Sekotak Penuh Kesan dalam Perjalanan Penuh Makna

blue-birdBulan Oktober tahun 2015 lalu menjadi bulan yang berkesan bagi saya. Saat itu untuk kedua kalinya, saya mendapatkan kesempatan berharga untuk menginjakkan kaki di daratan Sumatera. Kesempatan itu tidak datang begitu saja lho. Berkat hobi menulis di blog, saya kemudian dikenal oleh beberapa orang termasuk dari salah satu lembaga pemerintah. Jadi ceritanya, Bu Nunik dari Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian (PUSTAKA) Kementerian Pertanian RI mengajak saya untuk membantu meliput kegiatan HPS Tahun 2015. HPS adalah kepanjangan dari Hari Pangan Sedunia. Bu Nunik meminta saya meliput semua kegiatan selama HPS berlangsung di Palembang. Beliau mengenal saya berkat aktivitas blogging yang saya lakukan selain berprofesi sebagai penyuluh. Tanpa berpikir panjang, saya langsung menerima tawaran yang diberikan oleh Ibu Nunik karena kapan lagi dapat meliput kegiatan HPS tingkat nasional. Biasanya saya hanya mentok di kegiatan Kabupaten saja.

Akhirnya berangkatlah kami menuju Palembang pada tanggal 16 Oktober 2015. Karena peringatan HPS tingkat nasional berlangsung keesokan harinya hingga tanggal 20 Oktober 2015. Setibanya di Palembang, kami langsung menuju Stadion Jakabaring dengan menggunakan mobil jemputan. Di sana, saya diminta untuk berkeliling melihat spot-spot yang akan diliput. Setelah pekerjaan selesai, saya dan Bu Nunik langsung pulang ke penginapan untuk memulihkan tenaga karena besoknya kami harus bekerja lebih keras lagi. Nah, keesokan harinya kami bergegas berangkat ke Stadion Jakabaring tepat pukul 06:30 WIB dari penginapan. Waktu itu kami menggunakan taksi Blue Bird yang dipesan langsung melalui bantuan penginapan. Kami harus tiba di stadion sebelum pukul 08.00 WIB karena area di sekitar stadion harus disterilkan. Rencananya Bapak Wakil Presiden RI akan membuka peringatan HPS Tahun 2015, jadi di setiap sisi stadion harus steril serta terjaga.

blue-bird
Terjebak macet ketika menuju stadion Jakabaring

Sayang sekali, kami terjebak macet di jalan menuju stadion. Saya memanfaatkan waktu tersebut untuk mengambil gambar di sekitar. Tetapi setelah selesai mengambil gambar, rupanya taksi yang saya tumpangi masih belum bergerak juga. Akhirnya untuk mengisi waktu, saya mulai iseng mengajak Pak sopir Blue Bird yang bernama A. Roni ini untuk ngobrol. “Pak Roni, asli Palembang?” saya bertanya setelah mengetahui namanya. “Iya saya asli Palembang mbak”, jawab Pak Roni dengan tetap menghadap ke depan. Pak Roni, kalau saya mau ke jembatan Ampera caranya bagaimana ya?” saya serius bertanya karena malamnya ingin ke sana. “Supaya Mbak tidak pusing, minta antar taksi saja biar langsung diantar ke lokasi, itu ada nomornya di pintu mbak” Pak Roni menjawab sambil menggerakan taksi yang mulai berjalan karena sudah mulai terurai macetnya.

blue-bird
Terlihat identitas Pak Roni yang terekam kamera saya

Kami terjebak kemacetan lagi di Jembatan Ampera tetapi masih bisa berjalan meskipun lamban dibandingkan dengan yang tadi. Saya mulai iseng bertanya lagi ke Pak Roni, kali ini pertanyaan saya mengenai bencana asap yang terjadi di Palembang. Masih ingat kan kalau daratan Sumatera sedang terkena bencana asap bulan Oktober tahun 2015 lalu?. “Pak Roni, ini kabut asap sudah lama ya pak?, ini benar karena pembakaran kebun sawit?” tanya saya dengan wajah serius. “Hari ini sih mending mbak daripada minggu lalu, jarak pandang pendek banget, kalau pembakaran kebun sawit susah sih Mbak soalnya menyangkut tradisi” jawab Pak Roni sambil menjalankan mobil menyesuaikan arus saat itu.

blue-bird
Ada baiknya juga terkena macet, saya bisa mengabadikan Jembatan Ampera

Bu Nunik juga ikut bertanya karena penasaran mengapa membakar kebun sawit dikaitkan dengan tradisi. “Dari dulu memang diajarkan untuk membuka tanah baru hasil penanaman sebelumnya, cara paling mudah ya membakar Mbak. Masalahnya dulu kan tidak seperti sekarang yang cuacanya sudah bergeser. Sekarang kita membakar kebun tapi tidak ada hujan jadi ya bara hasil pembakaran di lahan gambut tidak padam, dan kalaupun disiram air akan menimbulkan asap seperti sekarang ini” jawab Pak Roni dengan ekspresi serius. “Susah dipadami ya pak lahan gambut itu?” saya bertanya lagi karena memang tidak paham tentang karakteristik lahan gambut. “Iya mbak, lahan gambut itu seperti sekam yang dibakar, di atas memang sudah terlihat padam apinya, tapi kalau kita lihat di dalam itu masih ada bara panas, jadi kalau ada ranting sedikit bisa kebakaran lagi” Jawab Pak Roni berapi-api.

Oh pantas saja kalau bencana asap susah ditangani, jika mau serius maka harus membasmi sampai akar-akarnya. Dari penuturan Pak Roni, saya mengetahui kalau pemerintah sudah menindak tegas beberapa perusahaan serta oknum yang memang lalai dalam pengelolaan lahan sawit ini sehingga menyebabkan kebakaran. Dia juga berharap semoga bencana ini cepat usai karena sudah sangat mengganggu lingkungan bahkan kesehatan. Saya sendiri merasakan sesak ketika tiba di Palembang, belum lagi suhu lingkungan sangat panas meskipun saat itu langit terlihat mendung akibat kabut asap. Tak terasa kami sudah cerita terlalu panjang hingga tiba di tempat yang dituju yaitu Stadion Jakabaring. Pak Roni kembali mengingatkan agar kami mencatat nomor telepon kantor taksi Blue Bird untuk memudahkan pemesanan. Saya langsung menyimpan nomor tersebut supaya nanti tidak repot jika ingin pergi ke sana-sini selama di Palembang.

blue-bird
Sampai juga di Stadion Jakabaring untuk meliput HPS Tahun 2015
blue-bird
Saya langsung mencatat nomor telepon kantor Blue Bird Palembang dan mengabadikannya dalam kamera

Tugas meliput selama HPS berjalan lancar jaya. Setelah menyelesaikan tugas, saya dan Bu Nunik mulai berkeliling di Palembang. Salah satu tempat yang kami kunjungi adalah Jembatan Ampera yang terkenal itu. Kemudian mencoba kuliner kebanggaan masyarakat Palembang yaitu Empek-empek Palembang. Ini yang namanya kerja sesuai passion, kerjaannya beres, jalan-jalannya juga beres hehe. Namun, waktu terasa cepat berlalu, saya dan Bu Nunik harus segera kembali ke Jakarta untuk bertugas kembali di unit masing-masing. Lagi-lagi kami diantar oleh Taksi Blue Bird saat menuju bandara. Untuk kali ini saya tidak terlalu banyak bertanya kepada Pak Supir karena sibuk mengabadikan setiap detik  moment melalui video. Terimakasih Palembang atas keramahannya dan juga Pak Roni yang sudah memberitau saya mengenai karakteristik tanah gambut. Jujur deh, sebagai penyuluh saya belum tau tanah gambut itu seperti apa, justru taunya dari Pak Roni yang berprofesi sebagai driver. Hal ini berkesan bagi saya karena walaupun bukan ahli di bidangnya, namun tetap aware terhadap hal-hal yang bersifat alamiah.

blue-bird
Mengunjungi Jembatan Ampera malam hari
blue-bird
Pemandangan cantik di sekitar Sungai Musi
blue-bird
Kembali pulang menuju Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II

Sampai sekarang, nomor kantor taksi Blue Bird masih tersimpan di buku kontak smartphone milik saya. Walaupun smartphone yang dibawa ke Palembang sudah hilang, namun kontak itu tetap ada. Bersyukur sekali masih menyimpannya, siapa tau suatu hari nanti saya kembali lagi ke Palembang hehe. Tetapi sebenarnya saya tidak perlu khawatir kalau suatu saat membutuhkan jasa Blue Bird lagi untuk mengantar ke suatu destinasi. Itu karena sudah tersedia aplikasi My Blue Bird yang dapat didownload melalui Playstore, App World dan iOS. Melalui aplikasi ini, kita dapat membooking langsung taksi Blue Bird untuk mengantarkan kita ke suatu tempat. Caranya mudah, setelah mendownload aplikasinya, lalu buatlah akun baru dengan mengisi data, lalu akan ada kode verifikasi dan email aktivasi yang harus dimasukan pada kolom yang disediakan.

my-blue-bird

Setelah memasukkan kode dan mengaktivasi link yang diberikan, maka kita dapat langsung menggunakan aplikasi My Blue Bird. Jika ingin menggunakan jasanya, cukup dengan memilih menu Book New Taxi. Kemudian akan muncul kolom yang harus kita isi untuk lokasi penjemputan, lokasi yang dituju, waktu penjemputan serta pembayaran. Aplikasi ini memang dilengkapi beberapa fitur canggih seperti panduan alamat, peta lokasi, nama pengemudi dan nomor lambung taksi yang akan menjemput. Saya perlu mencobanya nanti ketika ingin bepergian ke suatu tempat disaat tidak ada orang rumah yang bisa mengantar. Tentunya saya tidak perlu repot harus mencari nomor telepon kantor pusat kemudian menelponnya untuk memesan taksi Blue Bird, hemat pulsa telepon dan memudahkan pemesanan. Itu sebabnya, daripada nanti kesulitan jika ingin bepergian dan demi untuk kenyamanan, lebih baik kita install aplikasi My Blue Bird saja yang dapat dipakai kapanpun dan dimanapun.

Oh iya, saya jadi ingat nih, mungkin karena kebiasaan juga. Bulan lalu saya menggunakan jasa Blue Bird lagi untuk mengantar ke daerah Sudirman Jakarta. Saat itu jalanan lancar jaya namun entah mengapa saya kembali mewawancarai driver Blue Bird lagi yang bernama Bapak Siswad. Tidak terlalu banyak sih obrolan kami, tapi ada satu yang berkesan bagi saya. Bahwa apapun yang terjadi kita tetap harus optimis dalam berusaha. Saya dapat menyimpulkan itu setelah mendengar cerita Bapak Siswad tentang fenomena kemunculan ojeg online hingga pemesanan mobil diluar jasa taksi secara online. Beliau tidak terlalu memusingkan meskipun awalnya agak khawatir. Namun Bapak Siswad percaya bahwa setiap rezeki sudah ada jatahnya masing-masing, tinggal bagaimana kita mau mengambil rezeki yang sudah berjalan ke arah kita.

blue-bird
Kartu pengenal Pak Siswad, foto dan nomor identitas saya tutup ya

Saya langsung terharu meskipun tidak saya sampaikan saat itu. Ucapan Bapak Siswad menyadarkan kepada saya bahwa di luar sana masih banyak sekali orang yang harus bekerja keras untuk mencari rezeki. Tetapi mengapa saya masih saja berkeluh kesah dengan keadaan yang mungkin lebih baik daripada yang dialami oleh Bapak Siswad. Saya langsung mengucapkan terimakasih kepada Bapak Siswad atas sharing yang membekas sekali untuk saya. Setelah turun dari taksi yang dikendarai oleh Beliau, saya mulai berjanji kepada diri sendiri agar selalu bersyukur terhadap segala hal yang didapat hari ini, kemarin serta kemudian hari. Semua itu saya dapatkan dari sebuah perjalanan singkat namun membawa manfaat cukup lama. Sebuah perjalanan yang saya sebut sebagai sekotak penuh kesan dalam perjalanan penuh makna.

Advertisements

46 thoughts on “Sekotak Penuh Kesan dalam Perjalanan Penuh Makna

  1. Pas Blogger Camp dapat voucher Blue Bird, tapi belum sempat kepakai hehehe (sudah hangus) soale di Bojonegoro tidak ada Taksi hehehe.

    Sukses ya untuk Lomba nya 🙂

    1. aamiin makasih bart, pas turun gunung dan sampe rumah teryata aku menang smartphone hadiah lomba, ini yg dipake sekarang, makanya yg lama harus hilang kali hehe

  2. Mba.. sayang kita gak sempat ketemuan ya pas HPS kemaren.. Padahal kantorku ada di Jalan Merdeka (Ktr Walikota).. Kalo sehari2 memang macet lewat Ampera karena jembatan Ampera satu2nya akses yang menghubungkan seberang ulu dan ilir Palembang..

    1. oh pantesan mbak, tapi bersyukur sih kalo kemarin macet soalnya jadi bisa foto2 hehe, iya sayang ya pas itu kita gak ketemuan, aku juga gak bisa kemana2 sih karena harus ikut intruksi Bu Nunik

  3. Walaupun sebel karena macet tapi kalau bisa ngobrol nyambung dengan bapak driver gitu senang yach jadi nga berasa macetnya. Dan obrolan seperti ini kadang sesuatu yang diluar perkiraan kita. Beberapa kali di taksi mendapatkan pembicaraan dan diskusi seru selama perjalanan. Hehehe.. Blue bird sudah 2-3 tahun ini mengikuti perkembangan jaman dengan mengupgrade aplikasi yang mereka punya. Semoga tulisannya menang yach mbak.

  4. Blebird memang bisa diandalkan, walaupun sekarang sudah banyak taxi online tapi saya tetap langganan blubird untuk antar jemput ke bandara. Habis gimana…udah langganan sejak 2003 sih….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s