//
archives

jalan-jalan

This tag is associated with 3 posts

Kisah Penyuluh Galau yang Butuh Piknik

Ini merupakan kisah nyata tanpa rekayasa. Kisah penyuluh galau alias saya sendiri yang butuh piknik untuk menghilangkan jenuh akibat kejadian di Kamis pagi. Piknik adalah satu hal yang sangat saya butuhkan saat itu. Walaupun badan kurang fit, jiwa terasa hampa namun semangat untuk piknik tetap membara, inilah kisah selengkapnya:

***

Hari Kamis pada minggu kedua bulan Agustus 2015, saya dan kelompok binaan akan menghadapi penjurian lomba tingkat provinsi. Berbagai persiapan sudah kami lakukan baik fisik maupun mental. Pada H-1 dimana persiapan sudah matang lebih dari 90%, kami melakukan sebuah gladiresik. Saya sudah mencurahkan segala tenaga dan pikiran demi menyukseskan penilaian hari Kamis. Namun semua ternyata berbanding terbalik, kesuksesan itu tak pernah saya rasakan dan hanya meninggalkan persoalan bagi diri saya sendiri.

Sejak Rabu sore saya sudah menggalau karena ada saja hambatan untuk menyukseskan penilaian yang berlangsung keesokan harinya. Dimulai dari laptop yang rusak, ada anggota yang terkena musibah sampai bentroknya acara kantor sehingga saya harus menyiapkan lomba secara mandiri. Namun saya tetap bersabar karena selepas penilaian, saya dan teman-teman akan pergi piknik untuk melepas segala kepenatan.

laptop

Mengakali laptop yang rusak untuk mengambil file

Hari Kamis yang dinanti sudah tiba, juri datang dengan langkah dan wajah yang kalem. Namun apa yang telah kami persiapkan sekian lama rupanya tidak mendapatkan apresiasi sepenuhnya dari tim juri. Saya sudah pernah mencurahkan ceritanya di sini, yang jelas saya ingin sekali ditelan bumi saat itu juga.

Hanya satu yang saya butuhkan saat itu, pergi liburan untuk melupakan segala permasalahan kemudian pulang kembali dengan membawa semangat.

Jujur liburan saya saat itu bisa dibilang liburan yang paling muram padahal saya dan teman-teman sudah merencanakannya sejak lama. Rencananya saya dengan Tim Elang mau merefresh diri dari kepenatan dunia di Gunung Merbabu. Jika sewaktu hiking ke Semeru kemarin saya berangkat dengan semangat membara, maka liburan kali ini saya berangkat dengan wajah bermuram durja.

Saya berangkat ke Gunung Merbabu pada hari Jumat siang. Badan terasa lemas, hidung pilek tidak karuan ditambah dengan persoalan yang masih membekas karena kejadian dihari kamis. Sewaktu mau berangkat saya juga harus ngumpet-ngumpet dulu karena tumben Alfi tidak mengizinkan saya untuk berangkat. Kalau sudah begini, saya hanya bisa bersedih di dalam hati, tetapi tetap menguatkan diri untuk melanjutkan langkah karena saya yakin selepas turun dari Merbabu nanti akan mendapatkan diri saya yang dulu.

Saya sudah bertemu dengan teman-teman dan meskipun berada dalam keramaian, jiwa saya tetap merasa kosong. Namun kekosongan itu perlahan hilang ketika kaki sudah menginjakkan kaki di tanah Merbabu. Menatap indahnya pepohonan hijau, bertahan di udara dingin serta debu yang beterbangan membuat saya melupakan sejenak segala permasalahan yang ada.

Merbabu

berusaha menjadi survival di alam Merbabu

Ada satu spot dimana akhirnya saya bisa melepaskan segala kepenatan yang terbawa dari Jakarta. Sabana 2 adalah saksi bisu ketika saya menumpahkan segala keluh kesah permasalahan yang harus saya hadapi. Hamparan lautan awan, tingginya Gunung Lawu, matahari yang bersinar terik, serta angin yang bertiup kencang menghempaskan kegalauan saya selama ini.

Bukankah saya hidup? Makhluk hidup tentu akan memiliki masalah, dan tidak ada masalah tanpa solusi. Kita hanya perlu berpikir sejenak untuk menemukan jalan keluar. Lagi pula bukankah kita memiliki Allah? Saya kemudian mengingat kembali perkataan seorang teman seperti ini:

Jangan katakan “wahai Allah, masalah ku sungguh sangat besar”

Tetapi katakanlah: “Wahai masalah, Allah itu Maha Besar”

Sabana 2

Sabana 2 Gunung Merbabu, di sini saya melepaskan segala keluh kesah

Sabana 2

Sedang merenung di Sabana 2

Merbabu

Mengalahkan segala persoalan yang dibawa dari Jakarta dan tersenyum sumringah di Merbabu

Jika dipikir-pikir sebenarnya masalah itu diciptakan oleh diri kita sendiri dan pada akhirnya kita sendiri yang menemukan jalan keluar. Ruwetnya masalah dan besarnya luka yang ada di hati saya saat itu sebenarnya adalah hasil karya saya sendiri dan saya bersyukur pada akhirnya saya bisa mengatasi.

Terbukti bukan kalau piknik itu penting? 

Saya sangat merasakan perbedaan sebelum dan sesudah melakukan piknik. Sebelum berangkat ke Merbabu kemarin, saya sudah berjanji tidak akan lagi mengikuti perlombaan yang diselenggarakan oleh kantor. Tetapi setelah turun gunung rupanya semangat saya terpompa kembali, saya masih belum kapok untuk mengikuti lomba yang diadakan pemda.

penyuluhan

Memberikan penyuluhan dengan wajah ceria, ini seminggu setelah pulang dari Merbabu dan masih menggunakan kaos Merbabu

karya tulis

Masih belum kapok ikutan lomba yang diadakan kantor

Itu hanya sedikit pembuktian bahwa piknik itu penting dan bagaimana piknik mempengaruhi semangat seseorang. Nah kalau misalnya suatu hari nanti saya mendapatkan permasalahan lagi apakah harus lari ke gunung dulu untuk merefresh diri?

Tidak juga, saya bisa melakukannya dimanapun. Paling sering nih kalau saya sedang butuh piknik dan sedang tidak bisa kemana-mana ya liburan di Bogor saja. Banyak tempat menarik untuk berpiknik ria di Bogor lho. Kalau mau ke gunung tinggal main ke arah puncak, atau kalau mau basah-basahan kita bisa bermain di waterboom yang sekarang hampir ada di beberapa titik. Kemudian wisata kuliner di Bogor juga bisa menjadi alternatif untuk merefresh diri. Biasanya kalau saya sedang suntuk, wisata kuliner adalah salah satu kegiatan yang saya pilih untuk membuang rasa tersebut. Saya bisa menelan lezatnya makanan bersama dengan rasa suntuk yang melanda kemudian mengatakan: Bye bye rasa suntuk!.

Tetapi ada satu buah destinasi yang ingin saya datangi ketika butuh piknik namun tidak bisa pergi terlalu jauh. Saya ingin ke Situs Gunung Munara di Kecamatan Rumpin Kabupaten Bogor. Tempatnya dekat baik dari Jakarta maupun Bogor itu sendiri. Gunung Munara ini sebenarnya berupa bukit. Untuk mencapai puncaknya kita hanya perlu hiking satu jam saja. Di sana kita bisa menikmati indahnya pemandangan Bogor sekaligus mengunjungi sebuah Goa yang bernama Goa Sukarno. Konon Goa itu pernah digunakan oleh Bapak Proklamator kita untuk bersemedi lho.

Gunung Munara

Gunung Munara, Sumber: beritadaerah.co.id

Karena letaknya yang dekat dan medan yang tidak terlalu ekstrim, saya bisa mengajak Alfi untuk liburan di sini. Kami bisa menggunakan motor untuk pergi ke Gunung Munara layaknya family touring.

Nah teman-teman itu adalah cerita tentang seorang penyuluh yang butuh piknik. Walaupun saya orang lapangan dan hampir setiap hari melihat hijauan bukan berarti tidak butuh piknik lho. Terkadang kita tidak pernah menyadari bahwa tubuh sudah lelah menerima beban permasalahan. Jika sudah terlihat tanda-tanda menggalau lebih baik segera piknik saja.

Karena Apa? Karena Piknik itu penting!

 

Advertisements

Jangan Lupa Membawa Ini Ketika Jalan-Jalan

Asikkk ada giveaway (GA) yang berkaitan dengan jalan-jalan nih. Tetiba semangat langsung membara, secara ‘bola bekel’ macam saya paling seneng kalo udah diajak jalan-jalan. Mau sendirian atau bareng teman dan keluarga, yang namanya jalan-jalan itu menyenangkan. Selain mempersiapkan isi dompet dan fisik ada beberapa benda penting yang selalu saya bawa baik itu di tas ransel maupun tas wanita sekalipun. Apa sajakah itu? Ini dia lho 4 benda penting yang selalu saya bawa dan selalu ada di tas meski berganti tas sekalipun:

Picture1

Pengalaman karena sering berada di lapangan membuat benda yang satu ini tidak boleh ketinggalan. Saya sering kali menyentuh benda-benda yang agak kotor dan lupa untuk membersihkannya. Kadang pula tanpa sadar menyeka debu di sandal atau sepatu dengan menggunakan tangan langsung untuk kemudian memegang makanan. Memang sih selama ini pencernaan baik-baik saja karena mungkin ususnya sudah kebal hehe. Tapi tak ada salahnya untuk menjaga kebersihan tangan, apalagi ada Alfi yang melihat mamahnya. Jangan sampai dia meniru kebiasaan agak sedikit jorok mamahnya ini hehe. Nah hand sanitizer ini bermanfaat sewaktu kita berada di dalam kendaraan yang tidak memungkinkan untuk mengakses air. Tinggal buka tutupnya dan usapkan ke tangan. Jadi deh tangannya bersih kembali, in syaa Allah hehe.

Picture2

Ini flash disk selalu saya bawa kemana-mana. Waktu hiking ke Cikuray dan Prau kemarin tetap saya bawa lho. Rasanya kalau bepergian tanpa membawa flash disk kurang afdol. Isi flash disk sudah lengkap dari data pribadi sampai urusan kantor. Jadi kalau apada saat jalan-jalan, tetiba perlu mengambil file atau menyimpan file, ada flash disk yang selalu siap sedia.

Picture3

Jika pergi sendirian menggunakan motor, saya tidak perlu membawa payung karena ada jas hujan. Tapi kalau pergi tanpa menggunakan kendaraan pribadi apalagi membawa Alfi maka payung wajib dibawa. Sebagai warga negara Bogor yang baik yang sudah tinggal hampir 27 tahun di sini membuat saya paham betul kondisi cuaca di Bogor. Masih berlaku kan dengan sebutan kota hujannya? Bogor itu memiliki sifat cuaca yang unik. Di kota seribu satu angkot ini sering terjadi hujan lokal, misalnya di sini terjadi hujan besar plus petir, maka pada jarak 500-1000 m selanjutnya bisa jadi terang benderang. Terus kalau dari pagi sampai siang panas total hingga kita memerlukan payung untuk berlindung, maka sore harinya tiba-tiba hujan besar. Pernah juga pagi hari tiba-tiba hujan tapi matahari tetap terang-benderang sehingga membuat kita harus selalu siap sedia membawa payung. Makanya oleh-oleh Kaos Bogor dari Unchal membuat tag line yang berbunyi sedia payung sebelum Bogor. Itu bener banget lho.

Picture4

Sejak kapan ya saya sering membawa tempat minum? Seingat saya sejak mahasiswa dulu. Kemanapun saya pergi, termasuk waktu itu hanya ke pasar saja saya tetap membawa tempat minum. Sekarang saya memiliki tiga tempat minum yang dipakai bergantian. Saya sering membawanya karena saya adalah peminum berat. Seringkali saya merasa haus saat perjalanan. Saya pernah lho lupa membawa tempat minum, hasilnya haus banget dan saat itu sedang ada di kereta yang tidak memungkinkan untuk membeli minum. Jadi benda ini harus selalu tersedia di tas. Kalau isinya habis, tinggal di isi lagi deh nanti di tempat tujuan. Hemat dan sehat iya kan?

Nah itu adalah keempat benda wajib yang harus selalu saya bawa ketika bepergian. Jika satu benda saja ketinggalan kok rasanya kurang afdol ya makanya sebelum bepergian jangan lupa membuat list persiapan jalan-jalan. Lakukan check dan re-check sesaat sebelum berangkat supaya kita tenang pada saat diperjalanan. Bulan April nanti In syaa Allah saya akan melakukan perjalanan panjang, segala persiapan sudah saya lakukan terutama isi dompet dan fisik. Untuk perlengkapan yang harus dibawa nanti sedang dicicil kelengkapannya. Doakan ya supaya lancar jaya. Demikian sharing dari saya, semoga bermanfaat. Terimakasih.

Tulisan ini diikut sertakan pada “1st GA – Benda yang Wajib Dibawa Saat Jalan-Jalan”

Ngebolang Di Lembang

Mumpung lagi di Lembang, dan ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di bumi priangan, maka tidak ada salahnya jika kita jalan-jalan di objek wisata yang ada di lembang. Objek wisata tujuan saya dan teman-teman adalah Tangkuban Parahu dan Maribaya yang lokasinya masih di sekitar Lembang. Begini ceritanya:

1. Tangkuban Perahu

IMG_4433

Saya ngebolang ke Tangkuban Perahu bersama senior saya yang masih semangat meskipun usianya terbilang sudah cukup tua, karena beliau sering berolah raga maka usia dengan penampilan fisiknya amat jauh berbeda. Saya dan teman-teman yang lain menyangka kalau si ibu masih berusia 30an, ternyata beliau sudah berusia 40an. Olah raga benar-benar membuat awet muda ya, hal ini patut dicontoh.

Nah, rute awal ngebolang kami awali dari pasar lembang. Dari sana seharusnya kami naik mobil jenis elf, tetapi yang ada saat itu adalah mobil jenis colt, jadi kami terpaksa naik mobil tersebut. Walaupun senior faseh berbahasa sunda dan tidak terlalu menunjukan bukan orang lembang, namun tetap saja sang supir mengenali kalo kami bukan asli dari lembang. Sehingga ongkos naik mobilnya di naikkan hingga 100%. Seharusnya dari pasar lembang ke Tangkuban Perahu cukup membayar Rp. 25000,- saja, tetapi sang supir meminta kami membayar Rp. 50000 dengan  alasan BBM naik. Hmmm ya sudahlah, ikhlaskan saja  kata senior, semoga uangnya bermanfaat untuk pak supir. O iya untuk tiket masuk ke tangkuban perahu bisa dilihat pada rincian berikut ini:

Tiket masuk Tangkuban Perahu

Tiket masuk Tangkuban Perahu

A. Wisatawan Nusantara

Pengunjung nusantara                  Rp. 13000

Kendaraan Roda 2 Nusantara     Rp. 5000

Kendaraan Roda 4 Nusantara     Rp. 10000

Kendaraan Roda 6 Nusantara     Rp. 20000

B. Wisatawan Mancanegara

Pengunjung Mancanegara                           Rp. 50000

Kendaraan Roda 2 mancanegara               Rp. 7000

Kendaraan Roda 4 mancanegara               Rp. 15000

Kendaraan Roda 6 mancanegara               Rp. 25000

Colt kami tadi mengantarkan kami hingga area parkir kawah ratu. Untuk kendaraan roda dua hingga roda empat bisa parkir hingga kawah ratu sedangkan kendaraan roda enam harus parkir di terminal Jaya Giri. Dari terminal jaya Giri ke kawah ratu tidak jauh kok, jaraknya hanya 1.2 km. bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau naik elf yang sudah disediakan oleh pengelola, kita cukup membayar Rp 2500 jika naik elf tersebut.

Jalanan dari terminal Jayagiri hingga kawah ratu

Jalanan dari terminal Jayagiri hingga kawah ratu

Tiba di kawah ratu, kita bisa ambil jalan ke kiri atau ke kanan kawah. Pagar telah lama membentang mengelilingi kawah sehingga kita terlindungi ketika berada di atas kawah. Bentuk kawah mungkin hampir sama dengan kawah gunung lainnya ya, jika sudah pernah ke Bromo, bentuk kawahnya hampir sama dengan kawah gunung Bromo. Hanya saja untuk mencapai kawah Gunung Bromo kita harus mendaki lagi karena letaknya yang tinggi. Jika kita mengambil arah ke kanan dan terus berjalan maka akan mengarah ke mata air dan Air Terjun (curug) Cikahuripan yang letaknya 1 km dari Kawah Ratu. Sayangnya Curug Cikaguripan tidak dapat ditemui lagi sejak terjadi longsor pada tahun 2005 lalu namun air dari curug ini masih dapat ditemui pada sebuah toilet umum tepat di depan pintu Gua Cikahuripan. Air terjun Cikahuripan ini dipercaya oleh sebagian masyarakat sebagai tempat pemandian Dayang Sumbi.

Kawah Ratu

Kawah Ratu

O iya ketika saya berjalan-jalan disana saya menemui beberapa orang yang tergabung dalam klub sepeda down hill, seru banget kayanya. Kami juga menemui beberapa turis mancanegara yang sedang menikmati kawah ratu lho, saya berkenalan dengan seorang turis dari Belanda, hmmm namanya saya lupa hehe, gak ada salahnya kalo berpose bareng karena Mr and Mrs keliatan ramah banget jadi saya gak sungkan untuk meminta foto bareng bersama mereka.

Club sepeda down hill

Club sepeda down hill

Berpose bersama Mr and Mrs dari Holland

Berpose bersama Mr and Mrs dari Holland

Sekarang kita berjalan ke arah kiri, pemandangan masih sama hanya saja pengunjung lebih sedikit lantaran jalannya cukup terjal untuk dilalui. Nah, kalo mau foto-foto dan memandang sepuasnya ke sebelah kiri saja ya. Jika kita sudah selesai menikmati pemandangan kawah ratu, disana juga tersedia stand oleh-oleh dan souvenir. Beragam oleh-oleh dijajakan disana, mulai dari kaos berlabelkan bandung or paris van java, tas, topi, boneka dan lain-lainnya.

Jalanan terjal ke arah kiri, tapi aman kok

Jalanan terjal ke arah kiri, tapi aman kok

pemandangan dari sebelah kiri

pemandangan dari sebelah kiri

Caution!

Caution!

Selain wisata kawah ratu, masih ada lagi wisata lainnya yaitu Kawah Domas dan Kawah Upas, hanya saja karena jalannya yang terletak diperkebunan dan merupakan jalan setapak kita harus didampingi oleh seorang guide. Biaya pendampingan satu orang guide Rp. 100000/jam, berdasarkan dari informasi bapak supir colt yang sudah biasa kesana. Selain itu juga tersedia arena outbond park jika ingin bermain di alam tangkuban perahu.

Setelah puas bermain di Tangkuban perahu, saya dan senior berencana melanjutkan ngebolang kami ke Maribaya. Apa itu? Yuk ke cerita selanjutnya

2. Maribaya

Jalan menuju maribaya

Jalan menuju maribaya

Maribaya adalah tempat rekreasi berupa curug dan kebun teh. Dari pasar lembang jaraknya tidak terlalu jauh, hanya memakan waktu ±30 menit bila menggunakan angkot. Ongkosnya juga murah yaitu Rp 2000 sampai pertigaan maribaya. Dari pertigaan kita bisa naik ojeg (jika angkot tidak mau masuk ke maribaya) hingga tempat rekreasi curug dengan cukup membayar Rp. 5000. Untuk kebun the jaraknya masih jauh lagi dari curug sekitar 7 km kea rah atas. Karena jaraknya yang jauh, akhirnya kami hanya mengunjungi curug saja. Untuk memasuki objek wisata ini kita hanya cukup mebayar Rp. 10500/orang bagi wisatawan local, sedangkan wisatawan mancanegara diwajibkan membayar Rp. 75000/orang. Jauh sekali ya bedanya, menurut saya tiket masuk wisatawan mancanegara sangat mahal karena objek wisatanya hanya curug saja dan hanya menikmati pemandangan saja. Karena hal itulah beberapa rombongan turis asal mexico yang datang bersama dengan kami akhirnya tidak jadi masuk karena menurut mereka terlalu mahal. Menurut saya juga seperti itu, karena harga dengan fasilitas amat jauh sekali. Sebenarnya kita tidak perlu membayar tiket masuk menuju curug Omas, karena di depan sebelum pintu masuk juga sudah ada tempat rekreasi berupa curug kecil, kita bisa bermain air disana, sedangkan di curug omas tidak bisa karena arusnya yang deras serta dalam maka curug tersebut diberi pagar pembatas, kita hanya bisa menikmati dari luar saja.

Jalan menuju Curug Omas

Jalan menuju Curug Omas

Di sekitar curug terdapat taman yang cukup indah beserta pepohonan yang tinggi. Karena habis turun hujan maka rumput dan tanah menjadi basah sehingga kami tidak bisa duduk-duduk disana. Hati-hati jika hujan turun karena tanahnya yang licin, senior saya sempet terpleset Karena licinnya jalan. O iya, hati-hati juga ya karena di hutan pasti ada yang namanya lintah dan pacet, mereka besar-besar lho.

Taman sekitar curug

Taman sekitar curug

Taman sekitar curug

Taman sekitar curug

Untuk menikmati curug Omas, kita bisa melalui jembatan yang berhadapan langsung dengan curug tersebut. bila di depan adalah curug omas, maka di belakang jembatan terdapat pusaran air yang sangat deras. Rasanya seram sekali jika kita tercebur disana karena sangat deras. Air curuk yang coklat membawa material tanah karena habis hujan dan di tempat pusaran air terdapat beberapa potongan sampah angorganik membuatnya tidak terlalu eksotik. Memang sesekali saya melihat pengunjung membuang sampah sembarangan kea rah curug, padahal disekitar lokasi wisata terdapat tempat sampah tetapi mereka tetap saja membuangnya sembarangan. Sepertinya kebiasaan dan kampanye untuk membuang sampah sembarangan harus terus digalakkan agar bumi ini bersih.

Curug Omas

Curug Omas

Air curug yang sangat deras

Air curug yang sangat deras

Sesekali saya memandang ke hamparan tebing dan hutan yang ada disana, ternyata disalah satu tebing terdapat bekas longsor yang cukup membahayakan. Tidak hanya itu, ketika kami hendak menuju goa belanda jalan yang sudah diaspal tersebut terputus karena timbunan longsor. Jika kita hendak terus menuju kesana maka harus hati-hati karena tanahnya benar-benar licin. Saat melintasi daerah tersebut saya bertemu dengan turis yang membawa sepedanya,  sepertinya dia habis melakukan down hill karena untuk menuju goa belanda merupakan jalan yang menanjak ke atas. Kami tidak jadi menuju goa belanda, karena jaraknya masih 5 km lagi dari curug omas, meskipun terdapat ojeg yang siap mengantar tetapi kami khawatir akan keadaan jalan yang sangat licin tersebut.

Seorang turis sedang melewati jalan yang tertimbun material longsor

Seorang turis sedang melewati jalan yang tertimbun material longsor

Senior saya mengatakan jika masuk dari arah Dago maka goa belanda dan goa jepang sangat dekat serta jalanannya juga bagus, sedangkan bila kita berangkat dari maribaya tentu sangat jauh. Mungkin lain kali ketika kami ke bandung lagi bisa lewat dago saja jika hendak menuju goa belanda dan jepang.

Kami sempat bertedung di warung-warung kecil disana karena sesekali hujan turun lagi, suhu disana sangat dingin tidak seperti di tangkuban perahu. Akhirnya sekitar jam tiga sore kami beranjak pulang karena memang sudah lelah sekali. Untuk yang mau membeli oleh-oleh disana da oleh-oleh kaos dan souvenir seperti di tangkuban perahu hanya saja jumlahnya yang sedikit, serta ada juga tanaman berupa kaktus yang dijajakan disana, harganya ada yang Rp. 10000/tiga buah dan Rp. 10000/buah tergantung kualitas.

maribaya

maribaya

Begitulah jalan-jalan kami hari itu, dalam satu hari kami mengunjungi objek wisata di lembang yang cukup murah. Semoga ada kesempatan lagi untuk mengunjungiobjek wisata  yang lain. Aamiin.

Evrinasp.com

Evventure Blog

Kumpulan Emak Blogger

kumpulan-emak-blogger

Warung Blogger

Photobucket

Blog Stats

  • 470,752 hits

Follow TWITTER

Kicauan TWITTER

Almanak

September 2017
M T W T F S S
« Dec    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  
%d bloggers like this: