Oleh-Oleh Berkesan dari Jepang

Senang sekali jadi penyuluh, kadang ada aja rejeki yang tak terduga. Kalau sudah dekat dengan petani, mereka ‘gak akan lupa sama kita. Enaknya begitu, ada rasa kekeluargaan, kalau misalnya bapak atau ibu petani lagi panen kadang saya suka diberikan sedikit hasil panennya. Supaya seimbang, sayapun begitu, kadang saya juga membawakan mereka oleh-oleh ketika sedang dinas luar sebagai ungkapan terimakasih dan juga permintaan maaf karena sudah ditinggal tugas.

Kebetulan gapoktan (gabungan kelompok tani) di salah satu desa yang saya bina ini sudah dekat sekali dengan saya. Selain memang bapak ketua dan pengurusnya welcome, itu juga hasil pendekatan selama setahun agar bisa diterima di desa dan di kelompok. Alhamdulillah cukup berhasil usaha saya. Berkat itu sang ketua gapoktan selalu menginformasikan kegiatan yang berlangsung di kelompok.

Seperti pada bulan Maret kemarin, ada beberapa mahasiswa yang membawa rombongan mahasiswa dari Jepang. Mahasiswa Jepang ini ingin belajar pertanian dan juga kehidupan masyarakat di desa tempat gapoktan berada. Tahun 2014 lalu juga ada rombongan yang sama dengan tujuan ingin belajar. Selama kegiatan kami selalu didampingi oleh adik-adik mahasiswa yang fasih berbahasa Inggris dan Jepang. Mereka mentranslatekan bahasa jepang ke Indonesia supaya saya dan gapoktan mengerti. Maklumlah penyuluhnya tidak bisa berbahasa jepang, apalagi petani.

Mahasiswa Jepang yang datang ke gapoktan tahun lalu
Mahasiswa Jepang yang datang ke gapoktan tahun lalu

Mereka di sana belajar banyak, mulai dari cara budidaya ubi jalar, budidaya jambu kristal, pembuatan pangan lokal dari desa, serta membantu kami dalam pelestarian lingkungan dengan membuat papan ajakan untuk save environment. Tidak hanya itu, ibu-ibu di desa juga diajarkan dalam membuat kreatifitas berupa kerajinan tangan dari sampah bekas.

Selama saya mengikuti kegiatan adik-adik mahasiswa ini, saya merasa kagum lho. Mereka memang pekerja keras. Saya sampai tak habis pikir, di Jepang kan teknologinya sudah sangat maju, tapi mereka mau lho mengupas ubi sampai selesai sambil berpanas-panasan pula. Mereka tidak suka kerja setengah-setangah, jadi harus benar-benar selesai baru istirahat. Sewaktu mereka berjalan kaki dari satu kampung ke kampung lainnya, mereka tidak menggunakan angkot padahal jaraknya cukup jauh. Katanya mereka ingin menikmat desa. Wah kalau saya sepertinya harus menggunakan motor karena lumayan juga jalan kaki di siang bolong seperti itu.

Mahasiswa Jepang sedang belajar mengupas ubi, katanya kalau di Jepang tak ada yang beginian karena sudah menggunakan teknologi semua
Mahasiswa Jepang sedang belajar mengupas ubi, katanya kalau di Jepang tak ada yang beginian karena sudah menggunakan teknologi semua

Mereka tidak hanya disiplin dan pintar lho. Adik-adik mahasiswa jepang ini baik hatinya, karena membawakan beberapa oleh-oleh dari Jepang untuk gapoktan dan tentunya penyuluhnya kecipratan hehe. Kami diberikan oleh-oleh makanan ringan berupa biscuit coklat, stick seperti egg roll, makanan seperti dodol, juga makanan instant. Biskuitnya enak, crackernya empuk dilapisi coklat yang susunya terasa banget. Egg rollnya juga manis dan lezat, sedangkan dodolnya terasa agak mint-mint gitu. Nah kalau yang makanan instant saya tidak berani mengkonsumsinya karena tidak ada label halal dan tidak tau itu daging apa, mau bertanya tidak enak. Sewaktu membaca kemasannya ternyata huruf kanji semua. Jadilah saya foto saja dan saya berikan ke kelompok, tapi kelompok juga tidak berani memakannya. O iya saya juga mendapatkan kipas lho, masih saya simpan dengan rapih di lemari.

Oleh-oleh makanan ringan dari Jepang
Oleh-oleh makanan ringan dari Jepang
ini apa yah? huruf kanji semua
ini apa yah? huruf kanji semua
Kalo ini uang yen mainan, ini untuk dedek Ratu, anaknya pak ketua gapoktan
Kalo ini uang yen mainan, ini untuk dedek Ratu, anaknya pak ketua gapoktan
Kipasnya masih saya simpan lho
Kipasnya masih saya simpan lho

Itulah oleh-oleh yang paling berkesan di awal tahun 2015 ini. Berkesannya karena dibawa dan diberikan oleh orang-orang Jepang langsung ditambah dengan keramahan sikap mereka. Sayangnya untuk tahun ini saya tidak ikut mendampingi karena banyaknya tugas. Tapi dari cerita kelompok, adik-adik mahasiswa Jepang ini sangat santun sehingga memberikan kesan tersendiri bagi kelompok. O iya sebelum pulang seperti sebelum-sebelumnya, kelompok selalu mengoleh-olehkan tepung ubi andalan gapoktan, dan juga memberikan mereka rekomendasi Pusat Oleh-Oleh mana yang asik di Bogor untuk membeli oleh-oleh yang dapat dibawa ke Jepang. Mudah-mudahan mereka suka ya.

Nah, dalam sekitar dua bulan kedepan akan ada mahasiswa Jepang lagi yang mau berkunjung ke gapoktan. Saya belum tau tanggal pastinya, yang jelas kami sangat welcome. Ini memacu saya untuk belajar bahasa Inggris lagi, kalau saya tidak bisa bahasa Jepang, minimal harus bisa bahasa Inggrislah. Mmmmm…. Nanti kami dapat oleh-oleh lagi ‘gak ya? *eh :p

Advertisements

15 thoughts on “Oleh-Oleh Berkesan dari Jepang

    1. Iya itu mit. Dari gambarnya maknyus tapi ga berani juga. Itu mahasiswa tahun kemarin banyakan kok soalny digabung. Yg lainnya mahasiswa ipb. Kalo tahun ini cuma dikitan 5 orang soalny nginep d rumah gapoktan. Jadi dibagi2 gitu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s