//
you're reading...
Other

Belajar dari Bu Atih

Baru saja saya pulang dari Cikuray, badan masih pegal-pegal, kurang tidur dan sebagainya tetapi saya tidak mau ketinggalan momen berharga yang dirayakan setiap satu tahun sekali yaitu Hari Ibu yang jatuh setiap tanggal 22 Desember. Hari Ibu tahun ini jatuh pada hari senin, saya selaku blogger yang sudah meniatkan diri untuk berbagi melalui tulisan (karena berbagi melalui materi masih belum sanggup pren) ingin turut serta meramaikan ngeblog serentak yang diadakan oleh Kumpulan Emak-Emak Blogger dalam rangka Hari Ibu. Maaf yah temans kalo mukadimahnya agak kacau karena dikejar waktu secara deadlinenya jam 9 malam dan saya baru menulis mulai jam 6 sore hiks hiks. Yo salahe dewe kenapa seneng jadi deadliners hehe.

Okay dalam rangka hari ibu ini saya ingin memperkenalkan sosok seorang ibu yang juga sangat berarti bagi saya. Dia bukan ibu kandung tapi dekatnya seperti ibu kandung karena sangat care dan memberikan makna mendalam bagi pembentukan sikap saya selama menjadi aparatur dan pendamping masyarakat. Perkenalkan, namanya adalah Ibu Atih Sumiati, ini dia sosok ibu pekerja keras itu:

Ibu Atih, Teh Ani, dan Saya

Ibu Atih, Teh Ani, dan Saya

Ibu Atih, begitu saya memanggilnya, adalah sosok kader dalam lingkungan RT 03/RW 07 di Desa Babakan Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor. Saya dipertemukan dengan ibu yang baik hati ini melalui anaknya yang bernama Ernawati. Mau tau bidang apa yang mempertemukan kami? Yaitu bidang pertanian. Bu Atih senang bercocok tanam dan menjadi penggerak di sekitar lingkungannya untuk menanam di pekarangan. Dia tidak hanya aktif dalam dunia menaman, urusan seperti pengajian, santunan anak yatim, hingga mendidik anak-anak PAUD juga Ia lakukan. Di usia yang sudah sangat senja tidak menjadi halangan baginya untuk terjun dan menggerakkan masyarakat.

Saya banyak belajar darinya, ternyata untuk menggerakan masyarakat dibutuhkan banyak kesabaran dan keikhlasan terutama dalam menghadapi masyarakat yang sudah terkena arus urbanisasi. Beliau mengatakan yang penting masyarakat maju, maka Ia sudah senang. Beliau tidak menuntut apa-apa hanya minta didoakan agar sehat selalu, karena jika jiwa dan raganya sehat maka Ia bisa terjun ke masyarakat.

Perjalanannya menjadi kader bukan berarti selalu mulus. Ada saja orang-orang yang tidak suka terhadap hal yang Ia lakukan. Namun Bu Atih tetap tegar meskipun pernah ada satu moment yang menyebabkan Ia sangat down dan ingin mengundurkan diri sebagai motor penggerak masyarakat. Saat itu saya sangat sedih sekali karena jujur saja keberhasilan saya menggerakan masyarakat di lingkungan RT tersebut lantaran jasa Bu Atih. Maka dengan bersusah payah akhirnya Bu Atih masih mau menjadi kader meskipun ada saja pihak-pihak yang kurang senang.

Jika Bu Atih pernah merasa down karena beberapa pihak, saya juga pernah merasa ingin menyerah ketika mendampingi masyarakat di lingkungan tempat Bu Atih tinggal. Saya sempat merasa bahwa saya tidak akan berhasil membawa kelompok ibu-ibu di lingkungan tersebut untuk berdaya dan berusaha, namun Bu Atih meletakkan tangannya yang hangat ke pundak saya seraya berkata untuk selalu bersabar karena memang memimpin masyarakat tidak mudah layaknya membalikkan telapak tangan. Beliau menasehati saya agar tidak menyerah. Begitulah kami, saling menguatkan satu sama lain dalam menghadapi dinamika sikap masyarakat yang selalu berubah.

Bu Atih, ibu yang serba bisa, melalui tanganya Ia mampu meramu makanan yang lezat, Ia mampu menjahitkan baju untuk anak-anak PAUD, Ia mampu menumbuhkan tomat-tomat segar dan Ia mampu mengajak para pedagang di sekitar untuk menyantuni anak-anak yatim. Sungguh sosok yang mulia, melalui Bu Atih saya banyak belajar untuk selalu berbagi dengan sesama walau kecil sekalipun, dan saya akan selalu ingat akan pesannya: jangan menyerah dan bersabarlah maka kita pasti akan menang, menang dalam mengambil hati masyarakat dan menang dalam menggerakan mereka agar mau berdaya dan berusaha. Terimakasih Bu Atih, selamat hari Ibu untuk Bu atih, untuk Ibu Ku, dan untuk semua Ibu di seluruh dunia. Salam sayang selalu.

Selamat Hari Ibu

Selamat Hari Ibu

Tulisan ini diikut sertakan dalam rangka Ngeblog Serentak yang diadakan oleh Kumpulan Emak-Emak Blogger

About evrinasp

I am an Agricultural Extension Officer, Blogger and Hiker

Discussion

6 thoughts on “Belajar dari Bu Atih

  1. Inspiratif. Bu Atih ini, yang tidak suka dengannya alasannya apa ya Mak? Aneh ya ….

    Posted by Mugniar | December 22, 2014, 12:35 pm
  2. wah, keren ke Cikuray. *salah pokus*

    Orang2 yang mengabdi untuk masyarakat selalu keren dimata saya. semoga kebaikan yang berlimpah untuk beliau.

    Posted by Uwien Budi | December 22, 2014, 1:37 pm
  3. Hallo Bu Atih. Semoga ibu memberikan inspirasi bagi yang muda2 :))

    Posted by Lusi | December 23, 2014, 1:55 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: