//
archives

Traveling

This category contains 8 posts

Temu Penyuluh Priyangan Barat (Ngebolang di Sukabumi)

Pagiiiii…. apakabar dunia? tetep asikkkk #halah

Teman-teman, alhamdulillah pada awal minggu ini kami penyuluh Bogor mendapat kesempatan untuk mengikuti Jambore Penyuluh di Salabintana Sukabumi pada hari senin tanggal 24 Februari 2014. Penyuluh wilayah priangan barat berkumpul untuk bersama-sama bersilaturahim dengan teman sesama penyuluh dan gubernur Jawa Barat. Nah, awalnya kami yang dari Bogor berangkat bersama-sama menggunakan bis, tapi setelah menghitung dan menimbang akhirnya saya dengan delapan orang lainnya berangkat ke Sukabumi dengan menggunakan kereta.

Kami menggunakan kereta untuk menghindari macet, jalur sukabumi-bogor pada jam sibuk kini sudah macet karena di sukabumi sudah mulai banyak industri. Kereta yang kami pakai adalah Kereta Pangrango yang merupakan kereta jarak jauh kelas ekonomi dan eksekutif. Terus terang saya belum pernah ke sukabumi menggunakan kereta, jadi agak bingung ketika mencari stasiun khusus yang membawa kami ke sukabumi.

image

Stasiun Paledang Bogor

Ternyata stasiun yang menjadi tempat singgah kereta pangrango dari bogor adalah stasiun paledang. Seumur hidup saya baru menginjakan kaki dan baru tau kalau ada stasiun di belakang matahari taman topi bogor. Yak, kalau mau ke stasiun paledang, teman-teman harus turun di matahari taman topi bogor, kemudian masuk ke jalan polisi 1 yang terletak di samping matahari dan dekat dengan kantor polisi bogor. Masuk aja ke jalan itu, terus kalo ketemu pertigaan belok ke kanan, kemudian nyebrang rel terus belok kiri ada tulisan stasiun paledang.

image

Loket pelayanan

Stasiun paledang melayani pembeliaan tiket kereta dari jam 08.00-11.30 dan jam 13.00-16.30, sedangkan jam bukanya dari jam 06.00-18.00 (kalau ga salah hehe). Kereta pangrango tujuan sukabumi menyediakan dua tiket yaitu tiket kelas ekonomi sebesar rp. 20.000 dan eksekutif sebesar rp. 50.000. Saat itu kami mencoba naik kereta pangrango ekonomi. Menurut saya untuk kelas ekonomi sudah sangat nyaman karena tersedia fasilitas seperti AC, colokan listrik untuk ngecas hp dan toilet yang bersih. Bangku penumpang tersusun untuk tiga orang dan dua orang penumpang dengan kursi yang empuk. Sepanjang perjalanan kita akan disuguhkan oleh pemandanganbyang indah seperti hamparan sawah, kebun maupun hutan bambu. Secara keseluruhan kereta ini sangat nyaman untuk digunakan menuju sukabumi daripada harus bermacet ria melewati ciawi-sukabumi.

image

Kereta Pangrango datang di stasiun Paledang

image

Suasana dalam kereta pangrango kelas ekonomi

image

Ada AC nya nyaman deh

image

Mau ngecas hp juga bisa

image

Pemandangan sepanjang perjalanan

Back to laptop. Kami tiba di stasiun sukabumi sekitar pukul 09:00. Di stasiun banyak sekali petugas gabungan dari TNI maupun polri yang sedang mengadakan gladi untuk kunjungan bapak presiden sby keesokan harinya. Pantas saja di setiap stasiun kecil yang kami lewati banyak anak sekolah dan warga yang seolah menyambut kedatangan kami, kami pikir ada pejabat yang bareng dengan kami naik kereta pangrango hehe ge er deh.

image

Di depan mobil gegana yang sedang melakukan gladi

Tempat pertemuan kami ada di hotel Salabintana. Tempatnya sejuk seperti Lembang kalau di bandung dan puncak kalau di bogor. Setibanya kami disana sudah banyak rekan penyuluh dari kota kabupaten yang telah tiba lebih dulu. Ramai sekali, saya sampai pusing melihat begitu banyak orang. Nah sekitar jam 10an Bpk. Gubernur Jabar tiba di lokasi disambut tarian adat sunda. Acara temu penyuluh pertanian perikanan dan kehutanan wilayah priyangan barat pun dimulai. Tujuan diadakannya acara ini adalah untuk mensinergikan penyuluh agar mampu  meningkatkan produksi serta  menanggulangi kerusakan lingkungan. Bapak gubernur mengajak kami untuk bersama-sama membina masyarakat agar tidak menjual lahannya sehingga dapat memininalisir alih fungsi lahan serta mampu memanajemen sumber daya alam yang ada. Acara temu penyuluh ini selesai sekitar pukul 12 siang lebih.

image

Tempat pertemuan di selabintana

image

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan

Saya senang sekali dapat menghadiri acara ini karena acara ini juga sebagai ajang silaturahim yang mempertemukan penyuluh antar wilayah. Alhamdulillah saya bertemu rekan perjuangan dulu ketika diklat HACCP dan rekan sekamar serta seperjuangan selama 3 minggu lamanya pada diklat TOT MP3 di BBPP Lembang Bandung. Setelah selesai semua, kamipun beranjak menuju destinasi kami ke tempat pembuatan mochi di Sukabumi yaitu Mochi Lampion.

image

Ketemu Emi penyuluh di Ciwidey, teman diklat haccp

image

Ketemu bu haji n bu jati dari cianjur teman diklat mp3

Mochi Lampion merupakan oleh-oleh khas Sukabumi. Pertama kali merasakan mochi ini saya langsung jatuh cinta. Mochinya manis, empuk dan gurih. Tersedia berbagai macam rasa mulai dari buah-buahan, keju dan coklat. Harganya juga murah, Rp. 30000 untuk kemasan yang terbuat dari bambu dan Rp. 25000 untuk mochi dalam kemasan. Jika hendak pergi ke Sukabumi teman-teman dapat berkunjung ke Mochi Lampion yang ada di jalan Bhayangkara Gang Kaswari Kota Sukabumi.

image

Mochi Lampion

image

Aneka rasa mochi lampion

Waktu sudah menunjukan pukul 14:00 lebih dan kereta Pangrango kami sudah tiba di stasiun Sukabumi itu artinya kami harus kembali ke Bogor. Terimakasih Sukabumi.

image

Kereta Pangrango

Matur Suwun Jatim

Sambil menunggu jadwal keberangkatan kereta menuju Bogor, saya menghabiskan waktu untuk mengunjungi toko buku Gramedia di Plaza Madiun. Ada beberapa buku yang ingin saya berikan kepada teman-teman. Buku 5 cm. dan komik Conan. Ada beberapa buku yang juga menarik perhatian saya yaitu buku tentang fotografi. Saya memang sedang ingin belajar fotografi guna melengkapi hobi saya yang narsis dan melengkapi gambar-gambar di blog. Tidak ada darah fotografi yang mengalir di dalam tubuh tetapi tidak ada salahnya untuk mencoba, tidak ada yang tidak bisa kalau mau berusaha bukan?
image

Buku sudah dibeli, ternyata saya mendapatkan souvenir kalender dari Kompas Gramedia. Kalendernya bagus baik dari fotografi maupun pesan moral yang disampaikan.

Sambil duduk di food court yang ada di plaza Madiun, saya mulai membaca apa yang tertulis di kalender. Saya sangat tertarik dengan tulisan Ninok Leksono yang berjudul Masa Depan Milikmu di kalender ini. Dia berkata seperti ini:

“Wahai orang muda, jangan terbujuk, setialah pada hati nurani”

Sepertinya ini nasehat untuk saya pribadi supaya tidak terlalu terhanyut arus yang ada di tempat kerjaan saya. Yah, saya tidak perlu menceritakan seperti apa tepatnya. Tetapi kalau senior bilang ikuti arus saja tapi jangan sampai terhanyut hehe. Sepertinya saya memang kurang bersyukur, di tempat yang dulu suka mengeluh, sekarang juga, padahal semua itu adalah pilihan dan saya telah memilih jalan ini. Padahal saya sering bertemu dengan orang-orang yang dengan susah payah mencari nafkah seperti tukang becak, pemulung, bahkan petani yang berjibaku dengan cuaca dan serangan hama penyakit. Baiklah mulai saat ini kurangi keluh kesah dan mulailah untuk selalu bersyukur karena dengan bersyukur tentu nikmat akan semakin bertambah bukan?

Bertemu dengan teman- teman kemarin kembali membuka mata saya, bahwa masa depan adalah kita yang menentukan mau apa kita nanti. Saya senang dengan semangat teman-teman yang ingin terus menuntut ilmu. Terus terang saja saya memang belum berpikir ke arah sana karena saya juga masih bingung dengan profesi saat ini. Tetapi satu yang pasti bahwa menuntut ilmu itu tidak terbatas oleh waktu. Semoga nanti ada cahaya yang mencerahkan saya untuk menuju kesana. Aamiin.
image

image

Selesai di Plaza Madiun, saya diantar sofi mengunjungi tempat batik. Mamah saya kepengen oleh-oleh daster batik, tantenya Alfi dan si ayah juga. Saya di antar sofi ke Pusat Batik di jalan Kolonel Marhadi Madiun dekat Alun- Alun Kota Madiun. Harga batiknya sangat terjangkau dan bagus-bagus sampai saya bingung milihnya. Hampir satu jam disana akhirnya selesai juga milih batiknya.
image

image

Setelah membeli oleh-oleh batik, saya diantar sofi untuk makan Gudeg Solo di jalan Buni. Gudegnya menurut saya enak, rasanya pas dan khas Jateng. Kami tidak terlalu lama di sana karena masih ada satu destinasi lagi yaitu pusat oleh-oleh brem asli Madiun di Toko Taman Sari jalan Salak Raya Ujung Barat. Disini banyak dijual oleh-oleh seperti brem aneka rasa, sambal pecel Madiun, aneka keripik, jenang dan lain-lain. Hargany sangat terjangkau untuk setiap jenis makanan. Saya mendapat oleh-oleh khusus dari Sofi. Terimakasih ya Sofi.
image

image

Hari sudah semakin sore… kereta sebentar lagi datang. Beribu-ribu terimakasih saya ucapkan untuk teman-teman atas sambutannya selama dua hari di Jatim. Saya berharap teman-teman dapat berkunjung balik ke Bogor dan semoga tali silaturahim kita tetap terjaga. Aamiin.

From Pare With Love (3)

Minggu, 19 Januari 2014

Hari ini adalah hari terakhir kami di Pare karena baik kami dan teman-teman besok harus sudah kembali beraktivitas. Rencananya hari ini kami akan berkumpul di Sribu Asri, Bendo, Pare. Tempatnya masih dekat dengan pusat Pare, tepatnya di belakang gudang pabrik rokok Gudang Garam yang merupakan perusahaan rokok terbesar di Kediri. Bicara tentang rokok, saya menemukan beberapa merk rokok unik yaitu Grendel dan Jambu Bol. Merk tersebut tidak ada di Jabar. Meskipun saya mengetahui hal tersebut tetapi saya bukan perokok lho.

image

Sribu Asri merupakan tempat makan lesehan plus pemancingan. Saya mengenal tempat ini sudah beberapa tahun yang lalu ketika perpisahan rekan kami yang bernama Budi. Tempat yang jam operasinya mulai dari jam 9 hingga jam 10 malam ini sangat ramai apabila hari libur tiba. Terlihat disana-sini banyak orang yang memancing. Kamipun tidak ketinggalan untuk memancing. Rizal dan Zezen rekan kami sangat terampil mengayunkan kail pancing hingga mendapatkan 3 buah ikan bawal segar. Ikan bawal ini yang nantinya akan menjadi santapan kami.

image

image

image

Di taman ini juga terdapat binatang-binatang lucu seperti kucing, burung kakak tua, burung hantu, biawak, bunglon dan lain-lain yang membuat pengunjung usia anak-anak senang melihatnya.

image

image

image

Karena teman-teman sudah mulai berkumpul, kamipun mulai menuju lesehan untuk menikmati hasil pancingan. Tiga buah ikan bawal bakar, satu buah gurame bakar, 2 porsi tempe terong penyet, 3 porsi cah kangkung plus minuman khas berupa beras kencur menambah kenikmatan acara kumpul hari ini. Hmmmm rasanya enak, lezat, gurih. Memang kalau makan secara bersama akan terasa nikmat. Alhamdulillah.

image

image

image

Waktu sudah nenunjukan pukul 11 siang. Kami mulai saling bersalaman dan berpamitan. Rasa senang, sedih, haru mulai mewarnai perpisahan kami hari itu. Ucapan terimakasih kami ucapkan setinggi-tingginya untuk teman-teman di Pare karena walaupun sudah tiga tahun lamanya tidak bertemu, mereka tetap tidak berubah, mereka masih sangat baik dan setia seperti dulu. Hal inilah yang membuat saya sangat merindukan Pare, tidak hanya tempat tetapi persahabatannya. Iringan doa satu dengan yang lainnya mengantarkan kepergian kami.

Alhamdulillah cuaca saat itu sangat bersahabat. Cuaca cerah mengantarkan perjalanan kami kembali ke tempat masing-masing.

Terimakasih Pare, Terimakasih teman-teman atas keceriaan dan persahabatannya. Sampai jumpa lagi dilain waktu. Semoga tali silaturahim kita terus terjaga. Aamiin.

From Pare With Love (2)

Sabtu, 18 Januari 2014

Waktu menunjukan pukul 03:30, masih di dalam kereta bangun karta. Tetapi saya sudah bangun karena takut kebablasan, maklum dijadwal kereta akan sampai Madiun pukul 4:30. Rasanya sudah gak sabar menginjakan kaki dan menghirup udara jatim. Saya melihat ke jendela tapi masih gelap jadi gak tau sudah sampai mana. Teman saya sofi sudah membangunkan dan mengingatkan jangan sampai tidur terlalu pules kalau sudah sampai Solo Balapan. Hehe tenang sofi karena tiap pemberhentian diumumkan dan ada petugas yang membangunkan. Tetapi tetap saja saya harus siap. Sambil menunggu saya mau membuat postingan untuk ultah KEB hari ini. Postingan KEB sudah dibuat tinggal diposting nanti siang kalau sudah tiba di Pare hehe.

Alhamdulillah pukul 04:45 saya sudah tiba di stasiun Madiun. Akhirnya menghirup udara jatim lagi horreeeeeee…. dan mendengar serta melihat bahasa jawa lagi. Hehe norak ya saya. Kereta Bangun Karta berhenti sejenak selama 5 menit di stasiun Madiun untuk pengecekan. Sambil menunggu sofi datang, saya mencoba menuliskan lagi lanjutan cerita ini. Stasiun Madiun tak banyak berubah, bersih dan rapih.
image

image

Lima menit kemudian sofi sudah datang menjemput di pintu keluar stasiun. Di luar sana sudah banyak bapak-bapak yang menawarkan jasa ojeg. “Mbak ojegnya mboten?” Tanya bapak-bapak itu. Sayapun menjawab “mboten pak”. Terdengar suara salah seorang bapak yang mengatakan “kok iso bilang mboten”, ya kalo cuma bilang mboten bisa pak hehe. Sofi sudah menunggu di pintu luar. Motor Yamahanya membawa saya keluar stasiun. Wuiiih sejuk banget madiun, pukul 05:30 ruas jalan masih sepi. Motor sesekali hilir mudik dengan kencang. Tidak seperti bogor kalau jam segitu pasti sudah ramai. Kalau mau motoran di jatim kits harus hati-hati. Lebih baik tidak usah ngebut-ngebut karena jalanan disini tidak seramai di Jabar sehingga banyak kendaraan yang jalannya ngebut. Saya melihat ada 3-4 motor dan 2 mobil yang menerobos bangjo (abang ijo alias lampu merah) karena jalanan yang sepi. Kami tidak ikut menerobos khawatir ada kendaraan dari arah berlawanan.

Setelah beristirahat sekitar 1.5 jam di rumah sofi yang berada di daerah nglames madiun, kamipun bergegas menuju kediri. Dengan iringan doa dari ibu serta nasehat dari oyan untuk tidak menyalip kendaraan lain di daerah saradan, kami mulai melaju menyusuri jalan-jalan madiun. Kami memotong jalan melewati wonosari yang tembus ke jalan raya caruban. Sepanjang jalan saya melihat hamparan padi bagaikan permadani hijau. Rasanya ingin sekali gegulingan di sana. Saya sangat salut terhadap petani disini yang kompak untuk tanam serempak menanam padi. Hal tersebut dapat memberikan dampak positif terutama dalam hal memutus rantai hama penyakit. Tidak seperti di daerah saya yang sulit sekali untuk penanaman serentak lantaran kurang tenaga kerja dan alsintan.
image

Memasuki caruban suasananya tidak terlalu berbeda seperti dulu. Jalanannya masih lenggang dan lebar. Kita bisa agak ngebut di jalanan ini tetapi tetap berhati-hati guna menghindari hal yang tidak diinginkan. Beberapa menit kemudian marka jalanan mulai berubah menjadi garis putih lurus tidak terputus. Itu pertanda kami telah memasuki Saradan. Seperti kata oyan, jangan menyalip kendaraan yang ada di depan karena memang jalanan ini rawan kecelakaan. Konturnya agak berbelok dan permukaan jalanan tidak terlalu mulus karena sering dilalui truk tronton serta bus besar seperti Eka, Mira, Restu, Sumber Selamet dan lain lain. Kami mematuhi nasehat oyan untuk tidak ngebut dan tidak menyalip di saradan. Kamipun minggir ketika bus Restu membunyikan klakson di belakang kami. Jalanan di kanan-kini saradan banyak ditanami pohon jati. Sesekali saya melihat karya seni berupa kursi yang dibuat sangat ciamik dari pohon jati. Adanya pohon jati membuat daerah saradan terlihat sangat sejuk dan rindang. Sayapun membuka kaca helm serta masker untuk menghirup sejuknya tiupan angin saradan.
image

Beberapa saat kemudian kami memasuki Kota dan Kabupaten Nganjuk. Daerah ini memang tidak seramai Madiun atau Kediri, makanya banyak orang-orang Nganjuk yang sering main ke Kediri atau Madiun. Sama seperti Madiun, Nganjuk juga merupakan daerah sentra penanaman padi. Sepanjang jalan mata ini kembali dibuat terlena oleh hamparan hijau tanaman padi. Beberapa saat kemudian kami melewati Kertosono, dulu saya sering sekali naik kereta dari kertosono ketika hendak pulang ke Bogor. Motor biasanya saya titipkan di Stasiun Kertosono. Apabila sudah memasuki daerah ini artinya Kediri semakin dekat. Daaannnn setelah melewati perempatan, melalui jembatan yang di bawahnya terdapat Sungai Brantas, akhirnya kamipun memasuki gerbang yang bertuliskan selamat datang di Kabupaten Kediri di daerah Papar Kabupaten Kediri. Dulu apabila saya melewati daerah ini, saya tidak berani membawa motor dengan kencang karena jalanan ini bergelombang dan banyak dilalui kendaraan besar. Tetapi sekarang berbeda, jalanannya mulus sehingga kami merasa nyaman ketika melalui jalan ini. Apabila memandang ke sebelas kiri akan terlihat para petani bawang merah yang sedang menanam umbinya dan beberapa petani yang sedang menebar pupuk di pertanaman padi. Padi juga menjadi komoditas utama di daerah ini.
image

Akhirnya rasa pegal karena duduk di motor selama 2.5 jam (biasanya saya paling lama motoran 1 jam) terbayar juga karena kami sudah tiba di Pare yang disambut oleh Tugu Garuda.

Saya dengan sofi mulai senyam-senyum sendiri, ternyata Pare banyak berubah. Ada beberapa bangunan baru seperti plaza, taman dan tempat makan. Di dekat Masjid Agung An Nur Pare terdapat Taman Kilisuci. Menurut arek-arek taman ini merupakan taman yang baru dibuat. Di sana saya melihat sekumpulan anak muda yang sibuk mengabadikan persahabatan mereka. Kami sudah tidak sabar untuk mengunjungi teman-teman.
image

image

Sebelum menuju tempat surprise, kami check in terlebih dahulu di Hotel Surya Kediri supaya tas yang berat ini tidak perlu di bawa kesana -kesini. Dan sekitar jam 10 tepat kami mulai melaju menuju Tulung Rejo. Motor melaju melewati perempatan pasar Pare dan perempatan Tulung Rejo. Beberapa meter kedepan setelah melewati lapangan futsal di sebelah kanan, kami tiba di tempat tujuan. Rasanya deg-degan takut kami tidak diizinkan masuk. Tetapi siapa yang menyangka ternyata pak satpam masih ingat dengan kami semua. Rasanya sangat terharu. Pak satpam menyuruh kami untuk masuk saja tanpa meninggalkan identitas. Setelah memarkir motor, kami mulai berjalan lewat belakang kantor. Daaaaannn taraaaaa….. semuanya bengong melihat kedatangan kami, misi berhasilllllll. Tetapi jujur saja bukan hanya mereka yang bengong, tetapi saya juga karena tempat kerja dulu banyak berubah. Yang tidak berubah adalah persahabatan, mereka masih sama seperti dulu, baik dan sangat peduli. Saya dan sofipun mulai mengelilingi perusahaan, melihat setiap proses kegiatan, bertemu dengan teman-teman di bagian lain. Alhamdulillah mereka masih mengingat kami.
image

Tadinya selepas dari Tulung Rejo kami ingin mengunjungi kantor di Sumber Agung, tetapi karena sedang ada acara di Simpang Lima Gumul, maka orang-orang banyak yang tidak ada di kantor. Akhirnya kami juga ikut ke tempat acara di Simpang Lima Gumul untuk bertemu dengan atasan kami yang dulu.

Selama di sana kami jadi canggung sendiri, maklum tamu tidak diundang hehe. Banyaknya orang membuat kami celingak- celinguk sendiri mencari dimana keberadaan si bapak. Alhamdulillah setelah setengah jam celingukan, akhirnya kami bertemu juga dengan si bapak. Senang banget, bapak sehat dan masih seperti dulu hehe. Dan siapa sangka kami juga bertemu dengan teman-teman lainnya. Sekali mendayung satu dua pulau terlampaui. Ini melebihi apa yang saya harapkan. Alhamdulillah.

Kembali ke Pare, beristirahat sejenak di hotel. Setelah bersih-bersih dan shalat, kami melanjutkan misi selanjutnya. Sekarang sudah bergabung teman kami dari Malang. Misi kami selanjutnya adalah bersilaturahim dengan ibu kos di Gedang Sewu Pare. Ibu kos pertama yang kami kunjungi adalah ibu kosnya Fajar, Yudi dan Mas Alam. Mbah Wiryo namanya. Kami sudah mendengar kalau si Mbah sakit, tetapi kami tidak menyangka apabila sakit si Mbah sudah membuatnya kurus kering. Sedih melihatnya, apalagi si Mbah juga sudah tidak mengingat kami, bahkan tidak mengingat Fajar, Yudi atau Mas Alam. Kami hanya bisa mendoakan semoga si Mbah tabah dan selalu mendapatkan perlindungan dari Allah SWT. Aamiin. Beranjak dari tempat Si Mbah, kami berjalan ke rumah depan yang merupakan tempat kos dua teman ku ini. Ibu dan bapak kos masih mnegingat kami, mereka masih ceria dan baik seperti dulu. Sayangnya ibu kos ku Mbah Mispan tidak ada di rumah, Beliau sedang ada di Kalimantan di tempat anaknya hingga bulan depan. Saya hanua mendapatkan info kalau si Mbah mulai sakit-sakitan. Sedih rasanya tidak bisa bertemu si Mbah, tetapi tidak apa-apa melihat rumahnya saja sudah mengobati rasa kangen.
image

Magrib pun tiba, suara azan memanggil kami untuk sujud menghadap Nya di mesjid Agung An Nur Pare. Mesjid ini sungguh indah berdiri kokoh di Pare. Kami bermunajat dan menghaturkan rasa syukur sebesar-besarnya atas segala rahmat dan karunia. Termasuk atas segala rahmat Nya karena mengizinkan kami untuk kembali mengunjungi Pare. Alhamdulillah.

Badan sebenarnya sudah mulai lelah, ditambah dengan mata yang mulai mengantuk. Tetapi tidak menghalangi kami untuk mengelilingi kota Kediri bersama teman kami. Kediri masih seperti dulu, ada beberapa tempat baru dan tempat lama yang tidak ada lagi. Tidak lengkap rasany apabila ke Kediri tidak mampir ke Monumen Gumul, kami melihat banyak pengunjung yang mengunjunginya. Tetapi bukan itu destinasi kami, kami berencana untuk mengunjungi sahabat kami di kota Kediri.
image

Setelah bersilaturahim dengannya, kamipun bergegas untuk makan malam di Soto Tamanan di Terminan Tamanan Kediri. Sudah sejak lama saya mendengar kalau soto ini enak. Tetapi sejak dulu saya belum pernah mencoba. Melihat banyaknya pengunjung sepertinya soto ini memang enak. Bedanya dengan soto di Jabar adalah nasi dan kuah langsung disatukan dalam satu mangkok. Kita dengan bebas menaburkan sayuran yang berupa kol dan toge ke dalam soto kita sendiri. Di sini tidak menggunakan sambal, tetapi cabe besar yang dikenal dengan lombok belis. Jangan lupa tambahkan perasan jeruk nipis supaya segar. Selamat makaaaaan.
image

image

image

Hari sudah semakin malam, kamipun kembali ke hotel untuk beristirahat. Rencana untuk keesokan harinya sudah tersusun dengan rapih. Terimakasih untuk hari ini. Alhamdulillah.

From Pare With Love

Dreaaaaaam comes true…..Dream comes

true

Jumat, 17 Januari 2014

Bojonggede dari pagi diguyur hujan, hingga siang hari tiba kelihatannya persediaan air dilangit masih banyak, air hujanpun terus-menerus turun membasahi bumi. Meskipun begitu saya tidak mengeluh, hari ini sy semangat karena akhirnya mimpi itu terwujud. Mimpi apatuh? Mimpi mau dolan (main) ke Pare, Kediri, Jatim. Saya ingin bersilaturahim dengan kota pare, dengan teman-teman dan juga ibu kos yang sudah lama banget terpisah selama 3 tahun lamanya.

Hmmm…. kaya apa ya Pare sekarang??? Pertanyaan itu terus terngingan di kepala. Pasti sudah banyak perubahan. Sambil beres-beres rumah, mempersiapkan perbekalan dan bermain dengan Alfi, saya sesekali mengontak teman-teman di Pare. Saya dan rekan-rekan di jatim sengaja merahasiakan kedatangan kami ke Pare supaya surprise, tau-tau besok kita sudah muncul dihadapan mereka. O iya pasti banyak yang bertanya mengapa saya bisa ke Pare padahal sudah jadi emak-emak yang punya tanggungan? Alhamdulillah keluarga termasuk Alfi dan suami mengizinkan saya untuk kesana, terlebih saya mempunyai misi terkait kerjaan selain bersilaturahim.

Setelah shalat zhuhur sayapun bergegas untuk berangkat ke stasiun. Stasiun tujuan saya adalah Gambir. Hujan masih saja menghiasi langit Bogor. Setelah membeli tiket single trip commuter line saya bergegas pula menuju kereta yang datang. Wah alhamdulillah, keretanya sepi saya bisa dengan leluasa duduk di gerbong khusus wanita. Derasnya air hujan terlihat dari bercecernya air hujan di lantai kereta.
image

Menjelang daerah Cawang bangku kereta mulai penuh. Mata saya menerawang ke kanan-kiri, meneropong melalui jendela keadaan ibu kota sekarang. Kemudian sayapun tiba di stasiun tujuan saya yaitu Gondangdia. Dari sana saya melanjutkan perjalanan menuju stasiun Gambir dengan menggunakan ojeg. Saya membayar jasa ojeg Rp. 15000 padahal jaraknya tidak terlalu jauh. Kalau dihitung hampir 3x lipat dengan harga ojeg di desa. Yah namanya juga kota beda dengan kampung yang biaya hidupnya masih lebih rendah.

Tiba di stasiun Gambir saya agak bingung karena sudah lama tidak bepergian ke luar daerah Jabar, stasiun Gambir kini berubah, banyak outlet makanan bagi penumpang yang menunggu datangnya kereta katena ternyata kita tidak boleh masuk ke lantai dua dimana kereta nantinya akan masuk.

image

Waktu saya masih panjang, saya harus menunggu sekitar 2 jam hingga kereta Bangun Karta datang. Sambil memanfaatkan waktu sebaiknya saya mencetak print out tiket di tempat pengeprinan tiket mandiri (self service) karena sebelumnya saya sudah membooking tiket melalui salah satu toko frenchise.

image

Fasilitas ini ada di lantai dasar dekat dengan loket pemesanan tiket. Ternyata antri juga untuk mengeprint tiket, hal itu terjadi karena tidak semua penumpang mengerti cara mengeprint tiket secara mandiri terutama para orang tua. Beruntung ada petugas pendamping yang membantu penumpang mengatasi permasalahan ini.
image

Tiket sudah diprint, masih sekitar satu jam lagi kereta datang. Ngapain ya sekarang? Mending isi perut dulu supaya di kereta nanti tinggal duduk manis aja. Kalau hujan begini pengennya makan bakso atau mie ayam, tapi jangan deh mending makan nasi aja. Sambil melihat tugu monas yang menjulang tinggi sayapun mulai melahap ayam teriyaki. Hmmm lumayan enak dan yang pasti kenyang.

image

Sudah jam 17:30 saya bergegas masuk melalui pintu selatan. Kali ini saya sudah diperbolehkan naik ke lantai 3 karena oleh petugas baru diperbolehkan masuk apabila sudah jam 5. Ternyata penumpang juga sudah mulai penuh, sedikit terhibur karena ada band yang sedang tampil di lantai dua. Berada di lantai 3 membuat mata saya lebih segar karena saya sedang dilanda ngantuk berat gara-gara begadang tadi malam. Kereta commuter hilir mudik dijalur sebelah kanan saya. Angin yang bertiup memberikan kesan dingijln di wajah. Kereta yang dinantipun tiba, Bangun Karta, kereta yang membawa saya dari Gambir menuju Madiun. Sebelum ke Pare saya mau mampir dulu ke Madiun untuk mengunjungi teman saya yang bernama sofi. Dari sana kami akan berangkat bareng dari Madiun menuju Pare menggunakan motor.

image

image

Oke sekarang saya sudah naik kereta Bangun Karta. Saatnya saya menikmati perjalanan. Posting tentang Pare masih terus berlanjut.

Ameng Ka Garut

Tiga hari yang lalu selama dua hari, saya dan rekan-rekan kantor berkesempatan untuk berkunjung ke Garut dalam rangka Studi Banding Lumbung Pangan. Di sana kami belajar bagaimana memanage suatu lumbung padi yang bernama Lumbung Padi Mekar Mukti (LPMM) yang ada di Desa Ganda Mekar Kecamatan Kadungora Kabupaten Garut. Sebagai narasumber adalah Bapak Pipik selaku ketua LPMM dari Desa Ganda Mekar. Banyak ilmu yang kami dapat tentang bagaimana memanage suatu lumbung padi sebagai lumbung pangan. Tetapi saya tidak akan membahas di sini lantaran terlalu banyak yang harus ditulis. Saya akan menulis mengenai pengalaman main ke Garut tiga hari kemarin itu.

Suasana di Tarogong Garut

Suasana di Tarogong Garut

Terakhir kali saya menginjakkan kaki di bumi Garut itu sekitar 13 tahun yang lalu ketika masih menjadi siswi SMP. Seingat saya Garut dulu sangat dingin karena terletak di dataran tinggi yang dikelilingi oleh perbukitan. Masih segar dalam ingatan ketika melihat kokohnya Gunung Papandayan yang ada di Garut, gunungnya begitu hijau dan asri. Namun, ketika kemarin saya berkesempatan ke Garut lagi saya pikir telah terjadi banyak perubahan. Cuaca yang waktu dulu saya rasakan sangat dingin ternyata tidak terlalu dingin lagi, bahkan ketika malam tiba saya tidak menggigil seperti ketika berada di Lembang. Padahal teman-teman dan juga senior saya yang berasal dari Garut mengatakan kalau Garut sama dinginnya dengan Lembang. Mungkin itu Garut bagian tertentu ya.

Hotel Danau Daliza

Hotel Danau Daliza

Selepas studi banding, kami menginap di hotel Danau Dariza yang terletak di Jalan Raya Cipanas No. 44/45 Garut. Hotel ini menyediakan fasilitas berupa permainan dan sarana outbond. Beberapa fasilitas tersebut sesuai dengan agenda kami dihari berikutnya untuk mempererat tali kebersamaan. Beberapa fasilitas diberikan gratis melalui voucher untuk tamu yang menginap di hotel, seperti kolam renang, flying fox, sepeda air, kano, dan arena outbond. Sore itu sebagian dari kami mencoba untuk memanfaatkan fasilitas yang diberikan, sebagian lagi memilih untuk istirahat.

Kolam renang hotel danau dariza

Kolam renang hotel danau dariza

Arena Out bond

Arena Out bond

Flying Fox

Flying Fox

Kano

Kano

Sepeda Air

Sepeda Air

Keesokan harinya sekitar pukul 07.00-09.00 kami isi dengan games yang sudah disiapkan oleh panitia. Saya dan tiga orang teman termasuk kedalam seksi acara yang khusus mengatur jalannya acara games. Games dimulai dengan membuat arisan tantangan, dilanjutkan dengan senam otak, pesan berantai, wajah misteri dan terakhir jogged balon. Alhamdulillah acara berjalan lancar.

games wajah misteri

games wajah misteri

Setelah permainan, sebagian dari kami berburu oleh-oleh Garut. Senior kami yang asli orang garut mengajak kami membeli oleh-oleh di Jalan Otista, Tarogong. Di sana memang banyak sekali outlet oleh-oleh khas Garut seperti Chocodot, dodol garut, wajik, kerupuk kulit dan lain-lain. Khusus untuk Chocodot ada baiknya kalau membeli di Chocodot yang diproduksi oleh PT Tama Cokelat Indonesia. Mengenai Tama cokelat ini kita bisa mengunjungi websitenya di www.tamacokelat.com

IMG_6228

Patung chocodot

IMG_6233

Kiki Gumelar

Pertama kali turun dari mobil, pemandangan pertama yang saya lihat adalah patung coklat bar besar yang membuat saya tak sabar ingin mencicipi chocodot ini, belum lagi banner berisi aneka produk yang membuat kita tergiur. Sayapun tak sabar untuk masuk ke dalam toko. Benar saja disana terdapat berbagai macam coklet dan chocodot dengan kemasan yang unik. Menurut saya harganya setiap produk terjangkau untuk design yang unik tersebut, selain itu rasa cokelatnya juga pas sekali dengan selera saya yaitu manis gurih. Cokelat yang tersedia disana bermacam-macam, mulai dari dark cokelat, milk cokelat, maupun cokelat dengan berbagai rasa buah.

Aneka jenis cokelat dan chocodot

Aneka jenis cokelat dan chocodot

harga terjangkau

harga terjangkau

Tersedia juga aneka dodol

Tersedia juga aneka dodol

Macam-macam chocodot

Macam-macam chocodot

Beragam kopi

Beragam kopi

Setelah puas berbelanja chocodot, kami bergegas ke toko oleh-oleh yang menjual dodol Garut. Dodol yang terkenal di Garut adalah dodol dengan merk Picinic. Di tempat kami berbelanja ada dodol yang dijual dengan kiloan maupun kemasan. Harganya bermacam-macam, mulai dari Rp 25.000 per kg hingga Rp. 40.000an.

Pemandangan Cipanas Garut

Pemandangan Cipanas Garut

Menjelang shalat jumat, kami semua sudah melakukan check out. Bis yang membawa rombongan juga sudah menunggu. Sekilas saya melihat gunung yang ada dihadapan kami, gunung tersebut terlihat gundul, hanya ada beberapa pepohonan yang tumbuh karena habis meletus. Itu Gunung Papandayan bukan ya? Sayangnya teman-teman yang saya Tanya tidak mengetahui. Tepat setelah shalat jumat, kamipun segera bertolak menuju Bogor, perjalan menuju Bogor Alhamdulillah berjalan lancar, kami tidak menemui kemacetan, sayapun sudah tiba di rumah sebelum magrib.

Begitulah cerita jalan-jalan singkat di Garut, ternyata Garut sangat dekat tidak seperti dalam bayangan saya. Semoga ada kesempatan lagi untuk berkunjung ke Garut karena saya belum terlalu mengeksplore daerah di sana. Terimakasih.

Ngebolang di Lembang-Bandung

Saya tidak menyangka akan berada kembali di Lembang dalam waktu yang cukup dekat. Bulan Juli kemarin adalah terakhir kali saya menginjakan kaki di daerah nan sejuk ini. Alhamdulillah kini saya merasakan lagi walaupun awalnya saya teramat berat untuk berangkat lantaran harus meninggalkan si kecil lagi. Namun belakangan ini saya amat bersyukur akan keberangkatan saya ke Lembang selama tiga minggu ini, selain mendapatkan ilmu tentunya, saya juga mendapatkan pengalaman berharga dan juga pelajaran dari beberapa hal dan orang-orang yang saya temui.

Disela-sela jadwal yang padat, saya dan teman-teman mendapatkan kesempatan untuk jalan-jalan dibeberapa tempat baik saat pendidikan atau ketika sedang rehat. Nah, disaat itu pula saya iseng mengabadikan beberapa hal yang menurut saya patut untuk diabadikan. Apa saja itu? ini adalah hasilnya:

1. Kaos Sablon

Di asrama tempat kami tinggal saat diklat, seringkali kedatangan penjual kaos Paris Van Java alias kaos Bandung. Sebagai seorang ibu pasti terpanggil hatinya untuk membelikan oleh-oleh untuk si buah hati (padahal sebenanya memang seneng jajan aja hehe), nah kaos Bandung ini bisa menjadi alternatif untuk oleh-oleh. Harganya yang murah dan kualitas bahannya yang juga masih terbilang cukup bagus untuk kaos seharga Rp. 20000,- membuat pedagang kaos ini laris-manis diserbu para pembeli. Namun, ada satu yang membuat saya tertarik dengan penjual kaos ini, yaitu pembuatan nama dengan cara disablon. Saya senang sekali memperhatikan si Mamang (begitu saya memanggilnya) dengan asiknya memoles cat sablon ke bahan kaos. Ternyata cara menyablonnya sangat mudah, asal ada cetakan, cat dan kuas maka kaos sablonpun jadi.

Kaos Sablon

Kaos Sablon

2. Nanas Madu

Sebelumnya saya sudah memposting tentang cara menentukan nanas madu. Nanas madu ini memang sangat manis rasanya, selain itu dagingnya juga empuk tidak seperti nanas biasanya. Tetapi jangan sampai salah dalam menentukan nanas madu ya. Ketika dalam perjalanan ke Subang, saya melihat hamparan kebun nanas madu di dekat perkebunan teh, kita cukup menanam crown (tunas nanas) ke dalam tanah maka nanas dapat tumbuh beradaptasi, sayangnya saya tidak mampu membawa tunas nanas untuk ditanam di Bogor lantaran barang bawaan yang sudah terlalu banyak.

Nanas Madu

Nanas Madu

3. Mie Kocok

Makan mie kocok di Lembang rasanya maknyus sekali, rasanya yang pedas segar dan panas membuat badan terasa hangat, maklum cuaca di lembang sangat dingin baik siang maupun malam hari. Nah, kalau mau makan mie kocok, silahkan mencoba di pasar Lembang kalau yang berada di dekat Lembang. Mie kocok ternyata merupakan mie yang terdiri dari campuran mie gepeng dan toge dengan topping daging sapi kikil. Kuahnya terasa segar seperti kuah bakso. Dulu saya pernah mencoba mie kocok di Cirebon, namun mie kocok di Cirebon kuahnya lebih kental daripada yang saya temukan di Lembang. Meskipun begitu rasanya sama-sama enak.

Mie Kocok

Mie Kocok

4. Makan Jengkol

Terakhir kali saya makan jengkol adalah ketika saya duduk dibangku sekolah dasar, saya masih ingat nikmatnya makan jengkol. Daaaannn….kali ini saya menemukan jengkol yang nikmat tersebut di lembang, sudah dua kali saya makan jengkol di sini, baik disemur atau direndang sama enaknya.

Rendang jengkol nikmat

Rendang jengkol nikmat

5. Senandung Kerbau

Ketika melakukan field work-1 di Desa Jalancagak Kecamatan Jalancagak Kabupaten Subang, saya menemukan seorang petani sedang membajak sawah sambil menyenandungkan lagu untuk kerbaunya. Saya jarang sekali menemukan hal tersebut di Bogor, kebanyakan kerbau hanya diperintah dengan menggunakan tali saja. Alasan petani menyenandungkan lagu saat kerbau membajak adalah supaya sang kerbau merasa tenang saat membajak sawah sehingga tidak merasa terpaksa.

Petani sedang menyenandungkan lagu

Petani sedang membajak sawah sambil menyenandungkan lagu

6. Pemanfaatan Pekarangan

Ketika sedang berjalan disekitar tempat diklat, saya menemukan pemanfaatan pekarangan yang membuat saya berpikir untuk menerapkan di desa binaan saya, karena lingkungannya hampir sama, minim lahan pekarangan.

Pemanfaatan pekarangan

Pemanfaatan pekarangan

7. Zucchini

Zucchini atau terong jepang sudah sering saya lihat ketika di swalayan. Nah, kebetulan saya berkesempatan untuk melihat langsung tanaman zucchini ini. Zucchini ditanam dengan menggunakan mulsa, daun tanamannya melebar serta terdapat bercak berwarna putih pada daun. Bercak putih tersebut bukanlah residu pestisida, tetapi memang salah satu karakteristik fenotipe dari tanaman zucchini. Ternyata zucchini berbuah pada bagian tengah tanaman, tidak seperti terong pada umumnya. Budidaya zucchinipun ternyata tidak terlalu sulit asalkan melakukan teknik budidaya sesuai dengan lokasi berada.

Tanaman Zucchini

Tanaman Zucchini

8. Seblak

Beberapa minggu yang lalu saya berkesempatan untuk jalan-jalan ke Bandung. Saat itu saya dikenalkan sebuah camilan yang murah meriah tapi legit rasanya, cemilan itu adalah seblak. Seblak terbuat dari campuran berbagai macam kerupuk yang dipadukan dengan siomay dan batagor, tetapi kerupuk ini tidak digoreng dulu, jadi langsung dimasak dengan kuah yang gurih dan pedas. Pertama melihat rasanya terlihat aneh, tetapi setelah dirasakan malah bikin ketagihan.

Seblak yang rasanya mantab

Seblak yang rasanya mantab

9. Biosecurity

Ketika saya berjalan menuju pasar Lembang, pandangan saya terkagum-kagum dengan biosecurity di Balai Inseminasi Buatan Lembang. Balai yang sudah menerapkan ISO 9001:2008 ini menerapkan biosecurity untuk menjaga kesterilan tempat dari segala kemungkinan serangan penyakit dengan menerapkan HACCP System dan Biosecurity in adalah salah satu dari Critical Control Point.

IMG_5527IMG_5528IMG_5530

10. Es Lilin dan Pasar Kaget

Di Lembang selalu digelar pasar kaget, pasar rakyat tempat orang berkumpul setelah olahraga. Biasanya orang-orang berangkat dai rumah sambil lari pagi menuju pasar kaget. Barang-barang yang dijual di pasar kaget yaitu pakaian, buku bekas, sepatu, kaca mata, topi, sayuran segar, ikan laut, makanan, minuman dan lain-lain. Kita bisa menemukan lobster tawar, rendang jengkol, hingga siput kari di sini. Nah, ada salah satu jajanan tradisional  dijual di sana dan jarang sekali ditemukan di Bogor, yaitu es lilin. Es lilin adalah jajanan tradisional ketika saya kecil dan saya menemukan lagi ketika sedang di Lembang.

lari pagi menuju pasar lembang

lari pagi menuju pasar lembang

Suasana Pasar kaget lembang

Suasana Pasar kaget lembang

Tersedia wisata kuda

Tersedia wisata kuda

Es lilin mah ceu-ceu

Es lilin mah ceu-ceu

Pulangnya naik andong

Pulangnya naik andong

11. BEC (Bandung Electronic City)

Sewaktu diajak jalan-jalan ke BEC, saya sangat terkagum-kagum melihat melimpahnya barang elektronik di BEC. Bisa dibilang hampir semuanya ada di sini. Saya dan teman-teman membeli flash dish sebesar 32 GB dengan harga yang terjangkau yaitu Rp 185000,-. Murah dan bermanfaat. Kalau mau nyari barang elektronik di Bandung ke BEC aja.

BEC

BEC

BEC-2

BEC-2

Suasana sekitar BEC

Suasana sekitar BEC

12. Sambal Ase

Baru pertama kali ini saya berjumpa dengan yang namanya sambal enak, gurih, pedas yang bikin ketagihan. Namanya sambal ase yang terbuat dari Cabe Gendot kata orang sunda. Cabe ini bentuknya besar-besar, rasanya pedas banget. Saya hanya berani makan setengah buahnya saja, karena perut sudah terasa panas. Teman saya yang pecinta pedas hanya kuat makan dua buah cabe gendot karena pedasnya benar-benar mantab.

Sambal Gendot

Sambal Gendot

13. Tangkuban Perahu

Ketika sedang olahraga dipagi hari, saya selalu menatap ke arah perbukitan di depan tempat saya berada. Di depan sana terbentang gunung tangkuban perahu. Tangkuban perahu kalau dilihat dari jarak jauh sungguh terlihat seperti perahu yang tertangkup (terbalik) dan pemandangannya sangat indah.

Gunung tangkupan perahu

Gunung tangkupan perahu

Masih banyak lagi hasil jeprat-jepret selama saya ngebolang di Lembang dan Bandung, tetapi tidak semuanya dapat saya tuliskan di blog ini, cukup diingat di dalam hati semoga suatu hari nanti saya bisa menginjakkan kaki di sini lagi.

Ngebolang Di Lembang

Mumpung lagi di Lembang, dan ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di bumi priangan, maka tidak ada salahnya jika kita jalan-jalan di objek wisata yang ada di lembang. Objek wisata tujuan saya dan teman-teman adalah Tangkuban Parahu dan Maribaya yang lokasinya masih di sekitar Lembang. Begini ceritanya:

1. Tangkuban Perahu

IMG_4433

Saya ngebolang ke Tangkuban Perahu bersama senior saya yang masih semangat meskipun usianya terbilang sudah cukup tua, karena beliau sering berolah raga maka usia dengan penampilan fisiknya amat jauh berbeda. Saya dan teman-teman yang lain menyangka kalau si ibu masih berusia 30an, ternyata beliau sudah berusia 40an. Olah raga benar-benar membuat awet muda ya, hal ini patut dicontoh.

Nah, rute awal ngebolang kami awali dari pasar lembang. Dari sana seharusnya kami naik mobil jenis elf, tetapi yang ada saat itu adalah mobil jenis colt, jadi kami terpaksa naik mobil tersebut. Walaupun senior faseh berbahasa sunda dan tidak terlalu menunjukan bukan orang lembang, namun tetap saja sang supir mengenali kalo kami bukan asli dari lembang. Sehingga ongkos naik mobilnya di naikkan hingga 100%. Seharusnya dari pasar lembang ke Tangkuban Perahu cukup membayar Rp. 25000,- saja, tetapi sang supir meminta kami membayar Rp. 50000 dengan  alasan BBM naik. Hmmm ya sudahlah, ikhlaskan saja  kata senior, semoga uangnya bermanfaat untuk pak supir. O iya untuk tiket masuk ke tangkuban perahu bisa dilihat pada rincian berikut ini:

Tiket masuk Tangkuban Perahu

Tiket masuk Tangkuban Perahu

A. Wisatawan Nusantara

Pengunjung nusantara                  Rp. 13000

Kendaraan Roda 2 Nusantara     Rp. 5000

Kendaraan Roda 4 Nusantara     Rp. 10000

Kendaraan Roda 6 Nusantara     Rp. 20000

B. Wisatawan Mancanegara

Pengunjung Mancanegara                           Rp. 50000

Kendaraan Roda 2 mancanegara               Rp. 7000

Kendaraan Roda 4 mancanegara               Rp. 15000

Kendaraan Roda 6 mancanegara               Rp. 25000

Colt kami tadi mengantarkan kami hingga area parkir kawah ratu. Untuk kendaraan roda dua hingga roda empat bisa parkir hingga kawah ratu sedangkan kendaraan roda enam harus parkir di terminal Jaya Giri. Dari terminal jaya Giri ke kawah ratu tidak jauh kok, jaraknya hanya 1.2 km. bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau naik elf yang sudah disediakan oleh pengelola, kita cukup membayar Rp 2500 jika naik elf tersebut.

Jalanan dari terminal Jayagiri hingga kawah ratu

Jalanan dari terminal Jayagiri hingga kawah ratu

Tiba di kawah ratu, kita bisa ambil jalan ke kiri atau ke kanan kawah. Pagar telah lama membentang mengelilingi kawah sehingga kita terlindungi ketika berada di atas kawah. Bentuk kawah mungkin hampir sama dengan kawah gunung lainnya ya, jika sudah pernah ke Bromo, bentuk kawahnya hampir sama dengan kawah gunung Bromo. Hanya saja untuk mencapai kawah Gunung Bromo kita harus mendaki lagi karena letaknya yang tinggi. Jika kita mengambil arah ke kanan dan terus berjalan maka akan mengarah ke mata air dan Air Terjun (curug) Cikahuripan yang letaknya 1 km dari Kawah Ratu. Sayangnya Curug Cikaguripan tidak dapat ditemui lagi sejak terjadi longsor pada tahun 2005 lalu namun air dari curug ini masih dapat ditemui pada sebuah toilet umum tepat di depan pintu Gua Cikahuripan. Air terjun Cikahuripan ini dipercaya oleh sebagian masyarakat sebagai tempat pemandian Dayang Sumbi.

Kawah Ratu

Kawah Ratu

O iya ketika saya berjalan-jalan disana saya menemui beberapa orang yang tergabung dalam klub sepeda down hill, seru banget kayanya. Kami juga menemui beberapa turis mancanegara yang sedang menikmati kawah ratu lho, saya berkenalan dengan seorang turis dari Belanda, hmmm namanya saya lupa hehe, gak ada salahnya kalo berpose bareng karena Mr and Mrs keliatan ramah banget jadi saya gak sungkan untuk meminta foto bareng bersama mereka.

Club sepeda down hill

Club sepeda down hill

Berpose bersama Mr and Mrs dari Holland

Berpose bersama Mr and Mrs dari Holland

Sekarang kita berjalan ke arah kiri, pemandangan masih sama hanya saja pengunjung lebih sedikit lantaran jalannya cukup terjal untuk dilalui. Nah, kalo mau foto-foto dan memandang sepuasnya ke sebelah kiri saja ya. Jika kita sudah selesai menikmati pemandangan kawah ratu, disana juga tersedia stand oleh-oleh dan souvenir. Beragam oleh-oleh dijajakan disana, mulai dari kaos berlabelkan bandung or paris van java, tas, topi, boneka dan lain-lainnya.

Jalanan terjal ke arah kiri, tapi aman kok

Jalanan terjal ke arah kiri, tapi aman kok

pemandangan dari sebelah kiri

pemandangan dari sebelah kiri

Caution!

Caution!

Selain wisata kawah ratu, masih ada lagi wisata lainnya yaitu Kawah Domas dan Kawah Upas, hanya saja karena jalannya yang terletak diperkebunan dan merupakan jalan setapak kita harus didampingi oleh seorang guide. Biaya pendampingan satu orang guide Rp. 100000/jam, berdasarkan dari informasi bapak supir colt yang sudah biasa kesana. Selain itu juga tersedia arena outbond park jika ingin bermain di alam tangkuban perahu.

Setelah puas bermain di Tangkuban perahu, saya dan senior berencana melanjutkan ngebolang kami ke Maribaya. Apa itu? Yuk ke cerita selanjutnya

2. Maribaya

Jalan menuju maribaya

Jalan menuju maribaya

Maribaya adalah tempat rekreasi berupa curug dan kebun teh. Dari pasar lembang jaraknya tidak terlalu jauh, hanya memakan waktu ±30 menit bila menggunakan angkot. Ongkosnya juga murah yaitu Rp 2000 sampai pertigaan maribaya. Dari pertigaan kita bisa naik ojeg (jika angkot tidak mau masuk ke maribaya) hingga tempat rekreasi curug dengan cukup membayar Rp. 5000. Untuk kebun the jaraknya masih jauh lagi dari curug sekitar 7 km kea rah atas. Karena jaraknya yang jauh, akhirnya kami hanya mengunjungi curug saja. Untuk memasuki objek wisata ini kita hanya cukup mebayar Rp. 10500/orang bagi wisatawan local, sedangkan wisatawan mancanegara diwajibkan membayar Rp. 75000/orang. Jauh sekali ya bedanya, menurut saya tiket masuk wisatawan mancanegara sangat mahal karena objek wisatanya hanya curug saja dan hanya menikmati pemandangan saja. Karena hal itulah beberapa rombongan turis asal mexico yang datang bersama dengan kami akhirnya tidak jadi masuk karena menurut mereka terlalu mahal. Menurut saya juga seperti itu, karena harga dengan fasilitas amat jauh sekali. Sebenarnya kita tidak perlu membayar tiket masuk menuju curug Omas, karena di depan sebelum pintu masuk juga sudah ada tempat rekreasi berupa curug kecil, kita bisa bermain air disana, sedangkan di curug omas tidak bisa karena arusnya yang deras serta dalam maka curug tersebut diberi pagar pembatas, kita hanya bisa menikmati dari luar saja.

Jalan menuju Curug Omas

Jalan menuju Curug Omas

Di sekitar curug terdapat taman yang cukup indah beserta pepohonan yang tinggi. Karena habis turun hujan maka rumput dan tanah menjadi basah sehingga kami tidak bisa duduk-duduk disana. Hati-hati jika hujan turun karena tanahnya yang licin, senior saya sempet terpleset Karena licinnya jalan. O iya, hati-hati juga ya karena di hutan pasti ada yang namanya lintah dan pacet, mereka besar-besar lho.

Taman sekitar curug

Taman sekitar curug

Taman sekitar curug

Taman sekitar curug

Untuk menikmati curug Omas, kita bisa melalui jembatan yang berhadapan langsung dengan curug tersebut. bila di depan adalah curug omas, maka di belakang jembatan terdapat pusaran air yang sangat deras. Rasanya seram sekali jika kita tercebur disana karena sangat deras. Air curuk yang coklat membawa material tanah karena habis hujan dan di tempat pusaran air terdapat beberapa potongan sampah angorganik membuatnya tidak terlalu eksotik. Memang sesekali saya melihat pengunjung membuang sampah sembarangan kea rah curug, padahal disekitar lokasi wisata terdapat tempat sampah tetapi mereka tetap saja membuangnya sembarangan. Sepertinya kebiasaan dan kampanye untuk membuang sampah sembarangan harus terus digalakkan agar bumi ini bersih.

Curug Omas

Curug Omas

Air curug yang sangat deras

Air curug yang sangat deras

Sesekali saya memandang ke hamparan tebing dan hutan yang ada disana, ternyata disalah satu tebing terdapat bekas longsor yang cukup membahayakan. Tidak hanya itu, ketika kami hendak menuju goa belanda jalan yang sudah diaspal tersebut terputus karena timbunan longsor. Jika kita hendak terus menuju kesana maka harus hati-hati karena tanahnya benar-benar licin. Saat melintasi daerah tersebut saya bertemu dengan turis yang membawa sepedanya,  sepertinya dia habis melakukan down hill karena untuk menuju goa belanda merupakan jalan yang menanjak ke atas. Kami tidak jadi menuju goa belanda, karena jaraknya masih 5 km lagi dari curug omas, meskipun terdapat ojeg yang siap mengantar tetapi kami khawatir akan keadaan jalan yang sangat licin tersebut.

Seorang turis sedang melewati jalan yang tertimbun material longsor

Seorang turis sedang melewati jalan yang tertimbun material longsor

Senior saya mengatakan jika masuk dari arah Dago maka goa belanda dan goa jepang sangat dekat serta jalanannya juga bagus, sedangkan bila kita berangkat dari maribaya tentu sangat jauh. Mungkin lain kali ketika kami ke bandung lagi bisa lewat dago saja jika hendak menuju goa belanda dan jepang.

Kami sempat bertedung di warung-warung kecil disana karena sesekali hujan turun lagi, suhu disana sangat dingin tidak seperti di tangkuban perahu. Akhirnya sekitar jam tiga sore kami beranjak pulang karena memang sudah lelah sekali. Untuk yang mau membeli oleh-oleh disana da oleh-oleh kaos dan souvenir seperti di tangkuban perahu hanya saja jumlahnya yang sedikit, serta ada juga tanaman berupa kaktus yang dijajakan disana, harganya ada yang Rp. 10000/tiga buah dan Rp. 10000/buah tergantung kualitas.

maribaya

maribaya

Begitulah jalan-jalan kami hari itu, dalam satu hari kami mengunjungi objek wisata di lembang yang cukup murah. Semoga ada kesempatan lagi untuk mengunjungiobjek wisata  yang lain. Aamiin.

Evrinasp.com

Evventure Blog

Kumpulan Emak Blogger

kumpulan-emak-blogger

Warung Blogger

Photobucket

Blog Stats

  • 457,864 hits

Follow TWITTER

Kicauan TWITTER

Almanak

June 2017
M T W T F S S
« Dec    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
%d bloggers like this: