//
archives

sabana 2

This tag is associated with 1 post

Kisah Penyuluh Galau yang Butuh Piknik

Ini merupakan kisah nyata tanpa rekayasa. Kisah penyuluh galau alias saya sendiri yang butuh piknik untuk menghilangkan jenuh akibat kejadian di Kamis pagi. Piknik adalah satu hal yang sangat saya butuhkan saat itu. Walaupun badan kurang fit, jiwa terasa hampa namun semangat untuk piknik tetap membara, inilah kisah selengkapnya:

***

Hari Kamis pada minggu kedua bulan Agustus 2015, saya dan kelompok binaan akan menghadapi penjurian lomba tingkat provinsi. Berbagai persiapan sudah kami lakukan baik fisik maupun mental. Pada H-1 dimana persiapan sudah matang lebih dari 90%, kami melakukan sebuah gladiresik. Saya sudah mencurahkan segala tenaga dan pikiran demi menyukseskan penilaian hari Kamis. Namun semua ternyata berbanding terbalik, kesuksesan itu tak pernah saya rasakan dan hanya meninggalkan persoalan bagi diri saya sendiri.

Sejak Rabu sore saya sudah menggalau karena ada saja hambatan untuk menyukseskan penilaian yang berlangsung keesokan harinya. Dimulai dari laptop yang rusak, ada anggota yang terkena musibah sampai bentroknya acara kantor sehingga saya harus menyiapkan lomba secara mandiri. Namun saya tetap bersabar karena selepas penilaian, saya dan teman-teman akan pergi piknik untuk melepas segala kepenatan.

laptop

Mengakali laptop yang rusak untuk mengambil file

Hari Kamis yang dinanti sudah tiba, juri datang dengan langkah dan wajah yang kalem. Namun apa yang telah kami persiapkan sekian lama rupanya tidak mendapatkan apresiasi sepenuhnya dari tim juri. Saya sudah pernah mencurahkan ceritanya di sini, yang jelas saya ingin sekali ditelan bumi saat itu juga.

Hanya satu yang saya butuhkan saat itu, pergi liburan untuk melupakan segala permasalahan kemudian pulang kembali dengan membawa semangat.

Jujur liburan saya saat itu bisa dibilang liburan yang paling muram padahal saya dan teman-teman sudah merencanakannya sejak lama. Rencananya saya dengan Tim Elang mau merefresh diri dari kepenatan dunia di Gunung Merbabu. Jika sewaktu hiking ke Semeru kemarin saya berangkat dengan semangat membara, maka liburan kali ini saya berangkat dengan wajah bermuram durja.

Saya berangkat ke Gunung Merbabu pada hari Jumat siang. Badan terasa lemas, hidung pilek tidak karuan ditambah dengan persoalan yang masih membekas karena kejadian dihari kamis. Sewaktu mau berangkat saya juga harus ngumpet-ngumpet dulu karena tumben Alfi tidak mengizinkan saya untuk berangkat. Kalau sudah begini, saya hanya bisa bersedih di dalam hati, tetapi tetap menguatkan diri untuk melanjutkan langkah karena saya yakin selepas turun dari Merbabu nanti akan mendapatkan diri saya yang dulu.

Saya sudah bertemu dengan teman-teman dan meskipun berada dalam keramaian, jiwa saya tetap merasa kosong. Namun kekosongan itu perlahan hilang ketika kaki sudah menginjakkan kaki di tanah Merbabu. Menatap indahnya pepohonan hijau, bertahan di udara dingin serta debu yang beterbangan membuat saya melupakan sejenak segala permasalahan yang ada.

Merbabu

berusaha menjadi survival di alam Merbabu

Ada satu spot dimana akhirnya saya bisa melepaskan segala kepenatan yang terbawa dari Jakarta. Sabana 2 adalah saksi bisu ketika saya menumpahkan segala keluh kesah permasalahan yang harus saya hadapi. Hamparan lautan awan, tingginya Gunung Lawu, matahari yang bersinar terik, serta angin yang bertiup kencang menghempaskan kegalauan saya selama ini.

Bukankah saya hidup? Makhluk hidup tentu akan memiliki masalah, dan tidak ada masalah tanpa solusi. Kita hanya perlu berpikir sejenak untuk menemukan jalan keluar. Lagi pula bukankah kita memiliki Allah? Saya kemudian mengingat kembali perkataan seorang teman seperti ini:

Jangan katakan “wahai Allah, masalah ku sungguh sangat besar”

Tetapi katakanlah: “Wahai masalah, Allah itu Maha Besar”

Sabana 2

Sabana 2 Gunung Merbabu, di sini saya melepaskan segala keluh kesah

Sabana 2

Sedang merenung di Sabana 2

Merbabu

Mengalahkan segala persoalan yang dibawa dari Jakarta dan tersenyum sumringah di Merbabu

Jika dipikir-pikir sebenarnya masalah itu diciptakan oleh diri kita sendiri dan pada akhirnya kita sendiri yang menemukan jalan keluar. Ruwetnya masalah dan besarnya luka yang ada di hati saya saat itu sebenarnya adalah hasil karya saya sendiri dan saya bersyukur pada akhirnya saya bisa mengatasi.

Terbukti bukan kalau piknik itu penting? 

Saya sangat merasakan perbedaan sebelum dan sesudah melakukan piknik. Sebelum berangkat ke Merbabu kemarin, saya sudah berjanji tidak akan lagi mengikuti perlombaan yang diselenggarakan oleh kantor. Tetapi setelah turun gunung rupanya semangat saya terpompa kembali, saya masih belum kapok untuk mengikuti lomba yang diadakan pemda.

penyuluhan

Memberikan penyuluhan dengan wajah ceria, ini seminggu setelah pulang dari Merbabu dan masih menggunakan kaos Merbabu

karya tulis

Masih belum kapok ikutan lomba yang diadakan kantor

Itu hanya sedikit pembuktian bahwa piknik itu penting dan bagaimana piknik mempengaruhi semangat seseorang. Nah kalau misalnya suatu hari nanti saya mendapatkan permasalahan lagi apakah harus lari ke gunung dulu untuk merefresh diri?

Tidak juga, saya bisa melakukannya dimanapun. Paling sering nih kalau saya sedang butuh piknik dan sedang tidak bisa kemana-mana ya liburan di Bogor saja. Banyak tempat menarik untuk berpiknik ria di Bogor lho. Kalau mau ke gunung tinggal main ke arah puncak, atau kalau mau basah-basahan kita bisa bermain di waterboom yang sekarang hampir ada di beberapa titik. Kemudian wisata kuliner di Bogor juga bisa menjadi alternatif untuk merefresh diri. Biasanya kalau saya sedang suntuk, wisata kuliner adalah salah satu kegiatan yang saya pilih untuk membuang rasa tersebut. Saya bisa menelan lezatnya makanan bersama dengan rasa suntuk yang melanda kemudian mengatakan: Bye bye rasa suntuk!.

Tetapi ada satu buah destinasi yang ingin saya datangi ketika butuh piknik namun tidak bisa pergi terlalu jauh. Saya ingin ke Situs Gunung Munara di Kecamatan Rumpin Kabupaten Bogor. Tempatnya dekat baik dari Jakarta maupun Bogor itu sendiri. Gunung Munara ini sebenarnya berupa bukit. Untuk mencapai puncaknya kita hanya perlu hiking satu jam saja. Di sana kita bisa menikmati indahnya pemandangan Bogor sekaligus mengunjungi sebuah Goa yang bernama Goa Sukarno. Konon Goa itu pernah digunakan oleh Bapak Proklamator kita untuk bersemedi lho.

Gunung Munara

Gunung Munara, Sumber: beritadaerah.co.id

Karena letaknya yang dekat dan medan yang tidak terlalu ekstrim, saya bisa mengajak Alfi untuk liburan di sini. Kami bisa menggunakan motor untuk pergi ke Gunung Munara layaknya family touring.

Nah teman-teman itu adalah cerita tentang seorang penyuluh yang butuh piknik. Walaupun saya orang lapangan dan hampir setiap hari melihat hijauan bukan berarti tidak butuh piknik lho. Terkadang kita tidak pernah menyadari bahwa tubuh sudah lelah menerima beban permasalahan. Jika sudah terlihat tanda-tanda menggalau lebih baik segera piknik saja.

Karena Apa? Karena Piknik itu penting!

 

Advertisements

Evrinasp.com

Evventure Blog

Kumpulan Emak Blogger

kumpulan-emak-blogger

Warung Blogger

Photobucket

Blog Stats

  • 478,296 hits

Follow TWITTER

Kicauan TWITTER

Almanak

November 2017
M T W T F S S
« Dec    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
%d bloggers like this: