga masih rendah, contohnya meskipun terdapat bidan desa beberapa dari mereka masih mempercayai dukun beranak untuk membantu ibu melahirkan. Maka tak jarang di desa ini masih ditemukan kasus yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan ibu maupun bayi.

This slideshow requires JavaScript.

Dari kedua desa tersebut kita dapat melihat bahwa upaya percepatan peningkatan kualitas kesehatan di daerah tertinggal melalui perdesaan sehat sebenarnya sudah mulai terpenuhi. Hanya saja masih perlu ada penguatan pada beberapa pilar perdesaan sehat agar kualitas kesehatan benar-benar tercapai, dan perlu digaris bawahi walaupun suatu daerah sudah masuk dalam kategori daerah maju bukan berarti kualitas kesehatan di beberapa desa yang berada di bawahnya juga sudah maju. Untuk itu kegiatan pendampingan, pembangunan dan pemberdayaan masyarakat harus terus dilakukan secara kontinyu guna mempertahankan pencapaian yang sudah didapat.

Untuk mewujudkan perdesaan sehat sebenarnya tidaklah sulit asalkan terdapat sinergi antara pemerintah khususnya pemerintah daerah dengan tenaga kesehatan serta sektor terkait lainnya yang diikuti oleh kesadaran masyarakat. Guna menjawab permasalahan kesehatan yang berkaitan dengan lima pilar perdesaan sehat, maka perlu dilakukan berbagai langkah untuk mengatasi permasalahan yang ada. Berikut adalah solusi yang dapat menjadi alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut:

Terkait dengan jumlah maupun kompetensi tenaga medis (dokter puskesmas dan bidan desa)

  1. Memberikan fasilitas dan jenjang karir khusus bagi tenaga kesehatan yang ditempatkan di daerah tertinggal. Fasilitas seperti gaji dan insentif serta jenjang karir sebaiknya tidak disamakan dengan tenaga medis yang ditempatkan pada daerah maju karena akan membuat penumpukan sumber daya manusia di daerah tersebut lantaran pada daerah tertinggal medan yang harus dihadapi cukup berat.
  2. Memberikan beasiswa pendidikan bagi putra-putri daerah yang ingin menjadi tenaga kesehatan di daerahnya agar setelah Ia menamatkan pendidikan dapat kembali ke daerah dan membangun desa.
  3. Menerapkan standart beban kerja ideal yang harus ditangani oleh tenaga kesehatan terutama untuk daerah tertinggal. Apabila ditemukan over lapping dalam pelayanan maka perlu dikaji ulang dengan melakukan penambahan personil.
  4. Merekrut kader kesehatan terutama dari putra-putri daerah agar mereka mau ditempatkan di daerah asalnya. Apabila merekrut kader dari luar daerah maka perlu terdapat komitmen agar mereka benar-benar bekerja pada daerah yang membutuhkan.

Terkait dengan rendahnya kesadaran masyarakat untuk terlibat dalam membangun kesehatan (akses air bersih, penanganan sanitasi dan status gizi)

Untuk meningkatkan partisipasi dan kesadaran masyarakat perlu dilakukan upaya pendekatan dan pemberdayaan melalui peran kader kesehatan. Seorang kader dapat bekerjasama dengan tokoh masyarakat yang menjadi panutan desanya agar masyarakat dapat mengikuti arahan yang diberikan. Kegiatan pemberdayaan ini terutama ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan dan mengubah perilaku masyarakat dalam melaksanakan 3 pilar perdesaan sehat lainnya yaitu akses air bersih, ketersediaan dan kualitas sanitasi serta peningkatan status gizi. Upaya pemberdayaan dapat dilakukan melalui kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh masyarakat seperti kegiatan Posyandu. Melalui kegiatan rutin ini masyarakat diberi pemahaman dan diarahkan agar terjadi perubahan perilaku, misalnya dengan memberikan arahan bahwa mengakses sumber air bersih dengan menggunakan air sumur lebih baik ketimbang menggunakan air sungai, pengaturan pola makan berdasarkan menu yang beragam bergizi seimbang dan aman untuk peningkatan status gizi serta arahan lainnya. Kegiatan pemberdayaan masyarakat ini harus dilakukan secara kontinyu dan bersinergi dengan pihak-pihak terkait terutama pemerintah.

Terkait dengan upaya pengembangan daerah tertinggal

  1. Memperbaiki infrastruktur desa tertinggal terutama akses jalan. Untuk memperbaiki jalan memang membutuhkan biaya, oleh karena itu diperlukan kolaborasi antara pemerintah pusat dengan daerah maupun instansi terkait dalam pelaksanaannya. Hal ini diperlukan untuk menumbuhkan jaringan ekonomi desa.
  2. Membangun perekonomian keluarga melalui Pos Pemberdayaan Keluarga dengan mengembangkan potensi lokal yang ada di desa sehingga mampu berdaya secara mandiri. Untuk mewujudkan hal tersebut perlu kerjasama dari dinas-dinas terkait seperti Badan Penyuluhan, BKKBN, maupun kalangan akademisi.
  3. Mengembangkan produk unggulan desa sesuai potensi lokal yang dapat menjadi icon desa bahkan hingga menjadi icon daerah.
  4. Mengembangkan sumber daya alam daerah yang berpotensi sebagai daerah wisata untuk meningkatkan perekonomian dengan melibatkan peran masyarakat. Misalnya dengan dibentuk kawasan agrowisata melalui potensi pertanian atau kawasan mina politan berdasarkan potensi perikanan yang dimiliki.
  5. Meningkatkan kerjasama dan kemitraan dengan seluruh pelaku pembangunan daerah termasuk keterlibatan pihak swasta dalam kegiatan CSR.

Perdesaan sehat yang sudah dicanangkan oleh KPDT melalui peran 5 pilar perdesaan sehat menjadi jawaban untuk menghadapi persoalan pembangunan kualitas kesehatan terutama pada desa tertinggal. Apabila perdesaan sehat dapat terpenuhi maka upaya percepatan pembangunan pada daerah tertinggal dapat terwujud, secara tidak langsung hal ini juga turut serta mendukung terwujudnya pembangunan nasional berwawasan kesehatan yang inklusif dan berkeadilan pada tahun 2025 mendatang.

 

 Tulisan Ini Diikut sertakan Pada Kompetisi Blog Jambore Perdesaan Sehatdan Alhamdulillah mendapatkan Juara 1

juara

 

About evrinasp

I am an Agricultural Extension Officer, Blogger and Hiker

Discussion

33 thoughts on “Pembangunan Nasional Berwawasan Kesehatan Melalui Perdesaan Sehat

  1. Ulala ngeri ngeri… saya nyerahh

    Posted by dhanisaputraa | October 30, 2014, 11:00 pm
  2. kereen pisaaan mak🙂 pedesaan memang masih jauh dari jangkauan pelayanan yang utuh ya mak🙂 sukses lombanya

    Posted by Aida Al Fath | October 30, 2014, 11:04 pm
  3. Ga jdi ikutan, waktu terlalu mepets kalo 2 hari, haha.
    BGus2 ev tulisana,

    Posted by apri ani | October 30, 2014, 11:58 pm
  4. Semoga yang berwenang dapat mendengar dan segera memperhatikan/memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di desa, terutama desa yang masih tertinggal.
    Sukses untuk lombanya ya……
    Semangat berbagi!

    Posted by mohyiyi | October 31, 2014, 12:38 am
  5. maakk… mantap kali maaakk… 183 kabupaten itu banyak sekali, dan sedihnya tempat ibu dan bapak saya lahir, Garut masih masuk dalam daftar desa tertinggal.. hiks

    Posted by Rinrin Irma | October 31, 2014, 1:00 am
  6. Sukses ya lombanya, mak…

    Posted by dwina Yusuf | October 31, 2014, 2:15 am
  7. mantaappp mak ev, semoga tercapai percepatan pembangunan di daerah tertinggal.

    Posted by desinamora | October 31, 2014, 5:23 am
  8. keren mak, semoga makin produktif dalam menulis🙂
    semoga menang lombanya🙂

    Posted by siti latifah | October 31, 2014, 6:00 am
  9. wiiiihhh………………hebat, mantap deh……lanjut jeng, bagus2 infonya……..:)

    Posted by Eka Lesniawati | October 31, 2014, 6:47 am
  10. masih banyak juga desa tertinggal di negeri yg kaya sumber daya alam ini
    semoga di pemerintahan yg baru desa-desa tertinggal lebih dipantau lagi

    Posted by fazril | October 31, 2014, 6:50 am
  11. membingungkanku. aku bingung dengan bacaannya kayaknya ini bacaan berat.

    Posted by mukhofas alfikri | October 31, 2014, 10:04 am
  12. mantep… smoga sukses🙂

    Posted by Nathalia DP | October 31, 2014, 10:30 pm
  13. lengkap dan komprehensif

    Posted by theadiokecenter | November 1, 2014, 8:58 am
  14. Selamat maak…

    Posted by Liza-fathia.com | November 14, 2014, 9:43 am
  15. Dari Desa untuk Indonesia !!!! Gerakan Sehat bersama dari Desa !!!

    Posted by @kakdidik13 | November 23, 2015, 1:02 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Mimpi Ku Bersama Garuda Indonesia | Evrina Budiastuti - January 5, 2015

  2. Pingback: Tenun Sutra dari Aida | Evrina Budiastuti - September 24, 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: